
Malam hari, pukul 19.45
Neva berlari kecil dan segera melangkah kehalaman rumah Kakaknya setelah gerbang terbuka. Hatinya berbunga-bunga, ia ingin bercerita pada semua orang, ia ingin bercerita tentang perasaannya. Tentang cinta yang semakin menjadi dalam hatinya.
Mengetahui Neva datang ke rumah, Yuna yang sedang bersandar di bahu Leo di ruang tengah segera berdiri dan membukakan pintu untuknya.
"Hai, sayang," sapanya dan mereka cipika-cipiki.
"Kak Lee ada di rumah kan?" tanyanya.
Yuna mengangguk. "Ada, di ruang tengah," jawabnya. Kemudian, Neva segera melangkah menuju Kakaknya. Dia mengurangi irama langkahnya ketika ia telah sampai di belakang sofa dimana sang kakak menyandarkan punggungnya. Dia melangkah pelan dan berdiri di depan kakaknya dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Apa kau sedang bahagia?" Leo berkomentar setelah memperhatikan wajah cerah dan merona adiknya. Neva tersenyum malu kemudian ia duduk di samping Leo, tangannya merangkul lengan Leo dan dengan manja ia bersandar dibahu kakaknya.
"Kak Lee...,"
"Apa."
"Kakak... aku jatuh cinta," ucapnya dengan hati yang berbunga-bunga, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Ujung bibir Leo langsung melengkung mendengar kalimat yang baru saja Neva ucapkan.
"Waww, kau sudah besar ternyata. Perasaan baru kemarin aku melepas mu dari gendongan dipunggung ku."
"Heem," Neva mengangguk. "Sekarang aku tahu, bagaimana rasanya ketika bertemu seseorang yang membuat jantung kita berdetak dengan cepat, sekarang aku tahu rasanya ketika bertemu dengan seseorang yang mampu membuat hati berbunga-bunga. Indah, sungguh indah dan sangat indah," Neva berucap dengan sangat bahagia. Bayangan Vano terlintas dalam pikirannya, tatapan mata indahnya, senyuman khas itu, sentuhan lembut tangannya, genggaman hangat malam itu dan ketika Vano begitu dekat dengannya karena memayunginya menggunakan jaket miliknya.
"Siapa laki-laki yang membuat mu jatuh cinta? Apa dia teman kampus mu?" Leo bertanya dengan penasaran. Neva menggeleng pelan. Belum sempat Neva membuka mulutnya, Yuna datang dengan minuman di tangannya untuk Neva. Kemudian, ia duduk disamping Leo dan mengganti siaran tv.
"Terima kasih Kak Yuna," Neva menyesapnya sedikit, lalu menaruhnya di atas meja. Ia tak sabar lagi ingin bercerita pada Kakaknya.
"Kak Lee... dia setampan diri mu dan yang pasti dia sebaik diri mu," Neva mengingat semua hal tentang Vano. "Dia... adalah Tuan muda dari keluarga Mahaeswara," lanjutnya.
Nafas Leo tertahan mendengar ini, wajahnya langsung berubah menjadi gelap. Begitu juga dengan Yuna, dia termangu beberapa saat sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh telapak tangan Leo, ia menggenggamnya. Yuna sudah menebak ini.
Leo berkedip dengan lambat, ini seperti hantaman ombak pada hatinya. Tuan muda dari keluarga Mahaeswara? Mereka hanya memiliki putra tunggal.
"Kenapa kau jatuh cinta padanya?" suaranya menjadi dingin dan sinis. Neva masih bersandar dibahunya.
"Bukankah jatuh cinta itu tidak butuh alasan?" jawabnya.
"Apa Mama tahu ini?"
"Emm, belum," Neva menggelengkan kepalanya. "Tapi... Mama dan Tante Mahaeswara sepakat untuk membuat kita bersama. Hehee."
"Maksud mu?" Leo semakin gusar.
