Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 362_Operasi


Perdana menteri dan putrinya pamit kembali lebih dulu tetapi beliau berjanji akan berkunjung lagi besok untuk melihat perkembangan kondisi Leo.


"Jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi kami lagi Nyonya Leo," ujar Perdana menteri sebelum meninggalkan rumah sakit. Yuna membungkukkan badannya dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang beliau berikan. Pun dengan Tuan besar Nugraha. Beliau mengucapkan kata yang sama dengan Yuna.


"Terima kasih sudah menghubungi ku, Nyonya Leo," ucap Edellyn. Kedua tangannya menggenggam tangan Yuna.


"Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu Nona Edellyn," jawab Yuna. Edellyn menggeleng.


"Tuan muda Leo telah melindungi dan menyelamatkan ku. Jadi aku harus membalas budi baik padanya," jawab Edellyn dengan senyum. Kemudian, dia dan papanya benar pamit meninggalkan rumah sakit.


Malam seakan berlalu dengan sangat lama. Waktu seolah tidak berputar sedari tadi. Ini sudah hampir empat jam dari awal Leo masuk ke ruang operasi. Yuna diam dalam hening do'a yang terlantun dari hatinya. Tuan besar Nugraha beberapa kali menawarinya makan, tetapi Yuna menolaknya. Yuna sedari kemarin tidak makan apa-apa. Dia hanya meminum air putih hangat, air putih hangat yang menjadi pesan rindunya pada Leo. Air putih hangat yang menjalar hingga hati dan detak jantungnya. Ia tak ingin apa-apa, ia hanya ingin Leo kembali sehat seperti sedia kala. Ia hanya ingin Leo. Itu saja.


"Kak Yuna, mari kita kebawah untuk makan," ajak Neva pada Yuna. Yuna mengusap wajahnya yang nampak letih dan kemudian menggeleng pelan.


"Aku tidak ingin pergi dari sini, Neva," jawab Yuna. Neva mengambil nafasnya dalam. Entah berapa kali dia membujuk Yuna dan tidak ada yang bisa membujuknya.


"Biar aku yang kebawah dan membawanya kesini," sambung Vano. Dia menatap Yuna dengan sedih.


"Terima kasih tapi tidak perlu Vano, aku tidak ingin apa-apa," jawab Yuna dengan menunduk.


Tuan besar Nugraha menyahut mereka, "Kalian berdua saja yang kebawah, biar Papa yang menemani Yuna disini."


"Aku disini saja Pa," jawab Neva. Dan pada akhirnya, Vano sendiri yang turun kebawah. Dia memesan makanan, minuman dan beberapa cemilan. Tak lupa ... ada bola-bola coklat yang ia pilih. Dia memesan makanan dan meminta pelayanan untuk mengantarnya.


"Kenapa saat seperti ini, kau memberikan ku ice cream?" tanya Neva saat Vano duduk disampingnya dan membuka ice cream untuknya.


"Agar kau tetap semangat," jawab Vano. Neva menatapnya dan menerima ice cream dari tangan Vano kemudian memakannya. Pelayan datang dan membawa makanan yang Vano pesan.


"Makan dulu Pa," ucap Neva. Tuan besar Nugraha mengangguk.


"Aku membeli coklat untuk Yuna, bisakah kau ini berikan padanya?" tanya Vano kemudian. Neva kembali menatapnya. Menatap kedalam matanya kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Yuna yang diam menunduk disana. Tepat disamping pintu ruang operasi.


"Berikan kau saja," jawab Neva. Ia kembali menatap Vano. Mungkin, Vano yang lebih bisa membujuk Yuna saat ini. Tak apa, Neva mengerti. Dia tidak ingin cemburu buta.


Vano mengangguk. Kemudian, ia beranjak dan mendekati Yuna, ia berdiri di depan Yuna. Tangan Vano mengulur untuk memberikan satu kotak bola-bola coklat kesukaan Yuna. Namun Yuna diam tidak menerimanya. Dia juga tidak mendongak. Yuna masih saja menunduk.


"Ini kesukaan mu," ucap Vano. Tidak ada jawaban. "Bagaimana kau bisa kuat menemani dia jika tak ada apapun yang masuk dalam perutmu. Jika Leo tahu kau begini, dia pasti akan sedih."


"Aku ingin dia tau aku begini, aku ingin dia marah padaku karena aku tidak makan, aku ingin dia marah padaku karena aku membahayakan diriku. Aku ingin dia membuka matanya dan mengomeliku tanpa henti," jawab Yuna yang langsung menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Heiii," Vano duduk disamping Yuna. Menatap gadis itu dari samping dengan sedih. "Jangan menangis," ucapnya. Kemudian, dia menoleh kearah Neva. Neva membalas tatapan matanya dan mengangguk. 'Tak apa, jika kau bisa membujuknya, lakukanlah,' batin Neva.


