Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 381_Bunga Tulip


Sore hari, Yuna duduk di teras samping sambil menata bunga tulip dalam vas kaca.


"Kak Yuna," panggil Neva. Dia duduk di sebelah Yuna.


"Ya," jawab Yuna. Dia menghentikan aktivitasnya merangkai bunga dan menoleh ke arah Neva.


"Apa Kak Yuna tahu tempat tinggal Kak Alea saat ini?" tanya Neva langsung. Mendengar nama itu disebut, Yuna mengambil nafasnya panjang lalu kembali berpaling, ia kembali menata bunga ke dalam vas kaca.


"Tidak tahu. Waktu itu, dia datang untuk pamit dan tidak memberitahu kemana dia akan pergi," jawab Yuna singkat. Dia berharap Neva puas dengan jawabannya dan tidak bertanya lagi tapi ternyata Neva malah menanyakan nomor ponsel Alea pada Yuna. "Tidak tahu," jawab Yuna.


"Nomor ponsel Kak Alea yang dulu tidak aktif," ucap Neva. "Apa setelah kepergiannya, dia tidak menghubungi Kak Yuna atau sebaliknya?"


"Emmm tidak. Kita hilang kontak setelah itu."


"Hmm, padahal aku ingin mengundangnya," ucap Neva. Yuna diam dan meletakkan bunga terakhir di dalam vas. Selesai. Dia tersenyum melihat bunga-bunga tulip telah terangkai dalam vas kaca.



"Sepertinya aku harus berkunjung ke rumah Paman Wijaya," lanjut Neva. Yuna menoleh ke arahnya.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Yuna.


Neva memicingkan matanya sebentar lalu mendekatkan dirinya ke arah Yuna. "Mungkin satu bulan lagi," ucapnya berbisik. "Sttt ...." Neva merasa malu mengatakannya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Yuna.


"Waahh, berarti sebentar lagi," ucap Yuna antusias. "Kau jangan kebanyakan keluar rumah. Agar wajah mu tidak kusam," gurau Yuna.


"Hahaaaa asiaaapppp," jawab Neva. "Apa Kak Yuna juga dulu begitu? Membosankan apa tidak?"


"Aku?" Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. "Hei, apa kau lupa pernah memergoki ku memanjat dinding pagar rumah Papa?" jawab Yuna mengingatkan. Neva melebarkan matanya dan langsung mengingat kejadian itu. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Yuna dan tertawa mengingat kejadian itu.


"Hahaaa iya, aku ingat kejadian itu, Kak Yuna dengan Adel bukan, waktu itu?" ucap Neva.


"Ya, aku dan dia."


"Humm, padahal Kak Yuna punya hutang pada padaku untuk menceritakan kejadian itu dan sampai sekarang aku belum tahu alasannya. Seperti hal yang seru," kata Neva masih dengan tawanya mengingat Yuna yang terjatuh saat kepergok dirinya.


Kemudian Yuna menceritakan kenapa dia sampai di rumah besar keluarga Nugraha. Penjelasan yang semakin membuat Neva tertawa terbahak-bahak.


"Dari awal bertemu, aku memiliki kesan unik pada Kak Yuna. Aku berpikir bahwa Kaka Lee memang harus memiliki wanita seperti Kak Yuna untuk menjadikan hidupnya bak pelangi yang memiliki banyak warna. Menghentikan hidupnya yang monoton."


Kemudian, Vano datang.


"Sayang, ponselmu," ucapnya pada Neva. Dia memberikan ponsel Neva yang dari semalam ia bawa.


"Terima kasih," jawab Neva menerima ponselnya.


"Hai, Yuna," sapa Vano. Dia duduk di samping Neva.


"Hai," balas Yuna.


"Kak Yuna tidak memiliki alamat Kak Alea," ucap Neva memberi tahu Vano. Vano mengangguk.


"Nanti kita tanya Papanya saja. Sekalian silaturahmi kesana," jawab Vano.


Yuna menyentuh satu bunga tulip, "Apa dia harus hadir di pesta pernikahan kalian nanti?" tanyanya rendah. Tiba-tiba dia mengingat wajah itu saat menatapnya dan bilang jika dia mencintai Leo.


"Dia adalah seseorang yang berjasa untuk hubungan kita," jawab Neva. "Ceritanya panjang ...." lanjutnya.


"Apa ada sesuatu, Yuna?" tanya Vano. Dia hafal ekspresi wajah Yuna saat menyembunyikan sesuatu.


"Hmm?" Yuna menoleh ke arah Vano. "Tidak ada," lanjutnya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke samping, "Hari bahagia, tentu saja semua teman dan saudara harus hadir dan menjadi bagian dari kebahagiaan yang tercipta."


Neva mengangguk dan Vano mengangguk.


"Kita undang Karel juga," ucap Vano.


"Tentu saja, semua keluarga Kak Yuna," sambung Neva.


