
"Aku akan mengirim ini untuk Papa," ucap Neva dengan bahagia. Kemudian dia langsung mengirim foto itu pada papanya.
"Okey, mari makan," kata Neva setelah memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas miliknya. Peraturannya masih sama, jika makan bersama Tuan muda Leo maka tidak akan ada suara. Makan dengan tenang dan jangan berbicara.
Semuanya khidmat dalam menyantap makanan tapi kemudian hidung Yuna terasa sangat gatal. Dia menahannya, dia menjadi takut sendiri ketika bersin dan ada Leo di samping nya. Namun, hidungnya sungguh tidak bisa di ajak kompromi. Dia mengambil tissue di depannya, lalu menutup mulut.
"Hachum," Yuna bersin dengan pelan. Dia sangat menahan suaranya. Itu langsung menahan kunyahan mulut Leo. Dia langsung mengambil dua tissue. Satu untuk mengambil makanan dari mulutnya lalu membuangnya, dan satu lagi untuk menyeka hidung Yuna. Menyekanya dengan lembut.
"Apa kau dingin?" Tanyanya dengan perhatian. Dia mengusap punggung Yuna pelan. Berharap itu bisa membuat Yuna sedikit merasa hangat.
Yuna menggeleng, dia mengambil segelas air yang sudah Leo siapkan untuk nya lalu meneguknya dengan perlahan.
"Tidak, hidung ku hanya terasa sangat gatal," jawab Yuna. Kemudian, Leo menggeser duduknya dan beranjak.
"Kau mau kemana?" Yuna menahannya.
"Kedalam sebentar," jawab Leo. Dia kemudian melangkah meninggalkan taman itu dan masuk ke dalam rumah.
"Kak Yuna kau sungguh tidak apa-apa?" Tanya Neva dengan perhatian. Dia menatap Yuna. Yuna tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kedua kakak beradik ini, kenapa memiliki pertanyaan yang sama.
"Tidak apa-apa, Neva," jawabnya. Neva mengangguk.
Kemudian, Karel yang ikut mengomentarinya. Dia menatap Yuna.
"Jaga kesehatan mu, Yuna. Udara malam ini memang sangat dingin. Mungkin seharusnya kita tidak makan disini," ujarnya.
"Hei, ini hanya bersin biasa. Please jangan berlebihan," jawab Yuna. "Maaf, lagi-lagi, aku mengacaukan suasana," lanjut Yuna. "Hmm, ayo lanjutkan makannya."
Yuna kembali menyendok miliknya dan menyuap kedalam mulutnya. Tak lama, Leo kembali dengan membawa selimut hangat dan lembut. Dengan pelan dan hati-hati dia meletakkan selimut itu di pundak Yuna. Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Leo. Ini menyentuh hatinya. Leo selalu menyentuh hatinya, betapa laki-laki ini menjaganya dengan sangat baik.
"Terima kasih sayang," ucapnya pada Leo. Leo mengangguk dan kemudian kembali duduk di samping Yuna. Tangannya terangkat dan membenarkan poni Yuna, tangannya yang hangat mengusap pipinya dengan perhatian. Mata Leo menatapnya dengan cemas, "Sayang, aku sungguh tidak apa-apa," ucap Yuna. Dia menjadi tidak bernafsu untuk makan lagi.
Semua yang ada di situ menghentikan makan mereka dan menyaksikan dua insan yang sangat indah ini. Karel tersenyum dengan bahagia, sangat bahagia. Dia tidak salah jika pada akhirnya dia menyerah pada perasaannya untuk Yuna. Dia ingin Yuna bahagia dan ini adalah jawabannya. Lagi-lagi dia mengucap syukur untuk ini.
Sementara Vano, dia mendekatkan dirinya pada Neva dan berbisik.
"Kakak mu sangat manis," katanya. Neva kemudian sedikit mendekatkan dirinya juga pada Vano.
"Iya, Kakak ku memang sangat manis dan juga sangat perhatian," ucapnya berbisik juga. "Apa kau bisa semanis dia?" Tanya Neva menggodanya.
Vano tersenyum lebar mendengar itu, tetapi dia segera menahannya, "Aku bahkan bisa lebih manis dari dia," ucapnya dan pada kata terakhirnya, dia meninggal ciuman di pipi Neva dan langsung duduk dengan benar seolah tidak melakukan apa-apa. Astaga, Neva melotot dengan itu, sepersekian detik dia membatu dan tidak bisa berpikir apa-apa. Pipinya merah merona dengan jantung yang ingin melompat keluar dari tempatnya. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman malu, ia memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap Vano. Manis, sentuhan lembut bibir Vano di pipinya terasa sangat manis dan sejuk hingga relung hatinya.
