Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 142_Musim Merindu 2


Malam hari, pada jam 21.00 Leo berdiri dari tempat duduknya sedari pagi. Dia berpindah di sofa dan dan menyandarkan punggungnya, ia membelai ponselnya dan langsung membuat panggilan video pada Yuna.


"Sayang...," suara manja istrinya di seberang sana melelehkan hatinya. "Hei, Tuan muda, apa sekarang kau masih di kantor?" suara Yuna menjadi serius. Leo mengangguk. "Aku sudah bilang jangan gila kerja, segera pulang dan selesaikan besok," si Nyonya cerewet mulai beraksi.


"Ini baru jam sembilan, dan aku juga tidak tahu untuk apa aku harus pulang cepat. Pulang cepat atau tidak, tidak ada bedanya, itu sama saja," jawab Leo. Dia memijit pertengahan hidungnya, bagian tengah antara kedua matanya. Sesungguhnya matanya sangat lelah seharian manatap layar laptop, namun, dia tidak ada keinginan lain selain bekerja dan segera menyelesaikan semuanya. Ini baru satu hari dua malam dan dia sudah ingin pulang.


Yuna kehabisan kata-kata. Dia hanya menatap Leo penuh haru, dia menarik nafasnya dalam.


"Sayang, kau harus istirahat dengan cukup. Aku tidak akan memaafkan mu jika kau sampai kelelahan," Yuna berucap dengan mengancam namun sedih.


Leo mengangguk pelan. "Kenapa kau belum tidur?"


"Aku, belum mengantuk."


"Kau harus segera tidur, tidak boleh begadang. Cantik mu akan hilang jika kau sering begadang. Mata mu akan memiliki lingkaran hitam seperti panda."


"Lalu... apa kau tidak akan mencintai ku lagi jika aku berubah jadi jelek?" Yuna mengerucutkan bibirnya. Leo terkekeh melihatnya, sungguh itu membuat lelahnya sirna, ia ingin mencubit pipi menggemaskan itu.


"Apa pertanyaan mu itu mengandung jebakan? Apa sekarang kau menunggu ku untuk menggombal?" mereka saling menggoda dalam panggilannya video. Hingga jam menunjukkan angka 23.00. Tidak terasa, ternyata sudah dua jam mereka melakukan panggilan Vidio.


"Sayang, tidurlah. Aku akan menemanimu." suara Leo sangat lembut penuh perhatian.


"Tidak, jika kau menemani ku, kau pasti tidak akan tidur lagi seperti kemarin malam," mereka saling membalas pandangan dan saling merindu. "Segeralah kembali ke hotel, dan istirahat."


"Sayang...,"


"Tidak boleh menawar, berjanjilah. Setelah aku memutus panggilan ini, kau harus kembali ke Hotel dan tidur. Atau... aku akan menonaktifkan ponselku selama kau disana."


"Okey, baik. Kau menang," Leo menjawab dengan patuh. Dan setelah saling membalas ucapan cinta, panggilan berakhir.


Leo dengan malas segera berdiri dan membereskan semua pekerjaannya. Kemudian melangkah keluar. Tepat ketika dia membuka pintu, Lidia hendak masuk keruangan dengan membawa teh panas. Karena tadi siang kopinya di tolak, jadi saat ini dia membawakan teh.


Leo kesal setengah mati dengan ini, dia sedikit menabrak Lidia yang membawa teh. Teh itu sedikit mengenai tangan mulus Lidia, tapi dia tidak perduli. Dia malah merasa kesal karena tubuhnya menyentuh tangan Lidia.


"Ngapain disini?" ucapnya tanpa rasa prihatin sama sekali dengan tangan Lidia yang memerah.


"Maaf pak, saya lihat bapak lembur, jadi saya bermaksud membawakan ini untuk bapak," jawabnya dengan sangat sopan.


"Selain tentang pekerjaan, jangan pernah masuk ke dalam ruangan ku." ucap Leo membentaknya. Dia kemudian membuka jasnya dan membuangnya ke tempat sampah. Lidia ingin menangis karena ini, dia sudah menunggu sangat lama untuk memberanikan diri membawakan teh ini dan malah berakhir dengan bentakan, dan bahkan sebuah hinaan. Apa-apaan adik bossnya ini? Kenapa dia sampai membuang jasnya hanya gara-gara menyentuh sedikit tangannya saja.


'Seberapa hinakah diri ku?' Dia ingin menangis darah dengan perlakuan adik bossnya. Tangannya bahkan terasa sangat panas.


__Pagi harinya.


Leo berangkat ke kantor lebih pagi dari kemarin. Masih seperti kemarin, ada dua asisten yang membuntutinya.


"Selamat pagi pak...," beberapa karyawan yang dia lewati segera menyapanya dengan ramah. Leo hanya mengangguk sedikit dengan wajah yang datar tanpa senyum sedikitpun. Kemudian, seseorang menyusulnya, ia berdiri di sebelah Leo.


