Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 53. Calon Istri


Dua hari kemudian#


Tiara dan kedua sahabatnya asik ngobrol di kantin sekolah. Kegiatan belajar belum dimulai mengingat guru-guru sedang sibuk mengolah nilai raport semester ganjil. Dari informasi yang diberikan oleh ketua kelas tadi, penerimaan raport akan dilaksanakan pada hari sabtu nanti.


Jadi masih ada beberapa hari ke depan untuk bersantai.


" Eh Ra', ceritain dong kejadian kemarin waktu party di rumahnya Nayla ". tanya Hesti masih penasaran waktu Rio memintanya menelpon ke rumah tantenya Tiara.


Dhilla menoleh ke sekeliling untuk memastikan keadaan aman. Kebetulan juga seluruh siswa kelas dua belas sedang mengikuti kelas tambahan untuk persiapan ujian akhir nanti. Ada beberapa siswa yang juga lagi nongkrong di situ tapi tempat mereka agak jauh.


Tiara menghembuskan nafas berat. Jujur ia masih agak trauma dengan kejadian yang dialaminya malam itu.


Namun dipaksakan juga menceritakan semua urutan kejadiannya. Kedua sahabatnya jadi ikutan emosi mendengar ceritanya.


" Tuh kan, aku bilang juga apa? nggak usah pergi soalnya perasaan aku waktu itu udah nggak enak banget. Pasti ada yang mereka rencanakan buat ngerjain kamu". ujar Hesti kesal dengan tangan mengepal.


" Iya bener sih aku juga ngerasa kaya' gitu". tambah Dhilla.


" Tapi mau gimana lagi, udah kejadian. Untungnya ada kak Zian yang datang nolongin ". ucap Dhilla sambil mengelus punggung Tiara.


" Oh iya, Hes kok kamu bisa akrab dengan kak Zian?" tanya Tiara dengan tatapan penuh selidik.


" Hah? nggak kok, sembarangan aja ". jawab Hesti agak kaget.


" Trus , kenapa waktu itu dia bilang udah minta tolong sama kamu buat ngasih kabar ke rumah?" kening Tiara mengernyit tak mengerti.


" Yang minta tolong ngasih kabar ke rumah kamu itu si Rio bukan kak Zian".jawab Hesti.


" Kamu kenal sama Rio ?" tanya Tiara lagi tak sabar untuk mengurai semuanya hingga jelas.


" Em . . baru kenal sih seminggu yang lalu. Waktu itu aku pergi ke Alfamart udah malem karena pingin makan mie korea, soalnya di kios kehabisan stok. Eh nggak nyangka bensinnya abis. Ya udah, mogok kan? aku bingung banget waktu itu sendirian di jalanan yang sepi, kebetulan Rio lewat. Ya udah di tolongin deh ". cerita Hesti panjang lebar.


" Oh, gitu ya". balas Tiara sambil berpikir tapi belum juga menemukan titik temunya karena setelah ia jatuh ke dalam kolam renang, ia tak ingat apa-apa lagi.


" Mungkin Rio adalah saudara atau teman dekatnya kak Zian?" celetuk Dhilla tiba-tiba.


" Nah, itu juga masuk akal". tambah Hesti.


" Iya bener juga sih". Tiara membenarkan ucapan kedua sahabatnya.


" Trus , sekarang gimana hubungan kamu dengan kak Ilham?" tanya Hesti.


" Anggap aja udah putus Hes, sebenarnya malam itu aku nekat pergi karena ingin mutusin kak Ilham di sana, tapi nggak nyangka endingnya gitu".


"Kamu udah ikhlas nih?" giliran Dhilla yang bertanya.


" Yah mau nggak mau harus ikhlas lepasin dia la' mungkin itu jalan yang terbaik untuk semuanya". jawab Tiara seraya menghela napas panjang.


Saking asiknya mereka mengobrol hingga tak menyadari rombongan kelas dua belas memasuki kantin.


" Ra, aku mau ngomong sama kamu". ujar Ilham yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tiara.


Ketiga gadis itu sontak menoleh ke arahnya.


