Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 271_Saling Merayu


Mereka berdua saling diam.


Yuna mengambil nafasnya dengan dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dengan pelan dia beranjak dari tempat tidurnya kemudian berjalan ke arah Leo. Dia menarik kursi riasnya lalu duduk di depan Leo. Dengan kasih dia menatap Leo, sementara Leo tidak mau menatapnya, ia berpaling.


"Sayang, aku minta maaf dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Yuna dengan menyesal.


Leo tersenyum sinis, "Kau tidak perlu minta maaf dan tidak perlu berjanji. Maaf dan janjimu tidak membuat mu berubah," ujarnya pasti. Dia masih sangat kesal pada Yuna.


"Kali ini benar-benar janji," ucap Yuna. Dia dengan imut memandang ke arah Leo dan memegang kedua telinganya. Kelompok matanya berkedip pelan seperti anak kecil yang teraniaya saat mendapat omelan dari orang tuanya. Leo tidak mau luluh dengan pandangan itu, dia tidak mau menatap Yuna. Yuna sudah sering kali berjanji tetapi tetap saja dia selalu membantah, sifat ngeyel yang membuat Leo kesal. "Sayang aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi," ucap Yuna membuat janji.


Leo masih cuek dan malah memejamkan matanya. Yuna mengerucutkan bibirnya melihat itu. Tangannya terangkat untuk di letakkan di atas lengan Leo. Ia menggoyang-goyangkannya dengan pelan.


"Sayang," panggil Yuna. Tak ada jawaban, Leo masih memejamkan matanya. "Kali ini benar-benar berjanji, sungguh," ucapnya.


"Bukankah kau merindukan Adel? Kenapa tidak tidur dengannya saja?" Jawab Leo ketus. Itu hanya untuk menggertak Yuna saja, Leo akan menggila jika Yuna sungguh tidak tidur dengannya tetapi malah tidur bersama Adel.


"Aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu," jawab Yuna dengan sedih. Tangannya masih berada di lengan Leo.


"Peluk saja Adel," jawab Leo datar. Yuna merapatkan bibirnya.


"Sayang aku minta maaf," ucap Yuna meminta maaf lagi tetapi Leo masih memejamkan matanya dan tidak merespon permintaan maaf Yuna. "Jangan marah dong sayang," ujarnya lagi dengan merayu. Namun Leo masih diam seolah tidak mendengar apapun yang Yuna katakan. Pelan, Yuna menarik tangannya dari lengan Leo. Ia menatap wajah rupawan itu sebentar lalu dengan perlahan dia bangkit dari duduknya. Ia mengambil bantal khusus miliknya hadiah dari Mama kala itu. Lalu berpindah ke sofa. Ia merebahkan diri disana.


Leo yang menyadari itu langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang.


"Kenapa kau malah tidur di sofa?" Tanya Leo. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju Yuna. Dia duduk di lantai di samping sofa. "Kembali ke ranjang," ucap Leo. Ia menatap Yuna.


"Biarkan aku tidur disini," jawab Yuna. "Suamiku tidak memaafkan ku, dia juga tidak ingin tidur dengan ku," ucap Yuna. Ia menatap Leo dengan sedih. "Dia juga mungkin tidak mencintai ku lagi," lanjut Yuna.


Tangan Leo terangkat dan membenarkan rambutnya. Kemudian mencium kening Yuna dengan lembut.


"Siapa yang tidak mencintai mu," ucapnya lembut. Yuna menahan senyum diujung bibirnya.


"Kamu," jawabnya.


"Aku mencintaimu."


"Bohong, kau tidak memafkan ku," ucap Yuna dengan sedih. Telapak tangan Leo mengusap rambutnya.


"Ayo kembali ke ranjang," ajak Leo.


"Nggak, biarkan aku disini," kini Yuna yang merajuk. Sebenarnya bukan merajuk, ia hanya ingin dirayu. "Biarkan pinggangku yang sakit semakin sakit," uapnya dengan teraniaya. Tangannya langsung berakting memegang pinggangnya.


Tangan Leo langsung menyusulnya, "Sini biar ku pijat," ucapnya dengan perhatian.


Yuna mengangkat kepalanya dan mencium pipi Leo dengan dalam.


