
Hari-hari Tiara menjadi berwarna kembali sejak kedatangan kedua sahabatnya.
Kemarin Dhilla juga menelpon katanya sudah tiba tapi karena kecapean jadinya tak bisa langsung bertemu.
Malam ini, seperti biasa ia pulang dari cafe setelah bekerja dari pagi tadi. Lelah ? jangan ditanya lagi tapi reuni dengan sahabatnya kemarin cukup membuat hatinya sedikit terhibur.
Baru saja ia hendak membuka pintu kamarnya,
" Ara ! ". panggil seseorang yang kini berdiri tak jauh di belakangnya.
" Hey Ara !" suara berat itu kembali memanggilnya.
Tangannya mendadak berhenti, perlahan ia memutar tubuhnya untuk memastikan apakah benar suara itu milik orang yang sangat ia rindukan namun dibencinya juga.
Deg !
Jantungnya berdetak kencang saat melihat Zian kini berdiri tak jauh di depannya, menatapnya penuh rindu.
Ya Tuhan, tatapan mata itu .
Ingin rasanya ia berlari ke dalam pelukannya, ingin rasanya ia menumpahkan semua kerinduannya namun ia merasa tak berhak lagi untuk melakukan semua inginnya.
Setelah sekian lama diabaikan begitu saja.
Matanya mulai memanas memikirkan semua itu. Tangannya mengepal kuat menahan emosi yang kini menghujam di dada.
" Untuk apa kesini kak ? pergilah aku mau istirahat !" ujar gadis itu susah payah menahan air mata yang mulai memaksa menyeruak keluar dari kelopak matanya.
" Dengerin dulu penjelasan gue Ra, please". ucap Zian seraya berjalan mendekat.
" Berhenti ! aku nggak mau denger apapun itu. Pergi saja kak !". ucapnya dengan air mata mulai berderai ramai.
Hati Zian bagaikan teriris melihat air mata itu.
Air mata yang tak ingin ia lihat di mata Tiara. Namun kini, ialah yang malah menjadi penyebabnya.
Buru-buru Tiara membuka pintu meski dengan tangan gemetaran, untungnya berhasil. Sebelum Zian mendekat dengan cepat ia masuk dan mengunci pintu.
tok tok tok
" Tiara, nggak bisa kayak gini. Please kasih gue waktu buat jelasin semuanya ". suara Zian terdengar dari balik pintu.
Tiara tak peduli, ia kini terduduk lemas di lantai membebaskan air matanya keluar tanpa henti.
" Ara !" panggil Zian untuk kesekian kalinya. Ia tahu telah melukai gadis itu begitu dalam tapi ia juga tak berdaya saat itu.
Tapi ternyata Tiara kini begitu membencinya bahkan mungkin tak ingin melihatnya.
" Baiklah Ara, kali ini gue pergi. Tapi besok dan seterusnya gue bakal kemari lagi sampai lo mau dengerin semua penjelasan gue ". ucap Zian terdengar sayup.
Zian kemudian beranjak pergi dari tempat itu dengan segunung penyesalan.
Tiara sendiri tak bisa membohongi perasaannya.
Ia begitu merindukan Zian tapi sakit hati karena diabaikan begitu saja menciptakan ego di hatinya.
Nggak bisa! kak Zian juga harus merasakan sakitnya diabaikan, sama halnya yang aku rasakan, titah hatinya.
Malam ini sepertinya ia tak bisa tidur nyenyak mengingat Zian yang kembali mengusik ketenangan hatinya.
Tak mampu lagi menahannya Tiara kemudian menelepon Hesti.
" Semoga saja tuh anak belum ngorok". gumamnya lirih.
Mungkin sdh tidur, telponnya nggak diangkat.
Ia meletakkan handphone kembali ke atas meja.
Duduk terdiam dengan benak yang kian berisik.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk.
Dari Hesti.
" Maaf Ra' habis dari toilet. Besok kamu kerja nggak?"
" Kayaknya nggak nih, lagi badmood ".
" Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Besok agak siang gitu aku ke situ. Ada hal penting yang mau aku omongin ".
" Hem, oke ".
" Bye, Ara ".
" Bye ".
\*\*\*\*\*