Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 223_Kastil Di Pinggir Pantai


"Hei, mau apa kau?" Yuna menahannya.


"Memuaskan mu," jawab Leo dan langsung menyerbu Yuna. Bibir seksi itu menyatu saling bersentuhan dengan lembut. Berayun dan melekat. Kemudian, Leo membawa kecupannya lebih turun kebawah.


Di luar... angin berhembus dengan kencang. Ombak bergulung, berkejaran dengan cepat. Secepat tangan hangat itu melucuti setiap helai pakaian yang masih menempel.


Tangan hangat itu dengan begitu lembut membuat gerakan yang meleleh kan hati. Bibirnya yang merah dan basah membuat kecupan-kecupan romantis di setiap jengal tubuh istrinya. Kecupan tentang kasih dan cinta yang luar biasa yang dia miliki. Yuna pasrah dalam pemujaannya. Dia hanya mampu bernafas dengan berat dan terkadang tersengal.


Mata indah Leo menatapnya, menatap wujud cantik Yuna istrinya, menatap wajah penuh kasih yang begitu lembut perasaannya. Dia mengecup keningnya. Kemudian, membawanya kembali menikmati keindahan bintang-bintang yang seolah berjatuhan di semesta. Bersama gemuruh perasaan yang menggebu.


Malam ini... dua insan yang saling mencintai, bersatu, melebur dan mengikat dengan begitu cantik dan romantis. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya selain menyebut nama sang pujaan. Jemari lentik itu mencengkeram erat di punggungnya yang halus.


Di luar... angin masih berhembus dengan kencang, di luar... ombak masih berkejaran dengan cepat.


Cinta ini masih membara dengan begitu ganas dan rakus.


Ketika... peluh keringat menetes di keningnya, itu... seperti salju sejuk yang dengannya, dia ingin terus bermain-main. Yang dengannya, dia ingin terus termanjakan. Yang dengannya, dia ingin terus membeku lalu kemudian meleleh bersama-sama dengan alunan cinta yang membara.


"I love you," bisiknya dengan mesra di telinga wanita yang sangat dia cintai. Yuna, istrinya.


__Di malam yang sama di tempat yang berbeda.


Rumah besar keluarga Nugraha.


Neva baru saja selesai mandi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengambil ponselnya lalu membuka chat padanya pada Leo.


"Kak Lee," pesannya. Namun hanya centang satu, itu artinya pesannya tertunda. Dia melirik jam dan mengangguk pelan. Kak Lee sudah tidur, pikirnya. Dia ingin menanyakan tentang bantuan itu.


Kemudian, dia membuka chatnya pada Vano.


"Kak Vano," send. Aishh... dia seperti sedang mencari perhatian. Kemudian, dia segera mengirim pesan lagi sebelum Vano membalas pesannya. "Ada salam dari Mama, terima kasih untuk bingkisannya," send. Huff... dia meniup poninya dengan pelan. Cring... pesan balasan datang. Dia dengan sangat cepat mengusap ponselnya.


"Iya, salam kembali untuk Beliau," balas Vano. Neva membacanya dengan datar lalu mengerutkan bibirnya.


"Hanya ini? Cuma ini? Balasan yang sama sekali tidak menarik," ucapnya menggerutu sendiri. Lalu meletakkan ponselnya di atas kasur dengan kesal. Dia memeluk guling dan memejamkan matanya.


"Apa kau mau mendengar permintaan ku?" Suara Vano seolah berbisik tiba-tiba di telinganya. Kemudian, adegan ciuman itu hadir dalam matanya. Neva segera membuka matanya dan menyentuh bibirnya.


"Astaga, jantung ku," gumamnya. Dia menggeleng dan mencoba membuang jauh adegan itu dalam otaknya. Lalu, dia memejamkan matanya lagi.


Tiba-tiba, ponselnya berdering, ada panggilan masuk. Tangannya mengambil ponsel miliknya dengan malas. Namun, matanya langsung melebar setelah tahu siapa yang membuat panggilan. Vano.


Neva bangkit dari tidurnya dan duduk dengan manis bersandar di ranjangnya. Dia membenarkan rambutnya dan berdehem sebelum menggeser tombol hijau.


"Ya," ucapnya dengan nada yang malas setelah terhubung.


"Apa aku mengganggu mu?" Tanya Vano di seberang sana.


"Hmm, tidak," jawab Neva.