Namun, belum sempat Vano membuka mulutnya lagi, Yuna sudah berucap lebih dulu.


"Terima kasih Vano. Maaf jika aku tidak sopan tapi bisakah kau duduk jauh saja dariku."


"Makan dulu," jawab Vano. Yuna menggeleng. "Jangan begini, bagaimana jika kau sakit?"


"Biarkan saja, aku tidak perduli," jawab Yuna.


"Masih ada Baby Arai yang harus kau pikirkan Yuna. Jangan egois dengan menyakiti dirimu."


"Aku atau dia yang egois Vano? Aku hanya ingin dia segera membuka matanya, apa itu susah? Dia sudah berjanji padaku untuk tidak akan begini, tapi ... tapi apa? Dia bahkan tidak membuka matanya sama sekali," Yuna meninggikan suaranya. Dia menangis histeris. Dia takut Leo meninggalkannya. Tuan besar Nugraha segera berdiri dari duduknya dan memeluk Yuna. Membiarkan tangisan Yuna pecah. Membiarkan Yuna menangis dengan puas.


"Ini lebih sakit dari apapun Pa," ucap Yuna tercekat. Kini waktu bahkan hampir pagi dan pintu ruangan itu masih saja tertutup.


"Lee kuat Yuna, kau sangat tau itu bukan? Dia akan segera membuka matanya dan baik-baik saja. Percayalah," jawab Tuan besar Nugraha. "Kau hebat Nak, kau dengan begitu cepat membawa dr. William kesini. Dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk Leo. Dia dokter hebat, jadi Leo pasti akan segera pulih. Saat Leo membuka mata nanti, dia pasti akan sangat bangga padamu. Dia akan membuka mata lalu memelukmu dengan kasih," lanjut Papa.


Yuna mengangguk dia menyeka matanya.


"Makanlah dulu Yuna, atau jika kau tidak ingin makan setidaknya ada sesuatu yang mengisi perut mu," ujar Vano. Dan Yuna masih menolaknya.


Tak lama pintu ruang operasi terbuka. Asisten dr. William keluar dari ruangan itu. Yuna, Tuan besar Nugraha, Vano dan Neva segera berdiri dan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana operasinya?" tanya Tuan besar Nugraha tidak sabar mewakili pertanyaan yang lain.


Sang asisten mengangguk dengan senyum. Dia bilang bahwa operasinya berjalan dengan lancar. Saat ini kondisi Leo sudah stabil tetapi dia masih harus beristirahat dengan total setelah operasi.


Yuna, Tuan besar Nugraha, Neva dan Vano bernafas dengan lega dan mengucap syukur dalam hati. Mengagungkan kebesaran Tuhan atas belas kasih dan jalan baik untuk kelancaran operasi Leo.


"Tuan muda Leo sudah dipindahkan ke ruang rawat. Hanya saja, Tuan muda Leo belum boleh dikunjungi oleh siapapun. Jika ingin melihat kondisi Tuan muda Leo, bisa melihatnya dari jendela kaca," jelas Sang Asisten. "Siapa yang ingin lebih dulu kesana, mari saya antar," tanya sang perawat.


Yuna, adalah orang pertama yang mengunjungi Leo. Sementara Tuan besar Nugraha langsung menghubungi istrinya dan Dimas. Beliau memberitahukan bahwa operasi Leo berhasil. Sementara Vano dan Neva turun kebawah dan keluar rumah sakit untuk menghirup udara segar.


___


Yuna langsung menyambutnya.


"Terima kasih dr. William. Terima kasih telah bersedia melakukan operasi untuk suami saya. Saya tidak tahu lagi harus bilang apa selain terima kasih yang tak terhingga kepada Anda," ucap Yuna dengan sungguh.


dr. William tersenyum manis. Dia menatap Yuna. Gadis ini memiliki sepasang bola mata yang indah. Ia hanya melihatnya sekilas-sekilas karena Yuna lebih sering menunduk dari pada membalas tatapannya.


"Apa kau sudah makan?" tanya dokter William. Dia bisa menebak, jika seseorang tengah berada dalam kecemasan biasanya seseorang akan kehilangan keinginan untuk makan.


"Sudah," jawab Yuna berbohong. Dr. William sedikit terkejut dengan jawaban Yuna. Dia terkekeh, ternyata tebakannya salah.


Tangan Yuna menyentuh jendela kaca dan memperhatikan Leo.


"Dia baik-baik saja," ujar dr. William. Yuna mengangguk dan mengucap syukur dalam hati.


"Te---"


"Jangan mengucapkan terima kasih lagi padaku," sahut dr. William. Yuna pelan menoleh ke arahnya dan menatapnya. Mata mereka bertemu. Yuna mengingat jika dokter ini tidak bisa didatangkan dengan uang, lalu bayar apa yang ia inginkan.


