
Undangan sudah disebar pada rekan, sahabat dan keluarga. Undangan yang langsung menyita perhatian publik. Semua media sangat gencar membahas tentang bersatunya dua keluarga konglomerat tanah air ini. Dan yang menjadi trending adalah undangan yang dicetak secara transparan dan pada bagian nama Vano & Neva di tulis menggunakan tinta emas murni. Teman yang berkesempatan mendapatkan undangan itu langsung memamerkannya di akun sosial media masing-masing.
"Undangan mewah," caption salah satu pengguna sosial.
"Waaah undangannya saja begini, kepo souvernirnya," caption salah satu pengunggah juga.
Detik demi detik telah terlewati dengan begitu cepat. Rumah keluarga Nugraha sudah di sulap bak taman langit.
Keluarga besar sudah berkumpul di sana. Berbincang dan bercengkrama dengan manis. Neva sebagai calon pengantin mendapat banyak sekali wejangan dari sesepuh.
"Sudah malam, segeralah tidur," ujar Bibi yang pagi tadi baru datang dari pulau seberang. Neva mengangguk. Kemudian, dia pamit pada semuanyaa. Namun dia tidak langsung ke tempat tidur, dia melangkah menuju kamar Baby Arai. Dia tahu Leo baru saja masuk kesana untuk menidurkan Baby Arai.
"Kak," panggilannya pelan. Dia melangkah dan duduk di kasur sebelah Leo. Dia memperhatikan Baby Arai sebentar kemudian membawa pandangannya pada Leo.
Leo tersenyum menatapnya, "Kenapa?" tanyanya pada Neva. Neva menggeleng, dia kemudian menghamburkan pelukannya pada Leo. Leo mendekapnya. Mengusap punggung Neva dengan perhatian.
"Selamat gadis kecil," ucap Leo pelan di telinga Neva. "Sebentar lagi, datang hari yang kau tunggu," lanjutnya. Neva mengangguk.
"Kakak, sekali lagi aku minta maaf jika aku banyak salah padamu," ucap Neva.
"Salah apa? Tidak ada, kau adalah adik kecil yang manis," jawab Leo. Mata Neva terasa panas dan air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Kita tidak akan pernah berubah kan Kak? Aku tetaplah adikmu," ujar Neva tertahan.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Tentu saja hubungan kita tidak akan pernah berubah," jawab Leo. "Apa yang kau takutkan? Hmm?"
"Kakak sudah menerimanya dengan ikhlas bukan? Kakak menerimanya bukan karena agar aku tidak kecewa bukan?" tanya Neva. Air matanya menetes satu.
"Tidak perlu bahas tentang masa lalu lagi. Bukankah kita telah sepakat untuk berdamai dengan semuanya. Aku ikhlas melepasmu dengan dia. Aku ikhlas menerima dia masuk kedalam keluaga kita," jawab Leo. Neva mengangguk. "Sudah malam, segeralah tidur jika tidak ingin kau berubah jadi panda besok," lanjut Leo. Neva mengangguk. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan pamit untuk segera tidur.
Neva melangkah ke kamarnya. Menapaki tangga yang telah di hias dengan banyak bunga. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Vano. Tiga hari ini, mereka berdua tidak saling menjalin komunikasi sama sekali.
Neva merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kamarnya pun sudah disulap menjadi kamar impian seorang calon pengantin. Tak lama kemudian, pintu kamar terketuk pelan.
"Sayang, apa kau sudah tidur?" tanya Mama di balik pintu.
"Belum, Ma. Masuk," jawab Neva. Kemudian, pintu kamarnya terbuka dan Mama melangkah masuk.
"Malam ini, Mama tidur di sini, boleh?" tanya Mama. Neva mengangguk dengan senyum. Dia menggeser posisinya. Mama duduk di sisi ranjang. Menatap putrinya dengan kasih. Tangan Mama terangkat untuk mengusap rambut Neva. Kemudian, beliau memakaikan selimut.
"Putri Mama sudah dewasa," ucap Mama dengan senyum simpul dibibirnya. Kemudian, dengan pelan Mama tidur di sebelah kiri Neva. Beliau memiringkan tubuhnya dan memeluk Neva.
"Rasanya, baru kemarin Mama mengajari mu berjalan, sekarang ... Mama harus melepas mu," ucap Mama dengan keharuan dihatinya. Neva menyandarkan kepalanya di dada Mama. Dia memeluk mamanya. Kemudian, pintu kamar terketuk pelan. Suara Papa menyapa di sana.
"Masuk, Pa," jawab Neva mempersilahkan papanya untuk masuk. Papa membawa langkahnya masuk ke dalam kamar Neva.
