
Empat tahun ternyata mampu menciptakan jarak di antara dua hati yang terikat janji.
Tiara duduk memandangi jendela kaca yang semakin berkabut diterpa dinginnya hujan yang tercurah sejak siang tadi.
Di bibirnya terukir senyum sendu saat mengingat semua kisahnya bersama Zian dulu. Zian yang selalu ada di saat ia terluka oleh dinginnya hujan.
Kisah yang dikiranya akan abadi itu ternyata hanya sebuah roman picisan usang.
Tiara mengembuskan napas dalam-dalam.
" Ra, tolong anterin pesanan di meja nomor sebelas dong !" ujar mbak Lala seniornya di cafe tempatnya bekerja.
Tiara kembali sadar dari lamunan semunya.
" Eh iya mbak !" jawabnya seketika kemudian mengikuti permintaan mbak Lala tadi.
Dengan tersenyum ramah iapun segera menghampiri meja yang dimaksud.
Tampak duduk beberapa anak muda seusianya, mereka sedang asik ngobrol.
" Permisi, ini pesanannya". ucapnya dengan sopan.
" Terimakasih Ra' . . . " jawab seseorang yang kini duduk di kursi yang tadinya kosong.
Tiara menoleh ke arah suara itu.
" Eh, Rey. Oke aku balik ya, selamat menikmati pesanannya ". ucap gadis itu pamit kemudian kembali ke tempat duduknya tadi.
Rey hanya bisa memandangi punggung Tiara yang berlalu pergi.
" Apa gadis itu yang bikin seorang Rey klepek-klepek tiap hari?" goda seorang cowok di samping Rey.
Rey hanya tersenyum mendengarnya.
Seringkali ia juga bertanya pada diri sendiri tapi belum menemukan jawaban yang pasti.
Yang jelas sejak awal bertemu di cafe dua tahun yang lalu, ia semakin tertarik dengan gadis itu namun mengingat pesan dari Hesti bahwa Tiara sudah punya seorang Zian, membuat ia harus bersusah payah menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh.
Gadis yang super cuek itu telah sukses mencuri ketenangan hari-harinya. Ah, andai Hesti ada di sini mungkin ia akan berusaha membujuk sepupunya itu agar mau menjadi mak comblang untuknya.
Eh, bukannya sebentar lagi libur semester?
Semoga tuh anak pulang kesini libur akhir tahun ini. Harap Rey tersenyum senang.
" Apaan sih senyum-senyum sendiri?" salah satu temannya memukul pelan lengannya.
Dengan cepat ia menggeleng. Tak ingin mereka tahu urusan hatinya.
***
Pukul 22.00 WIT
Jam pulang pun tiba.
Beruntung cafe ini tutup tidak terlalu malam sehingga Tiara tidak terlalu khawatir saat pulang ke rumah kostnya.
Tiara bergegas mengemasi barang-barang bawaannya.
Sudah setahun ini ia bekerja di cafe. Untuk menghidupi dirinya juga mama dan adiknya setelah setahun lalu papanya pergi meninggalkan mereka tanpa penjelasan apapun.
Dari informasi yang ia dengar, papanya pergi ke pulau Jawa bersama wanita lain yang ia kenal selama mereka berada di kota sebelah.
Hal itu membuatnya semakin membenci papanya.
Karena merasa bertanggung jawab dengan keadaan mama dan adiknya, akhirnya ia memilih untuk bekerja dari pada berkuliah.
Setiap bulan, sebagian gajinya ia kirimkan untuk mamanya yang saat ini menetap di kampung halaman.
Begitu berat beban yang harus ia tanggung selama ini. Ditambah lagi tidak ada seorang pun berada di sisinya saat permasalahan hidup mengeroyoknya tanpa ampun.
Belum lagi dengan permasalahan di rumah tantenya.
Karena salah paham yang muncul hingga terjadi keributan di rumah itu.
Merasa tak nyaman lagi akhirnya Tiara memilih untuk pergi dari rumah yang sudah menampungnya sekian lama.
*****