"Kau sudah tidur?" Tanya Vano. Saat ini... dia masih berada di dalam mobil, di depan rumah besar keluarga Nugraha. Dia memarkirkan mobilnya di sebelah kanan di seberang jalan.


"Belum, Kakak?" Jawab Neva sekaligus bertanya.


"Tentu saja belum," jawab Vano. "Keluarlah, aku ada di seberang jalan, rumah mu," ucap Vano memberitahu keberadaan nya. Mendengar itu, Neva langsung melompat dari atas tempat tidurnya.


"Serius? Bohong kan?" Tanyanya merasa terkejut.


"Serius, keluar saja," jawab Vano. Neva segera menuju balkon kamarnya. Dia melihat jauh kedepan. Ada mobil yang terparkir di seberang jalan. "Apa kau melihat ku?" tanya Vano kemudian dia keluar dari mobil. Dan berdiri di samping mobilnya. Dia melambai.


"Hai...," Neva membalas lambaiannya. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Apa dari tadi Kak Vano tidak kembali?" Tanyanya.


"Iya," jawab Vano.


"Haha ngapain? Apa kau mau menjadi security rumah ku?" Neva tertawa kecil.


"Security hati mu Nona," jawab Vano yang membuat wajah Neva memerah. Neva menutup mulutnya, karena senyumnya yang lebar. "Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Vano kemudian.


"Emmm, tidak," jawab Neva. Kemudian, dia langsung menyahut lagi. "Ya, aku ingin sesuatu," ucapnya. "Apa Kakak bisa memenuhinya?" Tanyanya kemudian.


"Tentu saja," jawab Vano. "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya.


"Emmm, aku ingin... ayam goreng crispy dan Mocca Float," jawab Neva.


"Baik, tunggu Nona," ujar Vano.


"Okey," jawab Neva melambai.


Kemudian, Vano kembali ke dalam mobilnya dan pergi untuk membeli pesanan Neva. Sementara Neva duduk di bangku dibalkon kamarnya.


Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Raizel.


"Kau di rumah bukan?" Tanya Raizel setelah panggilannya terhubung.


"Iya," jawab Neva.


"Aku otw kesana," ujar Raizel dan langsung mematikan panggilannya sebelum Neva mampu menjawab apapun.


Tak lama kemudian. Raizel memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah besar keluarga Nugraha, tepat saat itu juga seseorang memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil milik Raizel. Dia keluar, tepat saat seseorang itu juga keluar.


"Hai Tuan muda Vano," sapanya dengan bersahabat.


"Hai, Raizel," jawab Vano dengan bersahabat juga. Mereka memperhatikan tangan masing-masing. Dan langsung tahu maksud kedatangan mereka.


Mereka melangkah bersama, seperti sudah janjian. Lalu berdiri di depan gerbang dengan bersebelahan.


Security langsung menghampiri begitu tahu ada yang datang.


"Selamat malam," sapa Vano dengan ramah.


"Selamat malam, Tuan muda," jawabnya ramah. Lalu memperhatikan Raizel. "Selamat malam, Raizel," sapanya juga dengan senang.


"Malam," jawab Raizel ramah.


"Mohon maaf, ada keperluan apa?" Tanya security pada keduanya. Dia tidak bisa mengizinkan mereka masuk begitu saja, mengingat ini sudah jam malam.


"Bisa bertemu dengan Nona Neva?" Ujar Vano, yang di dukung anggukan oleh Raizel.


"Sebentar," jawab security lalu memencet sesuatu di tangannya. Kemudian, dia membuka gerbang perlahan. Tepat saat itu juga, Neva membuka pintunya utama rumahnya. Dia mengenakan Coat berwarna dusty dengan rambut yang diikat kebelakang. Jarak gerbang dengan pintu utama sedikit jauh, tetapi manik matanya bisa menatap wajah cantik itu dengan jelas.


Vano melangkah masuk menuju Neva, sementara Raizel tertahan oleh security yang meminta foto.


Neva melangkah ke depan. Dan mereka bertemu di samping air mancur di taman depan.


"Hai," sapa Vano dengan menatap lekat ke wajah ayu milik Neva.


"Hai...," jawab Neva dengan senyum. Kemudian, dia melongok ke samping. "Sebentar," ucapnya, lalu dia melangkah melewati Vano dan menuju gerbang depan.


"Mohon maaf," ucapnya pada mereka yang mengerubungi Raizel. Ada dua security dan dia supir, mereka berkumpul semua. Mendengar Neva, dua security dan dua supir langsung berdiri dengan tegak dan membungkukkan badannya.