"Dokter Will ...."


"Ya," jawab William. Dia lelah sebenarnya, dia baru saja menyelesaikan operasi yang panjang dan rumit. Namun, ia ingin ngobrol sebentar dengan istri pasien yang baru saja ia tangani.


"Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Silahkan."


Seorang perawat datang dengan membawa dua cangkir air hangat. Dia memberikannya untuk dr. William dan Yuna. Kemudian, setelah itu dia pergi.


"Silahkan duduk," ujar dokter William mempersilahkan Yuna. "Tidak baik minum sambil berdiri," lanjutnya. Dia lebih dulu duduk di bangku luar ruangan, lalu diikuti oleh Yuna. Mereka menyesap minuman yang ada ditangannya secara perlahan.


"Apa yang ingin kau tanyakan Nyonya Leo?" tanya Sang dokter setelah menyesap minumannya.


"Sebelum aku memutuskan untuk menghubungi Edellyn, dokter ahli mengatakan padaku bahwa Anda tidak bisa didatangkan dengan uang. Maaf, jika ini bukan tentang uang, lalu apa yang harus saya berikan untuk kebaikan dokter William?" tanya Yuna rendah dan santun dalam bahasa Inggris.


Dokter William mengenggam cangkir dengan lebih erat. Dia menunduk sebentar kemudian menoleh ke arah Yuna, menatap gadis itu lagi.


"Jika suamimu sudah sembuh nanti, jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk kalian. Jalanilah hidup bersamanya dengan bahagia. Itu adalah bayaran yang ku minta," jawab dokter William. Yuna tercengang dengan jawaban Sang dokter cerdas ini. Dia membalas tatapan mata dokter William dengan lekat.


"Ya, aku hanya akan datang untuk orang yang ku inginkan saja," jawabnya santai, "Aku dokter yang jahat bukan?" tanyanya. Dia tersenyum lebar tanpa melepas pandangannya dari Yuna.


"Dokter pasti memiliki alasan untuk itu. Aku yakin, dokter telah memilih alasan dan tindakan yang tepat. Alasan baik yang tidak perlu diketahui oleh banyak orang," jawab Yuna rendah.


Dokter William tersenyum mendengar ucapan Yuna. "Bagaimana jika aku tidak bersedia datang untuk melakukan operasi pada suamimu? Apa kau akan memiliki pemikiran yang sama, atau kau akan mencelaku?" tanyanya lagi.


Yuna mengalihkan pandangannya lalu menunduk, "Aku akan bersedih sepanjang waktu, itu pasti. Hatiku akan hancur setiap detik, itu juga pasti. Namun aku memiliki Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Aku percaya akan takdir yang telah digariskan. Mencari dan berusaha untuk membawa dokter kemari adalah ikhtiar ku, jika aku tak mampu maka memang itu adalah jalan yang harus ku lalui, memang itu adalah garis takdirku. Aku tidak menyalahkan siapapun. Pun itu dengan Edellyn," jawab Yuna.


Dokter William tersenyum lebar dan membuat tepukan tangan untuk Yuna. Dia menatap gadis itu dengan takjub.


"Bukankah pada akhirnya aku mampu membawa dokter kesini?" kini Yuna yang bertanya. Dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah dokter William.


Dokter William mengangguk, dia menyudahi tepuk tangannya. "Ya. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini," jawabnya singkat. Kemudian, ia melihat jam dipergelangan tangannya. Pukul 07.00. "Yuna," panggilnya. "Namamu ... Yuna bukan?" tanya dokter William. Dia ingat Yuna pernah memperkenalkan diri saat mereka bertemu di atap gedung rumah sakit.


Yuna mengangguk, "Ya," jawabnya.


"Aku ingin meminta bayaran satu lagi darimu," ucap dokter William. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya, kemudian ia memberikannya pada Yuna. Sebuah kartu nama. Tidak banyak orang yang memiliki kartu nama sang dokter cerdas ini, dan saat ini Yuna berkesempatan untuk menerima kartu nama itu. "Kita harus bertemu lagi setelah ini," ucap dokter William. Yuna menerimanya. "Ajak Leo untuk bertemu dengan ku," lanjutnya.


"Baik dokter William. Sekali lagi aku berterima kasih atas kesediaan dokter datang kemari," jawab Yuna. Dokter William mengangguk. Dia masih ingin berbincang sebenarnya tetapi waktu tak memungkinkan. Ada jadwal lagi yang harus dilakukan.


Dokter William pamit pada Yuna dan kemudian segera pergi meninggalkan rumah sakit.


_______


Catatan Penulis


Tarraaa.... Up hari ini banyak kan. Uhum ... buat ganti yang kemarin ya.


Terima kasih yang dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Padamu kesayangan. Luv luv.


Jangan lupa jempolnya digoyang... Like komen. Okey. Tengkyu... 😘😘