
Setelah acara makan malam bersama selesai, mereka kembali masing-masing. Saat ini Neva berada di dalam mobil Vano. Tentu saja Vano yang akan mengantarnya pulang.
Neva memangku kedua tangannya, ia menunduk memperhatikan jari manisnya. Cincinnya telah berganti. Cincin mantra Doraemon yang dulu kini digantikan dengan cincin ungkapan perasaan yang begitu tulus. Tangan Vano mengulur dan mengambil tangan Neva. Ia menggenggamnya.
"Kau suka?" Tanyanya.
Neva mengangguk, "Sangat," jawabnya. Ia membawa pandangannya pada Vano. "Terima kasih," ucap Neva.
"Aku yang seharusnya mengucapkan itu," jawab Vano. Ia menoleh ke arah Neva sebentar lalu kembali memperhatikan jalan. Sudut bibirnya terangkat, "Kau tahu bagaimana detakkan jantungku saat menunggu jawaban dari mu?"
"Emmm, hampir pingsan?" Neva menebaknya. Vano terkekeh dan mengangguk.
"Ya," jawabnya. Tangannya menggenggam jemari Neva dan sesekali mengusapnya dengan lembut. "Aku takut kau menolak ku," lanjutnya.
Neva tersenyum tipis, "Kenapa kau berpikir aku aku akan menolak mu?" Tanya Neva.
"Aku hanya berfikir dan muncul rasa takut dalam diriku," jawab Vano. Tangan Neva membalas genggaman tangannya.
"Aku tidak menyangka jika kau masih menyimpan tulisan lamaku," kata Neva.
"Tentu saja, aku akan selalu menyimpannya," jawab Vano. Dia mengurangi laju mobilnya. Ia masih ingin bersama dengan gadis pujaan hatinya. Ia tidak ingin buru-buru segera sampai rumah. "Jika aku tidak menemukan itu dari Alea, apa kau berniat memberi tahu ku?" Tanya Vano kemudian.
Neva mengerutkan keningnya, ia berfikir sejenak kemudian menggeleng.
"Mungkin saja tidak," jawabnya. "Tapi garis takdir membawa perasaanku berarah padamu, memberikan sebuah kisah yang apik tentang bagaimana pada akhirnya kita sampai pada detik ini," lanjut Neva. Ia menarik tangan Vano yang menggenggam tangannya. Kemudian, menciumnya dengan lembut. Ia memejamkan matanya. "Aku akan selalu mencium tangan ini setiap pagi saat kau berangkat kerja," ucapnya. Vano tersenyum dengan lebar, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia menarik tangannya dari genggaman Neva lalu menempatkan di keningnya. Mengusapnya dengan lembut.
"Dan aku akan selalu mencium kening ini saat aku pamit berangkat kerja," sahut Vano. Neva tersenyum dengan pipi yang merona. Adegan itu langsung terlintas di benaknya. Vano menarik tangannya dan kembali menggenggam jemari Neva.
Pelan, mobilnya berhenti di halaman rumah keluarga Nugraha.
"Terima kasih sudah mengantar ...." ucap Neva. "Calon suamiku," lanjutnya dengan senyum tertahan. Vano langsung menoleh untuk menatapnya.
"Sayang," panggilannya dengan lembut. "Semoga hubungan kita lancar hingga pernikahan nanti," do'anya.
Neva menatapnya dan mengangguk, "Aamiin," katanya mengaminkan.
"Aku akan segera membawa orang tua ku untuk melamar mu secara resmi," ucap Vano.
Neva kembali mengangguk, "Aku akan menunggunya," jawab Neva. Mata mereka saling menatap dengan perasaan yang indah.
__ Di rumah Tuan muda Leo.
Ayah, Ibu dan Nenek sudah istirahat di kamar masing-masing. Sementara Yuna dan Adel masih asik ngobrol di ruang tengah. Mereka menyalakan televisi tetapi tidak menontonnya. Adel bercerita apapun tentangnya selama ini dan juga tentang perubahan Kota K. Kota yang sekarang sudah banyak sekali wisata-wisata baru yang indah dan eksotis. Itu membuat Yuna tidak sabar untuk berkunjung ke Kota K.
Ponsel Yuna berdering, panggilan masuk dari My husband you are my sunshine dia tersenyum lebar melihat layar ponselnya yang berkedip.
"Ya," jawabnya. Mereka berdua ada dalam satu rumah dan Tuan suami melakukan panggilan telepon padanya.
"Kapan kau akan keatas?" Tanyanya. Dua menit yang lalu dia sudah berada di dalam kamar setelah sebelumnya berada di ruang belajar selama tiga puluh menit.
"Sebentar lagi, aku masih ngobrol dengan Adel," jawab Yuna.
"Ok," jawab Leo lalu menyudahi panggilannya. Ia mengalah untuk malam ini. Dia membiarkan Yuna bersama Adel untuk beberapa saat. Padahal sebenarnya setelah dari restoran itu ia ingin Yuna segera istirahat. Dia mengerti kerinduan Yuna pada Adel.
