Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 148_Posesif Akut


Dua hari sebelum pesta itu di gelar, kabar beritanya sudah lebih dulu bocor ke publik. Catherine yang mengetahui ini segera menemui Karel di lokasi syuting.


"Karel, kau mendapat undangannya bukan?"


"Iya," jawab Karel. Dia tahu undangan apa yang di maksud Catherine.


"Emm, kau belum punya pasangan bukan untuk datang kesana? Bagaimana jika aku ikut dengan mu?"


"Tidak bisa Catherine."


"Kau pelit, kau akan jadi jomblo mengenaskan jika kau datang kesana sendirian. Ayolah Karel... Nona Yuna juga sudah mengenal ku bukan?"


"Aku kesana dengan seorang teman. Maaf harus mengecewakan mu Catherine."


"Siapa? Alice? Dia tidak cocok dengan wajah bule mu, kita lebih cocok. Setelah ini, akan ada gosip muncul di antara kita dan itu akan menaikkan pamor kita. Bagaimana, kau setuju?"


"Aku paling benci cara itu. Jadilah artis yang berkualitas, yang terkenal dengan prestasi, jangan kebanyakan drama dan sensasi. Aku datang dengan teman wanita ku dan bukan dari kalangan artis," jelas Karel dan segera pergi meninggalkan Catherine. Catherine menatap Karel yang meninggalkannya dengan kesal.


_Mereka mengadakan pesta di sebuah pulau yang terkenal akan keromantisannya. Pesta ini mengusung konsep tradisional berpaduan dengan negri dongeng. Pesta akan dihadiri oleh beberapa pejabat serta para pebisnis kelas kakap.


Mereka juga mengundang beberapa penyanyi papan atas dan host artis untuk memeriahkannya.


Para tamu undangan diberikan akomodasi gratis dan sebuah souvernir berupa iPod dan mobil mewah. iPod dibagikan kepada masing-masing undangan, dan mobil mewah akan undi bagi undangan yang beruntung. Di luar acara ini... Mama memberikan ribuan beasiswa pada anak-anak yang kurang mampu dan berprestasi. Mama... sangat bahagia dengan kebahagiaan putra tercintanya.


Yuna Ibriza... menampilkan sosoknya yang anggun dan mempesona. Ia mengenakan ball town beige lengkap dengan mahkota bak tuan putri.


"Aahh, rasanya aku ingin menyembunyikan mu dari dunia ini dan tidak membiarkan siapapun menatap wajah mu," Leo mengusap pipinya dengan kekaguman yang terpancar dari matanya. "Sayang, kau sangat cantik," pujinya yang membuat Yuna tersipu. "Agrhhh... kau membuatku frustasi," ucapnya dengan kesal karena hari ini dia harus rela berbagi wajah Yuna kepada ratusan tamu undangan.


"Tuan muda, kau adalah pangeran tertampan dan terhebat di dunia ini, tidak akan ada yang mampu mengambil tuan putri dari sisi mu," Yuna menatap matanya dengan cinta. Dia tahu Leo selalu berlebihan memikirkan dirinya.


Leo dengan manis menjatuhkan kepalanya di pundak Yuna. "Sayang, jangan pernah berpaling dari ku."


"Tidak akan. Aku sudah bilang pada mu... jangan menghawatirkan apapun. Aku mencintai mu," Yuna menenangkan hatinya.


"Okey," Leo mengangkat kepalanya. Dia menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan. Dia menatap Yuna dengan kelembutan di matanya.


"Tuan suami, aku sudah mengajari mu bagaimana menguncupkan kedua telapak tangan mu. Kau tidak berniat hanya mengangguk saja bukan?"


"Kau juga tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki lain. Siapapun termasuk Karel dan bahkan Presiden sekalipun."


"Ya ampun Tuan suami, kau terlalu berlebihan. Bagaimana bisa aku tidak berjabat tangan dengan Presiden? Itu suatu kehormatan untuk ku."


"Tidak boleh. Hanya aku yang boleh menyentuh mu."


"Ahhh ya ampun... aku menikah dengan laki-laki yang kolot dan pecemburu akut. Aku bahkan tidak boleh berjabat tangan dengan Presiden, dunia ku sangat menyeramkan...," Yuna menatapnya dengan kesal.


"Aku akan melempar mu ke hutan jika kau berani melanggar." Leo sedikit mengerutkan bibirnya, dan itu membuatnya terlihat seksi. Mata Yuna langsung meleleh.


"Sayang, kau sangat imut," Yuna menjinjit dan mencium pipinya. Tepat setelah itu... pintu terbuka.


"Kak Lee... Selamat, aku belum pernah mengatakan ini pada mu bukan? Kakak... teruslah bahagia," suara Neva sedikit serak. Leo mengusap punggungnya lembut.


"Terima kasih, untuk jebakan mu adik manis," jawab Leo dan mencium rambutnya.


Adel sangat bahagia dengan ini. Akhirnya... Yuna mendapatkan kebahagiaannya. Tidak perduli seperti apa badai yang pernah dia lalui untuk sampai pada titik ini, yang jelas saat ini... kebahagian itu nyata.


