Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 358_Bintang Redup


Baby Arai terbangun dari tidurnya dan sudah merayap diujung ranjang. Mata Leo terbelalak dengan degupan jantung yang cepat. Ponsel ditangannya jatuh begitu saja, dia segera berlari saat tangan dan kepala anaknya sudah berada di ujung. Jika Baby Arai jatuh, maka yang pertama kali terbentur adalah kepalanya.


Leo dengan gerakan cepat menyambar tubuh anaknya agar tidak terjatuh ke lantai. Dia menjatuhkan dirinya untuk menghalau benturan. Dan Baby Arai tepat terjatuh dalam pelukan Daddy-nya.


Leo tersenyum melihat Baby Arai yang berceloteh diatas tubuhnya. Baby Arai menatap Daddy-nya dengan bahagia, matanya bulatnya berbinar, seolah mereka tengah melakukan adegan penyelamatan sang superhero. Baby Arai tertawa kecil dengan terus menggerakkan tangan dan kakinya. Dia bahkan dengan bahagia mengusap-usapkan keningnya di dada Leo. Kemudian, melakukan cilukba. Leo mendekapnya, dia bernafas dengan lega karena anaknya tidak apa-apa. Namun kemudian pandangannya kabur, kepalanya berdenyut, dadanya terasa sesak dengan jantung yang memompa dengan cepat.


Sebelum semuanya gelap, dia melihat Yuna yang melangkah kearahnya dengan panik. Yuna yang langsung mengambil Baby Arai dari atas tubuhnya. Setelah itu ... semuanya gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa, hanya terdengar dengan samar teriakan Yuna memanggil namanya. Meskipun samar, ia bisa mendengar Yuna menangis menyebut namanya tanpa henti tetapi matanya seolah enggan untuk membuka. Bahkan seluruh anggota tubuhnya, menolak untuk digerakkan.


_________


Ruangan itu bernuansa putih. Bersih. Namun ... menyimpan kedukaan. Hati yang tersayat oleh milyaran kesedihan. Tangisan pilu seperti instrumen kesedihan yang menyayat. Saat ini ... ia tertidur dengan lelap, tidur yang tidak tahu kapan akan terbangun. Kini ... ia hanya terbaring tanpa mampu untuk membuka matanya. Peralatan medis canggih menempel ditubuhnya. Dia bisa merasakan sentuhan hangat pada tangannya tetapi ia tidak dapat meresponnya. Otaknya tidak bisa memerintah untuk menggerakkan tubuhnya.


Mama menangis sesenggukan disamping Leo. Entah berapa jam beliau menangis disamping putranya. Tuan besar Nugraha dengan perhatian terus menenangkan istrinya. Meskipun sejujurnya beliau sendiri sangat bersedih.


"Dia pasti bisa melewati ini, Ma," ucap Tuan besar Nugraha pada istrinya.


"Harus, harus bisa. Dia adalah putra kita yang kuat. Dia harus bisa melewati ini dan segera membuka matanya," jawab Mama dengan suara serak dan masih menangis.


Dimas yang baru saja datang dari negara I langsung ke rumah sakit begitu ia sampai di bandara. Sebelum, Leo seperti sekarang ini ... dia mengalami mimpi yang buruk, jadi dia memang sengaja berangkat ke negara A. Dan tepat saat ia sampai di bandara, sebuah pesan masuk pada ponselnya.


Pelan, tangannya membuka ruangan dimana adik laki-lakinya terbaring lemah. Kakinya melangkah dengan pasti menuju Leo dan langsung bersimpuh di samping ranjang rawat Leo.


Tangan Dimas pelan mengusap rambut Leo. Dia menurunkan kepalanya dan membuat kecupan kecil di kening adiknya. Mata Leo masih terpejam dengan sangat rapat. Ia seolah tertidur dengan sangat nyenyak.


Dimas mendekatkan bibirnya ke telinga Leo.


"Lee, kau mendengar ku bukan?" bisik Dimas dengan pelan. Suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika Leo akan berada pada titik ini.



