
Pagi hari, ketika surya mulai menghangat dia berdiri di depan dinding kaca. Menatap langit biru cerah nyaris tanpa awan. Ini adalah hari ke limanya kabur dari Ibu Kota untuk menenangkan kesakitan hatinya. Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah rasa
kehilangan.
Ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai dengan tanpa alasan. Apa yang kurang darinya hingga wanita itu begitu tega menghancurkan hatinya dengan keji. Waktu itu, ia tidak paham jika takdir akan membawanya pada sebuah cinta yang indah. Perasaannya terpenjara oleh rasa yang ia miliki sedari kecil.
Setelah termenung begitu lama, laki-laki itu mengambil jaketnya dan keluar dari kamar
hotel. Ia membawa mobilnya mengelilingi kota kecil yang sengaja ia tuju. Berkeliling tanpa tujuan, hingga rasa haus membuatnya menepikan mobil di salah satu minimarket pinggir jalan. Ia memakai masker dan kaca mata hitamnya. Cuaca
siang hari begitu panas. Dia berjalan pasti masuk kedalam mini market dan mengambil satu minuman kaleng. Ia tersenyum sinis saat melihat antrian begitu panjang. Ia membawa langkahnya pasti menuju meja kasir dan meletakkan minuman
kaleng yang ia bawa.
"Aku hanya beli satu,” ujarnya dengan memberikan dua lembar uang ratusan ribu. “Ambil kembaliannya untukmu,” lanjutnya.
Kasir melotot dengan lebar, itu hanya minuman kaleng dan laki-laki itu memberinya dua lembar pecahan ratusan ribu. Sultan … batinnya. Tentu saja dengan senang hati, ia akan mendahulukan sang
sultan. Tapi tidak bisa segampang itu … wanita yang mengantri hingga kakinya pegal tiba-tiba maju dan mengambil minuman kaleng yang ada di meja kasir.
“Hei, Bung. Apa kau tidak melihat antrian yang cukup panjang? Apa kau tidak melihat
jika kami juga ingin segera. Lihat berapa barapa barang yang kubawa? Satu, sama seperti apa yang kau beli, tapi apakah aku menyerobot antrian sepertimu?” ujar gadis itu. Ia menempatkan diri tepat didepan sang lelaki berkaca mata hitam.
Menatapnya dengan tajam. Sang gadis tidak bisa melihat kedalam matanya kerena terhalang kaca mata hitam tapi laki-laki itu mampu memindai wajah sang gadis dengan sempurna dari balik kacamata hitamnya. Sorot mata yang jernih dan begitu menawan bahkan saat ia tengah marah. Laki-laki itu diam tanpa kata. Lebih tepatnya, ia kehilangan kata-kata.
“Lihat,” gadis itu menunjuk seorang ibu-ibu yang sudah tua. “Ibu-ibu yang sudah tua bahkan rela mengantri. Kenapa kau yang masih muda malah menyerobot antrian. Apa kau tidur saat pelajaran tata krama, atau kau bolos sekolah saat jam pelajaran tata krama? Harusnya kau malu dengan ibu-ibu itu, Tuan muda. Budayakan hidup
antri.” Gadis itu dengan keahliannya mengomel tanpa henti. Ia sangat kesal saat seseorang tidak membudayakan antri. Dan sebenarnya … ia tengah PMS jadi ini adalah sebuah ledakan dari rasa pms dirinya.
“Ya, kau masih muda. Antrilah dibelakang kami,” tambah ibu-ibu.
“Ya, betul. Mentang-mentang kaya.” Tambah yang lainnya. Laki-laki itu menjadi bahan tontonan. Semua mata tertuju padanya. Namun, apa kau tahu … jika pandangan sang lelaki kaca mata hanya ada pada gadis bermata indah di depannya. Ia bahkan memperhatikan setiap gerakan bibir sang gadis saat kata demi kata keluar dari mulutnya.
Gadis itu meraih tangan lelaki didepannya. Menyentuh telapak tangannya dan memberikan
minuman kaleng yang ia bawa.
