
Neva memainkan ponselnya, dia membuka sosial media dan langsung menemukan akun Raizel yang ia ikuti. Raizel baru saja memposting sebuah foto sebuah perjalanan kereta ekspres.
"Tujuan yang jelas tanpa halangan. Enaknya jadi kereta," caption yang Raizel bubuhkan. Neva tersenyum membaca caption Raizel. Dia membaca beberapa komentar yang sudah membanjiri unggahan beberapa menit yang lalu. Komentar dari fans Raizel yang kebanyakkan menggombalinya.
"Rai, jika kau adalah kereta maka hatiku adalah stasiunnya. Tempatmu kembali saat kau telah berjalan begitu jauh," itu adalah salah satu gombal keren yang Neva baca.
Kemudian, Neva ikut mengetik sebuah balasan.
"Tabrak aja tabrak hahaaaa," candanya dalam balasan unggahan Raizel. Kereta tidak pandang bulu dan tak segan untuk langsung menabrak apa-apa yang mencoba menghalangi jalannya. Satu detik kemudian, pesannya terbalas oleh lima akun.
"Nona Neva sudah bertunangan ya, tidak boleh lagi godain Raizelnya aku," isi salah satu balasan. Dan kemudian muncul banyak balasan. Neva tertawa terbahak-bahak membaca balasan kecemburuan mereka. Ternyata dia salah telah memberikan balasan pada unggahan Raizel. Lalu sebuah pesan pribadi masuk padanya.
"Senangnya kau memberikan komentar pada unggahanku," pesan dari Raizel.
"Heheee lagi iseng," jawab Neva.
"Apa kabarmu? Jadi rindu ...."
"Kabarku baik. Bagaimana kabarmu Rai?"
"Sedang merindukanmu," balas Raizel dengan mengirim stiker banjir tangis karena menunggu.
"Masih saja sama aku Rai," balas Neva membaca balasan Raizel. Mereka saling berbalas pesan.
Raizel kemudian mengirimkan gambar dirinya yang telah sampai pada tujuan akhir dan melangkah menuju mobilnya.
"Sebelum janur kuning melengkung, bolehkah aku masih terus berjuang sayang," pesan Raizel.
"Sepertinya otak gilamu mulai kambuh," balas Neva dengan emot tertawa.
"Ayo bertemu," ajak Raizel. "Bisa ku pastikan, Tuan muda Vano tidak akan mengetahuinya," lanjutnya. "Aku rela jadi cadangan mu sayang," lanjutnya lagi sebelum Neva mampu membalas sepatah kata.
"Hahaaa ada-ada saja kau Rai," balas Neva pada akhirnya.
"Kurang baik apa coba diriku ini," balas Raizel. Mereka saling bertukar pesan. Namun kemudian, Raizel pamit untuk pemotretan majalah online yang sudah menunggunya beberapa jam yang lalu. Banyak sekali wartawan yang sudah siap untuk meliputnya.
"Bye Raizel. Selalu semangat," balas Neva yang terakhir. Kemudian, ada notif pesan masuk dari Vano.
"Sudah bangun?" pesan Vano pagi ini.
"Sudah Kak," balas Neva. Dan hanya sampai disitu saja pesan mereka.
Neva tertawa kecil menertawakan hubungannya yang tidak jelas. "Break artinya kita tidak terikat dengan sebuah hubungan bukan? Masih atau berakhir? Bertahan atau berpisah? Melepaskan atau mempertahankan. Hhhh entahlah. Aku akan menjalani hidupku dengan semauku. Dekat dengan ini, dekat dengan itu, bertemu dengan ini, bertemu dengan itu ... boleh-boleh sajakan? Bukankah aku tak memiliki ikatan apapun saat ini? Huff Ok Neva semangat. Pagi ini bareng Joe, malam nanti bertemu Raizel, uhummm ... tidak ada hati yang harus ku jaga, jadi ... lakukan semaumu Neva. Cayooo," dia berbicara dengan dirinya sendiri.
Kemudian, dia membersihkan dirinya dan bergegas turun kebawah.
"Nona, sarapan dulu," ucap Asisten rumah tangganya.
"Aku makan di kantin kampus saja Bi," jawab Neva. Dia menolak untuk sarapan di rumah, karena dia kan merasa sepi duduk sendiri di meja makan yang besar itu.
Setelah memakai sepatunya, Neva segera melangkah keluar. Tangannya dengan pelan membuka pintu utama dan dia langsung sambut dengan buket bunga di depannya.
"Pagi gadis," seseorang dengan senyum khasnya menyapa dengan hangat.
