
Leo bangun saat Yuna berada di dalam kamar mandi membersihkan dirinya. Leo dengan nakal masuk begitu saja dan ikut mandi bersamanya.
"Hei, kau tidak sopan," Yuna memukul dada bidang yang sangat seksi itu.
"Bagian mana yang tidak sopan? Aku suamimu," jawab Leo santai. Tangannya mengambil sabun dan mulai menyabuni Yuna. "Aku suami yang romantis bukan? Aku sering memandikan mu," ucap Leo PeDe. Yuna terkekeh.
"Bukan romantis, tapi mesum," jawab Yuna dengan tawa kecil. Kemudian, mereka berdua mandi.
Setelah mengganti baju, Leo segera keluar kamar dan mengambil Baby Arai dari mamanya. Dia sudah sangat rindu pada bayinya.
Dia menciumi Baby Arai tanpa ampun setelah ada dalam gendongannya.
"Vano ada disini," ucap Mama pelan memberi tahu Leo tentang keberadaan Vano. "Semalam hujan sangat lebat jadi Mama yang menyuruhnya untuk menginap," lanjut Mama menjelaskan. Leo mengangguk mengerti dan tidak mempermasalahkannya. Setelah bertukar beberapa kata, dia pamit pada Mama untuk membawa Baby Arai ke kamarnya.
______
Beberapa saat kemudian.
Neva hanya tidur sebentar, ia segera membersihkan dirinya dan langsung bersiap untuk keluar kamar. Dia ingin, saat dia keluar kamar, akan ada Vano yang juga keluar kamar. Atau saat ini Vano masih tidur? Jam berapa biasanya dia bangun pagi? Neva membenarkan rambutnya sebelum membuka pintu kamar. Tangannya pelan membuka pintu dan langsung melihat ke arah pintu kamar Vano. Masih tertutup. Neva tersenyum kecewa. Dia melangkah untuk kebawah.
"Sayang, tolong antar ini," Mama yang kebetulan bertemu dengannya diujung tangga meminta Neva untuk mengantar teh hijau. "Papa ada di taman samping," lanjut Mama menjelaskan. Neva mengangguk. Dia menerima nampan berisi teko dan cangkir dari tangan Mama kemudian melangkah menuju ke taman samping. Senyumnya mengembang saat dia tahu ada Vano disana. Dia melangkah dengan pasti melewati jembatan melengkung berbentuk naga. Mentari belum menampakkan diri, angin masih terasa sangat sejuk membelai kulit. Suara gemericik air mancur ditengah danau membuat nuansa pagi semakin syahdu, dibarengi dengan senyum dan degupan jantung yang terus menerus berdegup kencang.
"Selamat pagi," sapa Neva setelah dia berada di gazebo. Dia menatap papanya. Sapaannya terjawab oleh semuanya. Dengan perlahan dia mengalihkan pandangannya pada sosok diseberang sana. Vano. Sosok laki-laki yang sangat indah dalam hatinya. Mereka saling menyapa lewat senyum. Neva menuangkan teh hijau kedalam cangkir lalu memberikannya pada Papa, Vano dan Leo. Neva duduk di samping Leo. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Leo dan berbisik.
"Kak Lee, maaf aku mencuri baju mu, hahaa."
Leo terkekeh, tanpa Neva bilang pun dia sudah tahu jika baju yang Vano pakai adalah miliknya dan pelakunya pasti Neva, siapa lagi.
"Itu tidak gratis Nona, kau harus membayarnya. Aku capek dan kau harus memijit pundak ku," jawab Leo berbisik juga. Neva mengerutkan bibirnya dan meninju lengan Leo.
"Kau selalu mengambil kesempatan, Kakak jelek," katanya. Mereka berempat ngobrol beberapa saat lalu seorang asisten rumah tangga datang dan memberi tahu jika sarapan sudah siap.
Mereka semua beranjak dan pergi meninggalkan gazebo. Papa dan Leo melangkah berjejeran di depan, sementara Vano dan Neva berjalan di belakang mereka. Vano mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Neva. Lalu seperti sudah dikomando keduanya mengurangi irama langkah kaki. Neva mengigit bibir bawahnya untuk menahan senyum. Hingga Vano menghentikan langkahnya di ujung taman. Papa dan Leo sudah lebih dulu masuk ke dalam. Kini hanya tinggal mereka berdua.
Kedua tangannya menyentuh pundak Neva, dia membuat Neva menghadap ke arahnya. Tangan kanannya mengusap rambut Neva.
"Selamat pagi gadis ku," ucapnya. Ya, dia hanya ingin mengucapkan ini.
Neva tersenyum manis dan menatapnya.
"Selamat pagi, sayang," jawabnya. Vano tersenyum lebar mendengar sapaannya. Dia berharap semoga Neva tidak lagi memanggilnya Kakak. Vano mendekatkan dirinya dan dengan penuh perasaan ia mencium kening Neva. Pagi yang sangat indah bagi keduanya. Pagi pertama yang mereka lalui dengan saling tersenyum indah dan mengucapkan kata sayang. Jantung Neva terasa ingin meledak saat bibir Vano membuat kecupan mesra di keningnya. Dia ingin berteriak pada semesta, mengabarkan bahwa dia tengah jatuh cinta. Cinta indah yang mengisi seluruh hatinya.
