Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 191_Semangkok Mie Instan


Mereka berdua duduk santai di sebuah cafe out door. Hanya memesan cemilan ringan dan minuman dingin.


"Jadi, ada apa kau mengajak ku bertemu? Hampir membuat ku mati ke GeEran, kau tahu" tanya Arnis dengan tawa.


"Arnis...," Vano menatapnya. Pandangannya lembut namun serius.


"Ya," jawab Arnis. Wajahnya sedikit memerah karena mendapat tatapan dari mata indah itu.


"Aku pernah bilang pada mu bahwa... ada satu ikatan yang juga sama indah seperti ikatan cinta. Ia juga sama indah dan sama istimewanya...," Vano berkata dengan teratur.


Sudut bibir Arnis sebelah kiri terangkat.


"Kau menolak ku lagi," Arnis memotong ucapan Vano. "Selembut dan sebaik apapun kau menjelaskan itu. Itu tetap menyakitkan. Ya tentu saja, sebuah penolakan itu sangat menyakitkan," lanjutnya.


"Aku hanya tidak ingin kau semakin terluka nantinya," sahut Vano segera.


"Hmmm, apa hati mu sungguh tidak akan terbuka untuk ku Vano?"


"Jangan terlalu mengharapkan perasaan ku pada mu Arnis," jawab Vano.


"Kenapa? Karena Neva? Dia bahkan tidak menerima mu bukan? Kenapa kau memilih mengejar dan berlari jika ada yang dengan rela mendekat," ucap Arnis. Dia membalas tatapan Vano padanya, menatap kedalam matanya.


"Terkadang, cinta datang pada hati yang tidak meminta dan bahkan tidak menginginkannya. Dia datang tidak dengan memaksa tidak juga dengan mengiba. Jika aku bisa... aku ingin selain dia. Jalan yang sebenarnya tidak ku inginkan. Namun ternyata hati memaksa."


"Hmmm kau membuat ku terharu...," ucap Arnis terkekeh. "Jika aku bisa... aku juga tidak ingin berharap pada mu. Karena hati mu sekeras batu jika tentang ku. Namun... aku akan tetap menunggu." jawab Arnis masih keras kepala dengan perasaannya pada Vano.


"Ada banyak laki-laki baik di dunia ini Arnis. Ku mohon berhentilah berharap pada ku. Aku hanya tidak ingin kau semakin terluka."


"Dan berhentilah bersikap baik pada ku Vano," ucap Arnis.


"Itu karena kau adalah sahabat ku," jawab Vano tulus.


"Tapi sifat mu membuat ku tidak bisa berhenti mengharapkan mu, Vano," Arnis masih membela hatinya yang terasa begitu terluka.


"Jadi, menurut mu, apa yang harus aku lakukan? Tidak perduli pada mu?"


"Itu lebih baik. Kau berkali-kali mematahkan hati ku, berkali-kali juga aku masih menunggu mu. Lebih baik kau benar-benar menyakiti ku dan jangan berlaku baik pada ku, hingga aku bisa melupakan mu," ucap Arnis. Kemudian, ia menunduk.


Vano menghela nafasnya. Dia tidak ada niat menyakiti Arnis, dia tulus berbuat baik sebagai sahabat. Jika ikatan cinta tidak bisa bersama bukankah masih ada ikatan persahabatan? Kenapa dua ikatan itu seakan sulit sekali untuk bisa sejajar.


Langit malam tak berbintang, seperti hati Arnis saat ini. Angin malam yang dingin tidak mampu menetralkan hatinya yang terasa sangat perih.


"Aku akan kembali esok," ucapnya pelan dengan terus mengaduk minumannya tanpa ada keinginan untuk meminumnya.


___Di rumah Tuan Muda Lee


"Yuna duduk di sofa diruang tengah, dan Leo tidur di pahanya. Yuna asik menyaksikan acara talk show dengan memakan coklat. Tangannya yang satu mengusap rambut Leo.


"Sayang," panggil Leo.


"Ya?" jawab Yuna. Dia menunduk untuk menatap Leo. Namun, Leo memejamkan matanya.


"Kau tidak apa-apa bukan jika aku keluar negeri?"


"Kau tidak lama bukan?" tanya Yuna balik bertanya. Tangannya masih mengusap rambut Leo.


"Empat hari," jawab Leo dengan masih terpejam.


"Hmmm. Tidak apa-apa, itu tanggung jawab mu," jawabnya mencoba rela padahal tak rela. Leo mengangguk. Kemudian, dia membuka mata dan mengangkat kepalanya dari paha Yuna. Dia beranjak dari tidurnya.


