
"Sayang jangan bercanda," ucap Yuna menatapnya. Matanya berkaca-kaca, dia tahu Leo berkata jujur, dia tahu Leo tidak bercanda tapi saat ini, dia berharap Leo sedang bercanda. Ada banyak sekali nama Januar selain suaminya kan? Atau bisa jadi, itu hanya kebetulan saja kan?
Leo menarik nafasnya dengan dalam. Dia ingin merahasiakannya dari Yuna tetapi rasanya tidak mungkin, Yuna masih terus dekat dengan Alea. Yuna bahkan menyalahkan diri sendiri karena cemburu pada Alea. Padahal sesungguhnya, firasatnya itu benar.
"Aku tidak bercanda. J dalam nama ku adalah Januar," jawab Leo. Yuna mengeratkan pelukannya. Dia memeluk Leo dengan begitu erat. Kepala bersandar di dadanya, mendengarkan degupan jantung milik suaminya. Dia menggeleng, mencoba menampik apa yang dia pikirkan. Nama Januar tidak hanya milik suaminya kan? Dia berharap Januar yang Alea maksud bukanlah Leo suaminya.
"Menurut mu, ada berapa banyak laki-laki yang memakai nama itu?" Tanya Yuna tercekat. Pikirannya mulai kemana-mana, dia memang mencoba menampiknya tetapi bayangan Alea malah seolah berputar di pikirannya. Alea yang hampir terjatuh dan Leo yang langsung menangkapnya. Alea yang berdiri di depan pintu dan Leo yang menyatakan cinta. Alea yang pagi itu keluar dari dapur bersama Leo. Alea yang membawakan Leo cake ke kantornya. Pertanyaan-pertanyaan Alea tentang Leo. Pandangan mata itu ....
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Leo langsung pada inti masalah. Yuna menggeleng, hatinya terasa sakit hanya memikirkannya saja. Lalu bagaimana jika itu benar terjadi? Tidak mungkin. Yuna terus berusaha menampik apa yang ia pikirkan.
"Menurut mu, siapa Januar yang dimaksud oleh Alea? Apakah itu kamu?" Tanya Yuna hati-hati dan dia berharap Jawabanya adalah tidak.
"Ku rasa itu aku," jawab Leo. Ya, pada akhirnya Yuna harus tahu, agar dia menjauh dari Alea, agar Alea tidak memiliki kesempatan untuk dekatnya, agar Leo tenang dan tidak khawatir. Lebih baik mengatakannya dari pada menyembunyikannya. Yuna harus segera tahu.
Yuna melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap Leo. Menatapnya dengan serius. Kemudian, dia duduk. Dia duduk bersila dan mencerna semuanya. Setelah beberapa saat, dia kembali menoleh ke arah Leo.
"Kau yakin? Atau kau hanya Ge-Er?" Tanyanya dengan serius. Leo terkekeh mendengar itu. Ge-Er? "Jangan tertawa Leo, aku serius," ucap Yuna. Dia masih menatap Leo.
Tangan Leo mengulur dan mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Kemudian, dia duduk menempatkan dirinya di depan Yuna.
"Aku akan mengatakan sesuatu tentang dia tapi ku harap kau jangan larut dalam kesedihan. Aku sudah pernah bilang pada mu, bahwa tidak semua orang yang dekat dengan mu itu tulus. Ada beberapa yang mendekati mu karena sesuatu. Kau tahu kenapa aku tidak memiliki teman?" Ujar Leo. Dia ingin bercerita terlebih dahulu sebelum memberi tahu kebenarannya pada Yuna.
"Karena kau sudah nyaman bersama Kiara," jawab Yuna dengan kesal. Kenapa Leo malah bawa-bawa Kiara?
"Itu awal dari kekecewaan ku pada beberapa teman," sahut Leo. "Aku memang tidak pandai bergaul tetapi aku berusaha untuk mencobanya. Berteman dengan siapa pun. Apa kau tahu apa yang kudapatkan dari seseorang yang disebut teman?"
Yuna menggeleng.
"Mereka hanya memanfaatkan ku, mereka tidak menyukai ku yang tidak bisa bertingkah konyol dan kocak seperti apa yang mereka lakukan. Mereka manis didepan ku tetapi akan mencemooh ku dibelakang. Mereka mendekati ku hanya karena uang ku, hanya karena status sosial ku. Itu terjadi ketika aku masih SD. Jiwa anak-anak yang tidak bisa berpikir dengan benar. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak memiliki teman, ternyata itu lebih menyenangkan. Bersikap masa bodoh pada sesuatu yang tidak penting untuk hidup ku dan hanya memikirkan tentang sesuatu yang paling penting dalam hidupku," cerita Leo pada Yuna. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Yuna dengan lembut.