"Selamat malam, Nona," ujar mereka serempak. Sementara Raizel langsung bernafas dengan lega dan langsung berlari di samping Neva.


"Ayo," ajak Neva. Raizel mengangguk.


"Huff... syukurlah, kau datang," ucap Raizel.


"Kenapa kau tidak memakai kacamata mu?" Tanya Neva.


"Ku pikir mereka tidak langsung mengerubungi ku begitu," jawab Raizel. "Oh iya, aku bawa martabak telur," ucap Raizel, "Taraaaa...," dia memamerkan tentengan di tangannya.


"Yeyyy," terima kasih. "Ayo kita makan bersama," sambung Neva.


"Kak," panggil Neva setelah sampai di depan Vano. Vano menjawabnya dengan senyum. Kemudian, mereka bertiga, duduk bersama di gazebo depan. Dengan Neva yang berada di tengah.


Mereka bertiga tidak kaku, Vano bercerita lalu Raizel menjawab nya. Raizel bercerita lalu Vano menyambungnya.


Mereka bertiga saling tertawa sambil memakan martabak telur dan ayam goreng crispy.


"Oh, maaf aku hanya membeli dua minuman karena aku tidak tahu jika akan ada kamu yang bergabung," ujar Vano pada Raizel.


"Tidak masalah," jawab Raizel. "Aku bisa satu gelas berdua dengannya," lanjut Raizel dengan langsung mengambil minuman milik Neva dan langsung menyedotnya.


"Hei, kau...," Neva memprotesnya tapi tidak meminta minumannya. Sementara Vano menatapnya dengan terkejut. Tidak masalah, itu hanya bekas sedotan bibir Neva saja, sedangkan dia sudah mencium yang aslinya. Pikir Vano dengan arogan.


"Bukankah seperti ini lebih enak dan romantis?" Kata Raizel setelah menyudahi sedotannya dan meletakkannya di atas meja.


"Hahaa... terserah kau saja," jawab Neva terkekeh.


___Pagi harinya.



Yuna yang baru selesai mandi dan masih mengenakan jubah handuk berjalan dan menghampiri Leo. Menyentuh punggungnya dan mengusapnya dengan lembut.


"Sayang," panggilannya.


"Hhm," jawab Leo dengan masih membenamkan wajahnya di bantal.


"Pukul 05:06," ucap Yuna memberi tahu pukul berapa saat ini. Pelan, Leo membalik badannya dan membawa dirinya berpindah kepangkuan Yuna. Dia meletakkan kepalanya di pangkuan Yuna dan mencium perutnya dengan lembut dan penuh kasih.


Tangan Yuna terangkat dan mengusap rambut Leo pelan.


"Mandi," kata Yuna.


"Kau curang," jawab Leo. Dia mendongak dan menatap Yuna. "Kau meninggalkan ku," lanjutnya dengan manyun. Itu membuatnya terlihat begitu imut. Yuna mencubit pipinya dengan gemas.


"Kau sangat nyenyak, jadi aku membiarkan mu tidur sebentar lagi," jawab Yuna.


"Alasan ditolak," ujar Leo menanggapi.


"Hei, itu karena aku perhatian pada mu tuan suami," jawab Yuna.


"Bukan, itu bukan perhatian," jawab Leo. Kemudian, dia mengangkat kepalanya dari pangkuan Yuna lalu berdiri. "Ayo mandi bersama, gosok punggung ku," ucap Leo dengan menatap lekat kearah Yuna.


"Aku baru saja selesai," jawab Yuna.


"Tidak masalah, kau bisa mengulangi nya. Aku akan menyabuni mu dengan lembut," jawab Leo.


"Aku baru selesai mandi, kenapa harus mandi lagi. Bagaimana jika aku kedinginan?" ucap Yuna. Mendengar itu, Leo langsung mendekat ke arah Yuna. Kedua tangannya bertumpu pada sisi ranjang. Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya di hadapan Yuna.


"Bukankah, ada aku yang akan menghangatkan mu, sayang," jawab Leo dengan penekanan. Dia mengikuti jawaban Yuna semalam.


Yuna menarik mundur tubuhnya, dan mengalihkan pandangannya. "Ummm, aku ingin segera ke pantai," jawabnya. "Ayo menikmati matahari terbit," lanjutnya. Leo masih menatapnya dengan lekat.


"Buruan... aku tidak ingin melewatkannya," ucap Yuna lagi.


