
Leo tahu jika Yuna hanya pura-pura tidur. Dia tersenyum jahil lalu ia menempelkan bibirnya di telinga Yuna.
"Jika kau tidur, ini akan semakin mudah untuk membuka semua bajumu," bisiknya halus dengan godaan. Dug. Yuna langsung menyikut perut Leo setelah mendengar kalimat itu. Tuan suami selalu mesum jika hanya berdua.
"Wooohhh yang tidur sedang ngelindur," gurau Leo setelah mendapat sodokan di perutnya. Kedua tangannya sudah siap untuk diletakkan di pinggang Yuna lalu sejurus kemudian ia menggerakkan kesepuluh jari tangannya untuk membuat Yuna tertawa geli. Yuna tertawa sambil mencoba menyingkirkan tangan Leo dari pinggangnya.
"Sayang ampun," ucapnya berteriak diantara tawanya. Ok. Leo menghentikan aksinya. Namun dengan cepat Yuna membalasnya. Yuna bangkit dan mengklikitik pinggang Leo. Namun tangannya terlalu mungil untuk bisa menang dari Leo. Leo memegang kedua tangan Yuna dan membalik badannya, membuat Yuna berada dalam kuasanya. Ia telah berhasil membungkus Yuna dalam pelukannya.
"Uhuk ... kau terlalu kuat menindihku," Yuna terbatuk-batuk. Tapi sebenarnya itu hanya akting. Leo merenggangkan pelukannya, genggaman tangannya juga memudar. Dan Yuna langsung mendorongnya, membuat Leo jatuh tidur di sampingnya. Kemudian Yuna menyusulnya. Ia menempatkan dirinya di atas tubuh Leo.
"Uhuk ... kau terlalu kuat menindihku," Leo menirukan ucapan Yuna. "Atau kau gendut sekarang," lanjut Leo dengan sengaja meledek Yuna gendut. Yuna langsung menghadiahi pukulan di dadanya.
"Kau selalu menyebalkan, Tuan suami," ucap Yuna cemberut dan semakin memeluk Leo. "Ya, aku gendut sekarang. Memangnya kenapa? Apa kau tidak mencintai ku lagi setelah aku gendut? Atau kau akan mencari wanita lain yang lebih seksi dariku?"
Tangan Leo terangkat dan langsung menyentil bibir Yuna pelan.
"Ngomong apa," dia menatap Yuna dengan kasih. Kemudian membuat sentilan lagi di bibir Yuna. "Jangan berbicara yang bukan-bukan," ucapnya.
"Kau meledek ku gendut," ucap Yuna.
"Tapi aku tidak bilang ingin mencari pengganti mu," jawab Leo.
"Tapi aku gendut ...." Yuna mengerutkan bibirnya dan segera menyingkir dari atas tubuh Leo. Dia turun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Leo segera. Dia menjadi takut jika Nyonya ngambek. Bisa-bisa, dia tidak akan mendapatkan jatah hari ini. Tidak ada jawaban dari Yuna. Wanita itu melangkah ke arah lemari lalu jongkok untuk mengambil sesuatu di bawahnya.
"Yess," ucapnya setelah menemukan apa yang ia cari. Leo menahan tawa melihat itu. Yuna mengambil timbangan. Yuna membuat dirinya berdiri di atas timbangan tapi jarum pada timbangan itu tidak bergerak. Yuna berkacak pinggang dengan kecewa. Batrenya habis.
Leo tertawa melihat itu. Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju istrinya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yuna. Mencium pipinya dengan gemas.
"Aku bercanda, sayang," ucapnya. "Kau masih sangat seksi," tangan kanan Leo sudah berpindah di pantat Yuna saat mengatakan itu.
"Aku menjaga pola makanku, aku rajin olahraga," ucap Yuna dengan masih cemberut. Leo mengangguk. Bibirnya sudah berkelana di leher dan pundak Yuna. "Kau suka wanita seksi, aku akan terus berusaha menjadi seksi."
"Aku suka kamu semuanya. Tidak perduli kau seksi atau gendut," jawab Leo.
"Prett," jawab Yuna kesal. "Mana ada."
"Pret, prett," Leo menirukan ucapan Yuna. Laki-laki ini menjadi lucu dan jahil sekarang, rasa-rasanya ia telah terkoneksi oleh Yuna. Tangan sebelahnya memegang pipi Yuna dan membuat wanita itu menoleh ke arahnya. Ciuman hangat nan lembut langsung Yuna dapatkan. Namun kemudian, ponsel Leo berdering. Leo tak mengacuhkannya, dia masih terus menikmati manis bibir Yuna. Tetapi Yuna menghindar.
"Sayang, ponselmu berdering," ucap Yuna.
"Biarkan," jawab Leo dan kembali menyerbu Yuna. Namun Yuna menghindar lagi.
