
Pagi hari di rumah Alea. Mama Alea bergegas memakai sepatunya dan segera pamit untuk berangkat kerja setelah pesanan ojolnya sampai dan menunggu di depan rumah. Mama Alea bekerja disebuah salon kecantikan di sebuah Mall.
Alea meneguk air mineral terakhir dalam gelasnya. Sementara sang Papa sudah begitu asik mengisap rokok di mulutnya.
"Jadi Istrinya Lee akan sering berkunjung ke rumah bunga mu?" tanya Papa Alea. Asap rokok mengebul dari bibirnya.
Alea mengangguk, "Iya. Minggu-minggu ini... Tuan muda Lee akan sangat sibuk. Jadi agar Nyonya muda tidak merasa kesepian dia akan sering berkunjung ke rumah bunga," jawab Alea menjelaskan, "Aku sangat bahagia bisa kenal dengan Nyonya muda. Apalagi dia berkunjung ke rumah bunga ku, itu kebahagiaan tersendiri buat ku," lanjut Alea.
"Dulu, ketika Papa dan Papanya Lee masih muda... kita bandel bareng-bareng, tertawa bareng, godain cewek bareng dan masih banyak sekali kenangan yang kita lalui bersama. Bahkan dalam gurauan kita, kita ingin anak-anak kita menikah nantinya agar persahabatan kita semakin erat. Tapi ternyata, Putranya malah sudah memiliki kekasih hati sedari kecil. Gadis itu sangat pandai membuat Lee bersamanya. Meskipun pada akhirnya mereka berpisah. Andai saat itu Papa tidak ada di penjara, andai saat itu Papa sudah bebas, maka pasti kamu yang akan menggantikan gadis itu, bukan istri Lee yang sekarang."
Alea menatap Papanya yang menerawang jauh, matanya sesekali melihat ke jendela dan sesekali melihat ke atas.
"Andaikan Papa keluar lebih awal, maka pastilah kamu yang sekarang menjadi Nyonya Muda Lee. Kau tidak kalah cantik dari istri Lee. Kau berbakat dan anggun, tidak mustahil untuk mendapatkan dia."
"Cinta tidak bisa datang dan pergi begitu saja Pa. Melihat mereka berdua... aku sangat bahagia. Nyonya muda sangat baik. Mereka saling mencintai dan begitu manis. Tuan muda Lee begitu perhatian dengan Nyonya muda," ujar Alea menyampaikan pendapatnya.
"Papa jangan tamak. Tuan besar Nugraha masih mau membantu keluarga kita saja sudah sangat bersyukur. Papa jangan berharap berlebihan. Menjadikan Tuan muda Lee sebagai menantu adalah impian yang terlalu tinggi Pa."
"Kau terlalu pesimis nak. Apa yang kurang dari mu dibanding istrinya? Wanita itu tidak begitu cantik, kau lebih cantik dari dia. Dia juga bukan dari keluarga hebat, Ayahnya hanya pemilik pabrik tekstil lokal."
"Itu lebih baik dari pada menjadi putri dari seorang mantan narapidana kasus korupsi, itu lebih menjijikan," Potong Alea. Dia segera meninggalkan Papanya yang masih menikmati kopi hitamnya dan sepuntung rokok.
Alea masuk kedalam kamar dan duduk di kursi didepan meja riasnya. "Menjadi Nyonya muda Lee?" batinnya. Ia memperhatikan pantulan wajahnya di dalam cermin, tangannya terangkat dan menyentuh wajahnya.
"Tidak," dia segera menggeleng. Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Yuna.
"Yuna, aku akan menunggu mu setiap hari. Aku dengan senang hati menanti mu," dia mengirim pesan pada Yuna. Namun hingga setengah jam pesan itu tidak mendapat balasan. Bahkan hingga dia pergi ke rumah bunga dan hingga siang menjelang, pesan itu masih tidak mendapatkan balasan. Tentu saja... karena Leo menonaktifkan ponsel milik Yuna dan juga ponsel miliknya. Tidak ada yang boleh menganggu dirinya ketika bersama dengan Nyonya.