
Vano memberinya Cappuccino hangat yang baru saja dia beli. Mereka duduk di bangku pinggir jalan.
"Makasih," ucap Arnis setelah menerima cappuccino hangat dari Vano. Vano duduk di sebelahnya.
"Kau harus mengingat janji mu," Vano mengingatkannya.
"Hahaa... akan ku ingat jika ingin ingat saja," jawabnya.
"Aku akan menelfon polisi sekarang juga dan menyuruh mereka untuk menyeret mu kembali."
"Aishh, kau..." Arnis segera meninju pundaknya. "Okey, aku akan mengingatnya," dia menurut. Itu karena Vano yang memintanya, orang tuanya bahkan tidak bisa membuatnya menurut.
Dia menikmati udara malam ini, menikmati pertemuannya dengan laki-laki yang dia sukai sedari dulu. Dia sudah beberapa kali memiliki pacar dan kemudian putus. Dia melupakan Vano dan tidak mengharapkannya lagi tapi ternyata setelah bertemu kembali... perasaan itu muncul kembali.
"Vano," panggilannya pelan. Dia menoleh kesamping, menatap Vano yang menyesap cappuccino.
"Hmm," jawab Vano. Dia menoleh setelah menjauhkan Cappuccino dari bibirnya.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanyanya. Itu langsung membuat Vano sedikit terbatuk dan segera mengalihkan pandangannya. Pertanyaan ini lagi, pertanyaan yang tidak dia suka, pertanyaan yang membuatnya risih.
"Okey, tidak usah jawab," Arnis menyesap cappuccino miliknya. "Vano... kau...," Arnis kembali menatapnya dan dengan ragu dia menanyakan sesuatu. "Kau... tidak gay kan?"
Vano membatu mendengar pertanyaan yang sangat ekstrim ini, tangannya segera terangkat dan memukul kepala belakang Arnis.
"Selain rambut mu yang panjang, kau masih sama seperti dulu. Blak-blakan dan terlalu jujur."
"Hahaaa... bukankah itu bagus? Aku bukan orang yang bermuka dua dan palsu."
"Hmm, lumayan bagus tapi tidak cukup bagus. Terkadang kau harus memikirkan setiap kata yang ingin kau ucap terlebih dulu sebelum benar-benar mengucapkannya, karena bisa jadi ucapan mu bisa menyakiti seseorang."
"Bukankah lebih baik seperti itu? Aku menyakitinya tapi aku berkata jujur, dari pada aku membuatnya bahagia tapi ucapan ku palsu."
Vano mengangguk. "Kau tetap harus memilih kata untuk keluar dari mulut mu. Jangan sampai mulut mu terlalu banyak menyakiti orang lain. Sebagai contoh, barusan... kau bertanya pada ku, apa aku gay atau tidak. Itu tidak etis nona... meskipun, pertanyaan itu hanya sekedar untuk memastikan, namun itu terdengar sangat tidak sopan," Vano berkata dengan teratur, matanya menatap Arnis yang memperhatikannya.
"Okey, aku minta maaf," jawab Arnis dan berpaling.
"Hei...," Vano menyenggol lengannya. "Kau tidak tersinggung bukan?"
"Tidak, justru aku berterima kasih pada mu," jawabnya dan kembali menoleh ke arah Vano. "Antar aku kembali."
"Okey."
"Iya."
"Aku masih menyukai mu," dia berkata jujur. Dia bertemu kembali dengan seseorang yang telah lama menghilang dan jika pertemuan ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan padanya maka dia tidak akan menyia-nyiakannya. Tidak perduli jawaban apa yang akan Vano berikan padanya. Di tolak lagi? Tidak masalah, yang terpenting adalah, dia sudah berusaha jujur pada perasaannya.
Vano menghela nafasnya dan membalas tatapan mata Arnis.
"Aku sedang menata kembali hati ku. Aku menyukai seseorang namun pada akhirnya aku patah hati. Kita jalani saja sebagaimana takdir akan membawa kita," ucapnya.
Arnis mengangguk dan menekan perasaannya. Vano... masih menjadi laki-laki yang sangat jauh untuknya.
***@***
Pagi hari di kantor Vano.
Semua karyawan menekuk wajahnya, terlebih para penghuni grup kepo, mereka menangis ketika melihat berita pesta pernikahan kemarin. Mereka patah hati. Pantas saja... Nona Yuna kesayangan mereka tidak pernah lagi datang ke kantor, ternyata hubungan mereka telah berlalu dan Nona kesayangan telah menikah.
ini... pasti karena hubungan cinta tak direstui itu, sahabat yang tidak bisa saling jujur pada perasaan masing-masing. Pantas saja... Nyonya besar akhir-akhir ini membawa perempuan ke kantor. Mereka berfikir jika kegagalan hubungan Direktur dan Nona Yuna tersayang adalah karena Nyonya besar.
Ketika Vano melangkah keluar dari mobilnya, dia disambut sekertaris Mayla dan security yang menunduk dengan sedih.
"Apa ada yang ingin segera kau laporkan?" tanya Vano pada sekertaris Mayla.
"Tidak ada, Direktur," Mayla menjawab dengan pelan. Dia menunduk membuntuti bossnya dengan sedih, melihat wajah bossnya secara langsung malah membuatnya ingin menangis.
Barisan karyawan menunggunya di depan meja resepsionis. Mereka memamerkan senyum dan menyapa Vano dengan penuh semangat dan kompak.
"Selamat pagi Direktur... semangat."
Namun, setelah mengucapkan itu, mereka menyembunyikan wajah masing-masing. Tidak hanya sekertaris Mayla yang langsung ingin menangis setelah melihat wajah Direktur secara langsung tapi mereka juga sama. Terlebih adalah dua resepsionis kepo. Mereka berdua adalah saksi bagaimana manisnya hubungan Direktur tercinta dan Nona Yuna tersayang.
Vano menghela nafasnya panjang. Dia tahu apa yang mereka lakukan, mereka mencoba menguatkannya. Dengan pandangan haru, Vano memperhatikan mereka semua. Benar... dia sungguh beruntung memiliki karyawan seperti mereka.
"Bulan ini, kalian semua akan mendapat bonus dua kali lipat," ucapnya. Dia yakin karyawannya pasti akan bersorak gembira dengan apa yang baru saja dia sampaikan. Bonus adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi, ternyata dia salah, mereka malah semakin menunduk. Vano sungguh tidak tahu jalan pikiran mereka ini. Mereka bahkan tidak bersorak dengan kabar bonus dua kali lipat yang dia berikan.
"Bubar dan bekerjalah dengan benar," ucapnya tegas. Kemudian, dia melangkah meninggalkan semuanya.
Yuna... ternyata kau tidak hanya berhasil mengambil hati ku, tapi kau juga mampu mengambil hati mereka. Sungguh, kau adalah wanita yang istimewa. Betapa beruntungnya Leo yang terlebih dulu menemukan mu.