Tangan kanan Vano mengusap pipinya sebentar lalu turun kebawah untuk menggandeng tangannya dan membawa Neva untuk kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Leo pamit pada papanya sebentar untuk memanggil Yuna.
Leo membuka pintu kamarnya pelan lalu melangkah ke dalam. Ada Yuna dan Baby Arai diatas ranjang. Yuna baru saja melepas ASI-nya dan membenarkan bajunya. Baby Arai sangat menggemaskan, bibirnya manyun dan sedikit mengeluarkan lidahnya, mengecapnya seolah dia masih mengecap asik.
"Sayang, sarapan sudah siap," kata Leo pada Yuna. Dia naik ke atas ranjang dan mencium Baby Arai. Lalu berpindah ke samping Yuna dan memeluknya. "Ayo sarapan, Papa dan Mama sudah menunggu di bawah."
Yuna mengangguk. "Yuk," jawabnya. Tapi Leo tidak melepaskan pelukannya. Dia masih memeluk Yuna. Dia bahkan sangat manja meletakkan kepalanya di dada Yuna. Tangan Yuna terangkat dan mengusap rambut Leo dengan lembut.
"Kau ingin aku memotongnya?"
"Hmm, tidak. Biarkan saja," tangan Yuna sedikit membuat jambakan di rambut Leo. "Begini lebih menggemaskan," katanya. Tangannya semakin membuat jambakan pada rambut Leo. Dia menunduk sebentar untuk menciumnya. Rambut Leo selalu wangi. Leo terkekeh. Yuna memang sangat suka memainkan dan menjambak rambutnya.
"Kapan kau bersih?" tanya Leo menggoda. Bukan, Yuna yang lebih dulu menggodanya.
"Hmm, bukankah sarapan sudah siap? Ayo turun kebawah," Yuna mengalihkan pembicaraan. Tangannya berpindah untuk melepaskan pelukan Leo.
"Jangan kabur," ucap Leo dan semakin memeluknya, dia tersenyum lebar. Yuna paling pintar menggodanya lalu kabur dan membuatnya berhasrat sepanjang waktu.
"Siapa yang kabur, bukankah tadi kau bilang Mama dan Papa sudah menunggu," jawab Yuna. Leo menarik senyum dibibirnya. Dia mendongak, menatap mata Yuna.
"Vano ada disini," ujarnya pelan.
Yuna mengangguk, "Ya, aku sudah tahu," jawabnya. Leo mengerutkan keningnya, dia melepaskan pelukannya dan mengganti posisi tidurnya. Dia membuat dirinya sejajar dengan Yuna. Yuna memiringkan tubuhnya, dia menatap Leo.
"Aku sudah bertemu dengannya," kata Yuna. "tadi saat aku menaruh asi di kulkas," lanjut Yuna. Leo menatapnya, mendengarkannya tetapi tidak mengatakan apa-apa. "Aku minta maaf," ucap Yuna. Dia tahu pertemuan dengan Vano dini hari tadi adalah ketidaksengajaan tetapi dia merasa bersalah. Dia takut Leo marah.
Leo merengkuhnya, memeluk dan mencium keningnya.
"Tidak apa-apa," ucapnya. "Ayo kebawah," lanjutnya. Yuna mengangguk. Kemudian, mereka berdua beranjak. Leo lebih dulu menyisir rambut Yuna dan menatanya. Rambut panjang Yuna dibiarkan tergerai untuk menutupi tanda merah yang dia buat kemarin. Dia memakaikan hiasan rambut berbentuk tiga bunga dengan mutiara yang menghiasinya. Jepit rambut emas murni yang ia pilih sendiri untuk istrinya.
Leo tersenyum. Kemudian, dia menunduk dengan anggun dan mencium bibir Yuna. Menciumnya dengan lembut tetapi dalam. Tangannya memegang kedua pipi Yuna.
"Sarapan pembuka selalu lebih lezat," ucapnya. Bibir itu masih disana, masih enggan untuk melepaskan. "Bibir manismu membuatku candu," ucap Leo lagi dan masih belum melepaskan Yuna.
Hingga sebuah ketukan pintu mengakhiri ciuman pagi ini.
"Tuan muda, Tuan besar menunggu dibawah," suara asisten rumah tangga dibalik pintu.
Yuna mengambil tissue dan membersihkan bibir Leo.
"Ayo sarapan," ucapnya. Leo mengangguk dan mematuk hidung Yuna sebelum mereka keluar.
_____
Catatan Penulis π₯°
Novel ini terikat kontrak dengan pihak MT (MangaToon)/NT (NovelToon) jadi jika ada yang berniat untuk menjiplak nya, siap aja kena pasal. Semua karya kontrak dilindungi undang-undang. π‘π€π€¬
Makin ngeri aja ama tukang nyuri karya orang lain π€
Klo nggak bisa nulis nggak usah nulis dari pada ngambil punya orang lain. π
Sekian terima kasih π