
Jarak tempuh dari Ibu Kota ke kota B kurang lebih dua jam perjalanan. Vano telah membookingnya. Ya, dia hanya ingin berdua.
Sesampainya di sana. Neva memperhatikan keadaan sekitar dan memperhatikan restoran berbentuk kapal ini. Terakhir dia kesini dua bulan yang lalu bersama teman-temannya, saat itu restoran ini sangat ramai pengunjung, entah untuk makan atau hanya sekedar untuk selfie. Tapi saat ini, keadaannya berubah seratus persen dari segi pengunjung. Tempat ini sangat sangat sepi.
Mereka berdua duduk di bangku paling pinggir di lantai dua. Dari sini, terlihat danau yang sangat luas dengan pemandangan alamnya yang indah.
Neva menatap Vano, "Kak Vano membooking tempat ini?" Tanya.
"Iya," jawab Vano dengan anggukan.
"Hmmm, padahal tidak perlu dibooking juga," ucap Neva.
"Aku hanya ingin berdua dengan mu," jawab Vano yang langsung disambut senyum merona oleh Neva.
Kemudian, makan yang yang mereka pesan telah tersaji. Mereka makan dengan tenang. Dan diakhiri dengan ice cream yang lembut.
"Kau mau?" Neva menawari Vano. Dan langsung memberinya suapan ice cream.
"Hmmm ice creamnya sang lembut," ujar Vano. Neva mengangguk menyetujuinya. "Tapi masih lembut tatapan mata ku pada mu," lanjut Vano.
Neva menatapnya dengan senyum tertahan. Dia mengigit sendok di mulutnya sebentar kemudian meletakkannya kembali di gelas ice cream. "Satu, satu," ucap Vano dengan tawa ringan. Dia ingat malam itu Neva berhasil menggombalinya.
Tangan Neva mengulur lalu membuat gerakan yang yang rancu, gerakan tangan yang tidak beraturan.
"Kamu ngapain?" Tanya Vano yang sedari tadi memperhatikan gerakan tangan Neva. Dia mencoba menebak arti dari gerakan itu tetapi tidak berhasil.
"Menurut Kak Vano?" Jawab Neva membalik pertanyaan.
Vano mengerutkan keningnya dan kembali berfikir tetapi tetap saja tidak menemukan jawabannya. Gerakan yang tidak beraturan.
"Aku tidak bisa menebaknya, sangat sulit untuk dipahami," jawab Vano. Kemudian, Neva menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Vano dengan senyum.
"Tentu saja sangat sulit untuk di pahami, karena aku yang paling bisa memahami hati mu," jawab Neva. Jawaban yang membuat Vano tersipu lalu dia tertawa. Astaga, dia dapat gombalan lagi. "Dua, satu," ujar Neva tersenyum menang.
Kemudian, Vano meraih tangan Neva dan memperlihatkan jari-jarinya. Neva menatapnya, menatap jari-jarinya.
"Apa kau tahu kenapa jari-jari ini memiliki celah?" Tanyanya. Neva mengerutkan alisnya.
"Tidak tahu," jawab nya.
"Karena ada jariku yang akan menggenggam jari-jari mu," jawab Vano.
"Eaaaa," Neva tersenyum dengan lebar. Mereka berdua tertawa, saling berbalas gombalan receh.
Kemudian, Mereka menuju ujung kapal. Neva berdiri paling ujung dan Vano berdiri di belakangnya. Ini mirip sekali dengan adegan Rose dan Jack ketika mereka tengah berdiri di ujung kapal menikmati senja.
Kedua tangan Vano melingkar di pinggang Neva. Mata mereka tertuju pada objek yang sama. Mereka memperhatikan perahu kecil nelayan yang berada di tengah danau. Neva mengeluarkan ponselnya kemudian membidik nelayan itu. Lalu dia mengarahkan kameranya pada wajahnya.
"Ayo membuat kenangan untuk hari ini," ucapnya. Kemudian mereka membuat beberapa foto dengan wajah yang jelek. Lalu Vano mencium pipi merona Neva saat kamera kembali membidik. "Kau .... " ucap Neva tersipu dan menyodok perut Vano dengan sikunya. Vano terkekeh. Setelah puas berfoto, Neva memasukkan kembali ponselnya.
"Sayang," panggil Vano pelan.
"Ya," Neva menjawabnya dengan refleks setelah mendengar panggilan itu dari bibir Vano.