"Mulai dari saat ini, aku akan memikirkan hadiah untuk kalian," ucap Yuna.


"Harus," jawab Neva semangat. "Kak Lee memiliki uang yang sangat banyak jadi aku tidak mau hadiah yang murah," lanjutnya. Yuna tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Baik, baik," Yuna menyetujui. "Aku pamit masuk dulu," Yuna beranjak dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ada Leo di ruang tengah dengan Dimas. Yuna melangkah melewatinya begitu saja lalu segera masuk ke dalam kamar. Tak lama, Leo menyusul dan duduk di sofa disamping Yuna.


"Kau masih marah?" tanyanya rendah. Dia menghadap ke arah Yuna tetapi tidak menyentuhnya, jarak mereka juga sedikit jauh. Ujung dan ujung.


"Masih, tentu saja. Jangan tanyakan lagi," jawab Yuna ketus. Leo mengangguk dan diam.


Hening. Tak ada suara apapun. Yuna sedikit melirik ke arah Leo. Memperhatikan laki-laki itu dari samping lalu segera berpaling dari saat Leo menoleh ke arahnya.


"Jangan terlalu lama marahnya, nanti aku kangen," ucap Leo mencoba menggoda Yuna. Bibir Yuna berkedut menahan senyumnya. Dia masih memasang wajah masam. Kemudian segera beranjak.


"Mau kemana?" Leo menahan tangannya.


"Lepaskan," Yuna menepisnya. Lalu melangkah menuju pintu.


"Ya, terus saja marah. Hindari aku. Aku sudah minta maaf dan menjelaskannya lagi dan lagi. Tapi kau tidak mau mengerti. Kau sama saja menyebalkan Yuna," ucap Leo. Yuna berhenti dari langkahnya.


"Dari dulu aku memang menyebalkan, kau baru sadar sekarang? Ok, jadi tidak perlu lagi bicara padaku. Semakin kau berbicara, kau akan semakin kesal padaku. Atau kau tidak ingin melihat ku? Hhhh, baik, aku akan menyingkir," Yuna menjawab dengan nada yang sangat kesal.


"Ucapan macam apa itu? Apa maksudmu menyingkir?" Leo berdiri dari duduknya. Dan mendekati Yuna. Kenapa masalah sepele saja membuat Yuna meledak-ledak.


Leo mengambil nafasnya panjang, dia memijit keningnya pelan. Dia bingung, bagaimana harus menjelaskan ini. Bukan itu maksudnya.


"Bukan seperti itu," katanya rendah. Dia meraih tangan Yuna tetapi ia mendapat penolakan.


"Lalu seperti apa? Kau mengakui sendiri jika aku menyebalkan untukmu. Berarti kau muak dengan ku."


"Yuna," Suara Leo tinggi. Kenapa menjadi seperti ini. "Apa yang kau bicarakan," dia menjadi benar-benar kesal.


"Aku menyebalkan, aku memuakkan untuk mu. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu. Aku minta maaf," jawab Yuna. Kemudian, dia membuka pintu dan keluar dari kamar. Sementara Leo mematung di tempatnya. Otaknya berfikir keras, bagian mana yang begitu salah dalam ucapannya? Dia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dia mencari akar dari kemarahan Yuna padanya. Kebohongannya malam itu. Tapi dia sudah menjelaskan alasannya. Dia tidak bermaksud untuk berbohong.


Hingga beberapa menit kemudian, ia menyusul Yuna. Tangannya pelan membuka pintu kamar Baby Arai, dia yakin Yuna ada di sana tapi dia harus kecewa karena ternyata Yuna tidak ada disana. Hanya ada Baby Arai yang tidur dengan perawat yang menunggunya. Kemudian, dia melangkah ke teras dan menanyakan keberadaan Yuna pada Neva, pada Vano, mereka menjawab jika Yuna ada di dalam. Leo memutar langkah dan mencari Yuna. Dia bertanya pada Dimas, Nora, Mama dan bahkan asisten rumah tangga. Tidak ada yang tahu keberadaan Yuna dimana. Mereka pikir, Yuna ada di kamar bersama Leo.


Leo mulai panik, jantungnya berdegup dengan tidak teratur. Kemana Yuna? Menyingkir? Apa maksudnya menyingkir dari kehidupannya? Apa kebohongannya begitu fatal hingga Yuna kembali meninggalkannya. Hatinya ngilu dan tersakiti. Dia tidak menyangka jika kebohongan yang menurutnya biasa membuat Yuna begitu marah. Leo mencoba menghubungi nomor ponsel Yuna tetapi tidak terhubung, ponselnya sedang tidak aktif.


"Apa kalian ada masalah?" tanya Mama perhatian. Leo menggeleng. Dia tidak ingin mamanya tahu jika Yuna sedang marah.


Papa yang baru keluar dari ruang kerja, menghampiri Leo dan Mama yang terlihat cemas.