Sementara Alea, dia menatap Yuna dan Leo dengan senyum yang rumit. Senyum dengan emosi yang bercampur dalam hatinya. Bahagia tetapi terluka. Bahagia tetapi perih. Dia tahu perasaannya ini terlarang. Dia menunduk dan memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
Tiba-tiba, ponsel milik Neva berdering. Panggilan masuk dari Papa. Papa melakukan panggilan Video. Dengan segera Neva menggeser tombol hijau.
"Selamat malam, Papa," sapanya setelah tersambung. Ada papa dan mamanya dilayar ponsel itu.
"Hallo sayang," jawab Mama dengan senyum, "Kau dirumah Kakak?" Tanya beliau memastikan.
"Neva mengangguk. Kemudian, mengalihkan kameranya pada Leo dan Yuna. "Tuh, mereka," kata Neva. Yuna melambai dengan senyum yang dibalas lambaian tangan oleh Mama. Yuna meminta ponsel itu pada Neva. Tangannya mengulur dan menerima ponsel dari Neva.
"Selamat malam, Mama, Papa," sapa Yuna. Mama langsung menyadari selimut yang Yuna kenakan.
"Nak, kau tidak apa-apa?" Tanya Mama dengan cemas.
Yuna tersenyum dan menjawab, " Tidak apa-apa, Ma."
"Jaga kesehatan sayang," ujar Mama dengan perhatian.
"Iya, Ma," jawab Yuna. "Pa, terima kasih untuk hadiahnya," ucap Yuna pada Papa.
Papa tersenyum dan mengangguk, "Iya, apa Lee membelikan banyak makanan untuk mu?" Tanya beliau.
"Sangat banyak," jawab Yuna. Lalu dia mengobrol dengan mama, tentang kandungannya, tentang dia yang harus ekstra hati-hati, dan pesan Mama untuk Leo yang harus menjadi suami siaga. Setelah selesai berbicara dengan Mama dan Papa, Yuna mengembalikan ponsel pada Neva.
"Bukankah foto yang tadi kau kirim ada Vano?" Tanya Mama ingin memastikan. Beliau memiliki firasat baik. Foto yang diterima suaminya ada foto ketika Vano mencubit pipi Neva. Mereka tidak akan begitu jika tidak ada sesuatu yang terjadi bukan?
"Iya, ada," jawab Neva.. Kemudian dia mendekat ke arah Vano dan memperlihatkan wajah mereka berdua di layar ponsel.
"Selamat malam," sapa Vano dengan ramah. Hmm sekarang mereka adalah calon mertuanya. Papa dan Mama membalas sapaan dengan ramah juga. Mama menatap Vano dengan penuh senyum.
"Disini tidak hanya ada Kak Vano Ma. Ada Kak Karel temen Kak Yuna yang artis itu, apa Mama ingat?" Jelas Neva dan juga bertanya. Mama mengangguk dengan ragu, antara ingat dan tidak ingat.
"Chef Karel yang tampan," ucap Neva memuji Karel. Leo tersenyum mendengarnya. Dia ingat dulu Yuna juga pernah mengatakan itu dan dia ingin menghancurkan wajah Karel. Leo sedikit memperhatikan Vano. Melihat reaksinya.
"Aku yang paling tampan," Vano langsung menyahutnya. Neva menoleh ke arah Vano dan memperhatikannya dengan senyum lucu.
"Astaga, kau sangat narsis Kak," ucap Neva padanya.
"Aku yang paling tampan, titik," jawab Vano. Neva tertawa mendengar itu. Mana ada orang yang mengaku dirinya sendiri sangat tampan.
"Okey, kau yang paling tampan Tuan muda. Semoga kau puas," jawab Neva. Vano tersenyum bangga dengan pengakuan itu. Tapi itu tidak bertahan lama karena Neva meneruskan kata-katanya, "Tapi Kakak ku lebih tampan dari mu."
Vano langsung frustasi mendengar itu, dia menatap Neva dengan kesal. Sementara Yuna, Alea dan Karel tertawa terbahak-bahak melihat itu. Leo juga tertawa dengan itu. Yuna menyandarkan kepalanya di dada Leo dan masih terus tertawa melihat ekspresi Vano yang langsung gelap.
Vano menatap Leo dengan kesal, "Bung, dimana kau belanja wajahmu?" Gurau Vano dalam pertanyaannya. Tawa Neva meledak mendengar itu. Karel, Yuna dan Alea semakin tertawa begitu pun dengan Leo. Belanja wajah?? Ada-ada saja.
Mama dan Papa ikut tertawa diseberang sana. Mereka berdua turut bahagia. Terlebih Mama, Mama tahu bagaimana perasaan Neva dan ketidaksukaan Leo pada Vano. Namun, melihat malam ini sepertinya kisah rumit itu telah berlalu digantikan kebahagiaan yang penuh dengan tawa.