"Hmm," Neva menatap lurus ke depan. Danau dan hamparan kebun teh yang indah. Terpaan angin yang membelai wajahnya. Dia tersenyum dan memberi jawaban, "Aku memutuskan untuk pergi karena ingin menjauhi mu. Lalu, bagaimana bisa aku tetap pergi jika ternyata hati ini ingin selalu dekat dengan mu," ucapnya. Vano tersenyum mendengarnya. Senyum bahagia dan perasaan yang sangat lega. Dia memiliki pemikiran yang sama tentang ini, tentang rindu yang menggebu jika nanti mereka akan jauh. Namun, ternyata Neva memutuskan untuk tetap tinggal.
"Terima kasih sayang," ucap Vano. Dia mencium ringan kepala belakang Neva. "Fakultas di Negara ini juga bagus, kau mau mendaftar di mana?" Tanyanya.
"Ada dua pilihan, dan aku masih bingung tentang keduanya," jawab Neva. Kemudian, mereka kembali duduk dan membahas dua fakultas yang Neva incar.
Setelah selesai berdiskusi tentang itu, Vano sedikit menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Neva.
"Nanti malam, kita kerumah ya. Gimana?" Tanya Vano. Neva mengerutkan kening dan menatapnya.
"Nanti malam, setelah kembali dari sini?" Ujar Neva. Dia sedikit tidak setuju dengan itu. Jika dari sini dan langsung berkunjung ke rumah Vano, itu berarti dia tidak mengganti bajunya. Rasanya tidak sopan bertemu dengan calon mertua mengenakan pakaian casual.
"Ya, malam ini Papa ada dirumah dan Mama pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini," ujar Vano. Tangannya mengulur dan mengambil tangan Neva. Dia menggenggamnya. "Aku tidak memaksa mu jika kau belum mau bertemu dengan mereka," lanjut Vano dengan perhatian.
Neva semakin menatap, "Bukan begitu, bukan aku tidak ingin bertemu dengan Om dan Tante tapi, emm, tapi .... " Neva mengalihkan pandangannya dan memikirkan alasan. Tidak mungkin dia bilang jika itu karena pakaian yang ia kenakan.
Tangan Vano menepuk-nepuk pelan punggung tangan Neva. "Tapi kenapa sayang?" Tanya Vano. Suaranya lembut penuh perhatian.
Neva kembali menatapnya, "Umm, menurut Kak Vano, bagaimana dengan penampilan ku? Apa ini cocok untuk bertemu dengan mereka, ini sepertinya kurang sopan untuk bertemu mereka," kata Neva yang pada akhirnya mengutarakan apa yang ia pikirkan.
Vano tersenyum, "Kenapa kau menghawatirkan itu. Kita bisa mengganti baju mu dulu sebelum bertemu mereka, bagaimana?" ujar Vano yang disambut senyum lega oleh Neva. Benar, kenapa tidak terpikirkan oleh nya.
"Oke," jawab Neva dengan anggukan.
Kemudian, mereka meninggalkan kawasan itu. Pemandangan kota B sangat-sangat indah. Hamparan luas perkebunan teh yang berbukit, danau, kelokan jalan yang terlihat indah bersatu dengan indahnya langit sore tanpa awan hari ini. Neva membuka kaca mobil, membiarkan udara sejuk masuk kedalam mobil. Udaranya terasa sangat sejuk, Neva menikmati nya. Ini sangat berbeda dengan udara di Ibu kota.
"Kak," panggilannya pada Vano tanpa menoleh.
"Ya," jawab Vano.
"Om Mahaeswara, akan menyukai ku bukan?" Tanyanya sedikit cemas. Biar bagaimana pun dia takut keluarga Vano tidak menyukainya. Nyonya Mahaeswara, Neva tersenyum mengingatnya. Nyonya Mahaeswara yang bahkan memberinya banyak kesempatan untuk bisa dekat dengan Vano. Tapi dia tidak tahu bagaimana reaksi Tuan besar Mahaeswara. Bagaimana jika ternyata Vano dijodohkan dengan putri dari teman bisnisnya.
Tangan Vano mengulur dan meraih tangan Neva lalu mengenggamnya. Dia mencoba menenangkan kecemasan Neva.
Neva membawa pandangannya pada Vano, menatap laki-laki itu dari samping. Entah kenapa banyak sekali kecemasan dalam hatinya. Dia takut tidak disukai, dia takut tidak diterima. Apa yang akan dia ucap nanti.
"Mereka pasti menyukai mu. Kau tahu bagaimana Mama begitu menyukai mu," ucap Vano. Neva mengangguk pelan.
____
Catatan penulis ( Curhatan π₯° )
Hai, hai ... masih betah dirumah.
#DiRumahSaja
Maaf Up bonus telat yach. Terima kasih untuk semuanya yang masih setia dengan kisah ini. Aku pada mu. Luv luv.
Jangan jempol digoyang ya kawan SC π
Terima kasih untuk like komen dan vote nya Sahabat Sebenarnya Cinta π Luv u full.