Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 41. Dasar bucin


Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Wisnu segera bergegas menuju ke depan kelasnya Dhilla. Sepertinya ia sudah tak sabar menunggu jawaban dari sang pujaan hatinya sampai tak rela saat itu terlewat begitu saja.


" La, udah ditungguin tuh ". ujar Hesti sambil memutar bola matanya dengan malas ke arah Wisnu yang berdiri di depan pintu kelas. Tiara dan Dhilla ikut melihat ke arah yang ditunjuk Hesti.


" Ya udah aku duluan ya bestie ". ucap Dhilla tanpa rasa bersalah seraya bergegas menuju ke arah Wisnu meninggalkan kedua sahabatnya.


" Dih main kabur aja tuh anak ". Hesti melotot melihat Dhilla yang melambaikan tangan sambil terkekeh di depan sana.


" Hahahaha, yang sabar ya bestie". ucap Tiara sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


Setelah itu keduanya pun keluar dari kelas.


Bertepatan dengan Ilham yang muncul di depan mereka.


" hadeeh . . . ditinggal lagi deh ".ucap Hesti memasang wajah lemas nya.


" Hahahaha, bisa aja kamu. Sabar ya entar ada juga yang bakal temenin kok". balas Tiara.


" Duluan ya ". ujar Ilham kemudian memegang tangannya Tiara dan langsung menuju ke parkiran motornya.


Hesti hanya mengangguk mengiyakan saat dilihatnya Tiara melambaikan tangan ke arahnya.


" Dasar bucin akut ". ujarnya sambil melangkah pelan bareng siswa lain keluar dari halaman sekolah.


Hari ini dengan terpaksa ia harus naik angkot karena motor kesayangannya masih di bengkel akibat ulah adiknya semalam.


\*\*\*\*\*


Di salah satu cafe . . .


Nampak Dhilla sedang duduk dengan sedikit grogi di depan Wisnu.


" Kak, malu nih masih pake baju seragam".


" Nggak apa-apa kok, bukan hanya kita aja yang masih pake seragam, coba deh kamu lihat di belakang kamu".


Dhilla pelan-pelan menengok ke belakang dan benar kata Wisnu.


Ada beberapa meja di belakang mereka yang pengunjungnya masih memakai seragam sekolah seperti mereka tapi seragam dari sekolah lain sih.


" Gimana ? udah lebih tenang sekarang?" tanya Wisnu sambil tersenyum ke arahnya.


" Iya kak". balas Dhilla kikuk.


" Cafe ini emang tempat nongkrongnya anak muda. Anak-anak SMP aja sering banget nongkrong di sini, tapi ada aturan khusus loh buat yang masih pake seragam".


" Bener ? aturannya apa aja kak?" tanya Dhilla penasaran.


" Oh gitu ya ". Dhilla manggut-manggut tanda mengerti dengan penjelasan dari cowok di depannya.


" Mau pesan apa nih ?" tanya Wisnu.


" Terserah kakak aja deh". jawab Dhilla sekenanya.


Dasar cewek pemalu, batin Wisnu.


" Nggak apa-apa, Dhilla pilih aja sendiri". setelah berkata begitu Wisnu memanggil pelayan di situ.


" Em . . minum aja kak". jawab Dhilla akhirnya.


" Oke".


Wisnu pun memberitahukan pesanan mereka kepada pelayan tadi.


" La, jadi gimana jawabannya ?" tanya Wisnu seraya menatap lekat wajah gadis di depannya.


" Diterima atau nggak nih?"


" Sebenarnya aku juga mau kak tapi . . . jawab Dhilla dengan hati-hati.


" Tapi apa La ?"


" Abah sama umi nggak bolehin aku pacaran sekarang ini, gimana dong ?" jawab Dhilla lemah.


Wisnu terdiam sejenak. Pelayan tadi datang mendekat mengantarkan pesanan mereka.


" Minum dulu La, biar adem ". ujar Wisnu.


" Makasih kak".


" La, gimana kalau kita pacarannya di sekolah aja ?" ide konyol pun dilontarkan oleh Wisnu.


" Hem . . boleh deh ". Dhilla akhirnya menyanggupi permintaan Wisnu.


Walaupun dalam hatinya agak khawatir kalau-kalau ketahuan oleh orang tuanya. Tapi ia juga sudah terlanjur menyukai cowok di depannya itu.


" Beneran La? berarti kita resmi jadian nih?" Wisnu terlihat bahagia banget.


Dhilla mengangguk mengiyakan.


" Makasih La ".


\*\*\*\*\*