Setelah Neva berhenti tertawa, dia kembali menatap Mama dan Papanya.
"Tidak hanya ada Chef Karel disini juga ada Kak Alea," ucap Neva dan langsung mengarahkan kamera ponselnya pada Alea.
"Selamat malam Tuan besar dan Nyonya," sapanya dengan sangat ramah. Mama membalas sapaannya dengan ramah juga tetapi tidak dengan Papa. Beliau menatap Alea dari layar ponsel dengan pandangan menyelidik. Kemudian, beliau segera menggeser duduknya dan menjauh dari istrinya. Beliau membuat panggilan pada Leo.
Ponsel Leo bergetar di atas meja, dia melihat siapa yang membuat panggilan. Kemudian, dia memperhatikan layar di ponsel Neva, tidak ada Papa disana. Tangannya mengulur dan mengambil ponsel itu, lalu segera menerima panggilan.
Leo diam setelah panggilannya terhubung. Dia tahu ini rahasia. Jika tidak, mana mungkin Papa membuat panggilan sendiri saat Neva membuat panggilan bersama. Setelah mendengarkan semua yang papa ucapkan, Leo memutus panggilannya. Kemudian, dia mengirim pesan pada Albar. Hanya lima detik dan Albar langsung berada di sampingnya.
"Ya Tuan muda," ucapnya siap melaksanakan perintah tetapi sesungguhnya dia berharap tidak menerima perintah, dia berharap panggilan bossnya ini untuk mengajaknya makan bersama. Namun, harapannya untuk makan bersama dengan Sang boss langsung kandas setelah Sang Boss mengeluarkan perintahnya.
"Antar Alea kembali."
Yuna, langsung mengangkat kepalanya dan menatap Leo, kemudian memperhatikan Alea yang terbengong lalu kembali menatap Leo lagi.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Yuna penasaran. Neva yang dari tadi ngobrol dengan mamanya juga sedikit kaget karena tiba-tiba Leo menyuruh Albar untuk mengantar pulang Alea.
Leo menatap Yuna dengan lembut, dia tidak ingin membuat Yuna cemas. Kabar dari Papa yang baru saja dia dengar sangat membuatnya marah tetapi dia menahannya, Yuna menganggap Alea sahabat. Dia pasti akan sangat terpukul jika mengetahui kebenarannya.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya. "Alea hanya harus kembali sekarang."
"Sungguh tidak ada apa-apa?" Tanya Yuna dengan khawatir.
"Ya," jawab Leo pasti. Alea mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan mengecek kolom pesan. Tidak ada pesan dari Papa atau Mamanya, jika ada sesuatu yang terjadi, kenapa tidak langsung mengabari dirinya. Kenapa malah menghubungi Tuan muda Lee? Batinnya.
Kemudian, dia berdiri dan pamit pada semuanya.
Yuna mengangguk, "Sama-sama Alea," jawab Yuna. "Hati-hati," lanjutnya. Alea menatap Leo Sebentar lalu melangkah untuk pergi.
"Albar, setir mobilnya dengan baik," pesan Yuna pada Albar.
"Siap Nyonya muda," jawab Albar dengan sigap. Leo memerintahkan pada Albar untuk menggunakan mobil kantor dan bukan menggunakan mobil Yuna. Mobil Yuna adalah mobil Yuna, tidak boleh ada yang menaikinya selain Yuna dan Leo.
Alea melangkah meninggalkan taman dan Albar membuntutinya. Albar membukakan pintu untuk Alea.
Perlahan mobil melaju meninggalkan rumah Leo.
Yuna masih sedikit penasaran dengan ini. Kenapa setelah Leo mendapat panggilan lalu Alea harus segera kembali.
"Sungguh tidak ada apa-apa?" Tanya Yuna.
Leo mengangguk, "Iya," Jawabanya. Diseberang sana, Papa bernafas dengan lega karena Alea sudah kembali. Kemudian, setelah Neva bertukar beberapa kata, dia memutus panggilan Vidio Mama.
"Uhum," Karel berdehem dan menatap Yuna, Leo, Neva dan Vano secara bergantian. "Sepertinya aku juga harus pamit," katanya. "Sebelum aku menjadi jomblo yang mengenaskan," lanjutnya dengan wajah muram.
Mereka tertawa kecil mendengar itu.
"Chef, semoga anda segera mendapatkan wanita yang Chef Karel cintai," do'a Neva untuk Karel.
"Terima kasih, nona Neva," jawab Karel dengan senyum. Kemudian, dia berdiri dan pamit pada semuanya.
"Baik-baik, Yuna. Jaga kesehatan," pesan Karel pada Yuna.
"Iya Kak Er. Kak Er juga harus jaga kesehatan dan semangat," jawab Yuna.