" Maaf kak, nggak ada lagi yang perlu kita omongin". jawab Tiara beberapa detik kemudian setelah berhasil menguasai gemuruh di hatinya.


Di salah satu pojok kantin, Nayla memandang mereka dengan wajah berang.


Suasana dalam kantin mulai memanas melihat mereka.


" Cukup kak ! ara nggak mau lagi mengganggu hubungan kakak dan tunangan kakak. Jadi mulai hari ini, lupain aja semuanya. Kita akhiri saja sampai di sini". tegas Tiara yang sudah yakin dengan keputusannya kali ini.


Ilham tak berkutik lagi tak tahu harus bicara apa. Melihat Ilham yang masih berdiri di dekat Tiara, Nayla tak tahan lagi. Ia bergegas mendekati mereka tanpa disadari Ilham.


Baru saja ia hendak menjambak rambut Tiara, tiba-tiba ada yang menghempaskan tangannya dengan kasar membuatnya kaget.


" Zian ? ngapain sih lo? nggak usah ikut campur deh!" bentak Nayla berang.


Ilham juga ikut terkejut melihat apa yang barusan hendak dilakukan Nayla.


" Sayangnya gue harus ikut campur. Gue ingetin ya buat lo berdua. Mulai detik ini stop gangguin calon istri gue, apalagi coba-coba nyentuh dia dengan tangan kotor kalian. Urusin saja rumah tangga kalian sendiri. Ngerti lo?!" bentak Zian dengan wajah yang berubah devil.


Semua yang mendengarnya terkejut termasuk Tiara. Mulutnya sampai ternganga.


" Nggak usah kaget gitu honey, yuk ikut gue". ujar Zian dengan suara khasnya sambil menutup mulut Tiara dengan telapak tangannya.


Kemudian ia merangkul pundak gadis itu seraya membawanya pergi meninggalkan tatapan aneh dari semua penghuni kantin saat itu.


Beberapa siswa terdengar mulai bergosip.


" Nayla, kamu kenapa sih?" tanya Ilham kesal.


"Lo yang kenapa? udah punya tunangan masih aja deketin cewek lain. Dasar nggak tahu diri !" semprot Nayla semakin geram.


"Apa kamu bilang? nggak tahu diri hah?" bentak Ilham sambil mencengkram lengan Nayla.


" Iya! kenapa? nggak terima lo? kalo nggak terima, protes aja sama bokap lo!" tantang Nayla.


Ilham menghempaskan tangan Nayla dengan kasar kemudian berlalu dari situ. Kemarahannya bercampur aduk sudah. Marah dengan semua yang telah terjadi. Tanpa tahu jalan keluarnya.


Begitu juga halnya dengan Nayla yang semakin membenci Tiara. Ia berpikir kalau saja Tiara tidak bertemu dengan Ilham, mungkin jalan hidupnya tak serumit itu. Okelah Ilham tak menyukainya namun ditambah lagi dengan munculnya Tiara membuat sakit hatinya semakin bertambah.


Di sisi lain, Zian yang tadi merangkul Tiara terus membawanya sampai ke balkon tempatnya biasa menghabiskan waktu di sekolah.


Setelah sampai, barulah ia melepaskan rangkulannya.


" Ra, lo nggak apa-apa kan?" tanya Zian sembari duduk di tempat favoritnya.


" Nggak apa-apa kak, by the way kenapa tadi kakak ngomong kayak gitu di depan mereka?"


tanya Tiara pelan.


" Hem . . kenapa emangnya, kamu nggak suka gue ngomong gitu di depan Ilham?" tanya Zian sambil bangkit dari duduknya kembali mendekati Tiara yang dari tadi berdiri tak jauh darinya. Ia menatap lekat gadis itu seolah ingin membaca apa yang ada di benaknya.


Tiara sontak mundur perlahan namun tangan kekar Zian keburu cepat menahan bahunya. Zian yang berpostur tinggi serta merta menundukkan tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan pemilik mata coklat itu.


" Gue nggak main-main Ra. Mulai sekarang lo udah resmi jadi calon istri gue ". ujar cowok tampan itu tegas.


\*\*\*\*\*