"Aku minta maaf," ucapnya. Leo menoleh ke arahnya. Hidungnya bertemu dengan hidung Yuna. Nafas hangat mereka membelai wajah dengan lembut. Aroma nafas yang membuat jantung berdegup.


"Jangan ulangi," ucap Leo. Yuna mengangguk pasti. Kemudian, Leo membawa Yuna kembali ke atas ranjang mereka. Ia memeluknya dengan hangat. Pada akhirnya drama malam ini berakhir dengan saling merayu dan mendekap dengan penuh cinta, memadu kasih dengan raga yang saling bersentuhan.


____


Pagi hari.


"Selamat pagi sayang," sapa suara di seberang sana.


"Pagi, Kak Vano," balas Neva. Kenapa masih saja memanggil kakak? Batin Vano.


"Siang nanti ku jemput," ujarnya.


"Ok," jawab Neva. "Kita kemana?"


"Makan siang," jawab Vano.


"Kak Vano menjemput ku kerumah?" Tanya Neva. Kemudian, Vano mengubah panggilan telepon ke panggilan Vidio. Mata Neva langsung melotot dan tangannya segera menolak panggilan itu. Merasa tidak enak, dia segera membuat panggilan telepon pada Vano.


"Kak Vano maaf," ucapnya segera setelah panggilannya terhubung.


"Kenapa tidak menerimanya?" Vano bertanya dengan rendah.


Mendapatkan pertanyaan itu, Neva terdiam beberapa saat, ia malu untuk mengatakan alasannya.


"Mmmm, aku baru saja selesai mandi dan saat ini aku masih memakai handuk," jawab Neva pelan dengan malu. Vano tersenyum lebar di seberang sana. Sepersekian detik, otak warasnya sedikit nakal dengan menghadirkan bayangan Neva yang baru saja selesai mandi.


"Uhum," Vano terbatuk kecil dengan senyum lebar.


"Jadi Kak Vano menjemput ku nanti?" Neva bertanya lagi untuk memastikan.


"Iya," jawab Vano, "Cantik," lanjutnya. Pipi Neva langsung bersemu merah dan sangat merah seperti apel.


Kemudian, setelah bertukar beberapa kata, Vano mengakhiri panggilannya. Neva tersenyum dan memiliki ide. Jika Vano menjemputnya kerumah lalu kenapa harus makan di luar?


___ Pagi hari di rumah Tuan muda Leo.


Setelah selesai sarapan, Leo berbincang dengan Ayah mertuanya. Sementara Yuna, meneruskan obrolan asik dengan Adel.


"Tuan muda Vano yang semalam apakah Vano yang sama dengan yang dulu dekat dengan mu Na?" Adel mengecilkan suaranya saat menanyakan itu.


Yuna mengangguk, "Iya, dia orangnya," jawab Yuna. Adel terperanjat dan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Astaga, bagaimana ceritanya," tanya Adel dengan penasaran, tangannya memegang lengan Yuna.


"Ceritanya sangat panjang," Yuna kemudian bercerita pada Adel bagaimana keadaannya saat itu. Bagaimana Leo yang mati-matian menentang mereka berdua.


Adel mengangguk mengerti, "Benar-benar rumit," ucapnya. "Ku pikir Nona Neva adalah pacar artis muda yang tampan itu," lanjut Adel. Dia tahu gosip terhangat saat itu.


Pukul sepuluh pagi, keluaga besar Yuna jalan-jalan mengelilingi Ibu Kota. Sementara Leo dan Yuna hanya di rumah saja. Leo sudah tidak mengizinkan Yuna untuk beraktivitas di luar rumah. Ini hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi dari jadwal yang dokter katakan. Leo dari hari ini tidak lagi ke kantor. Ia bekerja dari rumah.


____


Catatan Penulis


Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Terima kasih udah setia dengan kisah ini. Jangan lupa like koment vote ya kesayangan Nanas. πŸ₯°πŸ™ Terima kasih πŸ₯° Semoga SC semakin diminati pembaca. πŸ™


Aku padamu selalu. Maaf jika kadang aku tidak sempat membalas komentar Sahabat semuanya, tapi pasti aku baca dan like. πŸ₯°πŸ™πŸ™ Jangan pernah bosan buat selalu komen ya kesayangan. luv luv πŸ₯° padamu.