Sementara disana. Di dalam mobil yang semakin menjauh dari rumah Leo. Alea mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Papanya.
"Ada apa? Bukankah saat ini kau sedang di rumah besar Lee?" Tanya Papa Alea setelah terhubung. "Apa kau berhasil mendekati nya?"
"Apa yang Papa katakan? Mendekatinya? Harus berapa kali aku bilang sama Papa, jangan berharap berlebihan. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Oke, aku memang menyukainya tetapi aku tidak berharap untuk memilikinya. Aku tahu itu tidak akan mungkin. Aku menyukainya, hanya menyukainya saja. Papa jangan menjadikan ku umpan untuk ketamakan dalam pikiran Papa," kata Alea dengan teratur dan dia langsung mematikan panggilannya.
Dia menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan matanya. Dadanya terasa sangat sesak. Dia tahu perasaannya salah, dia tahu perasaannya terkutuk. Dia sudah berusaha untuk melupakannya, sudah sangat berusaha untuk menghapusnya. Namun, yang ada, dia malah merasakan rindu. Kenapa, kenapa perasaan ini harus ada pada dirinya? Kenapa? Dia mulai muak dengan dirinya sendiri. Harusnya dia pergi? Pergi menjauh dari keadaan ini.
Kemudian, dia mengingat sesuatu. Tentang Leo yang tiba-tiba menyuruh Albar untuk mengantarnya kembali setelah menerima panggilan. Ada apa? Dia kembali menyalakan ponselnya dan menghubungi Papanya lagi.
"Kau mau menceramahi ku lagi?" Suara diseberang sana terdengar begitu kesal.
"Apa punya nomor ponsel Tuan muda Lee?" Tanya Alea langsung.
"Tidak, kenapa kau menanyakan itu?" Jawab Papa Alea sekaligus bertanya.
"Tidak ada," jawab Alea lalu memutus panggilannya. Bukan Papanya. Lalu siapa?
Diantara rasa bingungnya, Albar menyalakan Audio dan memilih lagu yang penuh semangat. Lagu dari Sheila On Seven yang berjudul Melompat lebih tinggi. Alea menirukannya dengan pelan, didalam hatinya memang terasa sangat sakit, tak apa, dia akan melewati ini. Kemudian, setelah lagu itu berakhir. Diganti dengan lagu yang masih penuh semangat tetapi lebih lembut. Sebuah lagu dari Bondan Prakoso ft Fade to Black, ya sudah lah.
"Ketika mimpi mu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya sudahlah.
Saat kau berlari mengejar angan mu dan tak pernah sampai ya sudahlah."
Alea masih menirukannya dengan pelan.
"Nona," panggil Albar. Dia menatap Alea dari kaca spion dalam.
"Ya?" Jawab Alea.
"Nama saya Albar, salam kenal" ucap Albar memperkenalkan diri.
"Oh, hai Albar. Salam kenal balik," jawab Alea. Alea tidak menyebutkan namanya karena dia tahu jika Albar sudah mengetahui namanya.
"Nona bisakah kita berteman?" Tanya Albar. Dia masih memperhatikan Alea dari kaca spion.
"Tentu saja, kenapa tidak," jawab Alea. Albar tersenyum mendengar Jawabannya.
"Jadi, apakah mulai saat ini kita berteman?" Tanyanya untuk memastikan.
Alea mengangguk. "Ya, kita berteman mulai saat ini," jawan Alea.
Senyum Albar semakin melebar, "Terima kasih Nona," ucapnya dengan bahagia.
"Kita teman, kenapa masih memanggil ku dengan sebutan Nona. Panggil aku Alea," kata Alea.
"Hm, baik Alea," ucap Albar.
"Okey, Albar," sahut Alea.
'Saat kau berharap keramahan cinta
'Tak pernah kau dapat, ya sudahlah
Yeah, dengar 'ku bernyanyi
La-la-la-la, na-na-na, hey-ye-ye-ya-ya-ya
De-du-de-da-de-du-de-du-di-dam
Semua ini belum berakhir'
____
Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )
Terima kasih untuk teman-teman semuanya yang masih dan selalu setia menanti dan menunggu kisah ini.
Terima kasih untuk dukungannya pada Nanas.
Selamat membaca 🥰😘
Sttt ... aku lagi berusaha buat ngasih Up bonus untuk apresiasi terhadap Diam dirumah. Semoga bisa mengobati rasa jenuh.
Do'ain Nanas agar inspirasinya luber biar stok babnya banyak biar Up Up Up.
#DiamDiRumah.
Sehat dan semangat semuanya.
Jangan lupa jempolnya di goyang Yach teman. Aku pada mu. Luv luv. 🥰
Huaaacchh 😪 merem dulu yess 😴
Jempol Jan lupa jempol. 😴