"Apa kau sudah mengabari Mama jika kita telah sampai," tanya Yuna. Leo menggeleng pelan dengan frustasi. Tidak di Ibu Kota, tidak di kota K, sama saja. Penganggunya sama. Geramnya. Dia melepaskan Yuna dan berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya yang masih berdering. Sudah ada tiga panggilan tak terjawab.
Leo mengambil ponsel dan memberikannya pada Yuna. Meminta Yuna untuk menjawab panggilan dari mamanya. Sementara itu, ia langsung masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat ia keluar dari kamar mandi, Yuna masih berbincang dengan Mama, dia duduk di sofa. Tanpa mengganti jubah handuknya terlebih dahulu, Leo segera naik ke atas ranjang dan memeluk anaknya. Kemudian memejamkan matanya. Dia berpikir bahwa semua tempat memiliki pengganggu kecuali di kastil. Sepertinya setelah ini, ia harus memikirkan untuk lebih sering datang kesana.
***@***
Sementara itu di Ibu Kota.
Supir Vano membawa mobil dengan perlahan meninggalkan hotel menuju rumah besar keluarga Mahaeswara. Vano dan Neva duduk di bangku penumpang. Ini adalah kunjungan pertama Neva kesana sebagai menantu keluarga Mahaeswara. Grogi? Tentu saja, tapi dia punya Vano yang seperti biasa pasti akan membuatnya nyaman.
Tangan Vano mengusap-usap punggung Neva dengan halus. Bukan untuk memenangkannya sebenernya, tapi ia hanya ingin terus menyentuh gadisnya.
Sementara Neva mengambil kaca dari dalam tas miliknya.
"Sayang, bekas ciumanmu tidak terlihat bukan?" Neva bertanya dengan khawatir. Dia memperhatikan wajahnya di dalam pantulan kaca yang ia pegang. Kemudian, memperhatikan lehernya. Ia sudah menutupnya dengan make up sebelum meninggalkan hotel. Ia takut jika kecupan merah itu terlihat oleh Mama, Papa Mahaeswara dan bahkan saudara yang mungkin masih ada disana.
"Tidak masalah jika itu terlihat," jawab Vano santai. Dia mengambil kaca dari tangan Neva. Neva menatapnya.
"Itu tidak sopan," jawab Neva.
"Apanya yang tidak sopan. Bukankah itu wajar untuk pengantin baru," tukas Vano. "Tanda itu adalah bukti jika aku sudah memakanmu. Kau milikku," lanjutnya yang membuat wajah Neva memerah. Dia berpaling.
"Semua orang juga tahu, jika aku milikmu," Neva menjawab dengan sedikit merapatkan bibirnya.
Vano mengangguk, "Ya, tentu saja," jawabnya. Tangannya bergerak keatas hingga kepala Neva, mengusap rambut istrinya dengan kasih dan membuat Neva kembali menatapnya. Mata mereka bertemu, kemudian sebuah senyuman hadir pada bibir mereka berdua. Vano menunduk, menempelkan keningnya di kening Neva. Kedua tangan Neva berada di dada Vano, gerakan refleks saat kening mereka bertemu dan hidung mereka mulai bersentuhan.
Inikah, yang kata orang adalah manis madu cinta? Mata mereka terpejam, kedua bibir itu saling terpaut dengan manis, perlahan tetapi pasti, menyesap manisnya madu dengan penuh kasih. Bak mengigit apel merah yang lezat, Vano dengan lembut membuat gigitan disana. Lalu menyerbu lagi dengan sesukanya. Dia akan melepaskan Neva saat dirasa gadis itu hampir kehabisan nafas, hanya sebentar. Lalu ia akan membungkam Neva lagi dengan ciumannya.
Pelan, gerbang menjulang tinggi itu terbuka. Bertepatan dengan itu, Neva menarik dirinya dan menghindar.
"Sayang, sudah sampai," ucap Neva. Vano mengangguk dengan datar. Dia melepaskan Neva. Kemudian, gadis itu mengambil kaca yang Vano ambil tadi. "Di bibirmu ada lipstikku," ujar Neva dengan tawa kecil. Bibir Vano menjadi sangat seksi. Tidak ada banyak waktu, mobil sudah berhenti di halaman rumah Mahaeswara. Vano segera mengambil tissue dan membersihkan bibirnya, sementara Neva mengeluarkan make up-nya. Dia dengan cekatan memoles bibirnya lagi dan merapikan make upnya.
Supir dengan sopan membukakan pintu.
"Yukk," ujar Vano. Dia mencium kening Neva sebentar sebelum melangkah keluar terlebih dahulu. Kemudian, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Neva keluar dan berdiri di sampingnya.
Semua asisten rumah tangga berjejer disana membungkuk memberi salam. Di ujung sana, sudah ada Papa dan Mama Mahaeswara yang menyambut kedatangan mereka.
"Selamat siang, Pa, Ma," sapa Vano yang juga diikuti Neva.
"Selamat siang, sayang," jawab Papa Mahaeswara.