"Kau harus tahu ini," Leo mengambil nafasnya. Kemudian, memperhatikan beberapa chat Alea padanya yang sengaja biarkan sebagai bukti jika Yuna masih saja ngotot untuk membela Alea. "Januar yang Alea maksud adalah aku," ucap Leo kemudian dengan pelan tetapi pasti dan air mata Yuna langsung tumpah saat itu juga. Dia menghambur ke dalam pelukan Leo. Memeluknya dengan sangat erat.
"Tidak boleh, tidak boleh ada yang menyukai mu selain aku. Tidak boleh," Yuna menangis dengan hati yang teramat sakit. Alea sungguh menyukai suaminya. Alea menghianati persahabatannya. Dan dia sendiri yang memberi kesempatan pada Alea untuk terus dekat dengan Leo. Leo mengusap punggungnya dengan perhatian.
"Jangan menangis," ucapnya penuh kasih. Dia mencium rambut Yuna. "Aku paling tidak suka ketika kau menangis," Lanjutnya dan kemudian melepaskan pelukannya tetapi Yuna menahannya. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya pada Leo.
Leo membalas pelukannya dan membiarkannya menangis. Mungkin dengan begitu Yuna akan sedikit lega.
Yuna mengingat semuanya, semua tentang Alea dan pertemuan-pertemuan mereka. Hatinya teramat sakit, seseorang yang dia anggap sebagai sahabat dan bahkan saudaranya sendiri ternyata menghianatinya, ternyata malah menyukai suaminya. Seseorang yang dia kasihani ternyata malah menusuknya dari belakang.
Dia memeluk Leo dengan masih erat. Dia merasa beruntung, dia bersyukur karena Leo tidak termakan rayuannya, karena Leo begitu setia padanya, karena Leo begitu menjaga hati hanya untuknya.
Jika mengingat Alea, dia menjadi sangat muak.
"Hanya aku yang boleh menyukai mu," ucapnya dalam Isak. "Kau hanya milik ku Leo," lanjutnya. Leo mengangkat dan mengusap rambutnya lagi.
"Hentikan tangisan mu, itu tidak berguna. Dia tidak layak kau tangisi, air mata mu terlalu berharga hanya untuk menangisi dia," ucap Leo. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan langsung mengambil tissue. Dia membersihkan wajah Yuna dengan hati-hati. Menyeka sisa air matanya.
Yuna menatapnya, sepasang bola matanya menatap Leo dengan seksama. Sepasang bola matanya menatap Leo dengan ungkapan rasa syukur dan terima kasih untuk kesetiaan yang dimiliki oleh hatinya.
"Sayang," panggil nya pelan. Sepasang bola matanya masih menatap Leo.
"Ya?" Jawab Leo. Dia membalas tatapan mata Yuna. "Jangan di pikirkan. Yang penting saat ini, kau sudah tahu bagaimana dia," ucap Leo. Yuna mengangguk. Kemudian, Leo memeluknya dan membuat nya kembali tidur.
Yuna membenamkan wajahnya di dada Leo. Nafasnya masih terasa sesak, hatinya masih terasa sakit kare ternyata, seseorang yang dia anggap sahabat nyatanya malah menyukai suaminya.
"Sayang," panggil nya pada Leo.
"Hmm," jawab Leo tanpa membuka mulutnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahu ku lebih awal?" Tanya Yuna. "Kenapa baru sekarang?"
"Aku sudah berusaha memberi tahu mu dengan halus agar kau menjauh darinya tetapi kau tidak menangkap maksud ku. Kau malah mengundangnya kemari," jawab Leo.
Yuna mengangguk, "Ya, aku terlalu percaya padanya. Aku teramat mengasihani dia, aku kasihan dengan kisah hidupnya di masa lalu. Awalnya aku ingin dia kuat dan menjadi seseorang yang sukses di kemudian hari tapi aku tidak menyangka jika ternyata dia malah menyukai mu," jawab Yuna. Kecewa? Tentu saja, dia teramat kecewa. Ketulusannya di balas dengan sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Sekarang, kau sudah tahu, ku harap kau menjauh dari dia," kata Leo. Yuna mengangguk.
"Memikirkan dia saja sudah membuat ku benci, apalagi bertemu dengan dia," jawab Yuna dengan rasa benci dihatinya. "Sayang," panggilnya.