"Dengarkan aku baik-baik Lee," Dimas mengambil nafasnya dengan dalam. Dia seolah tidak mampu untuk bicara. "Kau harus sanggup melewati ini. Demi orang-orang yang mencintai mu. Demi orang-orang yang kamu cintai. Kau tidak boleh menyerah. Bangunlah, aku akan memenuhi apa saja yang kau inginkan. Hmmm seperti memberikan janji pada anak-anak tetapi memang aku ingin melakukan itu. Menuruti apapun yang kau inginkan. Bangun ... aku akan membuatkanmu nasi goreng spesial dengan tanganku sendiri," ucap Dimas. Dia menunduk dan menangis, bibirnya tak mampu lagi berucap.


Papa, menepuk pundaknya dengan perhatian. Mereka saling menguatkan.


"Dimana Yuna Pa?" tanya Dimas.


"Dia ada dirumah," jawab Papa. "Baby Arai tidak ingin ditinggal," lanjut Papa. Baby Arai menangis meraung keras saat mata indahnya menatap Leo yang perlahan dibawa pergi menjauh darinya. Baby Arai tidak pernah menangis seperti itu. Yuna ingin ikut menemani Leo tetapi disisi lain, dia tidak tega meninggalkan anaknya. Dan pada akhirnya, dia memilih dirumah bersama anaknya.


"Biar aku yang menjemputnya, Pa," ucap Dimas. Papa mengangguk. Kemudian, Mama ikut kembali ke rumah untuk menggantikan Yuna. Meskipun dirumah ada asisten, tetapi beliau tidak tega untuk menitipkan cucunya pada asisten.


Dimas kembali ke rumah bersama Mama. Mama segera menuju kamar Baby Arai setelah beliau sampai di rumah. Dan benar, ada Yuna disana tengah menangis. Beliau mengalihkan pandangannya pada Baby Arai yang sudah tertidur.



Mama melangkah pelan mendekati Yuna dan langsung memeluknya. Tangis Yuna pecah dalam pelukan Mama. Mama mengusap punggung Yuna lembut dan membisikkan kata-kata bijak untuk menguatkan Yuna sebelum beliau memberi tahu keadaan Leo. Namun, pada akhirnya Mama tidak sanggup untuk memberitahunya. Mama menangis sesenggukan bersama Yuna.


Yuna tidak menanyakan keadaan keadaan Leo. Dari tangisan Mama, dia tahu jika keadaan Leo sangat buruk.


"Kak, antar aku bertemu dengannya," ucap Yuna pada Dimas. Dimas mengangguk. Kemudian, setelah mencium lembut anaknya, Yuna pamit pada Mama.


"Lee, koma," ucap Dimas dengan sangat hati-hati saat mobilnya telah sampai di rumah sakit. Dia tidak ingin Yuna terlalu kaget saat sampai di ruangan Leo nanti.


Jantung Yuna seolah terhenti saat itu juga, dunia bahkan seolah gelap dalam pandangan matanya. Dia mematung tanpa berkedip dan bahkan tanpa air mata. Giginya bersatu dengan sangat erat, ia menahannya. Menahan milyaran duka dihatinya.


Tanpa kata, ia mengangguk.


Dimas membawanya keruangan dimana Leo tengah dirawat. Pelan, ia membukakan pintu untuk Yuna. Yuna membawa langkahnya masuk kedalam. Dia membawa langkah kaki yang terasa lemah untuk mendekat. Sepasang bola matanya menatap dengan pilu sosok yang terbaring di ranjang.


Papa berdiri dan menyambutnya. Mengusap pundak Yuna halus, kemudian beliau keluar.


"Hei, bintang tak lagi banyak seperti biasanya. Hmm itu artinya, sebentar lagi musim salju datang bukan?" katanya. Dia menatap bintang redup dengan nanar. "Kau sudah berjanji padaku untuk menemaniku menyaksikan saat salju pertama kali turun. Jangan bohong ya ... aku akan menghukum mu jika kau sampai berani membohongi ku," lanjut Yuna. Ia mengambil nafasnya dalam dan menunduk. Kemudian, ia membalik badannya membelakangi jendela. Kini ... matanya tak lagi menatap bintang, tetapi menatap Leo disana.


Yuna melangkah pasti dan duduk di samping Leo. Mengulurkan tangannya dan menggenggam hangat jemari Leo.



"Sayang, ini aku. Yuna gadis nakal yang kau bawa dari kota K. Kau telah menculikku dari istana ... jadi kau harus tetap menjadi pangeran yang membuat ku bahagia," ucap Yuna. Suaranya serak.


Yuna menurunkan kepalanya, ia mencium kening Leo penuh kasih. Kemudian, ia meletakkan kepalanya di samping Leo.