"Dengan tidak langsung, mereka menjodohkan ku dengan dia," jawab Neva. Leo semakin frustasi mendengar informasi ini. Menjodohkan Neva dengan Vano? Gila.
"Jika aku tidak setuju, apa kau akan tetap mencintainya?"
"Aahh, Kakak... apa kau bercanda?"
"Aku serius."
Neva melepaskan lengan Leo. Ia mengangkat kepalanya dari bahu sang Kakak.
"Dia laki-laki yang baik. Kenapa kakak tidak menyetujuinya? Bukankah kalian juga berteman?" ucapnya. Dia menatap Kakaknya tak mengerti. Wajah Leo dingin dan tidak mau melihatnya. Neva tahu jika kakaknya berucap dengan serius saat ini.
Awalnya dia pikir, kakaknya akan suka dengan apa yang dia ceritakan dan akan mendukungnya, tapi ternyata dia malah membuat kakaknya marah.
"Ayo pulang," ucap Leo singkat. Dia menarik tangannya dari genggaman Yuna dan segera berdiri. Neva memutar pandangannya pada Yuna, menatapnya tak mengerti dan teramat sedih. Leo segera melangkah keluar.
"Kak Yuna...,"
"Tidak apa-apa. Kita pulang dulu, okey," Yuna mengusap pundaknya. Kemudian, mereka berjalan keluar dan masuk kedalam mobil Leo.
Yuna mengusap punggungnya dengan perhatian.
Ia menatap wajah dingin Leo dari kaca spion.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman, Leo membukakan pintu untuk Yuna. Yuna berjalan ditengah diantara mereka berdua. Leo langsung menuju ruang keluarga.
Mama yang mengetahui kehadiran mereka segera menyusul ke ruang keluarga. Mama, dengan senyum bahagia menghampiri mereka, tapi kemudian wajahnya berubah setelah melihat ekspresi Leo, Yuna dan Neva.
"Ada apa?" Mama duduk bersebrangan dengan Leo. Yuna dan Neva duduk berdampingan di sofa sebelah.
"Ma...," Leo menatap Mamanya dengan serius. "Apa benar Mama berniat menjodohkan Neva dengan Vano?" tanyanya dengan perasaan sangat benci di hatinya.
"Iya," Mama menjawab dengan jujur. "Tapi bukan seperti itu Lee... Mama hanya mencoba mendekatkan mereka. Itu bukan berarti Neva harus dengan dia. Keputusan untuk iya atau tidak tetap Mama serahkan kepada Neva. Mama tidak memaksanya...," lanjut Mama. Mama berfikir bahwa Leo kesal dengan idenya karena Neva menolak.
"Kenapa Mama ingin Neva dengan dia?"
"Karena dia laki-laki yang baik, dan dari keluarga yang baik-baik. Sebenarnya apa yang terjadi?" Mama menoleh pada Neva, menatap putrinya yang menunduk.
"Neva jatuh cinta padanya. Selamat Mama telah berhasil," Leo segera menjawabnya. Bibir Mama melengkung membentuk senyuman karena Neva jatuh cinta pada Vano. Itu berita yang sangat baik, namun Mama segera menyadari bahwa arah pembicaraan putranya bukan itu.
"Ma... bagaimana jika aku tidak setuju dengan mereka?"
"Kenapa begitu nak? Bukankah adikmu jatuh cinta padanya. Jadi kita harus merestui dan mendukungnya."
"Dia jatuh cinta atau tidak, aku tetap tidak akan setuju." Leo meninggikan suaranya. Wajah Mama langsung berubah menjadi sangat muram dan sedih, beliau merapatkan bibirnya. Putranya tidak pernah berbicara dengan nada tinggi padanya, ini berarti dia benar-benar marah. Mama membawa pandangannya pada Neva yang menunduk, hati Mama menjadi sangat dilema dan sedih.
