
Pagi hari tanggal sembilan belas Desember. Seperti pagi hari biasanya, menemani Baby Arai bermain lalu setelah putra imutnya tertidur, ia bergegas pergi ke rumah sakit.
"Yuna berangkat dulu Ma," ia pamit pada Nyonya besar Nugraha.
"Hati-hati di jalan," jawab Mama sambil mencium pipi kanan kiri Yuna. Yuna mengangguk, kemudian dia dengan diantar supir pribadi langsung menuju rumah sakit.
Ini masih pagi, ia membuka kaca mobilnya separo. Membiarkan angin menyapanya. Dia lupa jika hari ni adalah hari spesial untuknya. Ya, saat ini dia terlalu sibuk hanya untuk mengingat dua angka itu. Tak lama, ia menutup kacanya kembali. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyapa hatinya. Bukan tentang ketakutan seperti biasanya, bukan juga tentang kekhawatiran yang beberapa hari ini bersemayam pada hatinya. Tetapi ini hal lain. Sesuatu itu adalah rindu. Rindu pada kampung halamannya, rindu pada tanah airnya.
Ternyata benar kata orang, bahwa dimanapun kaki kita berpijak tetap kampung dan tanah air adalah tempat ternyaman dan paling tenang.
Sesampainya di rumah sakit. Yuna segera melangkah pelan menuju ruangan Leo. Pelan, tangannya membuka pintu setelah mengetuknya dua kali dengan ringan. Dia melangkah masuk dan langsung memberi salam pada Papa. Kemudian, baru menyapa Leo.
Leo tengah duduk di ranjangnya, ia merentangkan satu tangannya meminta Yuna untuk naik keatas ranjang bersamanya.
Menurut, Yuna langsung naik ke atas ranjang dengan pelan dan hati-hati. Dia mengusap pipi Leo sebentar lalu menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Sudah makan?" tanya Leo. Tangannya mengusap rambut Yuna penuh kasih.
"Sudah," jawab Yuna.
"Sudah minum susu?" tanya Leo lagi.
"Sudah."
"Bagaimana Baby Arai?"
"Dia semakin lincah, dan mulai enggan dengan orang asing," jawab Yuna. "Hmmm satu lagi, dia sekarang pandai ngambek dan merayu. Dia akan memperlihatkan wajah sedih saat sesuatu yang dia inginkan tidak terpenuhi," lanjut Yuna dengan semangat. Leo terkekeh, dia memencet hidung Yuna.
"Mirip kamu," ujarnya.
"Apa?" Yuna mengangkat kepalanya dari bahu Leo. Dia menatap Leo.
"Sangat mirip kamu," ucap Leo lagi dengan tawa kecil.
"Tentu saja, dia putraku," jawab Yuna.
"Hahaaa anak Mommy sama-sama suka ngambek dan pandai merayu," ujar Leo.
Yuna tersenyum lebar, "Kau harus ekstra sabar dengan kami," ucapnya.
Kemudian, Papa berdiri dari duduknya setelah melakukan panggilan pada asisten Joe. Beliau pamit untuk pulang dan istirahat di rumah.
Jarum jam terus berputar meninggalkan detik demi detik pada hari ini. Waktu terus berputar melewati melodi kenangan yang baru saja tercipta. Gurauan penuh kasih membuat Yuna lupa jika hari ini, pada senja nanti akan turun salju untuk yang pertama kali pada tahun ini. Dan dia tidak lagi menginginkan itu. Tidak berharap lagi untuk bisa menyaksikannya.
"Excuse me," (Permisi) sebuah suara menyapa di luar ruangan diiringi dengan ketukan pelan pada pintu. Yuna mempersilahkannya masuk. Dia tahu jika yang datang adalah perawat. Dan benar, dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa kursi roda khusus.
Yuna menatapnya dengan bingung, ketika perlahan dua perawat membantu Leo untuk pindah ke kursi roda.
"Apa ada pemeriksaan tambahan?" tanya Yuna menyelidik. Kenapa tidak di beritahukan sebelumnya?
"Ya," Leo menjawab dengan santai. Dia tidak tahu bagaimana kesalnya Yuna karena tidak ada pemberitahuan padanya terlebih dahulu.
"Oh," ucap Yuna singkat. Dia mempersilahkan dua perawat itu membawa Leo untuk melakukan pemeriksaan. Dia kesal.
"Kau tidak ingin menemaniku?" tanya Leo. Dia menatap Yuna yang berdiri di depannya.