"Selamat datang, Neva putri Mama," Mama dengan senyum bahagia merentangkan tangannya dan memeluk Neva. Kemudian, beliau memerintahkan pada semua asisten rumah tangga yang berjejer untuk melayani Neva dengan sangat baik. Tentu saja, Nona Neva adalah Nyonya muda Mahaeswara sekarang.
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Dan di sambut meriah oleh beberapa saudara yang ada di ruang keluarga. Mama dan Papa Mahaeswara memperkenalkan satu persatu keluarga besar mereka. Paman dari negara kincir angin, Paman dari negara matahari terbit, Paman dari kota J, kota D dari pulau P, pulau S. Neva memberi salam dengan sopan. Kemudian berbincang dengan tutur yang lembut pada semua keluarga. Tentang tata krama, gadis ini tidak diragukan lagi. Keluarganya menjunjung tinggi etika dan tata krama. Mama Nugraha pasti bangga jika melihat putrinya saat ini.
Setelah beberapa jam berbincang lalu mereka makan siang bersama. Setelah itu, Vano dan Neva naik ke atas ke kamar mereka.
"Selamat datang, Cinta," ucap Vano sambil membuka pintu kamar.
"Waahh," seru Neva dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kamar ini sudah dihias dengan cantik khas kamar pengantin baru. Vano menggandeng tangan Neva untuk masuk. Lalu menutup pintunya kembali. Ia memeluk Neva dari belakang dan mencium pipi wanitanya dengan lembut.
"Semoga kau betah disini," ucapnya.
Neva mengangguk. "Maaf tidak bisa langsung membawamu ke rumah kita sendiri," lanjut Vano.
Neva mengangguk lagi. Dia melepaskan pelukan Vano dan membuat dirinya menghadap ke arah Vano, menatap wajah suaminya dengan kasih.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Neva, "dan ini memang yang terbaik, agar aku bisa lebih dekat dengan Papa dan Mama Mahaeswara," lanjut Neva. Vano tersenyum mendengar jawaban itu. Ia kemudian kembali memeluk istrinya.
"Terima kasih, sudah mau mengerti," ucapnya yang dijawab anggukan oleh Neva.
Sebenarnya, Vano sudah menyiapkan rumah untuk mereka di kawasan kota B. Ia ingat dulu Neva pernah ingin memiliki rumah disana karena sejuk tanpa polusi. Namun, Mama Mahaeswara tidak setuju jika Vano buru-buru pindah dan tinggal di rumah sendiri. Mama masih ingin menikmati hari-hari bersama putra dan menantunya, menikmati memiliki putri baru. Vano adalah anak tunggal jadi tentu sangat berat untuk langsung melepasnya setelah menikah. Dan lagi, Mama Mahaeswara sedang bahagia-bahagianya memiliki menantu, beliau berjanji akan memanjakan Neva seperti apa yang dilakukan oleh Mama Nugraha terhadap putrinya.
Neva mengingat sesuatu dan melepaskan pelukannya.
"Ponselku tertinggal di mobil," ucapnya.
"Tetap disini, biar asisten yang mengambilnya," jawab Vano. Dia melangkah menuju meja di samping ranjangnya dan membuat panggilan pada asistennya. Tak lama, pintu kamar terketuk. Neva bergegas membukakan pintu.
"Terima kasih," ucapnya setelah menerima ponsel dan tas miliknya. Kemudian seseorang datang menghampiri mereka. Seorang gadis cantik berambut cokelat. Umurnya kira-kira empat belas tahun.
"Kakak, ini kadoku ... heheee. Saking terpesonanya diriku, hingga lupa memberikan ini pada kakak," ucapnya.
Neva tersenyum, "Terima kasih, sayang," ucap Neva menerima kado dari gadis itu.
"Kak, namaku Qey," ujar sang gadis memberitahu namanya.
"Ok, Qey. Terima kasih yach," ucap Neva. Qey tersenyum senang dan mengacungkan dua jempolnya. Kemudian, ia pamit.
Neva kembali masuk ke dalam kamar dan tidak ada Vano disana. Ia meletakkan kado dan tas di atas meja lalu melangkah ke kamar mandi.
"Apa kau di dalam?" tanya Neva sambil memutar pegangan pintu kamar mandi. Dia berpikir jika pintu ini di kunci jadi ia hanya iseng memutarnya tapi ternyata pintunya tidak dikunci. Daaannnn ...
Vano bersiap membuka bajunya. Mata Neva melebar dengan malu. Kenapa tidak menguncinya, batin Neva.
________________
Catatan Penulis.
Nanas kasih Up obat rindu pada Abang Leo n Vano nich π₯°π₯° Gimana?? Udah terobati belum rindunya.
Uhukk foto terakhir bikin mimisan ky'nya ππ€
Goyang jempolnya, aseeek. Maaf kalau ada typo-typo ya π
Imissyu kesayangan semuanyaa, SSC πΉ ... Sehat dan Semangat selalu ya. Muach muach.