"Hmm."
"Kau hanya milik ku, kau hanya untukku, selamanya akan seperti itu," ucap Yuna. Dia memeluk Leo dengan erat. Laki-laki miliknya, tidak ada yang boleh menginginkannya, tidak ada yang boleh menyukai. Takut kehilangan, takut di rebut, takut tergoda, takut dicampakkan. Tentu saja. Siapa di dunia ini yang tidak takut dengan itu. Sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan dalam sebuah hubungan adalah kehilangan, kehilangan dengan alasan apapun.
Leo mengusap punggungnya dengan penuh kasih.
"Iya, aku hanya milik mu, aku hanya untuk mu, selamanya akan seperti itu. Begitu juga dengan dirimu, kau wanita ku, hanya wanita ku, tidak boleh ada yang mengharapkan mu selain aku," jawab Leo. Dia membalas pelukan Yuna. "Tidurlah, sudah larut," ucap Leo yang dijawab anggukan oleh Yuna.
Malam berbintang dengan angin yang berhembus kencang. Masalah adalah angin yang menerpa, jika kau kuat dan kokoh maka angin sekencang apapun tidak akan pernah mampu menggoyahkan mu.
Setelah memastikan Yuna tertidur dengan pulas, Leo beranjak dari tempatnya tidurnya. Dia memakai jaket dan menatap Yuna dengan lembut. Bibirnya meninggalkan ciuman di kening Yuna lalu setelah itu dia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, dengan sangat pelan dan hati-hati.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya lalu menghubungi seseorang.
"Kalian sudah membawanya?" Tanya Leo dengan suara mencekam. Dia menuruni tangga dengan tergesa. Dia tidak sabar lagi.
"Bagus," ucap Leo kemudian langsung memutus panggilan. Dia keluar dengan mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dia harus menyelesaikan ini. Ini bukan apa-apa.
Dini hari, jalanan Ibu Kota sedikit lengang, Leo dengan mudah membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak sabar lagi. Mobilnya menuju ke sebuah tempat yang jauh dari pusat kota. Tempat ini adalah kawasan pabrik. Setelah satu jam perjalanan dengan kecepatan tinggi, mobilnya parkir di sebuah tempat. Dia segera keluar dan empat orang yang berperawakan tinggi kekar langsung menyambutnya.
"Selamat datang Boss," sapa salah satu dari empat orang kejar tadi. Leo mengangguk sebagai tanggapan.
"Dimana dia?" Tanyanya.
"Ada di dalam Boss," jawab seseorang yang memberi salam tadi. Leo mengangguk dan langsung melangkah untuk masuk kedalam. Sebuah gedung pabrik yang kosong. Dia berjalan dengan aura yang mencekam, bahkan matanya seolah berubah menjadi mata iblis. Ada satu orang lagi yang berperawakan tinggi dan kekar, dia berdiri di sana tengah menunggu kedatangan Leo.
"Selamat malam Boss," sapanya pada Leo, dia menunduk badan. Leo menjawabnya dengan anggukan. Kemudian, dia duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya.
Sorot mata yang mengerikan itu memperhatikan seseorang yang saat ini tengah berlutut di depannya, dengan mata yang tertutup, dengan tangan yang terikat dan dengan mulut yang di sekap.
Mata Leo memberi isyarat kepada seseorang yang berdiri di depan nya untuk membuka sekapan dan membuka ikatan pada matanya. Satu persatu.
Langsung menurut, seseorang itu segera melaksanakan apa yang Leo perintahkan padanya.
Perlahan, seseorang itu mulai bisa melihat setelah ikatan pada matanya di lepas. Dia ingin segera mengumpat setelah tahu siapa yang menjadi dalang dibalik penculikan nya malam ini. Namun umpan itu hanya ada di hatinya karena sekapan di mulutnya belum terbuka.
Leo tersenyum dengan sinis, senyum mencekam penuh dengan kebencian.
"Kau terlalu berani pada ku tua bangka," ujarnya. Dia menyilangkan kakinya dengan anggun. Kedua tangannya dilipat didada. Mengangkat wajahnya dengan arogan.
"Apa yang kau katakan pada Papa ku? Kau berusaha untuk memfitnah ku? Seharusnya kau berfikir ribuan kali untuk melakukan itu. Jika aku tidak melihat bahwa kau adalah teman Papa maka mungkin aku akan langsung membunuh mu. Kau masih beruntung karena aku masih menghargai bagaimana Papa memperlakukan diri mu wahai Tuan Wijaya yang terhormat," ucap Leo dengan penekanan.