“Silahkan antri di belakang,” ujarnya dengan senyum kesal. Setelah itu ia kembali
ketempat antrian. Karena ia meninggalkan antrian, jadi ia menjadi yang paling belakang. Laki-laki berkaca mata itu membuntutinya dengan patuh. Ia menempatkan dirinya dibelakang sang gadis. Dia memperhatikan punggung yang membelakanginya hingga antrian gadis itu tiba bahkan hingga gadis itu meninggalkan minimarket.
Saat ia keluar dari mini market dan masuk kedalam mobil, ia kembali melihat sang gadis.
Gadis itu berada di seberang jalan tengah membenarkan sepatunya. Laki-laki itu membuka kacamatanya dan kemudian membuka kaca pintu mobilnya. Melihat kearah gadis itu dengan tajam.
“Yuna." Seseorang memanggil dan sang gadis menoleh.
Laki-laki itu menatap matanya sekali lagi, sejuk dan penuh keberanian.
“Yuna,” lelaki itu melafalkan nama sang gadis dalam bibirnya. Kedua sudut bibirnya
terangkat membentuk senyuman. “Kau adalah wanita kedua yang berani mengomeliku.
Dan itu kau lakukan dimuka umum. Untung saja kau cantik, jadi aku memaafkanmu.”
Kemudian ia menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan area.
Beberapa hari kemudian. Saat tahun akan berganti, saat orang-orang berlalu lalang di
pusat kota. Ia duduk sendiri di café out door, memperhatikan orang-orang yang
saling bergandengan tangan dan tersenyum dengan bahagia. Memperhatikan
Ia menyesap rokok ditangannya dengan dalam lalu mengeluarkan asapnya dengan pelan.
Kemudian dengan senyum ia mematikan barang yang sebenarnya tidak pernah ia sentuh. Begitu nelangasanya laki-laki ini saat patah hati, laki-laki yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Ia menyandarkan punggungnya di kursi lalu menyilangkan kakinya dengan anggun saat kedua matanya melihat dari kejauhan dua gadis yang tengah berlari. Ia menajamkan matanya saat siluet gadis cerewet bebek terlihat olehnya. Ia kemudian memperhatikan beberapa laki-laki gagah yang mengejarnya.
Gadis itu berlari dengan lincah dan tawa dari bibirnya. Ia seolah tidak takut apapun dan akan terus berlari semaunya.
“Apa kau sedang membuat masalah gadis cerewet?” tanyanya entah pada siapa.
Gadis itu terus berlari hingga langkah kakinya mendekat ketempat dimana seorang laki-laki duduk dan tengah memperhatikan dirinya. Dan dunia seolah diputar dalam mode pelan dan hening. Sang gadis dengan wajah cerianya berlari melewati laki-laki itu begitu saja. Gadis bermata indah itu terus berlari tanpa menghiraukan apapun.
“Nona, Yuna. Berhentilah atau anda akan mendapat hukuman yang menyakitkan,” seseorang berteriak untuk menghentikan langkah kaki kedua gadis yang ia kejar. Laki-laki misterius itu mengerutkan keningnya. Hukuman yang menyakitkan? Hukuman seperti apa itu. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan menjatuhkan kursi-kursi dan meja yang ada di café untuk menghalangi laki-laki yang mengejar gadis cerewet.
Entah dorongan darimana, ia tidak tahu. Ia berlari dengan cepat mengejar gadis itu. Ia juga menjatuhkan apapun yang ia temui untuk menghalangi jalan beberapa laki-laki yang berlari dibelakangnya. Hingga pada sebuah Lorong yang gelap, gadis dan temannya menghentikan langkah.
“Jalan buntu,” sang gadis berkata dengan nafas yang rasanya hampir habis. Laki-laki misterius itu berdiri memperhatikannya dari jarak yang dekat. Hanya saja, ia bersembuyi dibalik tiang hingga membuat gadis itu tidak menyadari keberadaannya.
