Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 152_Galau


Malam hari, pukul tujuh malam. Vano bertemu dengan Arnis di sebuah cafe out door. Mereka duduk bersebelahan di bawah payung besar dan dengan sangat serius memperhatikan laptop di depan mereka.


Mereka sedang membahas bisnis. Arnis beberapa kali menyedot minumannya dan kembali berdiskusi dengan Vano.


Saat itu, dua gadis melangkah masuk ke dalam cafe untuk memesan cake dan minuman. Ketika, Lula memainkan ponselnya, tak sengaja matanya melihat wajah Vano dari samping. Vano yang sibuk membuat jarinya menari di atas keyboard. Lula, kemudian memperhatikan gadis yang duduk di samping Vano. 'Sungguhkah itu Tuan muda Vano?'


"Nona... aku ketempat duduk dulu, di luar," Lula menepuk pundak Neva pelan dan melangkah keluar, sementara Neva masih sibuk dengan pilihannya. Lula duduk tepat dibelakang tempat duduk Vano.


Tak lama, Neva keluar dan langsung menemukan Lula, dia melangkah mendekat ke arah Lula. Matanya langsung menemukan Vano yang duduk tepat didepan tempat duduk Lula. Bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman, dia sangat bahagia. Ia ingin segera menghampiri dan menyapanya namun langkahnya tertahan setelah pandangannya beralih pada gadis cantik bermata sipit yang duduk di samping Vano. Senyum langsung menghilang dari wajahnya. Dia kembali melangkah pelan dan duduk di sebelah Lula. Punggungnya menghadap punggung Vano, mereka saling memunggungi.


Lula memperhatikan Neva yang langsung menjadi diam.


"Nona...," ucapnya menyentuh tangan Neva.


"Heheee... dia sangat cantik, kau lihat sendiri bukan?" ucap Neva dengan senyum. Senyum yang dia paksakan.


"Neva, umm... mungkin dia hanya teman."


"Ah, kau selalu saja menghibur ku dengan sesuatu yang belum tentu benar," Neva mencoba melawan rasa kecewanya. Dia membuka laptop miliknya dan mulai berdiskusi dengan Lula, dua menit kemudian, beberapa teman-teman mereka datang dan bergabung.


Vano tidak menyadari bahwa ada Neva dibelakangnya. Dia hanya merasa bahwa anak-anak di belakangnya sangat berisik. Tidak bisakah mereka berdiskusi dengan tenang?


***@***


Pukul 01:30 dini hari, Neva belum bisa memejamkan matanya. Dia menimang-nimang ponselnya, dan memperhatikan dua tiket nonton ditangannya.


"Sebaiknya aku tidak perlu nonton," ucapnya. Kemudian, ia membuang tiket itu ke tong sampah. Namun sedetik kemudian, dia mengambilnya kembali.


"Aku memilih menonton bersama Papa. Jika dia mengajak pacarnya maka aku akan jadi anak yang mengawasi Papanya pacaran," dia menaruh tiket itu di atas meja.


"Tapi... Papa tidak perlu diawasi bukan? Agrhhh.... kenapa aku galau, kenapa? Aku tidak pernah seperti ini. Aku menyukainya sedari dulu tapi hanya menyukainya saja, tapi sekarang kenapa hatiku terasa sakit melihat dia dengan cewek cantik tadi. Apakah mereka pacaran?" Neva mengambil tiket itu lagi dan kembali membuangnya.


"Ada apa dengan hati ku? Kenapa aku bahkan tidak bisa memejamkan mata ku?" dia berbicara dengan dirinya sendiri.


"Lula, aku harus menghubunginya. Tidak-tidak, dia bukan pemberi saran yang baik." Neva menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat gatal. Dia bingung sendiri. "Kak Lee...," dia segera mencari nomor Leo. Tapi setelah ketemu, dia tidak jadi membuat panggilan. "Agrrhh... aku tidak bisa menghubungi Kak Lee, mereka lagi honey moon, aku akan jadi setan jika aku menghubungi mereka. " Neva kesal dengan dirinya sendiri. Bahkan hingga fajar tiba, dia tidak bisa tidur.


Sabtu pagi dia habiskan dengan belajar masak bersama Mama, dan hanya main-main sepanjang hari di rumah. Dia tidak menghiraukan tiket nonton itu lagi, dia sudah membuangnya.


"Gadis muda, apa kau tidak ada acara malam minggu ini?" tanya Mama di sore hari ketika Neva berenang dan Mama duduk di bangku sebelah kolam renang. Mama membawakan jus jeruk untuk putrinya. Mendengar pertanyaan Mamanya, Neva menyudahi renangnya dan segera memakai jubah handuknya. Dia duduk di sebelah Mamanya.


"Hah?? Tidak," Mama berbohong. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawabnya singkat kemudian menyedot jus jeruk yang Mama bawa untuknya.


"Apa Kakak mu menghubungi mu?"


"Tidak."


"Ahh, anak itu... melupakan semuanya. Keterlaluan," Mama sedikit kesal karena setelah putra dan menantunya terbang ke New York, mereka tidak memberi kabar sama sekali.


"Mama tenang saja. Mereka akan kembali dan memberi Mama cucu," Neva menenangkan Mamanya. "Mama jangan mencoba untuk menghubungi Kak Lee... biarlah dunia milik mereka berdua."


"Ahh, ya ampun kamu gadis muda..." Mama berdiri dan mengacak rambut Neva. "Mengerti apa kamu tentang dunia milik berdua." lanjutnya terkekeh dan kemudian pergi meninggalkan Neva. Beliau tersenyum membayangkan cucu lucu dari Leo dan Yuna.


***@***


Pukul tujuh malam... ketika Neva tengah asik menyaksikan acara talk show di ruang tengah. Mama dengan senyum menghampirinya.


"Sayang, ada Vano di depan menunggu mu."


Mata Neva langsung terbelalak, dan menatap Mama dengan pandangan tak percaya.


"Apa Ma?" tanyanya untuk meyakinkan.


"Vano menunggu mu di depan," jawab Mama dengan senyum mengembang. Neva langsung shock mendengar itu. Dia tidak habis pikir jika Vano akan datang ke rumahnya.


"Tiket itu... iya tiket itu..., Arghhh... aku sudah membuangnya," dia segera berlari menaiki tangga dan mengorek tempat sampah di kamarnya. Dia menjadi frustasi karena tidak menemukannya.


"Ya Tuhan... apa yang harus ku lakukan. Aku sangat bodoh, kenapa aku membuangnya."


"Apa kau mencari ini?" Mama berdiri di ujung pintu dengan membawa dua tiket nonton. Huuff... Neva langsung lemas melihat itu.


"Mama... kau terbaek. Aku mencintai mu, muach" Neva mengambil tiket di tangan Mamanya dan mencium pipinya.


"Segera ganti baju mu. Tidak perlu dandan yang berlebihan. Jadilah diri mu sendiri. Mama akan menemani Vano di bawah," Mama mengusap pundaknya dengan lembut. Beliau menatap putrinya dengan pandangan lembut seorang ibu.


"Siap Mama...,"