Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 323_Sampaikan


Neva mengerjapkan matanya. Perlahan dan dengan samar dia melihat seseorang yang ada tepat didepan wajahnya. Jantungnya langsung ingin melompat keluar pada saat itu juga ketika dia telah menyadari bahwa yang saat ini ada didepannya adalah Vano. Atau ini hanya mimpi? Bukankah Vano baru akan kembali besok? Batin Neva.


Mengumpulkan seluruh nafas dan nyawanya yang rasanya hampir hilang, Neva memejamkan matanya lagi. Berharap jika tengah bermimpi. Dia mencoba mengosongkan pikiran dan mencoba untuk terlelap. Dia mengatur nafasnya, dadanya naik turun karena terkejut. Lalu, perlahan dia membuka matanya lagi. Dan ... sungguh yang ada di depannya saat ini adalah Vano. Wajah tampan ini sangat nyata dan bahkan tangannya memeluk pinggang Neva dan lagi, saat ini Neva tidur diatas lengannya.


Wajah Neva langsung memerah seketika, rasanya dia hampir sekarat. Sebelum akhirnya dia mampu berteriak.


"Aaaaaaa ...." dia bisa berteriak setelah membeku beberapa saat. Namun tubuhnya belum bisa dia gerakkan, dia hanya mampu berteriak.


Vano membuka matanya perlahan. Sadar jika gadis ini pasti akan menjauh dia mengeratkan pelukannya. "Sudah bangun?" tanyanya dengan menatap lekat wajah gadisnya.


"Aaaaa ... kau ...." Neva kembali berteriak. "Kau ... kau. Kapan kau ada disini?" ucapannya terbata. Dia mengedipkan matanya cepat. Dia tidak berani menatap wajah Vano. Kedua tangannya menyilang untuk melindungi sesuatu agar tidak menyentuh tubuh Vano. Dia tidak tahu jika semalaman, dia yang menempel terlebih dahulu pada Vano.


"Dari semalam," Vano menjawab dengan santai.


Neva semakin sesak nafas mendengar jawaban Vano, "S- se, semalam?" dia tergagap.


"Ya."


"Aaaaaaa," Neva kembali berteriak dan menutup wajahnya. Semalam? Itu berarti semalaman dia tidur bersama Vano. Berarti semalaman Vano memeluknya? Neva menggeleng dengan cepat.


"Kenapa sayang," bisik Vano.


Neva membuka telapak tangannya dan mendorong Vano dengan kuat. Namun Vano langsung membalik tubuh. Menangkap kedua tangan Neva.



Neva hampir sekarat mengetahui posisinya seperti sekarang ini. Nafas Vano membelai wajahnya, aroma tubuh Vano menggelikitik hidungnya dan bahkan merambat ke jantungnya.


"Mau apa kau?" tanya Neva galak.


Vano tersenyum seringai dan mendekatkan wajahnya. Neva memejamkan matanya dengan sangat rapat. Dia takut.


"Terima kasih kejutannya gadis," bisik lembut Vano ditelinga Neva. Kemudian, dia melepaskannya. Huuff ... Neva bernafas dengan lega dan segera membuka matanya.


Vano menahan senyumnya. Wajah Neva sangat lucu saat dia grogi. Vano duduk di tepi ranjang. Sementara Neva segera beranjak dan berdiri.


"Mau kemana?" Vano menahannya. Dia meraih pergelangan tangan Neva.


"A, aku ke ... kekamar eh keluar dulu. Emm aku ... harus---"


Vano terkekeh melihat gadis itu tergagap. "Disini saja," ucap Vano. Dia menatap lembut Neva yang menyembunyikan wajahnya.


"Ta, tapi ... aku---"


"Sini."


"Nggak," tolak Neva pasti. Dia masih menyembunyikan wajahnya.


"Tidak terjadi apa-apa. Kenapa kau ketakutan?" ucap Vano dengan tawa kecil. Neva semakin menyembunyikan wajahnya. "Atau kau ingin terjadi sesuatu?"


Pada pertanyaan ini, Neva mengangkat wajahnya dan menatap Vano, tangan sebelah langsung memukul dada Vano.


Vano tertawa dengan tingkah Neva, "Sini," ucapnya lagi. Vano menarik tangan Neva dan membuatnya duduk di sampingnya. "Kau bilang, kau merindukan ku?"


"Sekarang tidak lagi," jawab Neva cepat.


"Serius?"


"Ya."


"Ok, aku balik lagi ke luar kota," ucap Vano dan dia langsung mendapatkan pukulan dibahu.


"Jangan mengancamku," ucap Neva.


"Hahaa tidak," jawab Vano. Dia melepaskan genggaman tangannya pada Neva dan beralih merangkulnya. "Aku merindukan mu," ucap Vano.


Neva mengangguk, dia juga memiliki perasaan yang sama.


"Mandi," ucap Vano. Dan Neva mengangguk lagi. Kemudian, dia segera masuk ke dalam kamar mandi, sementara Vano turun ke bawah. Ada mamanya tengah mengupas buah diruang makan.