"Okey," jawab Leo akhirnya. Dia mencium kening Yuna lalu pergi ke kamar mandi.


___Mereka berdua keluar kastil dan menuju pantai. Angin berhembus dengan masih kencang. Mendung bergelayut di awan pagi yang seharusnya begitu cerah menyapa sang mentari. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Membuat jejak kaki di atas pasir. Kemudian, mereka berdua duduk di atas pasir.


Yuna duduk di depan Leo dan Leo yang langsung mendekapnya. Dia tahu pagi ini sangat dingin. Tapi Yuna memaksa untuk datang ke sini. Rayuannya tidak bisa untuk tidak terpenuhi.


"Tidak terlihat bukan?" Kata Leo. Matanya menatap ke depan, mencari secercah cahaya matahari yang mungkin menyingkap tirai mendung hitam di atas langit.


"Mentarinya ada bersama ku, begitu hangat dan penuh cinta yang tanpa batas," jawab Yuna. Leo mencium pipinya.


"Yuna," panggil Leo.


"Ya," jawab Yuna.


"Kau pernah bilang, untuk mulai berdamai dengan keadaan," ucap Leo. Yuna mengangguk. "Aku telah belajar tentangnya," lanjut Leo.


"Hmmm, kau terbaik sayang," kata Yuna. Tangannya terangkat dan mengusap pipi Leo.


"Aku sadar, aku yang salah dari awal__"


"Bukan, bukan kamu. Andai aku tidak tergoda," Yuna menyahutnya segera.


"Sayang, aku minta maaf," ucap Leo. Dia menunduk dan semakin mendekap Yuna.


"Jangan bahas lagi," ucap Yuna. Dia mendongak sebentar dan kemudian kembali memperhatikan ombak yang berkejaran.


"Aku bertemu dengan Vano kemarin," kata Leo.


"Oh, ya? Kalian bertemu?"


"Ya," Leo mengangguk. "Dia mengundang ku siang kemarin," lanjut nya.


"Hmmm, lalu?"


"Tidak ada yang istimewa. Dia berterima kasih untuk bantuan yang ku kirim untuk membantu perusahaan keluarga nya," jawab Leo.


"Kau melakukan hal yang tepat sayang," ucap Yuna. "Oh ya, apa kau menyinggung tentang dia dan Neva?" Tanya Yuna.


Leo mengangguk, "Aku hanya bilang padanya bahwa Neva menunggunya," jawab Leo. Yuna mengangguk. "Semalam, kata Mama, mereka keluar berdua," lanjut Leo.


"Oh ya? Itu bagus," ucap Yuna. Kemudian, dia membalik badannya dan menatap Leo. "Terima kasih sayang," Dia menghamburkan pelukannya. Memeluk Leo dengan erat. "Terima kasih untuk kelembutan hati mu yang dengan rela memaafkan nya. Aku tidak akan memaafkan diri ku jika Neva patah hati karena ku, aku tidak akan memaafkan diri ku jika Neva menangis dan itu karena aku," ucap Yuna dengan lega. Dia bersyukur.


Kemudian, tiba-tiba awan hitam itu menumpahkan rintik hujan yang menyapa bumi.


"Ayo segera kembali," ajak Leo.


"Ayo bermain bersama hujan," ajak Yuna. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Leo.


"Tidak, ayo segera kembali," Leo menolaknya. Kemudian, dia segera beranjak dan menarik tangannya Yuna agar segera berdiri.


Yuna menurut, dia langsung berdiri. Untuk kali ini dia tidak membantah. Namun hujan lebat lebih dulu datang dari pada langkah mereka untuk sampai di kastil. Yuna menarik tangan Leo untuk berhenti.


"Hei...,"


Cup... Yuna mengunci bibir Leo agar tidak melanjutkan ucapannya. Dia menjinjit dan melingkarkan tangannya di pinggang Leo. Dia menciumnya dengan lembut dan hangat di antara guyuran hujan yang begitu dingin. Kedua tangan Leo terangkat untuk di letakkan di atas kepala Yuna agar terhindar dari guyuran hujan secara langsung.


Dibawah guyuran hujan, mereka berdua saling mengungkapkan cinta. Jatuh cinta berkali-kali dan tak terbatas.


Asisten khusus yang menyusul mereka dengan membawa payung berdiam diri dan segera membalikkan badannya setelah melihat adegan cinta itu.