"Ada apa?" tanya beliau.


"Yuna, pergi," jawab Leo pelan dengan kesakitan dalam hatinya. Dia menjatuhkan dirinya di sofa dan menunduk dengan sangat tunduk. Mama mengusap punggungnya dengan lembut.


"Apa yang terjadi? Tadi pagi kalian baik-baik saja," ujar Mama. Leo diam. Papa segera memencet ponsel dan menghubungi seseorang.


"Papa tahu Yuna dimana," ujar Papa setelah memutus panggilannya. Leo langsung mengangkat wajahnya dan berdiri.


"Kita kesana," ucapnya tidak sabar.


"Pa ...." Nyonya besar Nugraha menatap suaminya dengan sangat cemas.


"Tidak apa-apa, mereka sedang ada masalah," jawab Tuan besar Nugraha. Beliau mengusap lengan istrinya lalu segera menyusul Leo yang lebih dulu keluar.


"Jangan menyetir sendiri," Papa melarang Leo. Tapi Leo seolah tidak mau tahu. "Kau harus tenang," ujar Papa membentak putranya.


Pada akhirnya Leo mengalah dan mau di antar supir. Papa ikut serta didalam mobil. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan putranya.


Wajah Leo kehilangan warna, jantungnya berdegup kencang karena cemas, otaknya tidak bisa berfikir dengan benar, hatinya retak dan terasa sangat sakit.


"Dimana dia, Pa," tanyanya pelan, suaranya tercekat.


"Papa belum tahu tepatnya. Masih melacaknya," jawab Papa. Leo menunduk lagi. Dia memaki dirinya sendiri. Kenapa dia membuat Yuna marah. Kenapa dia bisa dengan ceroboh berbohong pada Yuna. Kenapa ... kenapa Yuna pergi darinya lagi.


Tak lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah tempat yang tak asing buat Leo.


"Kenapa kesini?" tanya Leo. Matanya memperhatikan sekeliling dari tempat ia duduk.


Papa tersenyum dan menepuk pundak anaknya. "Dia ada di dalam, menunggu mu," jawab Papa. Jawaban yang langsung menetralkan pikiran kacau Leo. Jawaban yang membuat Leo bernafas dengan benar. Dia menyandarkan punggungnya di jok mobil dan memutar pandangannya pada Papa.


"Jangan bilang, kalian bersekongkol," ucap Leo menatap Papanya dengan tajam.


Tuan besar Nugraha tertawa membuat pundaknya naik turun tak beraturan, "Papa hanya meng Acc saja," jawab Papa.


"Keterlaluan. Aku hampir gila memikirkan dia yang tiba-tiba menghilang dari rumah dalam keadaan marah. Ini negara A, negara yang belum ia ketahui semua arahnya. Hhh ternyata ada maha Papa yang dibelakangnya," Leo menatap Papanya dengan kesal. Papa masih tertawa mendapat omelan dari Leo.


"Sudah buruan. Dia menunggu mu didalam," ujar Papa.


"Sagat tidak romantis, bagaimana bisa aku datang dengan hanya memakai kaos lengan pendek," Leo tidak pede dengan penampilannya.


"Tenang saja anak muda. Papa sudah menyiapkan semuanya," Papa mengulurkan tangannya untuk mengambil koper kecil yang ada di jok belakang. Kemudian, beliau membukanya. Satu set jas dan bahkan buket bunga tulip ada di dalamnya. Leo melebarkan matanya tak percaya. Dia kembali menatap papanya.


"Benar-benar terniat," ucapnya. Papa kembali tertawa. "Apa ini dia yang menyiapkan?" tanya Leo.


"Tidak, ini Papa yang memilihnya untuk mu. Dia pasti tidak menyangka jika kau akan datang dengan keren dan membawa bunga," jawab Papa.


"Waaa ... kau keren pak tua," Leo memberi tepuk tangan untuk papanya.


"Kau harus mentraktir papamu setelah ini, anak muda," ucap Papa. Leo meletakkan telapak tangan di kening.


"Siap, laksanakan," ucapnya. Kemudian, ia segera mengenakan jas yang sudah papanya siapkan.


Kemudian, dengan pelan Leo menurunkan satu kakinya lalu benar-benar keluar dari mobil dengan membawa buket bunga. Tiba-tiba hatinya menjadi begitu indah, seluet senja menemani langkahnya menuju seseorang yang menunggunya disana. Ya, ini adalah restoran termewah dan termahal yang ada di negara A.


Yuna menunggunya di lantai empat. Leo masuk kedalam lift dan memencet angka 4.


"Uhum," dia berdehem dengan senyum. Dia akan gantian mengomeli Yuna setelah ini.


Ting. Pintu lift terbuka.



________________


Catatan Penulis.


Upnya banyak lhoooo 😳 πŸ€—πŸ˜


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih πŸ™ Padamu. Jangan lupa... Yuuukk vote vote. Muach.