
"Kau dirumah sendiri?" tanya Vano.
"Tidak juga, ada asisten rumah tangga dan ada Joe," jawab Neva. Vano langsung menoleh ke arah Neva.
"Joe masih tinggal disini?" tanyanya terkejut. Dia pikir, setelah beberapa hari kepulangan Dimas dari negara A, Joe tidak lagi tinggal disini.
"Ya," jawab Neva, dia mengangguk. "Joe tinggal di rumah sebelah," lanjut Neva. Rumah besar keluarga Nugraha memang teramat besar, memiliki beberapa bangunan terpisah dengan rumah utama.
"Satu komplek dengan asisten rumah tangga lain?" tanya Vano
"Tidak," jawab Neva. Dia menyalakan televisi.
"Tidak? Jadi Joe berbeda?" Vano semakin penasaran.
"Hu'um. Sepertinya dia istimewa buat Papa. Papa memperbolehkan dia tinggal disini dan menempati rumah samping adalah sesuatu yang langka," jawab Neva. Yang dia tahu, papanya memperolehkan Joe tinggal disini untuk menjaganya selama mereka belum kembali dari Negara A.
"Jadi, siapa Joe?"
Neva mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu," jawab Neva. "Aku tidak mau kepo. Papa pasti memiliki alasan sendiri untuk itu. Mungkin Joe adalah orang yang paling Papa percaya."
"Joe masih muda dan tampan," sahut Vano dengan cemberut. Neva terkekeh. Dia menatap Vano.
"Hmm kenapa? Dia memang sangat tampan," jawab Neva dengan sengaja.
Joe yang tak sengaja mendengar percakapan itu terbatuk. Neva menyebutnya tampan.
"Eh, kau ada disini," ucap Neva langsung menoleh. Dia merasa malu karena ketahuan tengah membicarakan Joe. Joe mengangguk dengan memamerkan giginya. Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan laptop yang yang ia bawa.
Laptop milik Neva.
"Ini milik Nona," ucapnya.
"Heheee iya, sini," jawab Neva. Dia mengulurkan tangannya untuk menerima laptop miliknya. Kemarin setelah diskusi malam, Joe memang membawa laptop milik Neva, untuk merapikan beberapa file yang masih berantakan. Tadi, sesaat setelah Vano datang, dia sudah minta izin untuk bertemu dan Neva mempersilahkannya masuk. Dan saat ia berada di samping ruangan, ternyata mereka berdua tengah membicarakannya.
"Saya, permisi dulu Nona," Joe pamit.
"Eh, disini saja," ucap Neva mencegah Joe untuk pergi. Dia ingat tatapan intens dan usapan lembut tangan Vano saat di bioskop kala itu. Jadi, lebih baik dengan adanya Joe bersama mereka. "Silahkan duduk Joe," Neva mempersilahkan Joe untuk duduk. Vano menatap Neva, kemudian menatap Joe.
"Baik, Nona," jawab Joe dengan senyum. Dia duduk di sofa lain di depan samping Neva.
"Kau betah disini Joe?" tanya Vano kurang suka. Tangannya terangkat untuk di letakkan di bahu Neva. Dia merangkul Neva dan sedikit menarik Neva menjadi lebih dekat dengannya.
Joe mengangguk pelan, "Sangat betah, Tuan muda. Disini sangat nyaman," jawabnya.
"Sebelum tinggal disini, dimana kau tinggal Joe?" tanya Vano lagi.
"Saya tinggal di pusat kota tak jauh dari perusahaan," jawab Joe.
Vano mengangguk-angguk, "Sudah lama berkerja di perusahaan?" tanya Vano lagi.
"Hmm? Sudah," jawab Joe lagi.
"Sebelum menjadi asisten Neva, apa jabatanmu di kantor?" Vano mengejarnya dengan pertanyaan. Neva menoleh ke arah Vano, kemudian menoleh ke arah Jor. Joe tidak mungkin menjawab jujur jika dia adalah orang belakang Tuan besar Nugraha. Orang-orang belakang ini, biasanya sangat rahasia. Neva ingin menghentikan pertanyaan-pertanyaan kepo Vano, tetapi sebelum ia sempat membuka mulutnya ternyata Joe lebih dulu menjawabnya.
"Awalnya jabatanku adalah calon menantu Tuan besar Nugraha," jawab Joe dengan senyum lebar dan santai. Ini membuat Vano melebarkan matanya dan menatapnya dengan tajam. Dia shock. Calon menantu? Yang benar saja. Sedangkan Neva menahan senyumnya mendengar jawaban Joe. Dengan memberi jawab begitu, mungkin Vano akan berhenti dengan pertayaan keponya. Sepertinya Joe juga mengerjai Vano dengan jawabannya. Batin Neva.