__Mereka kembali setelah adegan kiss itu. Tentu Leo tidak ingin berlama-lama di bawah guyuran hujan. Dia begitu menghawatirkan Yuna.


Setelah sampai di kamar. Leo langsung membawa Yuna ke kamar mandi. Menyalakan shower dan mengguyur nya dengan air hangat. Setelah itu, dia segera mengering kan rambut Yuna. Dia sangat pandai menggunakan alat pengering rambut. Karena dia sering melakukan ini untuk Yuna. Dia juga pandai menyisir dan mengikat rambut Yuna.


"Sayang," panggil Yuna dengan memakan potongan buah di tangannya. Sementara Leo masih sibuk mengeringkan rambutnya.


"Ya," jawab Leo.


"Aaaa...," ucap Yuna meminta Leo untuk membuka mulutnya. Menurut, Leo membuka mulutnya dan Yuna menyuapinya potongan buah.


Namun tiba-tiba...


"Hachum," Yuna bersin begitu kencang. Leo langsung menghentikan aktivitasnya. Dia langsung mengambil tissue yang berada di meja. Dia mengangkat Yuna untuk duduk di atas sofa.


"Kau...," dia menatap Yuna dengan cemas. Tangannya dengan perhatian mengusap hidung Yuna beberapa kali. "Kau selalu ceroboh dengan diri mu sendiri. Aku sudah bilang, jangan keluar, udara di luar sangat dingin tapi kau membantah. Kamu bahkan hujan-hujanan," Leo mengomelinya.


"Ini hanya bersin biasa sayang, kau tidak perlu membesar-besarkan nya," ucap Yuna dengan manja agar Tuan suami tidak mengomel lagi. Tapi tidak ada jawaban, Leo diam dan menatapnya dengan tajam. Dia kesal, sangat kesal dengan Yuna. Kenapa menjaga diri sendiri saja Yuna tidak bisa, kenapa dia selalu ceroboh dengan dirinya sendiri.


Tangan Yuna mengulur dan meraih tangan Leo.


"Ini hanya bersin, kau pernah bersin bukan? Bersin itu__"


"Kau tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu bersin," Leo memotong ucapannya. "Kau dari luar semalam dan kedinginan, kau hujan-hujanan tadi dan kedinginan. Aku tidak akan memaafkan mu kali ini jika kau sampai kenapa-kenapa," lanjut Leo.


"Tidak akan," jawab Yuna. Dan... hidung nya kembali terasa gatal, dia menahannya, sangat berusaha menahannya. Mungkin ceritanya tidak akan seperti ini jika semalam dia tidak habis dari balkon dan tadi tidak habis hujan-hujanan. Tuan suami hanya mengait-ngaitkannya saja. Itu sedikit menyebalkan, "Hachum," Yuna menutup mulutnya dan menatap Leo dengan memelas, rayuan agar dia tidak kena omel lagi. Astaga... hanya bersin saja, Tuan suami begitu mempermasalahkannya.


Leo tidak mengomel, dia diam dan hanya membersihkan hidung Yuna. Kemudian, dia membawa Yuna ke atas kasur, merebahkan tubuh Yuna dan dia merebahkan tubuhnya di samping Yuna dan langsung memeluknya.


"Apa kau merasa tidak nyaman?" Tanyanya.


"Aku tidak apa-apa, aku sudah bilang pada mu jika ini hanya bersin biasa.... hachum," Yuna bersin lagi.


"Yuna," Leo segera mengambil tissue lagi.


"Aahhh ya ampun... bahkan hanya bersin saja membuat ku ketakutan," ucap Yuna. "Kau terlalu hiperbol, terlalu lebay, kau tahu. Itu sedikit menyebalkan," Yuna menatapnya, "Hanya bersin saja kau begitu panik. Bagaimana jika aku mati, apa kau akan ikut terkubur bersama ku?"


"Tutup mulut mu jika tidak ingin ku jahit. Bicara yang benar atau kau tidak ku izinkan untuk berbicara lagi," Leo semakin kesal dengan nya. Teramat sangat kesal. Dia membuang tissue ke lantai dan langsung beranjak dari tempatnya. Dia melangkah keluar.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Janji ku udah tak tepati ya yang kemaren minta gambar Bang Lee... meski punggung nya doang. Wakakakkk... (Tertawa jahat) Punggungnya doang Gee bikin mimisan. 😍


Kabuuuurr...


Eit, like, komen, vote. Sun manjah Yess jempolnya.


Luv luv, 🥰😘