"Aku sangat bahagia Na... aku sangat bersyukur. Jangan pernah bersedih lagi, teruslah bahagia. Pangeran bersama mu dan pasti akan selalu menjaga dan membuat mu bahagia," Adel memeluk Yuna dan menahan air mata kebahagiaannya.


"Terima kasih, Adel. Kau selalu ada untuk ku, dari dulu hingga saat ini. Kau yang selalu menguatkan ku untuk terus menjalani semuanya. Uhhh... sudah, aku tidak ingin menangis," Yuna segera melepaskan pelukannya dan melihat ke atas, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Jika kau menangis, maskara mu akan luntur dan wajah mu akan berubah menjadi kuntilanak," Leo segera menyelutuk. Mendengar itu... Yuna langsung mengembungkan pipinya dan tertawa kecil. Dia segera meninju pundak Leo. Sementara Adel menahan tawanya, dia tidak menyangka jika Tuan muda ini bisa melucu.


Yuna menggandeng lengan suaminya dengan senyum. Leo berjalan bak kaisar dengan aura yang kuat dan kharismatik, di sampingnya berjalan seorang permaisuri secantik bidadari, yang anggun nun mempesona.


Para tamu undangan segera mengabadikan ini, beberapa ada yang menyiarkannya secara live di akun sosial media mereka. Leo J yang misterius dan Yuna yang bukan berasal dari keluarga konglomerat membuat berita semakin heboh dan terlalu kepo. Teman-teman media sudah mengantri untuk mendapatkan berita terupdate sejak kemarin. Mereka diberi tempat khusus untuk meliput namun tidak diperkenankan untuk masuk kedalam gedung. Tak masalah kawan... dengan menunjukkan id card, kalian akan membawa pulang iPod gratis dari empunya.


Vano tidak hadir ke acara ini meskipun sang Mama mendesak dirinya untuk ikut. Saat ini... yang terbaik adalah tidak saling bertemu, dia ingin benar-benar menyembuhkan luka pada hatinya.


_Acara yang melelahkan hampir selesai. Hanya tinggal acara seru-seruan dengan keluarga terdekat dan beberapa teman. Leo tidak menerima tawaran untuk wawancara, dia memang seperti itu, dia tidak suka disorot. Hanya Neva dan asistennya yang menemui para awak media dan melakukan wawancara sebentar.


Karel datang bersama Adel dan mereka berada disana sepanjang hari, bahkan hingga malam ini.


Ayah, Nenek, Ibu sedang duduk bersama satu meja dengan Papa dan Mama, serta Kak Dimas dan Nora. Sementara Viona... dia dari tadi sibuk berkenalan dengan cowok-cowok keren dan tajir.


"Sayang, apa kau lelah?" Leo mengambil tangan Yuna dan memijitnya pelan.


"Tidak," jawabnya dengan senyum. Kemudian, Neva datang dan menarik mereka berdua untuk melakukan dansa bersama.


"Hei, aku tidak pandai berdansa," Yuna menatap Leo dengan cemas. Dia takut salah gerakan dan malah membuat malu. Dia pernah mengikuti kelas dansa tapi itu dulu, ketika dia masih SMA.


"Kau hanya tinggal mengikuti ku sayang," Leo meletakkan kedua tangannya di pinggang Yuna. Karel dan Adel... sepertinya, mereka memulai sesuatu. Papa dan Mama tidak mau ketinggalan, Kak Dimas dan Nora, kemudian, Ayah dan Ibu dan beberapa pasangan yang juga ikut berdansa, termasuk asisten Dion dan pacarnya.


Neva memperhatikan dengan senyum dan segelas jus di tangannya.


"Kenapa pangeran mu tidak hadir?" Lula bertanya dengan sedih.


"Dia bilang, dia sangat sibuk."


"Disini bertabur pebisnis kelas kakap, bukankah seharusnya ini sangat menarik. Presiden bahkan menyempatkan diri untuk datang kesini tapi pangeran mu malah sibuk. Ter...La...Lu...,"


"Entahlah, padahal Mama sangat berharap dia datang. Aaaahhh... berhentilah membahas dia, hari ini aku sangat bahagia, melihat Kakak ku sangat bahagia. Aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini. Ku harap, mereka selalu bahagia...," mata Neva memperhatikan Leo dan Yuna yang saling berbisik dengan senyum penuh cinta. Dia menjadi sentimentil dan berkaca-kaca.


'Kak Lee... kau harus selalu bahagia, jangan pernah kehilangan lagi. Aku sungguh tidak tega jika melihat wajah mu tanpa warna dan teramat sedih. Saat kau jatuh cinta... kau melupakan semuanya bahkan diri mu sendiri, jadi kau harus selalu menjaga cinta yang telah kau miliki,'


Neva segera menyeka air matanya yang hampir menetes. Lula merangkulnya dengan perhatian.


"Semangat bossque. Lihatlah Kak Yuna... bagaimana dia akhirnya berhasil mengambil cinta Tuan muda Lee sepenuhnya. Tuan muda Lee lebih menyeramkan dari pada Pangeran mu bukan?" Lula menyemangatinya.