Tuan Wijaya menatap Leo dengan wajah yang marah dan murka, dalam hati dia menyumpahi dengan kata-kata kotor.
"Patahkan tiga jarinya," perintah Leo. Dan seseorang berbadan kekar langsung melaksanakan itu. Dia mematahkan jari itu satu persatu dan dengan satu gerakan. Wijaya ingin berteriak tetapi tidak bisa, mulutnya masih di sekap.
"Apa itu kurang?" Tanya Leo. "Seharusnya kurang. Aku ingin membuat mu tidak bisa bicara lagi untuk seterusnya, lidah mu sangat kotor. Bukankah, sebaiknya kau diam untuk selamanya?" Ujar Leo masih dengan penekanan. Dia masih sangat benci dengan seseorang ini. Namun dia ingat Papanya. Dia sudah diwanti-wanti untuk tidak melakukan apapun pada seseorang yang disebut sahabat oleh Papanya.
"Kau, ku ampuni karena aku menghargai Papaku tapi tidak ada lain kali. Jika kau masih nekad untuk mengumbar lidah dan otak busuk mu itu maka jangan salahkan aku jika kau mati dengan mengenaskan," kata Leo. "Ini hanya peringatan dari ku agar kau tidak lagi berurusan dengan ku atau kau akan menyesal," lanjutnya. Kemudian, dia memberi isyarat untuk membuka sekapan mulut itu.
Dengan segera seseorang berbadan kekar langsung melaksanakan perintahnya.
"Ciuh," Tuan Wijaya langsung meludah di depan Leo begitu sekapan pada mulut nya di buka. "Kau terkutuk anak muda," ucapnya dengan amarah di dadanya. Ketiga jarinya tidak bisa digerakkan.
Mata Leo menatapnya dengan pandangan membunuh, sorotnya bagai iblis.
"Jika kau tidak bisa menjaga lidah mu, aku akan memotongnya saat ini juga," ucapnya dengan tekanan penuh ancaman. Itu membuat Wijaya mendelik, dia ketakutan tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Kau pikir aku takut? Aku akan mengadukan ini pada Papa mu, dan juga aku akan melaporkan ini pada polisi. Aku akan melakukan visum dan menjebloskan mu kedalam penjara," Wijaya balik mengancamnya.
"Bagaimana kau akan melaporkan ini jika bicara saja kau tidak mampu, kau pikir apa polisi akan mempercayai mu?" Leo memberi isyarat mata pada orang-orang nya untuk memegang Tuan Wijaya.
Dengan sigap dua orang kekar itu memegangi kedua tangan Tuan Wijaya yang terikat. Lalu seseorang lagi mengeluarkan pisau dan memamerkannya di depan Tuan Wijaya.
Wajah Tuan Wijaya menjadi pucat pasi melihat itu, tubuhnya gemetar, dia ketakutan.
"Ampuni aku Leo," ucapnya segera ketika pisau itu menempel di mulutnya. Leo diam dengan masih melipat tangannya di dada. Dia muak dengan seseorang ini.
"Aku mengaku salah, aku minta maaf dan aku tidak akan pernah berani lagi mengusik mu," ucapnya dengan ketakutan.
Leo berdiri dari duduknya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya.
"Ku harap, aku tidak melihat wajah mu lagi dihadapan ku," kata Leo. Kemudian dia melangkah untuk pergi tetapi sebelum itu dia memerintahkan sesuatu. "Patahkan tangannya."
"Tidak, Leo. Ku mohon ampuni aku, ku mohon." Wijaya berteriak meminta ampun pada Leo. Namun Leo tidak mendengarkannya, dia terus melangkah keluar dan langsung mengendarai mobilnya dengan kencang. Dia harus segera kembali kerumah sebelum Yuna terbangun.
Mobilnya melenggang masuk ke halaman. Dia kemudian segera berjalan dan meraih gagang pintu tetapi belum sampai raihan tangannya, pintu itu terbuka.
"Kau dari mana?"
____
Catatan penulis ( Curhatan 🥰 )
Nah, nah, Up lagi kan, Hehe...
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini.
Terima kasih untuk dukungannya pada Nanas.
Jika ada kata yang salah atau typo boleh dikoreksi kok.
Salam hangat.
Sun jempol jangan lupa Yach kawan.
Jempolnya di goyang asik.
Terima kasih kawan, luv luv 🥰🥰