"Mama sudah ada disini," ujar Papa yang dijawab anggukan kepala oleh Mama. Kini, papa ikut merebahkan tubuhnya di samping Neva. Gadis itu berada di tengah diantara kedua orangtuanya. Tangan Papa memeluknya. Kemudian, papa meninggalkan kecupan manis di rambut putrinya.
"Putri kita sudah dewasa, Pa," ujar Mama pelan. Keharuan masih menguasai hatinya. Tuan besar Nugraha mengangguk.
"Ya, padahal, rasanya baru kemarin Papa mengantar putri kecil papa kesekolah, dan besok papa akan mengantarnya ke pelaminan," jawab Papa dengan penuh haru. Neva mendekap keduanya.
"Nak, kau adalah wanita. Pakaian untuk laki-laki. Menghangatkan ketika dingin, dan meneduhkan ketika panas. Jadilah istri yang baik, taat dan patuh pada suami. Sayangi juga Mama dan Papa Mahaeswara seperti kau menyayangi Mama dan Papa," tutur Mama penuh kasih untuk putrinya.
Neva tidak mampu menjawab. Dia menahan tangisnya. Dia hanya mengangguk mengiyakan nasehat Mama.
"Dulu, sewaktu kau masih bayi dan berada di tengah seperti ini, Kak Lee pasti akan memprotes," ujar Papa dengan tawa renyah. Mama tersenyum lebar mendenger itu. "Lalu kalian berdua akan berada di tengah," lanjut Papa.
Pada akhirnya, mereka bercerita hingga hari menjelang pagi. Tuan dan Nyonya besar Nugraha bahkan tidak bisa benar-benar tidur. Hati keduanya mengharu, orang tua yang akan menyerahkan anak gadisnya.
"Kau sudah siap? Pasti kau sangat grogi," ucap Yuna dengan senyum. Yuna menyisir rambut Neva dengan perhatian. Neva mengangguk pelan.
"Sangat. Sangat grogi," jawabnya.
"Kau pasti akan menjadi pengantin wanita tercantik yang pernah ada," puji Yuna. Dia telah selesai menyisir rambut Neva.
"Terima kasih, Kak Yuna," ucap Neva. Dia mengambil tangan Yuna yang berada di pundaknya kemudian dia memutar posisi duduknya hingga menghadap ke arah Yuna. "Kak, Yuna," panggilnya tercekat. Entahlah, rasanya dia tidak memiliki kalimat apapun untuk diucapkan. Mungkin lebih tepatnya tidak ingin mengucapkan apa-apa. Ketika mulutnya hendak mengucapkan sesuatu, air mata tiba-tiba ingin turut serta mengutarakan perasaannya.
"Kenapa?" jawab Yuna. Dia menarik kursi dan duduk di depan Neva. "Berbahagialah sayang. Jangan khawatirkan apapun. Takdir telah ditentukan bahkan sebelum kita berteriak pada dunia. Kisah ini mungkin memang sangat rumit, tapi dengan keteguhan dan sebenarnya cinta dalam hati kita, kisah ini akan berakhir dengan sangat bahagia. Jodoh, hidup dan mati tidak ada yang bisa menggenggamnya kecuali sang pemilik jagad raya," ucap Yuna. Neva mengangguk. Mereka telah lama menjalani kisah rumit ini. Kisah yang seperti tak berujung, kisah yang seolah selalu ada kesedihan di dalamnya. Namun kisah rumit ini sebentar lagi usai dan akan digantikan hari-hari penuh bahagia.
Neva memeluk Yuna. Mereka berdua saling berpelukan dengan kasih.
___________________
Neva sudah dirias dengan sangat cantik. Ia memakai set Tiara yang dikirim oleh keluarga Mahaeswara. Satu set tiara yang terdapat butiran-butiran permata dari dasar laut. Batu mulia safir tak luput ikut mempercantik Tiara itu. Paduan tradisional dengan modern.
Acara akad nikah pagi ini, hanya akan dihadiri oleh keluarga inti dari kedua keluarga.
Ayah Yuna datang dini hari tadi. Hanya Ayah saja, karena nenek sedang tidak enak badan.
Sebelum acara itu dimulai, Neva lebih dulu meminta restu dari orang tuanya. Tuan besar dan Nyonya Nugraha duduk diatas kursi, dan Neva duduk bersimpuh di depan mereka. Sementara Dimas dan Leo berada di samping Mama dan papanya. Mengapit kedua orang tua mereka.
Neva memegang mic dengan mulai membuka mulutnya. Dia menatap Papa dan Mamanya dengan senyum namun kemudian ia menunduk. Mengambil nafasnya dengan dalam lalu mengeluarkannya dengan halus. Kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya untuk menatap kedua orangtuanya.