"Mohon maaf pak, ada yang ingin saya laporkan," ucapnya sangat menyakinkan. Dia masih belum menyerah setelah bentakan semalam. Dan ini adalah triknya untuk bisa masuk satu lift bersama Leo. Lift khusus hanya diperuntukkan bagi Direktur dan tamu-tamu penting.


Ponsel milik Leo bergetar, ia segera mengambil dari saku jasnya. Pesan dari 'My Wife, You Are My Heaven' nama yang dia berikan pada kontak Yuna. Ia segera membuka pesan itu. Yuna mengiriminya video Boomerang, ia memonyongkan bibirnya dan bilang 'muach'.


'Sarapan pagi mu sayang,' melihat wajah menggemaskan itu, Leo segera melakukan panggilan telepon.


"Hmm, apa kau tidak memberiku sarapan pagi?" Yuna menggodanya.


"Aku ada di dalam lift bersama beberapa karyawan," jawab Leo, ia mengisyaratkan bahwa dia tidak mungkin bilang 'muach' dan sebagai gantinya, dia bilang... "I love you, dear."


Dua asisten yang membuntutinya dari kemarin saling berpandangan dan terpaku. Laki-laki yang sedingin es ini berbicara tentang cinta? OMG... cinta sungguh luar biasa dalam kehidupan seseorang. Lidia menatapnya dengan kesal, sayang? Love? norak. Batinnya.


"Sayang, kau manis sekali. Aku benar-benar ingin mencium mu."


"Lakukan jika aku sudah kembali," dia semakin tersenyum lebar menggoda istrinya. Dan pintu lift terbuka. "Sayang, aku minta maaf telfonnya sampai disini ya."


"Okey, semangat...,"


"Terima kasih, sayang. Jangan lupa sarapan," panggilan berakhir.


Seperti kemarin setelah bertemu Dimas, dia segera ke ruangannya dan langsung bekerja tanpa henti, dia hanya berhenti ketika dia mengirim pesan pada Yuna, selanjutnya, dia bekerja dan terus bekerja.


___Di kampus Neva


"Sungguh dia tidak membalasnya?" Lula bertanya dengan penasaran. Neva mengangguk dengan putus asa. "Tenang dulu Nona ku, mungkin doi kehabisan kuota internet"


Neva langsung menjitak kepala Lula. Kehabisan kuota internet? Yang benar saja, sungguh alasan yang terlalu mengada-ada.


"Coba kirim pesan lagi," Lula memberinya saran.


"Nggak, aku nggak mau terlihat begitu mengejarnya. Itu terlihat murahan."


"Baiklah, kita tunggu saja hingga dia membalas."


Vano memang tidak membalas pesan dari Neva, namun dia membuka dan membacanya. Dia sangat sibuk untuk membalas pesan, Ia menjadi sangat sibuk karena ulah Leo. Dia bahkan tidak sempat untuk makan dan tidur.


_Siang hari di jalanan padat Ibu Kota. Yuna keluar dari tempat melukisnya. Ponselnya berdering dan ada pesan masuk. Dari Karel.


"Selamat siang Nyonya Leo."


"Hei, apa-apaan kau."


"Hhaa, Yuna... aku baru saja kembali dan aku membawa oleh-oleh untuk mu. Tapi aku tidak tahu caranya untuk memberikannya pada mu."


"Kak Er kapan ada waktu senggang? Aku akan meminta izin pada suami ku untuk bertemu dengan mu Kak."


"Jangan lakukan jika itu membuatnya tidak suka. Aku akan menitipkannya pada pembantu mu saja, bagaimana?"


"Jangan, itu malah terkesan Kak Er memberi ku hadiah secara diam-diam. Aku akan menemuimu bersamanya."


"Baiklah Yuna. Sampaikan salam ku untuknya." chat berakhir. Yuna segera mengirim pesan pada supirnya untuk tidak menjemputnya. Ia merasa bosan jadi dia berniat untuk jalan-jalan kemanapun. Dia berniat mengunjungi sebuah panti asuhan, jadi dia harus membawa buah tangan.


Dia berjalan di trotoar, namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan keras, hingga membuatnya menjauh dari tempatnya. Dia berada dalam pelukan seseorang sekarang, dan lengannya sedikit tergores bangku jalan disebelahnya.


Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah sebuah mobil mewah menabrak dan terguling tepat disampingnya. Teriakan histeris pengguna jalan memekakkan telinga, suasana menjadi sangat riuh dan mencekam, mobil itu menabrak beberapa pengguna jalan. Jika seseorang ini tidak segera menariknya maka mungkin dia akan menjadi sebuah cerita, maka mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan suaminya lagi. Dia lemas menyaksikan kejadian itu didepan matanya.