
Leo duduk di sofa di ruang tengah. Dia menyaksikan berita bisnis saat ini tetapi sebenarnya dia lebih kepada memperhatikan Yuna yang mondar-mandir di depannya. Dia sudah menanyakan hingga ribuan kali tentang apa yang Yuna rasakan dan dia mendapat jawaban yang sama. Yuna selalu menjawab tidak apa-apa.
"Sayang," panggil Leo. Ia mengulurkan kedua tangannya, meminta Yuna untuk mendekat ke arahnya. Yuna dengan patuh segera melangkah ke arah Leo dan menyambut uluran tangannya.
"Sungguh kau tidak merasakan apa-apa?" Tanya Leo lagi entah yang keberapa kali. Dia begitu khawatir melihat Yuna yang tidak tenang dari pagi. Leo tahu tanggal perkiraan persalinan Yuna masih beberapa hari lagi tapi dokter bilang padanya jika itu bisa maju atau mundur.
"Tidak ada," jawab Yuna masih dengan jawaban yang sama. "Aku hanya merasa sangat kenyang," lanjutnya.
"Kau belum makan siang," sahut Leo. Yuna mengangguk pelan. "Apa kau merasakan hal lain selain merasa kenyang," tanya Leo lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Yuna. Leo menarik dengan lembut tangan Yuna lalu memangkunya.
"Kita ke dokter," ucapnya.
"Tidak," Yuna menggeleng menolaknya, "Aku tidak merasakan apa-apa kecuali rasa kenyang yang teramat sangat," ucapnya.
"Tapi kau belum makan apapun setelah sarapan hingga siang ini, bagaimana bisa kau begitu kenyang?" Leo mengusap perut Yuna pelan dan hati-hati.
"Mungkin karena aku sarapan terlalu banyak," jawab Yuna. Tangannya melingkar di pinggang Leo dan menyandarkan kepalanya pundak Leo.
"Kita ke rumah sakit," ucap Leo. Yuna menggeleng lagi.
"Ini bukan apa-apa," jawabnya. Kemudian, Yuna berpindah untuk duduk di sofa. Leo mencium pipinya lalu dia berdiri mengambil gitarnya.
"Wah wah ...." Yuna bertepuk tangan melihat Leo kembali duduk di sampingnya dan mulai memetik gitar.
"Baby dengarkan suara Daddy," ucap Leo. Ia mengusap perut Yuna sebelum menarik suaranya. Yuna tersenyum dan ikut mengusap perutnya.
"I have a dream, a song to sing. (Aku punya impian, sebuah lagu tuk dinyanyikan)"
To help me cope with anything. (Tuk membantuku mengatasi apapun)
If you see the wonder of a fairy tale. (Jika kau lihat keajaiban dari sebuah dongeng)
You can take the future even if you fail. (Kau bisa gapai masa depan meskipun kau gagal)
I believe in angels. (Aku percaya pada malaikat)
I believe in angels. (Aku percaya pada malaikat)
When I know the time is right for me. (Saat ku tahu saatnya tepat bagiku)
Sebuah lagu dari Westlife, I have a dream.
"Semua akan baik-baik saja," ujar Leo setelah menyelesaikan satu lagunya. Ia menatap Yuna dengan kelembutan, tangannya mengusap pipi Yuna dengan pelan. "Semangat menanti Baby kita. Semangat Mommy, semangat ...." Leo dengan ceria memberi semangat pada Yuna.
"Semangat ...." Yuna tersenyum dan mengepalkan tangannya untuk bersemangat. Jika bisa, dia tidak ingin melahirkan secara caesar, ia ingin melahirkan secara normal. Keduanya memiliki perjuangan yang sama tetapi ia memilih normal sebagaimana saat Ibunya melahirkan dirinya.
____
Malam hari pukul sebelas malam, Yuna tertidur pulas setelah seharian mondar-mandir tidak tenang. Leo sudah membujuknya untuk ke rumah sakit tetapi Yuna menolaknya, ia merasa jika ia hanya kekenyangan.
Yuna tidur dengan posisi miring menghadap Leo. Tangan Leo mengusap rambutnya penuh kasih dan meninggalkan ciuman di keningnya dengan sangat hati-hati, ia takut gerakannya membuat Yuna terbangun. Kemudian ia sedikit turun kebawah dan menempatkan wajahnya tepat di depan perut Yuna. Ia memberi salam dan mengucap doa untuk calon buah hatinya. Ia berfikir mungkin rasa yang Yuna rasakan sedari pagi adalah tanda bahwa sang buah hati akan segera hadir ke dunia. Ia menyunggingkan bibirnya tipis dalam rasa cemas dan khawatir di hatinya.
Hanya selang sepuluh menit Yuna terbangun oleh rasa nyeri pada perutnya. Leo yang tidak tidur langsung mengusap lengannya.
"Sayang, kau terbangun," ucapnya. Yuna tidak menjawab. Ia merasakan sesuatu yang terasa begitu menyakitkan di perutnya.
"Aaaauuuhh," ia memekik dan memegangi perutnya. Tidak ingin bertanya lagi seperti yang sudah-sudah, Leo langsung menggendong Yuna untuk turun kebawah dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dia bahkan sudah membookingnya satu minggu yang lalu. Tidak hanya satu ruangan tetapi satu lantai di lantai empat.
Albar menyetir dengan cepat tanpa perintah dari Leo. Dia tahu situasi ini. Ia akan dibunuh jika tidak segera sampai di rumah sakit.
"Nasip mu ada pada kecepatan mu saat ini," suara Leo mencekam memperingatkan Albar.
"Baik, Boss," jawabnya. Baru saja dia membatin dan si Boss langsung memperingatkannya. Ia harus cepat dan hati-hati.
___
Maaf Upnya sedikit dan telat ya kawan tersayang π₯° Mohon pengertiannya π Nanas nulis diantara sibuknya di dunia nyata. Terima kasih untuk yang tidak pernah lelah menanti π₯°π Padamu kesayangan π₯°π
Jan lupa sun jempolnya ya kawan. Like komen vote. Ilupyu ... π