"Mau kemana?" tanya Yuna. Dia menatap Leo yang berdiri.


"Keluar sebentar. Nyonya mau ikut?" Leo menawarinya.


Yuna menaikkan alisnya dan menjawab. "Kemana?" tanyanya.


"Minimarket depan," jawab Leo.


Yuna menggeleng, "Tidak," jawabnya. Dan Leo keluar sendiri, sementara Yuna melanjutkan menonton Tv.


Tak butuh waktu lama. Leo kembali dengan tentengan di tangannya. Dia memberi Yuna buah dan coklat. Kemudian, dia melangkah ke dapur.


"Sayang, kau masak apa?" tanya Yuna yang menyusulnya ke dapur. Dia melangkah menjejerinya.


"Mie instan," jawab Leo dengan memamerkan barisan giginya yang rapi dan putih. Dia tersenyum dengan sangat imut. Seperti anak kecil yang tertangkap mencuri kue lalu merayu untuk di maafkan.


"Apa? Sejak kapan Tuan suami suka mie instan?" tanya Yuna heran. Dia melebarkan matanya. Leo selalu mewanti-wantinya untuk tidak menyukai makanan satu ini. Tapi sekarang? Dia melanggarnya sendiri. Apa-apa ini?


Yuna langsung berkacak pinggang.


"Kau melanggar...," ucapnya dengan galak. "Tidak boleh." ucapnya tegas.


"Sesekali boleh sayang," jawab Leo. Tangannya mulai membuka bungkus Mie instan rasa soto. Yuna merebutnya dan langsung menyembunyikan dibalik tubuhnya.


"Kembalikan," ucapnya meminta Mie instan dari tangan Yuna. Tangannya mengulur di depan Yuna.


"Tidak akan," jawab Yuna.


"Yuna, kembalikan," pintanya lagi. Tangannya masih mengulur meminta Mie instannya.


"Nggak," jawab Yuna masih enggan memberi mie instan pada Leo. Dia tahu, Leo hampir tidak pernah mengonsumsi makanan satu ini.


"Yuna kembalikan, kau membuat air liur ku menetes," Leo masih berusaha meminta Mie instan miliknya dan Yuna masih Keukeh tidak mau memberikannya.


"Terserah...," ucap Leo dengan cemberut. Dia melangkah keluar dan langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa. Dia memejamkan mata dengan menyilangkan kedua lengannya di dada. Bibirnya masih manyun dan merasa sangat kesal dengan Yuna.


Yuna memperhatikan wajah yang terpejam itu. Sudut bibirnya berkedut dan kemudian kembali ke dapur. Dia memasak mie instan rasa soto pilihan Tuan suami.


Ada apa dengannya? Batinnya.


"Dia sangat lucu dan manja. Benar-benar membuat ku ingin terus mengigitnya," Yuna tersenyum lebar mengingat tingkah Leo. Beberapa menit kemudian... dia keluar dengan membawa satu mangkuk besar mie instan rasa soto. Dia juga ngiler dengan makanan satu ini, jadi dia memasak dua bungkus. Ditambah telur dan sedikit irisan cabai, mantaaap...


Yuna melangkah dengan pelan menuju ruang tengah. Ia meletakkan mangkuk dengan sangat pelan dan hati-hati hingga tidak menimbulkan suara. Dia ingin memancing seseorang untuk membuka matanya.


"Unhhh... kau baik sekali sayang," Leo menatapnya penuh cinta dan mencubit pipinya. Kemudian, dia meminta sendok yang Yuna pegang.


"Beri aku ciuman," ucap Yuna memberi syarat.


"Hahaaa... itu ucapan ku, Nyonya... kau tidak boleh mengambilnya," Leo terkekeh.


"Baiklah...," Yuna menatapnya gemas. "Kau tidak boleh makan mie instan," lanjutnya.


"Ah... Nyonya kau curang," jawab Leo dan langsung menyerbu bibir Yuna. Menciumnya dengan dalam. Dia memegang kedua tangan Yuna dan mencuri sendok dari tangannya. Yess... batinnya girang setelah berhasil mengambil sendok dari tangan Yuna.


Dia segera melepaskan Yuna dan duduk dengan tenang di depan semangkuk mie instan. Yuna tertawa renyah melihat Tuan suami yang mendadak sangat lucu. Tangannya terangkat dan menepuk-nepuk punggung Leo pelan.