"Eh, sayang. Kau sudah pulang?" tanya Mama Mahaeswara terkejut. Beliau inget, ada Neva dikamar Vano.


"Jam dua," jawab Vano. Dia mencium pipi mamanya dan mengambil satu potong buah diatas meja.


"Ada Neva dikamar mu," ucap Mama Mahaeswara kaku dan gugup. "Kau tidak macam-macam bukan? Kau tidak aneh-aneh kan?" tanyanya. Beliau menghentikan kupasannya.


Vano terkekeh mendengar pertanyaan mamanya.


"Bukankah mama ingin segera memiliki cucu?" jawab Vano. Dan pisau langsung terarah padanya. Mata Mama Mahaeswara melotot dengan ancaman pisau ditangannya.


"Ups," Vano mengangkat kedua tangannya.


"Mama akan mencincangmu saat ini juga jika kau macam-macam pada anak gadis orang. Jawab yang benar," ucap Mama.


Vano tertawa. Pagi yang lucu, batinnya. Setelah Neva yang tiba-tiba menjadi gagap, sekarang mamanya yang tiba-tiba menjadi sadis.


Dengan senyum jahil, Vano menjawab. "Selamat, sebentar lagi Mama memiliki cucu."


"De Vano ...." Mama Mahaeswara langsung berteriak. Dan semakin mendekatkan pisaunya.


"Mama itu pisau beneran lho," Vano memperingatkan.


"Masa bodoh," jawab Mama Mahaeswara sadis. "Kau kurang ajar, Vano. Mama menyesal memintanya untuk menginap di rumah. Bagaimana Mama menjelaskan ini pada Nyonya Nugraha," ucap Mama Mahaeswara frustasi. Pisau itu terjatuh dari tangannya. Beliau langsung memegang kepalanya dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja.


Vano ingin tertawa terbahak-bahak tapi takut dosa.


"Aku bakal tanggung jawab kok Ma. Mama tenang saja," ucap Vano menahan semua tawanya.


Mama Mahaeswara langsung menoleh ke arah Vano dan memelototinya. "Tanggung jawab gundulmu," bahasa bar-bar Sang Nyonya tak tertahan lagi. Kelemah lembutan dan wibawanya hilang begitu saja. Beliau ingin mengumpat anaknya.


"Kau bren9s3k Vano. Bagaimana kau tidak bisa menjaga kehormatan seorang gadis. Tuhan akan menghukummu De Vanooooo ...." Mama Mahaeswara berteriak dengan frustasi. "Bagaimana Mama bilang tentang ini pada Papa, pada keluarga Nugraha," Mama Mahaeswara semakin frustasi. Dan kemudian Vano memeluknya.


"Maafkan aku Ma," ucap Vano pelan. Dia berbisik, "Maaf Mama kena Prank."


Mama Mahaeswara membatu dengan bola mata yang hampir keluar. Dia ingin pingsan rasanya dengan tingkah anaknya. Tangannya terangkat dan menjewer telinga Vano dengan kencang.


Vano memekik sakit tetapi dengan tawa terbahak-bahak. Sementara Mama Mahaeswara kesal setengah mati.


Setelah selesai perang antara Mama dan anak, kemudian Vano kembali ke atas. Dia kembali ke kamarnya.


Neva selesai mandi dan sudah mengganti bajunya.



Cantik.


Vano menyunggingkan bibirnya. Dia melangkah masuk dan kembali menutup pintu.


"Apa Mama sudah bangun?" tanya Neva.


"Sudah," jawab Vano.


"Hanya mengupas buah. Kau disini saja," ucap Vano. "Aku ada sesuatu untukmu."


"Oh ya? Apa?"


Vano membuka laci mejanya lalu mengeluarkannya kotak kecil. Dan mengeluarkan isinya. Sebuah liontin dengan inisial nama Neva.


"Sini, biar ku pakaikan untuk mu," ucap Vano. Neva tersenyum dengan bahagia. Dia membalik badannya dan mempersilahkan Vano untuk memakaikan liontin itu.


Ketika benda itu menyentuh lehernya, hati dan jiwanya terlukis kebahagiaan yang membuncah. Tangannya terangkat dan menyentuh liontin itu.


"Selesai," ucap Vano setelah selesai mengaitkan.


Neva membalik badannya dan menatap Vano.


"Terima kasih sayang," ucap Neva. Vano mengangguk.


"Semoga kau suka."


"Sangat suka."


Setelah selesai sarapan dan berbincang dengan Mama Mahaeswara satu jam. Kemudian Vano mengantar Neva pulang. Dia tidak bisa mampir saat ini, karena ada kepentingan mendadak bersama Ernes.


"Salam untuk Mama dan Papa," ucap Vano sebelum pamit.


"Baik," jawab Neva. "Hati-hati. Salam buat Kak Ernes."


Neva keluar dari mobil dan melambaikan tangan saat mobil Vano meninggalkan halaman rumahnya. Dia segera masuk.