Mama berbicara dari hati ke hati pada Neva. Berbicara tentang perasaan Neva pada Vano. Dan Mama tahu bahwa putrinya jatuh cinta pada Vano, bagaimana bisa Mama melemahkan hati putrinya dengan menyetujui keberatan Leo.
Kemudian, Mama berbicara dengan Leo, putranya ini mati-matian menolak hubungan Neva dan Vano, dia dengan tegas terus menolaknya. Mereka beradu argument hingga tengah malam.
"Okey Ma...," Leo berdiri dari duduknya. Ia menarik nafasnya panjang. "Jika Mama tetap pada keputusan Mama, jika kalian tetap ingin Vano menjadi bagian dari keluarga ini, maka... ini adalah yang terakhir aku menginjakkan kaki di rumah ini," ucap Leo tegas. Mama, Neva dan Yuna shock bukan main mendengar itu. Ini seperti badai yang tiba-tiba menghantam. Mata Mama langsung terasa panas dan air mata menetes begitu saja mendengar apa yang baru saja diucapkan putranya.
"Sayang, ayo pulang," Leo menoleh kearah Yuna yang masih duduk menggenggam tangan Neva. Yuna mengangguk dan segera berdiri. Tangan Leo meraih tangannya dan menggenggam jemarinya, ia membawa Yuna keluar dari rumah. Mama menangis dan segera mengejarnya.
"Lee... kita bisa bicarakan ini lagi dengan kepala dingin ya nak," Mama dengan air mata yang bercucuran menghentikan langkah Leo, beliau berdiri dibelakang Leo. "Apa yang baru saja kau ucapkan? Jangan bilang begitu sayang, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Kau putra Mama," Mama menangis dan merasa sangat menderita.
Leo memandang ke atas, dan menahan nafasnya. Hatinya sakit. Mamanya menangis dan itu karena dirinya. Hatinya tersayat mendengar tangisan Mamanya namun dia tidak punya pilihan lain.
"Aku tidak ingin Vano masuk dalam keluarga kita Ma...," ucapnya rendah tanpa menoleh dan segera kembali melangkah membawa Yuna, ia segera mengendarai mobilnya menjauh dari rumah orangtuanya.
Yuna tidak membuat suara apapun, ia diam sepanjang perjalanan. Tangan Leo menggenggam tangannya dengan sangat erat.
_Leo duduk di sofa di kamar mereka. Yuna membawakannya air putih hangat dan kemudian ia duduk disamping Leo.
"Sayang," Yuna mengusap pipinya dengan penuh kasih dan perhatian kemudian memeluknya. Ia tahu suasana hati Leo sangat buruk. Neva dan Vano.
Neva dan Vano bagai air dan api dalam pandangan Leo. Leo sangat tidak menyukai Vano, alasannya sudah sangat jelas. Leo menaruh minuman yang Yuna berikan setelah menyesapnya sedikit. Ia menoleh ke arah Yuna dan menatapnya penuh kasih dalam hatinya.
"Sayang, aku tidak menyukai Vano," ucapnya. Yuna mengangguk. Ia membalas tatapan mata Leo padanya, mencoba memberi kehangatan pada hati suaminya. "Kenapa Neva harus jatuh cinta padanya? Apakah tidak ada laki-laki lain di dunia ini? Kenapa harus dia?" Leo menjadi sangat emosi jika memikirkannya. Yuna tidak tahu harus berbicara apa, ia memeluk Leo dengan hangat, menepuk pelan dan lembut dipunggungnya, ia hanya bisa berharap Leo segera melewati rasa gelisahnnya.
Ada puluhan panggilan pada ponsel Leo. Dari Mama dan Papa. Ia membiarkannya dan bahkan langsung menonaktifkan ponselnya.
____
Catatan penulis.
Terima kasih untuk sahabat semua yang masih setia hingga Bab ini.
Yuk baca karya Author yang lainnya. "Matahari Tenggelam" Jangan lupa like n koment Yach untuk Matahari Tenggelam. Terima kasih sahabat. Luv🥰😘