"Mama, Papa, Kak Dimas dan Kak Lee yang sangat adinda cintai," ucap Neva dengan perjalanan. Dia mengedipkan matanya, menahan agar dia tidak menangis. "Pada kesempatan ini, adinda ingin mengucapkan terima kasih yang luar biasa untuk kasih sayang Mama, Papa dan Kakak. Adinda sangat bersyukur atas karunia Tuhan pada Adinda, lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat hangat. Keluarga sempurna dalam hati Adinda. Terima kasih sudah saangat sabar dalam mendidik adinda hingga saat ini," Neva berhenti sampai disitu. Setetes air matanya jatuh. Mama bahkan sudah sesenggukan disana.
"Mama, Papa ... Kakak, Adinda minta maaf atas semua kesalahan yang Adinda buat, maaf untuk kenakalan Adinda. Ma ... Pa, maaf Adinda belum bisa menjadi putri yang baik dan membanggakan untuk Mama dan Papa. Maaf jika adinda sering membuat papa dan mama kecewa. Maaf juga untuk kakak, karena adinda seringkali bandel. Adinda berdo'a pada Tuhan agar kelak adinda bisa menjadi seorang istri, dan ibu seperti Mama," Neva tidak kuat lagi menahan air matanya. Dia menunduk dan menangis. Namun ia masih berusaha untuk menahannya.
"Mama, Papa, Kakak. Hari ini, adinda meminta izin dan restu untuk menikah dengan laki-laki yang adinda cintai, De Vano Mahaeswara. Laki-laki yang dengan izin Tuhan akan selalu membuat adinda bahagia," air matanya berjatuhan tanpa henti saat mengucapkan itu. "Neva sayang sama Papa, Mama, Kak Dimas, dan Kak Lee," ucap Neva sebagai akhir dari permintaan restunya.
Papa terlihat beberapa kali menyeka air matanya. Jangan pikir laki-laki tidak bisa menangis karena hal ini. Beliau adalah seorang Ayah yang dengan tangannya sendiri akan menyerahkan putri tercintanya.
Kini, Papa yang membalas permintaan restu Neva.
"Neva Di`isha Nugraha, putri cantik yang melengkapi keluaga ini. Putri cantik yang sangat Papa cintai. Papa dan Mama sangat bersyukur atas kelahiran mu dalam keluarga ini. Kau tumbuh menjadi putri cantik, sehat dan patuh. Tidak ada harapan apa-apa dari kami orang tua selain kebahagiaan mu. Bahagia menjalani kehidupanmu," Tuan besar Nugraha menyeka air matanya. "Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Do'a Papa dan Mama turut menemani setiap langkahmu, langkah kakak juga. Dimanapun kalian berada ingatlah bahwa ada kami yang selalu mencintai kalian. Sebenarnya Cinta yang tidak akan pernah habis hingga Papa dan Mama telah tiada nanti. Bahagialah, semoga tidak ada halangan apapun dalam kebahagiaan kalian, ujar Papa teratur. "Papa dan Mama juga minta maaf jika dalam mendidik kalian banyak sekali luka yang papa dan Mama torehkan dalam hati kalian," lanjut beliau mengakhiri ucapannya. Kemudian Mama merentangkan kedua tangannya, dan mengangguk. Meminta Neva untuk datang padanya. Meminta anak-anaknya mendekat ke arahnya.
Neva dengan bercucuran air mata, membawa dirinya berada di depan Mamanya. Menatap Mamanya dengan senyum haru, rasa terima kasih dan banyak sekali perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Neva menunduk, lalu ia mencium kaki mamanya. Menangis disana. Mama membungkuk dan mencium rambutnya. Memeluk putrinya dengan tangis bahagia.
"Mama merestui mu, Nak," bisik Mama dengan pelan. Suaranya serak karena air mata yang seolah enggan untuk berhenti. Neva masih mencium kaki mamanya, mengucapkan permintaan maaf dalam hatinya. Suasana menjadi sangat haru, tak ada suara apapun selain Isak tangis haru penuh bahagia.
Mama dengan lembut memegang kedua pundak Neva dan membuat Neva menatapnya. Mama dengan perhatian mengusap air mata Neva dan kemudian mencium kening Neva dengan kasih.
Kemudian, Neva beralih ke papanya. Dia mencium kedua tangan papa dengan dalam. Mengucapkan permintaan maaf dalam hati. Papa langsung memeluknya, memeluk Mama dan kedua putranya yang juga bersimpuh di hadapannya. Tangan Leo dan Dimas memeluk adik kecilnya.
Ini bukan hanya sekedar pelangi sehabis hujan. Tetapi warna-warna indah dunia yang nyata. Keluarga hangat yang penuh dengan kasih.
_____________________
Catatan Penulis π₯°π
Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang π₯° padamu π₯°π
Yang punya poin, poin, poin, yuukk... Kuy, Vote ya. Terima kasih. Ilupyu.
Bersambung. Nantikan Up selanjutnya ya. π₯°ππ€.