"Bukankah kau juga tidak bilang padaku jika ada pemeriksaan pada jam ini?" jawab Yuna. Tentu dia pasti akan menemani Leo tetapi nanti saat Leo sudah di bawa perawat. Ini hukuman karena ia tidak di beritahu.
"Jadi kau mau menemaniku atau tidak?" tanya Leo tegas.
"Tidak," jawab Yuna tak kalah tegas.
"Ok, silahkan keluar dan batalkan pemeriksaan jam ini," perintah Leo pada perawat yang langsung membuat Yuna berkacak pinggang dan bahkan matanya melebar dengan bulat.
"Hei, apa-apaan kau," Yuna mulai tidak tenang. "Mana bisa membatalkan pemeriksaan, apa kau tidak ingin lekas sembuh? Apa kau tidak ingin segera pulang? Apa kau tidak rindu putramu? Oh ... apa kau begitu betah disini karena perawat bule sangat cantik dan seksi? Hhh, aku menghawatirkanmu setiap detik dan kau malah memanjakan matamu dengan keseksian para perawat disini," Nyonya cerewet mulai beraksi. Dia dengan bibirnya yang lincah mulai memperlihatkan ketrampilannya dalam mengomel. Dua perawat itu saling pandang tak mengerti apa yang Yuna katakan. Sementara Leo diam dan terus menatap si Nyonya cerewet.
"Jadi kau mau mengantarku atau tidak Yuna?" tanya Leo sekali lagi dengan ekspresi wajah dan suara yang tegas.
"Ok, kau menang Tuan muda," jawab Yuna. Dia melangkah dan berdiri di belakang kursi roda Leo. Tangannya mengenggam pegangan kursi roda dengan hati-hati.
"Biasa saja bibirnya tidak perlu manyun," ucap Leo tanpa menoleh. Dia sangat hafal ekspresi Yuna. Bibir manyun itu seketika langsung berkedut menahan senyum.
"Bibir siapa yang manyun, peramal," jawab Yuna.
"Bibir seksimu, siapa lagi."
"Aku tidak manyun Tuaaaann ngeselin," jawab Yuna.
Yuna membungkukkan badannya dan memperlihatkan wajahnya pada Leo, "Hiiiii ...." dia memamerkan barisan giginya yang rapi.
"Ok," jawab Leo.
"Kau puas?"
"Kau belum memulainya sayang, kenapa bertanya aku puas atau belum?" goda Leo. Yuna membatu dengan kedipan mata yang cepat mendenger jawab Leo. Mesum, batinnya. Wajahnya memerah, ia melirik dua perawat yang memperhatikan mereka berdua.
"Uhum," Yuna terbatuk kecil. "Lantai berapa?" tanya Yuna pada perawat.
"Silahkan ikut dengan kami Nyonya muda," jawab dua perawat dengan sopan. Yuna mengangguk dengan patuh. Pun saat perawat itu memintanya untuk tidak memakai alas kaki. Ia mendorong kursi roda Leo mengikuti dua perawat itu hingga masuk lift.
"Kenapa mereka tidak ikut masuk?" tanya Yuna bingung saat dua perawat itu hanya mengantarnya sampai di depan lift.
Leo tidak menjawabnya, dia meminta Yuna untuk menekan tombol dan Yuna langsung memencetnya.
"Atap gedung?" tanya Yuna menyadari arah lift. Leo mengangguk.
"Pemeriksaan apa yang akan kau jalani? Apa harus pindah rumah sakit dan menggunakan helikopter," dia bertanya lagi dengan cemas.
"Kau akan tahu nanti," jawab Leo rendah. Tangannya terangkat dan mengusap tangan Yuna yang ada di kursi rodanya.
Ting. Sampai. Pintu lift terbuka dan Yuna mengerutkan keningnya melihat atap gedung menjadi hamparan luas gugurnya kelopak bunga. Ia mendorong maju kursi roda Leo.
Mentari masih pada sinarnya, tak terlalu terik, tidak juga meredup. Sinarnya hangat membelai wajah, Yuna mendorong kursi roda Leo dengan pelan dan hati-hati. Dia memperhatikan sekitar, dan kemudian menunduk merasakan telapak kakinya yang disapa lembut oleh sentuhan kelopak-kelopak mawar berwarna peach. Yuna sedikit menjinjitkan kakinya saat pertama kali menyadari sesuatu yang menyentuh telapak kakinya, rasa geli itu menggelitik halus. Namun sedetik kemudian ia menapak dengan sempurna. Membiarkan kelopak-kelopak itu menyambutnya.
