Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 139_Saling Memperhatikan


Dia berdiri dengan gagah dan penuh aura yang lembut namun tegas. Ia berbicara dengan senyum ramah untuk semua yang hadir di acara ini. Dia berbicara sebagai salah satu pembisnis muda yang menginspirasi.


Seseorang memperhatikannya dari jarak yang jauh. Dia memperhatikannya di antara ratusan orang yang hadir, selalu seperti itu ketika kesempatan ini datang. Dia adalah bagian dari gadis yang mengidolakannya, namun, dia bukanlah tipe gadis yang mengejar-ngejar sang idola dengan gigih. Ia lebih memilih diam dan memperlihatkannya.


"Hei..., kedip kali matanya," sang sahabat menyenggol lengannya pelan.


"Hahaa... kedip kok, nih," dia segera mengedipkan matanya dengan cepat. Lula sahabatnya tertawa dengan ringan dan merangkul pundaknya.


"Tenang saja... tak lama kau akan mendapatkan dirinya."


"Huss, tutup mulut mu."


"Miss Cupit adalah orang tua kalian, tingkat keberhasilannya lebih banyak dari pada kegagalannya."


"Tapi dia tidak menyukai anak kecil, aku anak kecil di matanya." dia berkata dengan putus asa.


"Hey... Neva. Itu bukan masalah besar, yang terpenting adalah dia tidak punya pacar." Lula menjawab dengan semangat.


"Haha... betul, betul, betul. Jadi... menurut mu apa aku harus tetap berharap?"


"Tentu..., Toss dulu dong Bosque," mereka langsung melakukan toss.


Lula adalah salah satu anak yatim yang hidup dan kuliahnya dibiayai oleh keluarga Neva, mereka berteman dan menjadi akrab begitu saja.


"Udah sana, ambil makanan apa saja yang kau mau. Puasiiiin..," Neva menepuk pundak Lula. Neva selalu membawanya ketika dia menghadiri undangan semacam ini.


"Waahh, Asiiap itu mah, cuss... perut udah siap nih." jawab Lula dan langsung kabur memilih makanan.


Setelah menyelesaikan sambutannya, ponsel milik Vano bergetar dan mendapat satu pesan baru, pesan dari sang Mama.


"Honey... Neva juga hadir lho di acara malam ini. Pastikan kau menjaganya, okey." Setelah membaca pesan dari Mamanya, Vano memutar matanya, ia memperhatikan satu persatu orang-orang di sekitarnya. Namun, dia tidak menemukan Neva. Ini bukan karena pesan dari Mamanya, tapi karena memang dia harus menjaga adik kecilnya.


"Tuan muda Vano...," beberapa cewek menghampiri Vano dan meminta selfie. Dengan ramah, ia meladeni mereka sebentar. Dan ia segera pergi setelah mengambil beberapa gambar. Dia masih memutar matanya mencari sosok Neva.


Ketemu... Neva ada di sana. Dia sedang berdiri diantara para Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan, ia dengan anggun tersenyum dan memberi salam pada mereka semua. Gadis itu bertukar beberapa kata dengan mereka, ia dengan sangat tenang berhadapan dengan para sesepuh dalam dunia bisnis.


Vano berdiri dan memperlihatkannya dari jauh. Neva saat ini... bukan seperti Neva yang dia temui beberapa hari yang lalu. Malam ini... dia sangat cantik dan anggun. Vano tidak mendekatinya, dia hanya diam dan memperhatikan dari jauh.


Beberapa menit kemudian, Neva melangkah menjauh dari para sesepuh itu. Dia telah selesai menjalankan tugasnya.


"Hai... cantik ku...," seseorang langsung datang merangkul pundaknya begitu saja.


"Singkirkan tangan mu... Revan." Neva berhenti dari langkahnya dan melirik Revan dengan tajam. Revan adalah teman se kampusnya, dia adalah putra dari pemilik perusahaan asuransi.


"Ampun Nona cantik...," Revan segera menyingkirkan tangannya dengan tawa kecil.


"Kau sendirian? Dimana Lula di jago karate itu? Kau tidak bersama dia? Okey bagus, karena kau sendirian dan aku sendirian jadi.... bagaimana jika kita menikmati pesta ini bersama?"


"Tuan muda Vano."


"Kakak Vano," ucap mereka hampir bersamaan. Mereka berdua langsung memberi salam dengan sopan.


"Maafkan aku, Tuan muda Vano. Aku tidak tahu jika dia datang bersama mu," ucap Revan dengan menyesal di bibirnya tapi tidak di hatinya. Di kampus, dia akan tetap mengejar Neva.


"Kau sendirian?" Vano bertanya pada Neva ketika Revan telah pergi menjauh.


"Aku bersama teman ku, Kak...," jawab Neva. Dan setelah itu ponselnya bergetar, pesan masuk dari Lula.


'Aduuh, tiba-tiba perut ku terasa sakit. Aku pulang duluan, okey. Aku membawa supir mu untuk mengantar ku. Lagi pula, aku melihat mu berdiri dengan dia. Jadi... selamat bersenang-senang Nona.'


'Sial... kau sengaja meninggalkan ku bukan? Apa kau tidak ingat aku punya Kakak Lee? Dia akan mencincang mu karena Kau membawa supir ku'


'Hahaa... Kau pasti akan melindungi ku dari amukan Kakak kece itu. Setelah ini, kau pasti akan berterima kasih pada ku. Pergunakan kesempatan ini baik-baik Nona ku...," balas Lula dengan emot memberi semangat. Neva mengigit bibirnya kesal dengan Lula yang meninggalkannya.


"Ada apa?"


"Tidak ada, hanya pesan dari teman."


"Kau anak kecil, apa kau kesini sendiri?" tanya Vano. Neva kesal dengan panggilan Vano, dia masih saja memanggil Neva dengan sebutan anak kecil.


"Kedua Kakak ku tidak suka ke pesta semacam ini. Terlebih Kak Lee, pesta semacam ini hanya membuatnya kesal dengan para gadis yang akan mengerubunginya. Oh ya, Kak Vano sendirian?"


"Tadi sendirian, tapi sekarang bersama mu."


Wajah Neva seketika langsung memerah. Dia segera berpaling dan menahan senyumnya, tapi tidak tertahan, sudut bibirnya tetap melengkung dengan senyum merona.


"Apa kau sudah mencoba cake yang mereka hidangkan?" tanya Vano. Neva menggeleng pelan. "Ayo..." Vano mengajaknya. Neva dengan canggung namun bahagia mengikutinya dari belakang.


Beberapa jam kemudian, acara selesai. Satu persatu meninggalkan gedung.


"Mau ku antar pulang?" Vano menawarinya.


"Eh, tidak perlu Kak, terima kasih. Aku menunggu teman ku, sebentar lagi dia datang dengan supir ku. Dia ada keperluan sebentar tadi dan meninggalkan ku."


"Sungguh tidak apa-apa jika kamu menunggu sendirian disini? Ini semakin sepi Dek...,"


"Emm, dia sudah ada di jalan kok. Sebentar lagi sampai."


"Baik, aku duluan, okey. Atau jika kamu tidak mau bareng dengan ku, hubungi saja Leo."


Neva mengangguk. Vano dengan lembut mengusap pundaknya dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Neva.