"Hahaaa ... jangan menatapku seperti itu Tuan muda Vano. Aku hanya bercanda," jawab Joe. Mereka bertiga ngobrol santai di ruang tengah.
____________________
Setelah menginap satu malam di hotel.
Tuan dan Nyonya besar Mahaeswara berkunjung ke rumah Tuan besar Nugraha.
Dengan ramah dan penuh bahagia keluaga Nugraha menyambut kedatangan calon besannya.
"Bagaimana keadaan mu Leo?" tanya Nyonya Mahaeswara perhatian.
"Sudah membaik, Tante," jawab Leo sopan.
"Bagaimana ceritanya kau bisa seperti ini? Yang Tante dengar dari Neva, itu karena kau menolong seseorang. Apa itu benar?" tanya Nyonya Mahaeswara lagi untuk memastikan. Dan Nyonya Nugraha yang menjawabnya. Kemudian, mereka berdua menjadi ngobrol sendiri dengan seru. Yuna hanya beberapa menit menemani mereka, karena dia harus menemani Baby Arai yang sudah mulai mengantuk.
Kemudian setelah satu jam berbincang, Tuan Mahaeswara ingin menyampaikan sesuatu.
"Kedatangan kami kesini juga ingin menyampaikan jika ... kami ingin segera meresmikan hubungan Vano dan Neva. Rasanya tak baik jika mereka terlalu lama menggantung hubungan pertunangan tanpa kejelasan kapan akan menikah. Sebelum kesini, kami sudah menanyakan keseriusan Vano dan Neva," ujar Tuan besar Mahaeswara menjelaskan maksudnya dengan perlahan.
Tuan besar Nugraha mengangguk dengan senyum. Kemudian beliau menjawab, "Kami menyerahkan semuanya pada Neva. Jika dia siap, kami merestui tetapi jika dia belum siap, kami tidak memaksa. Kami hanya ingin dia bahagia dengan pilihannya."
"Kami sudah bertanya pada keduanya. Neva bersedia, dia bilang jika dia sudah bersedia untuk menikah dengan Vano," jelas Tuan besar Mahaeswara.
Mama Nugraha tersenyum bahagia mendengar itu. Setelah ini, beliau akan langsung membuat panggilan pada Neva. Kenapa anak itu tidak memberi tahu jika dia telah bersedia menikah dengan Vano.
Leo hanya diam tidak memberikan pendapatnya. Dia hanya mendengarkan. Ia ingat, Neva yang memaki Yuna karena masa lalu itu. Namun mereka sudah saling memaafkan bukan? Ini akan mudah, batinnya memberitahu dirinya sendiri.
"Kami ingin meresmikan hubungan mereka setelah kesembuhan Leo," lanjut Tuan Mahaeswara yang disetujui oleh Tuan dan Nyonya Nugraha.
"Kalian fokuslah pada Leo, pada kesembuhannya. Tentang pernikahan anak kita, biar kami yang mengurus semuanya. Kami akan menyiapkan semuanya," tambah Nyonya Mahaeswara.
"Maaf jika malah merepotkanmu," jawab Nyonya besar Nugraha.
"Ah, merepotkan apa. Tidak repot sama sekali. Aku sangat bahagia dan sangat bersemangat," Nyonya Mahaeswara tersenyum lebar.
"Terima kasih banyak," ujar Nyonya besar Nugraha dengan juga semangat.
"Leo, segeralah sembuh, mari segera rayakan pesta bahagia Neva dan Vano," Nyonya Mahaeswara menatap Leo.
Leo mengangguk dengan senyum tipis, "Terima kasih Tante, pasti," jawabnya.
"Jika kondisinya terus membaik maka akan segera dilakukan operasi, setelah itu ... tinggal kontrol dan terapi," jelas Tuan besar Nugraha yang dilanjutkan dengan do'a dari Tuan besar dan Nyonya besar Mahaeswara.
Setelah berbincang-bincang ringan, Nyonya Mahaeswara mengajak Nyonya Nugraha untuk jalan-jalan. Beliau tahu jika Nyonya Nugraha pasti gelisah dengan keadaan Leo, jadi ... dia ingin mengajaknya sebentar untuk refreshing.
_________________
Catatan penulis π₯°
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Terima kasih udah begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini π₯°π Padamu... luv luv.
Maaf kalau ada Typo-typo ya. π Mohon dikoreksi