Atap gedung itu di sulap dengan begitu indah. Banyak kelompok bunga warna warni. Kelopak bunga yang bahkan ada yang berbentuk inisial namanya dan Leo, ada juga kelopak bunga berbentuk dua angsa yang berciuman. Dan ... satu lagi, kelopak bunga dengan tulisan. Happy Birthday Sayang.
"Ohh," Yuna melepaskan satu tangannya dari genggaman kursi roda untuk menutup mulutnya yang menganga karena takjub dan terharu. Ulang tahun. Dia bahkan lupa hari ulang tahunnya sendiri.
Di samping tulisan itu, ada satu kursi berpita disana, dan satu meja disana . Kursi berpita warna putih.
"Kau yang mengatur semua ini?" tanya Yuna dengan kekaguman di matanya. Sekarang dia tahu jika pemeriksaan sore ini adalah akal-akalan saja.
"Ya," jawab Leo jujur. Yuna terus mendorong kursi roda Leo hingga mereka sampai di kursi dan meja itu. Ada kue ulang tahun berbentuk istana Rapunzel dan bahkan seorang pangeran dengan kuda putihnya.
"Sayang," panggil Yuna penuh haru.
"Kau suka?" tanya Leo yang dijawab anggukan cepat oleh Yuna. Tidak ada tempat yang tepat di rumah sakit ini selain atap gedung untuk menyaksikan salju. Jadi, Leo memilih ini.
"Sangat suka, sangat-sangat suka," jawab Yuna.
"Sekarang, bisakah kau membalik badanmu, Yuna?" ucap Leo. Meskipun dengan beberapa pertanyaan dalam pikirannya ia menurut dan perlahan membalik badannya.
Air matanya langsung luruh begitu saja tanpa permisi saat sepasang bola matanya melihat Sang Ayah berdiri disana. Tersenyum menyapa dan melambaikan tangan padanya. Hati Yuna bergemuruh dengan rasa bahagia dan haru menjadi satu. Dia langsung berlari, menginjak kelopak-kelopak itu untuk menuju ayahnya.
Leo memutar kursi rodanya dan turut menyaksikan pertemuan itu.
"Ayah," panggil Yuna tercekat saat ia sudah berada di depan Sang Ayah. Kemudian, ia menghamburkan pelukannya pada Ayah yang ia rindukan. Memeluk Ayahnya dengan erat.
"Putri Ayah yang cantik," ucap Ayah dengan juga berlinang air mata. Beliau mengusap punggung Yuna dengan kasih.
"Ayah, aku sangat merindukanmu," ucap Yuna. Ayah mengangguk dan mendekap putrinya. Setelah beberapa saat berpelukan dan mengungkapkan rindu, Yuna melepaskan pelukannya. Menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kemudian, ia membalik badan dan melangkah perlahan menuju seseorang yang duduk di kursi roda.
Yuna membawa langkahnya dengan haru. Mata indahnya tak lepas dari laki-laki yang menatapnya dari kursi roda. Air matanya menetes lagi, Yuna segera menyekanya lalu ia menempatkan dirinya tepat di depan Leo. Leo mendongak untuk menatapnya.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Leo dengan senyum indah dari bibirnya. Yuna mengangguk. Perlahan tangannya mengulur untuk menggenggam kedua tangan Leo, kemudian ia bersimpuh di depan Leo. Mencium kedua tangan suaminya dengan lembut dan penuh haru. Matanya terpejam dengan ucapan syukur dalam hatinya.
"Terima kasih," ucap Yuna sendu dengan rasa haru yang membanjiri hatinya. "Terima kasih," ucapnya lagi. Leo mengangguk dan mencium pucuk kepalanya penuh cinta. Yuna melepaskan genggaman tangannya dan memeluk Leo.
"Sekarang, lihatlah siapa yang datang lagi," ucap Leo. Yuna langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang.
Ada Adel dan Karel disana, berdiri di samping Ayah. Dua sahabat yang luar biasa untuknya. Bibir Yuna melengkung dan air matanya menetes lagi. Kemudian, hadir Mama dengan menggendong Baby Arai.
"Ohhhh sayang," gumamnya. Ia menyeka air matanya berkali-kali. Kemudian, hadir Papa, Kak Dimas, Nora, Neva, dan Vano.
Ya. Tanggal 19 Desember adalah hari ulang tahun Yuna. Namun juga hari dimana sang Ibundanya harus pergi meninggalkan dunia ini. Itulah kenapa, Yuna tidak pernah ingin merayakan ulang tahunnya.
__________________
Catatan penulis π₯°π
Selamat ulang tahun Yuna.
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯° Padamu. Terima kasih π