“Habislah kita,” teman perempuannya menggaruk kepalanya dengan cemas.
“Ini akan sia-sia jika kita tertangkap. Pulang dalam keadaan tertangkap atau tidak itu tidak berpengaruh apapun, aku akan tetap mendapat hukuman. Jadi … ayo bersenang-senang untuk malam ini,” ujar sang gadis. Kemudian ia jongkok dan menawarkan punggungnya. “naiklah. Lompati pagar ini.”
“T- tapi ….” teman perempuannya nampak ragu-ragu.
“Cepat. Kita tidak punya waktu banyak,” seru sang gadis. Pada akhirnya sang teman menyetujui idenya untuk melompati pagar. Setelah temannya berhasil melompati pagar, sang gadis menoleh kesemua arah, ia mencari pijakan untuknya. Tongkat, besi, kayu atau apapun itu tetapi ia tidak menemukan apapun. Hinnga sebuah suara teriakan dari orang-orang yang mengejarnya mulai terdengar. Dalam kebingungan dan keputusasaannya … laki-laki misterius itu keluar dari persembuyian dan melangkah kearahnya. Tanpa kata, ia jongkok didepan sang gadis dan menawarkan punggungnya.
“Naiklah,” ucapnya.
Gadis itu menunduk sebentar memperhatikan laki-laki yang tiba-tiba datang dan menawarkan punggungnya. Ia tidak bisa memikirkan hal apapun waktu itu selain segera kabur. Para pengejarnya semakin dekat.
Dengan pelan dan sedikir ragu, gadis itu membawa kakinya untuk menginjak punggung sang laki-laki misterius. Ia bisa merasakan jika punggung yang ia injak begitu tegap dan sangat kokoh. Laki-laki itu meninggikan badannya agar sang gadis segera mencapai ujung pagar dinding.
“Pastikan kau tidak tertangkap,” ujar laki-laki misterius. Para pengejar sudah sampai ditempatnya hingga membuat gadis itu tidak sempat mengucapkan apa-apa selain terima kasih.
“Nona,” seseorang berteriak dan akan beraksi untuk memanjat juga tetapi laki-laki misteris menghalanginya. Dia bahkan menghalangi mereka semua.
“Kenapa kalian mengejarnya?” tanyanya dengan mencekam.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Anda.”
“Aku akan membayar seribu kali lipat dari apa yang tuan kalian janjikan. Aku tidak punya waktu banyak untuk bernegosiasi. Beritahu aku, atau kalian akan berakhir dipenjara karena mengancam keamanan seorang gadis.”
Semuanya mendelik mendengar itu. Mereka hidup di dunia luar sudah begitu lama jadi mereka bisa membedakan mana orang biasa, preman atau orang yang memiliki pengaruh di negara ini. Hingga pada akhirnya mereka sepakat untuk memberitahu yang sebenarnya. Mereka hanya menjalankan perintah untuk tidak membiarkan gadis tadi berkeliaran semaunya.
Laki-laki misterius itu semakin penasaran. Kenapa seorang gadis tidak boleh menikmati masa mudanya? Dan dia akan menyelidiki semuanya mulai detik ini.
“Kembalilah. Biarkan gadis itu menikmati waktunya, setidaknya untuk malam ini.” Laki-laki itu sungguh memberi mereka nominal yang gila dalam sebuah cek. Kemudian laki-laki misterius itu melangkah pergi.
“Tuan muda. Kita akan memberikan informasi apapun tentang gadis itu untuk anda,” ujar seseorang sebelum seseorang yang ia panggil Tuan muda itu semakin melangkah jauh.
“Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri,” jawab laki-laki misterius itu. “Jaga dia baik-baik,” lanjutnya lalu kembali melangkah dan meninggalkan mereka.
______
Catatan Penulis.
Hai hai … Up bonus sesuai janji
Nanas yach. Fans Abang Vano jangan ngambek dulu … besok Nanas kasih bonus Up
lagi, ok. S&K berlaku, hahahaa.
Like komentar yach. Muach. Luv
semuanya ….