"Aaa ada baby gantengnya Tante," ucapnya setelah sampai ditaman samping kolam renang. Dia mencium Baby Arai dipangkuan mamanya.


"Hallo Kak Yuna," sapanya datar pada Yuna.


"Hai. Ciee yang baru saja menginap dirumah calon," goda Yuna.


"Hahaa, senangnya ...." jawab Neva. Dia duduk di samping mamanya dan meminta Baby Arai dari mamanya.


"Dimana Kak Lee?" tanya Neva.


"Dia dan Papa ada urusan penting katanya," jawab Mama.


Sore harinya. Mama meminta Neva untuk mengantar beliau menghadiri undangan ulang tahun dari teman sosialitanya. Sekalian membeli beberapa produk kecantikan Neva yang sudah habis.


"Setelah mengantar Mama, aku langsung kembali ya," ucap Neva yang disetujui oleh mama. Neva mencari-cari ponselnya didalam tas tetapi tidak ketemu.


"Nanti cari lagi. Mama hampir telat nih," ujar Mama tidak sabar.


"Muach," Mama mencium pipi gembul menggemaskan milik cucunya. Tak mau ketinggalan, Neva juga mencium pipi itu. Kemudian, mereka berdua pergi. Sementara Yuna mengajak anaknya jalan-jalan ke taman komplek dengan ditemani asisten kepercayaan keluaga Nugraha.


Mereka bermain ditaman hampir satu jam, lalu mereka kembali. Tepat saat sebuah mobil parkir di halaman rumah.


Seseorang keluar dari mobil itu. Dia berniat untuk mengembalikan ponsel yang tertinggal di kamarnya.



Tepat saat itu juga Yuna berada di halaman dengan mendorong stroller Baby Arai. Dia menoleh ke arah seseorang itu.



"Hai Yuna," sapa seseorang itu bersahabat.


"Hai juga Vano," jawab Yuna ramah.


"Sore," ucap Vano.


"Sore juga," jawab Yuna. Dan mereka menjadi tertawa kecil karena sapaan yang sangat kaku.


Vano membungkuk dan menyapa si kecil yang menggemaskan.


__________________


Disebuah ruangan disalah satu rumah sakit ternama Ibu Kota. Ayah dan anak itu menghela nafasnya berat setelah dokter selesai menjelaskan. Leo menunduk, mengeratkan kedua tangannya, seolah memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.


Tuan besar Nugraha menoleh kearah putranya yang tertunduk. Kemudian, beliau menepuk bahu putranya halus.


"Tidak apa-apa, kita akan cari pengobatan terbaik untukmu. Kau kuat nak," ujar Papa perhatian. Leo tersenyum tipis diujung bibirnya. "Beritahu istrimu," lanjut Papa. Tidak ada jawab dari Leo. Dia diam membisu membiarkan hatinya berkecamuk dengan begitu banyak bait kesakitan yang ia pikirkan. Tentang Yuna, tentang anak mereka dan tentang dia sendiri. Pelan, dia mengangkat wajahnya dan menyandarkan kepalanya di kursi.



Bagaimana cara untuk memberi tahu Yuna agar tidak ada tangis dalam penyampaian itu. Bagaimana dia kuat saat harus melihat Yuna menangis dan itu karena dirinya. Bagaimana dia harus menjalani hidupnya jika dia gagal.


_________________


Catatan Penulis πŸ₯°


Pertanyaan Readers.


Rini Mulyani


Karya2 author menurut saya the best πŸ™πŸ‘ tolong Author bikin karya yg bisa merubah kebiasaan masyarakat +62 bisa hidup disiplin, buang sampah pada tempatnya dll. yg bisa membuat negara kita menjadi lebih cantik dan bersih.


#TanyaAuthor


Jawab.


Author ... "Terima kasih sangat Kak Rini udah suka dengan karya saya, luv πŸ₯°πŸ™ Terima kasih juga untuk sarannya. Aku usahakan nanti Ya.


Aku pribadi sangat setuju untuk mulai mengubah kedisiplinan tentang buang sampah ini (contoh kecilnya) Yuukk kita mulai dari diri kita masing-masing, menuju negara kita yang bersih dan cantik πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™ #StopBuangSampahSembarangan.


Khoirotun Nisa


Kak Author cewek apa cowok ya?


#TanyaAuthor


Jawab.


Author ... "😎😎 Yang pasti aku kece πŸ˜‹"


Netie


Nas, aq jatuh cinta sm Baby Arai klo boleh tau itu baby siapa? 😍


#TanyaAuthor


Jawab ... "Baby Arai atuh Baby-nya Tuan muda Leo dan Nyonya Yuna, Mami Net πŸ˜„πŸ€­ Heheee...πŸ€— Visual aslinya?? Nemu aja Mi πŸ˜„πŸ€—πŸ€«πŸ€«"


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯° padamu luv. Terima kasih πŸ™ Maaf klo ada typo-typo.


*Ilustrasi/visual diambil dari internet dan aplikasi Pint, jadi jika ada kesamaan gambar tokoh harap maklum ya. πŸ™πŸ™