"Makanlah...," ucapnya. Mereka berdua berperang menghabiskan semangkuk mie instan rasa soto dengan sangat bahagia. Terkadang, dua sendok itu saling memukul tak ingin memberi celah untuk bisa menyendok kuah mie instan. Ini... adalah pertama kalinya Leo makan dengan tertawa, dan bahkan bertengkar karena berebut dengan Yuna. Dia bukan Leo yang selalu anggun dalam segala hal. Malam ini, semangkuk mie instan rasa soto membuat Tuan muda ini sangat bahagia, dia seolah lupa pada Table manner.


Pukul sepuluh malam, Yuna sudah tertidur. Dan Leo segera tenggelam dalam pekerjaannya di ruang belajar. Bekerja dan bekerja...


Dini hari, dia baru beranjak dan membaringkan tubuhnya di samping Yuna. Mendekap istrinya dengan hangat.


Pagi hari. Sekitar pukul empat pagi... Yuna terbangun karena mendengar suara dari kamar mandi. Ia segera turun dari ranjangnya dan segera menuju kamar mandi, pintunya tidak tertutup. Dia segera memakai sandal dan mendekati Leo yang membungkuk di depan wastafel. Wajahnya pucat dan muntah. Yuna langsung panik dan segera bersiap menghubungi dokter tapi Leo memcegahnya. Kemudian, ia memijit tengkuk Leo pelan.


"Kau mencari sakit mu sendiri, kau mencari kesusahan mu sendiri. Aku sudah bilang pada mu, jangan makan mie instan, kau hampir tidak pernah memakan mie instan. Kau bendel dan tetap ingin memakannya. Aahh... aku ingin menghukum mu. Aku sudah memperingatkan mu, jangan... kau tetap memaksa dan bahkan ngambek seperti anak kecil. Aku bilang jangan ya jangan. Sekarang, siapa yang sakit? Sekarang siapa yang tidak enak badan. Leo... harusnya kau mendengarkan ku," mulut Yuna mulai terampil mengoceh dan mengomel pada Leo. Tangannya masih terus memijit tengkuk Leo pelan.


Yuna segera berlari turun ke bawah untuk mengambil kotak obat dan segera kembali. Dia juga membawa kompres.


Dia mengusap wajah Leo yang pucat, keringat dingin membasahi kening Leo. Yuna Membersihkannya dengan hati-hati dan perhatian. Dia menatap wajah yang terpejam ini dengan sangat sedih.


Dia menyesal karena mengizinkan Leo mengkonsumsi mie instan. Dan bahkan dia sendiri yang memasaknya untuk Leo. Dia memarahi dirinya sendiri.


"Sayang, buka baju mu. Aku akan mengoleskan minyak kayu putih," ucap Yuna. Tangannya langsung membuka baju yang Leo pakai. Lalu ia membalurkan minyak kayu putih pada dada Leo dan perutnya. "Bagian mana yang sakit?" tanya Yuna dengan sedih. Leo menggeleng, ia masih memejamkan matanya.


"Seharusnya kau mendengarkan ku semalam...," ucap Yuna pelan setelah selesai membalurkan minyak kayu putih pada tubuh Leo. Ia kemudian mengambil baju yang baru dan memakaikannya untuk Leo. Kemudian, dia naik keatas ranjang dan memeluknya.


"Apa rasanya menyakitkan?" tanyanya menderita karena melihat Leo yang masih memejamkan matanya.


"Tidak, aku hanya merasa mual dan sangat pusing," jawab Leo.


"Kau tidak boleh makan mie instan lagi. Jika kau melanggar... kau tidak boleh tidur di kamar. Tidak boleh di dalam rumah juga. Silahkan tidur di pinggir kolam renang," ancam Yuna.


"Sayang, berhentilah mengancam ku. Aku akan baik-baik saja sebentar lagi," jawab Leo. Yuna memeluknya penuh kasih.


Pukul setengah tujuh pagi... ketika Yuna menyiapkan makanan untuk Leo dan bersiap membawanya ke atas. Tiba-tiba, Leo memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


Yuna berkacak pinggang melihat Leo yang sudah rapi dan siap ke kantor.


"Diam di rumah dan istirahat," Nyonya berkata dengan galak.


"Sayang...," jurus sayang yang manis mulai keluar.


"Jangan memamerkan wajah imut mu. Aku tidak akan tergoda," ucap Yuna. Tangannya masih berkacak pinggang.


"Dengarkan aku...," belum selesai Leo berkata, Yuna langsung memotongnya.