Leo mengambil ponsel miliknya lalu mengetik pesan pada Yuna.
"Sayang sudah malam," send. Dia menunggu satu menit, dua menit hingga lima menit, pesannya tidak mendapatkan balasan. Dia kesal pada Yuna tapi tidak ingin menyusulnya. Yuna sudah dewasa, seharusnya dia tahu sendiri untuk menjaga diri dan kesehatannya. Leo kembali membaca bukunya lagi tetapi dia tidak bisa fokus. Dia beranjak dari duduknya dan mondar-mandir menunggu Yuna. Ia memperhatikan putaran jarum jam yang seolah bergerak begitu lambat. Dia sangat menahan dirinya untuk tidak menyusul Yuna, ia ingin Yuna tahu dan sadar sendiri tanpa harus menegurnya lagi.
Pukul 23.25 pegangan pintu kamar berputar. Leo yang sedari tadi berdiri dengan tidak tenang segera bergegas merebahkan dirinya di ranjang dan langsung memejamkan matanya. Ia memiringkan tubuhnya. Pelan, pintu kamar terbuka lalu menutup kembali. Yuna masuk dengan perlahan lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang. Ia merangkak naik.
"Sayang," panggilan pelan. Ia langsung memeluk Leo dari belakang. Perut buncitnya menyentuh punggung Leo. Tidak ada jawaban dari Leo. "Apa kau sudah tidur?" Tanya Yuna. Dia membuat kecupan di leher belakang Leo. Leo sedikit bergidik, dia merasa sedikit geli di bagian itu. Bibir Yuna berkedut. Dia tahu Leo belum tidur.
"Ok, selamat tidur Daddy," Yuna berucap dengan membuat kecupan lagi di tengkuk Leo. Kemudian, dia beranjak dan menuju kamar mandi. Tak lama dia keluar dan mengganti bajunya. Ia memperhatikan Leo yang masih terpejam.
"Sayang," Yuna memeluknya lagi dari belakang. Tak ada jawaban. "Sayang," panggilannya mengulangi.
"Ku pikir kau sudah lupa jika kamar mu disini," jawab Leo dengan suara yang kesal.
"Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan Adel dan aku sangat merindukannya," ucap Yuna.
"Masih ada besok pagi," sahut Leo.
"Tapi aku tidak sabar lagi untuk mengobrol dan bercerita padanya."
"Terserah saja. Kamu selalu memiliki jawaban untuk membantahku."
Yuna langsung terdiam. Ia mengigit bibirnya dan semakin memeluk Leo. Kepalanya bersandar di punggung Leo.
"Maafkan aku," ucap Yuna. Leo membuka matanya tetapi tidak memberikan jawaban apapun. Dia diam dan hanya menatap tembok, sesekali juga ia memperhatikan lampu tidur yang menyala dengan romantis. Dia selalu suka moment berdua dengan Yuna dimanapun itu.
"Sayang aku minta maaf," Yuna mengulangi pernyataan maafnya.
"Kau pernah bilang pada ku bahwa jika seseorang mengucapkan kata maaf, itu berarti dia bertekad untuk tidak akan mengulangi kesalahannya lagi," jawab Leo melempar ucapan yang pernah Yuna sampaikan padanya. Yuna mengangguk. "Kau bukan anak kecil yang setiap hari harus selalu diingatkan, kau sudah dewasa Yuna."
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku ...." Yuna tidak melanjutkan ucapannya. Ia melepaskan pelukannya dan menjauh dari Leo. Ia membalik badannya. Mereka berdua saling memunggungi.
"Aku hanya meminta mu untuk selalu baik-baik saja, untuk selalu menjaga dirimu. Kenapa rasanya itu sangat susah untuk kau penuhi? Berapa kali aku membuat permintaan itu padamu," ujar Leo. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Yuna bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
"Aku minta maaf," ucap Yuna.
"Jangan mengulangi permintaan maaf mu, aku tidak butuh itu," sahut Leo segera. Ia sedikit meninggikan suaranya. Ia benar-benar kesal dengan Yuna. Tidak perduli berapa banyak ia membuat permintaan nyatanya Yuna tidak pernah mengingatnya.
Yuna diam, ia menggigit bibirnya dengan kuat agar tidak mengeluarkan suara apapun. Dia tahu dia salah, dia telah lupa waktu. Sekarang bahkan sudah pukul 00:05. Dia tahu dia salah, dia melanggar janjinya pada Leo, dia kembali tidak menurut padanya.
Mereka berdua saling diam.
_____
Catatan Penulis
Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta π Terima kasih udah setia dengan kisah ini. Jangan lupa like koment vote ya kesayangan Nanas. π₯°π Terima kasih π₯° Vote yang banyak ya (yang punya poin lebih) Semoga SC semakin diminati pembaca. π
Aku padamu selalu. Maaf jika kadang aku tidak sempat membalas komentar Sahabat semuanya, tapi pasti aku baca dan like. π₯°ππ Jangan pernah bosan buat selalu komen ya kesayangan. luv luv π₯° padamu.