"Banyak janji yang kau ucapkan padaku, entah sampai kapan aku akan terus menunggu. Jadi ... jangan pernah mencoba untuk tidak menepati janjimu. Sayang, bukalah matamu. Mari bahagia dan tertawa bersama ku," air mata Yuna jatuh membasahi pipinya. Dia menyekanya, menyekanya berkali-kali.


"Leo, dengarkan aku. Kau tahu kisah Qois? Ya ... aku akan gila sama sepertinya jika kau sampai berani melanggar janjimu. Dan ... apa kau tahu Romeo? Romeo si bodoh karena cintanya. Hahaa cinta yang bodoh. Ya ... aku sama bodohnya dengan dia. Aku akan musnah juga jika cintaku musnah. Aku juga akan menghilang jika cintaku menghilang. Tak apa jika aku dianggap gila, tak apa jika aku dianggap bodoh. Aku hanya ingin kamu," Yuna menahan isaknya.


"Apa kau tahu ... aku pernah berdo'a jika semesta tak mengizinkan kita untuk bisa bersama dalam waktu yang lama, maka ... biar aku yang menghilang" Yuna terisak-isak. Dia memeluk suaminya dengan ketakutan yang luar biasa dalam dirinya. Tak ada cahaya sama sekali. Ia merasa dunia begitu gelap.


"Sayang, ku mohon buka matamu. Tatap wajah ku. Ku mohon, bicaralah ... ceritakan banyak kisah indah yang ada di dunia ini. Sayang, ku mohon ...." Yuna menangis dan tak sanggup lagi berbicara.


Dengan sangat pelan jari telunjuk Leo sedikit bergerak.


____________


Di tempat lain. Beberapa jam yang lalu.


Pesawat mengudara, membawa dua hati yang bahagia. Dua belas jam kemudian, mereka telah sampai.


Neva dengan senyum bahagia segera keluar dari mobil. Vano mengikutinya. Dengan bergandengan tangan mereka berdua berjalan masuk ke rumah.


"Mama ...." seru Neva dengan ceria. Wajahnya berseri. Ini ... adalah pertama kalinya dia mengajak Vano berkunjung ke rumahnya yang ada di negara A. "Ma ...." dia berseru lagi. Namun tak ada balasan. Rumah sepi. Neva mempersilahkan Vano untuk duduk di sofa di ruang tamu.


"Aku panggil Mama sebentar," kata Neva pada Vano. Vano mengangguk mempersilahkannya. Kemudian, Neva masuk ke dalam rumah. Dia menuju ruang tengah. Tak ada siapapun tetapi kemudian, Mama keluar dari kamar Baby Arai.


Neva menarik senyum di bibirnya. Dia memiliki firasat yang tidak baik. Wajah sembab Mama ....


"Apa yang terjadi?" tanyanya langsung. "Apa ada yang terjadi dengan Kak Lee?" dia melangkah ke arah mamanya. Mama mengangguk samar.


__________________


Catatan penulis πŸ₯°


Novel ini masih on going ya kawan tersayang. Bukan novel tamat, jadi memang bersambung setiap harinya.


Terima kasih yang sudah dengan begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Menulis kisah ini tidak asal menulis, aku memilih kata demi kata yang bagus dalam setiap dialognya. Aku memilih kalimat demi kalimat dalam setiap narasinya.


Dan juga aku ingin tulisanku rapi dengan EYD dan PEUBI yang benar.


Maaf jika Up nya telat-telat, karena inspirasi tidak selalu mengalir deras. Apalagi kalau lagi musim kemarau alias kena writer blok.


Terkadang, satu bab sudah jadi tetapi aku merasa kurang cocok dengan dialognya ... hapus lagi, nulis lagi. Nggak asal sekali nulis jadi, kirim, dibaca.


Mohon maaf ya teman-teman jika Upnya lama. Aku Author yang masih belajar jadi memang buat ngembangin ide nggak secepat Author femes. ,πŸ₯°πŸ™ Harap maklum adanya.


Aihhh jadi curhat panjang dah. Ku hanya ingin kau mengerti ...


Goyang jempolnya ya Bebs... kasih like koment. Ok. Terima kasih πŸ₯°πŸ™ Mohon koreksi jika ada typo-typo. Ilupyu... Kalian luar biasa πŸ₯°