"Ini perintah, tidak ada tawar menawar dan tidak ada rayuan," ucap Yuna tegas. Leo mendekat, sangat dekat, tangannya meraih tangan Yuna dan menggenggamnya. "Jangan mencoba merayu ku," Yuna langsung memberi batasan untuk apa yang ingin Leo ucapkan.


"Tidak, aku hanya ingin bilang sesuatu pada mu," ucap Leo lembut. Yuna diam dan menatapnya.


"Sayang...," tangan kanan Leo berpindah di perut Yuna dan mengusapnya. "Ada banyak sekali kerjaan di kantor, ada banyak sekali tanggung jawab yang menunggu untuk segera diselesaikan. Jika... hari ini aku tidak berangkat ke kantor maka pekerjaan itu akan semakin menumpuk dan aku mungkin tidak ada waktu untuk tidur. Lalu... lusa aku harus keluar negeri, jika kerjaan hari ini tidak selesai maka aku akan di sana lebih lama. Bagaimana jika aku merindukan mu?" ujar Leo dengan sangat teratur. Hati Yuna mulai melunak... dia tidak mungkin setuju dan tidak mungkin suka jika Leo lebih lama di luar negeri.


Tangan Yuna terangkat dan mengusap pipi Leo dengan lembut. Ia menatap wajah rupawan ini dengan penuh cinta.


"Kau harus menjaga kesehatan mu. Kau tidak boleh kenapa-kenapa, kau tahu," ucap Yuna. "Aku bahkan lebih sakit jika melihat mu kenapa-napa," sambungnya.


Ujung bibir Leo terangkat, ia memeluk Yuna dan mencium rambutnya.


"Baik Nyonya. Aku akan selalu baik-baik saja," jawab Leo.


Drama pagi ini selesai.


Leo berangkat dan tiba sedikit telat. Dia segera keluar dan melangkah untuk masuk. Kedatangannya bak Raja membuat semuanya menunduk. Hari ini... Auranya lebih kuat dari kemarin di tambah aura horror yang menyelimuti. Asisten Dion yang sudah menunggu di depan pintu utama, mencium ketiaknya berkali-kali. Hari ini dia memakai sabun hingga tujuh kali.


Langkah kaki Leo terhenti tepat di depan pintu utama. Empat security yang menunduk semakin menunduk. Mata Leo memperhatikan mereka satu persatu.


"Berapa seragam yang kalian punya?" tanya Leo dengan suara khasnya yang menakutkan bagi karyawannya.


"Tiga Tuan muda," jawab salah seorang security. Lalu yang lain ikut menjawab satu persatu.


"Apa kalian tidak mengganti seragam kalian hari ini? Kalian membuat ku mual." ucapnya dengan sangat kesal. Ada apa dengan karyawannya? Mereka semua bau... "Dion," Leo menatap asisten Dion dengan tajam.


"Siap boss," asisten Dion berdiri tegap.


"Beri mereka seragam tujuh. Suruh ganti setiap hari. Benar-benar memuakkan. Jika sampai besok aku menemukan kalian masih bau... berhenti bekerja di sini," ucapnya tegas lalu kembali melangkah untuk masuk. Dion membuntutinya dari belakang dengan sedikit menjauh dan mencium keteknya berkali-kali.


Langkah kaki Leo terhenti lagi. 'Apa lagi....,' batin Dion. Leo berhenti di depan meja resepsionis, tangannya mengulur dan mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja. Resepsionis baru saja membelinya, itu adalah pesanan keponakannya. Dia mengeluarkannya karena mencari ponselnya di dalam tas dan lupa untuk memasukkannya kembali.


Resepsionis sudah berkeringat dingin. Dia ketakutan...


Dion sudah menelan ludahnya berkali-kali hingga kenyang.


Tanpa kata... Leo memasukkan pulpen itu ke dalam saku jasnya. Kemudian, kembali melangkah pergi. Apa?? Si Boss berhenti hanya untuk mengambil pulpen? Hufff... mereka pikir si Boss akan marah.


Leo melangkah dengan senyum karena mendapatkan pulpen lucu. Melihat pulpen ini... mengingatkannya pada Yuna. Pulpen dengan ujungnya berbentuk burung hantu. Dia terkekeh, mata Yuna akan seperti mata burung hantu saat ia sedang marah dan melotot.


___


Catatan Penulis


Pokoknya jangan lupa goyang jempoooll ya...


okey. Padamu kawan...😉😘 luv luv