
Waktu yang bergulir begitu cepatnya hingga tak terasa tibalah saatnya pengumuman hasil ujian kelas dua belas.
Zian termenung di tempat favoritnya selama tiga tahun ini.
Balkon.
Dua bulan sudah setelah pembicaraannya dengan kedua orang tuanya.
Kelulusan hari ini adalah tanda perpisahan dirinya dengan kota ini dan Tiara tentunya. Memikirkannya saja sudah membuat hatinya seakan diremas.
Sakit.
Entah apa yang akan dilalui gadis itu setelah gue tinggalkan nantinya.
Apakah dia akan melupakan gue hingga akhirnya membuang semua kisah indah yang belum lama terjalin?
Masih terngiang di telinganya saat kemarin mengobrol dengan gadis itu di tepi pantai. Ya, tempat yang paling disukai oleh Tiara. Karena itu Zian sengaja membawanya ke tempat itu.
Keduanya duduk bersisian di bibir pantai.
" Ra' lo mau nggak ikut gue ke London?"
" Ngapain? Ara kan masih sekolah".
" Hem, iya sih. Tapi gue harus lanjutin kuliah di sana. Jujur gue nggak tahu apakah bakalan mampu berjauhan dengan lo ". Zian menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan gusar.
" Sebenarnya, Ara juga nggak mau jauh dari kakak tapi yah . . mau gimana lagi ? kak Zian adalah satu-satunya penerus keluarga, Ara nggak mungkin menahan kak Zian cuma karena Ara cinta. Ara nggak mau ah jadi orang egois ".
" Atau gimana kalau kita menikah aja ?" binar mata Zian kembali bersemangat.
" Untuk saat ini rasanya nggak mungkin kak, maaf tapi Ara harus selesaikan sekolah dulu. Ara juga nggak mau bikin mama kecewa ". jawabnya sendu.
Jeda tercipta di antara mereka. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sibuk mencari solusi yang barangkali bisa menenangkan hati mereka walaupun hanya secuil.
Debur ombak di pantai seolah menambah suasana semakin melow.
" Baiklah gue ngerti, gue tetap akan pergi tapi . . . lo harus janji satu hal sama gue ". ucap Zian kemudian menatap lekat wajah Tiara.
" Apa ?"
Lama keduanya saling menatap. Wajah keduanya begitu dekat, menimbulkan debaran aneh di hati kedua anak muda yang sedang dilanda cinta itu.
Perlahan Zian semakin mendekatkan wajahnya, membuat Tiara hanya bisa menutup mata menahan degup jantungnya yang seolah ingin melompat keluar. Menunggu apa yang akan dilakukan cowok di depannya.
Dengan lembut Zian mencium dahi dan puncak kepala gadis kesayangannya itu. Perasaan hangat menjalar memenuhi hati Tiara. Perlahan ia membuka matanya, menatap Zian dengan penuh cinta.
Kemudian masuk ke dalam pelukannya.
" Aku janji akan menunggu kak Zian kembali ". ucap gadis itu lirih namun terdengar manis di telinga seorang Zian.
" Baiklah, setelah studi kita masing-masing udah selesai, gue bakalan pulang untuk ngelamar lo. Jangan lupakan itu ya, hei kucing nakal ". ujar Zian sumringah.
" Iya ". angguk Tiara dengan pasti.
" Kak Zian juga harus ingat, nggak boleh deket-deket cewek lain di sana trus setiap hari harus ngasih
kabar ". Tiara memasang wajah cemberutnya.
" Oke, gue janji ratuku !" Zian mengangkat kedua jarinya.
" Ya udah, sekarang liatin pantai tuh sampe puas, karena mulai besok nggak ada lagi yang bisa nganterin ke sini ".
" Minta tolong dianterin sama yang lain
dong ". Tiara mulai nunjukin jahilnya.
" Coba aja kalo berani, jangan sampai orang itu mendadak hilang dari planet ini !" balas Zian dengan wajah mulai kesal.
" Dih, gitu aja marah, hahahaha sori becanda doang kak ". Tiara senang melihat kecemburuan Zian yang menurutnya agak konyol.
" Awas ya kalo macam-macam, gue bakalan muncul saat itu juga dan lo akan tahu akibatnya ". desis Zian tepat di telinga Tiara.
" Ih kok serem, nggaklah kak. Mana mungkin Ara ingkar janji ". Tiara jadi menyesal sendiri karena mencoba menggoda Zian.
Tanpa ia sadari Zian juga sengaja balas mengerjainya. Cowok itu jadi tersenyum melihat Tiara yang jadi salah tingkah pada akhirnya.
\*\*\*\*\*