Neva membalas senyuman itu, "Pagi, Kak," jawab Neva. Tangannya mengulur untuk menerima buket bunga dari seseorang itu. "Terima kasih," ucapnya.
"Sudah siap? Ayo ku antar," ucap seseorang itu.
"Terima kasih tapi---"
"Tidak ada tapi," seseorang itu langsung menyahutnya.
"Selamat pagi Tuan muda Vano," sapa Joe dengan sopan. Dia membungkukkan badannya. "Selamat pagi Nona muda," sapanya pada Neva. Neva mengangguk dengan senyum sebagai tanggapan sapaan Joe padanya.
"Pagi," jawab Vano dengan pandangan terkejut. "Kau disini?" tanyanya menyelidik. "Kau disini atau pagi-pagi kesini?" tanyanya lagi.
"Dia tinggal disini," Neva yang menjawabnya. Dia menatap Vano. Seberapa dangkal perasaanmu padaku? Kau tidak mampu menjelaskan menjawabnya.
"Kenapa dia harus tinggal disini?" Vano menoleh ke arah Neva dan membalas tatapan matanya.
"Apa Nona sudah siap? Mari ku antar," ucap Joe dengan sopan.
"Aku yang akan mengantarnya," sahut Vano lebih dulu sebelum Neva menjawabnya.
"Nona Neva sudah sepakat untuk berangkat pagi ini dengan ku," jawab Joe.
Vano semakin menatap Neva. "Benar?" tanyanya dengan tidak suka.
"Ya," Neva menjawab dengan sengaja.
Tangan Vano mengulur dan meraih tangan Neva, menggenggamnya. "Aku yang akan mengantarmu, titik."
Vano menarik tangan Neva menuju mobilnya.
"Tuan muda Vano ... Nona belum sarapan, mohon pastikan dia sarapan," ujar Joe.
"Ok. Terima kasih untuk perhatian mu Asisten," jawab Vano kesal. Dia membukakan pintu untuk Neva dan membuat gadis itu berada dalam mobilnya.
Mobilnya pelan meninggalkan area rumah mewah keluaga Nugraha.
"Mau sarapan dimana?" tanya Vano.
"Di kampus saja Kak," jawab Neva pelan. Dia mencium mawar dalam buket bunga ditangannya. Aroma khasnya menggelitik hidungnya.
Vano mengangguk tetapi tidak mengiyakan. Dia membawa mobilnya ke sebuah restoran barat yang buka dua puluh empat jam.
"Yuk," ajaknya setelah sampai.
"Seharusnya kau tidak perlu bertanya padaku jika pada akhirnya kesini," ucap Neva. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Jawabanmu tidak sesuai," sahut Vano. Dia langsung turun dan membukakan pintu untuk Neva. "Ayo," ajaknya lagi. Dia menawarkan tangannya untuk membantu Neva keluar dari mobil. Perlahan, tangan Neva mengulur dan menyambut tangan Vano.
Mereka berdua duduk berdampingan. Vano memilih untuk duduk di samping Neva. Beberapa menit kemudian pesanan datang.
"Apa kau sering tidak sarapan?" tanya Vano.
"Hanya beberapa kali saat tidak ada orang dirumah," jawab Neva. Dia mulai menyendok salad.
"Seharusnya kau tetap sarapan."
"Tidak ada selera jika makan sendiri, itu malah membuatku semakin merasa kesepian," jawab Neva. "Sepertinya setelah ini, aku harus mengajak Joe untuk menemani sarapan," ucapnya dengan sengaja tanpa menoleh ke arah Vano. Dia menyendok lagi dan membawa makanan kemulutnya.
"Hei, apa-apaan kau," Vano menatap Neva dengan tajam.
"Kenapa?" tanya Neva setelah menghabiskan salad dalam mulutnya. Dia menoleh ke arah Vano.
"Tidak boleh," jawab Vano.
"Kenapa tidak boleh?"
"Pokoknya tidak boleh."
"Iya, kenapa tidak boleh."
"Pokonya tidak boleh."
Entah berapa menit mereka berdebat tentang boleh dan tidak boleh ini.
"Sudah siang," ucap Neva memperhatikan jam tangannya. Pukul 07.40 siang dalam artian kesiangan untuk segera kembali berangkat menuju kampusnya.
"Kita bicara nanti. Malam nanti ku jemput," ucap Vano dengan intonasi yang tidak ingin ada penolakan.
_____________________
Catatan penulis π₯°π
Jangan lupa like koment vote ya kawan tersayang π₯° padamu. Ilupyu... π₯°π Terima kasih yang dengan penuh semangat masih menunggu kelanjutan kisah ini. Pokoknya Terima kasih sangat.
Maaf kalau ada Typo Typo ya.