
"Mari saya antar Nona," Joe menawarkan diri. Ya ... selain mendapat mandat untuk mendampingi Neva di perusahaan. Joe juga, mendapat perintah untuk menjadi bodyguard Nona muda ini.
Neva menatap Joe bingung tapi kemudian dia tersenyum dan mengambil tas miliknya.
"Terima kasih atas tawarannya Joe, tapi supirku sudah ada di bawah," jawab Neva menolak dengan halus.
"Supir Nona hanya mengantar dari rumah ke kampus. Selanjutnya adalah tugas saya mengantar Nona dan menjaga Nona," jelas Joe.
"Hei, sejak kapan. Asisten Papa juga merangkap sebagai supir?"
"Sejak saat ini Nona. Tuan besar Nugraha sendiri yang memberikan perintah ini kepada saya," jelas Joe lagi.
"Hahaha, Papa ada-ada saja. Ok, ayo," jawab Neva. Dia berdiri yang langsung diikuti oleh Joe.
"Bye Asisten Dion," ucap Neva dengan senyum pamit pada Dion.
"Selamat sore Nona, hati-hati," jawab Dion. Kemudian, mereka bertiga keluar dari ruangan. Dion belok naik kelantai atas untuk membereskan berkas-berkas yang belum rapi di ruangannya, sementara Neva dan Joe masuk kedalam lift khusus untuk turun kebawah.
"Apa Nona sudah makan siang?" tanya Joe saat mereka berada di dalam lift. Joe ingat, jika dari kampus Neva langsung datang menghadiri rapat.
"Hmm??" Neva menoleh ke arahnya tepat saat Joe memperhatikannya. Neva tidak begitu jelas mendengarnya, pikirannya bercabang menjadi dua. Memikirkan Leo dan merasakan hatinya yang merindukan Vano.
"Apa Nona sudah makan siang?" Joe mengulangi pertanyaannya. Mata mereka bertemu.
"Belum," jawab Neva. Dia menarik pandangannya dan menatap lurus ke dinding lift. Pertanyaan yang sama seperti yang sering Vano tanyakan.
"Bagaimana jika kita makan siang dulu? Baru nanti setelah itu, saya antar Nona ke tempat yang Nona inginkan," ajak Joe.
Neva kembali menoleh dan membalas tatapan Joe. "Tapi ini sudah sore Joe," ujarnya dengan senyum lucu. Wajah Joe menjadi merah, tangannya terangkat untuk menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa geli karena malu.
"Heheee, iya," katanya nyengir. "Kita makan sore dulu Nona," lanjutnya.
Neva mengalihkan pandangan, "Terima kasih ajakannya tapi aku belum lapar," ucap Neva. Joe menarik senyumnya. Neva menunduk. Bukan belum lapar tetapi dia memang tidak ada nafsu untuk makan.
"Nona mau ice cream?" tanya Joe yang membuat Neva langsung mengangkat wajahnya dan menatap Joe dengan heran.
"Kenapa kau tiba-tiba menawarkan ice cream?" tanyanya penasaran. Pintu lift terbuka. Joe mempersilahkan Neva untuk lebih dulu keluar. Kemudian, dia membukakan pintu mobil untuk Neva.
Perlahan Joe membawa mobil keluar dari area perusahaan. Dia mengatur kaca spion dalam. Mengarahkannya kebelakang, lebih tepatnya kearah Neva. Ini agar dia bisa melihat Neva dengan mudah.
"Mau makan di restoran mana Nona?" tanyanya.
"Langsung kerumah teman saya saja Joe," jawab Neva dengan langsung menyebutkan alamat rumah Lula.
"Baik Nona," Joe mengiyakan. "Tapi Nona belum makan, bagaimana jika kita makan dulu?"
"Aku sudah menjawabnya tadi. Aku tidak lapar," ucap Neva. Kemudian, dia mengingat sesuatu. "Oh. Kenapa kau tadi tiba-tiba menawarkan ice cream?" tanya Neva masih penasaran.
"Tuan besar memberitahuku, jika Nona Neva suka dengan ice cream," jawab Joe jujur. Neva melebarkan matanya.
"Papa?" tanyanya memastikan. Joe mengangguk. "Astaga Papa ...." Neva tiba-tiba kesal dengan papanya. Kenapa bercerita tentang dirinya pada orang lain. "Apalagi yang kau tahu Joe?"
"Nona suka menghabiskan waktu di salon pada hari libur, tapi sekarang memilih ke salon saat hari kerja. Karena, hari libur untuk kencan dengan Tuan muda Vano," jawab Joe. Neva semakin melebarkan matanya. Sampai masalah begitupun Joe tahu. Neva mengalihkan pandangannya dengan malu. Namun kemudian, dia tersenyum. Ternyata Papanya sangat hafal jadwal kesehariannya. Neva tidak pernah menyangka jika hal sekecil itu, tak luput dari perhatian papanya.
"Film genre apa yang ku sukai Joe?"
"Horror," jawab Joe cepat. Neva tertawa mendengarnya.
"Aigoo ... sepertinya Papa menceritakan banyak tentangku," ujar Neva yang dijawab anggukan oleh Joe.
"Jadi, Nona Neva mau makan dimana?"
"Nanti saja. Antar aku ke rumah teman dulu."
Tak lama, mobil mereka telah sampai di alamat tujuan. Joe dengan sigap membukakan pintu untuk Neva.
"Terima kasih," ucap Neva. Joe mengangguk dengan senyum sebagai tanggapan.
"Nona," Lula berteriak dan langsung melangkah menuju Neva. Dia memeluknya. "Wajah Nona kusut, kenapa?" tanya Lula setelah melepaskan pelukannya. Dia mengajak Neva untuk masuk kedalam.
"Siapa itu?" tanyanya setelah mereka duduk di dalam. Lula menunjuk Joe yang berdiri menyandarkan punggungnya di mobil.
"Asisten pribadi Papa," jawab Neva.
"Asisten pribadi? Jadi supir Nona?" tanya Lula lagi. Kemudian, Neva menceritakan tentang Joe dan perintah papanya pada Joe.
Neva ikut tertawa kecil mendengar itu. Lula menatap Neva setelah menyudahi candaannya.
"Apa Nona sedang ada masalah dengan Tuan muda Vano?"
Neva mengangguk, "Kira break," jawab Neva pelan. Dia menunduk.
"Astaga," Lula kaget mendengarnya. Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Break?"
"Hu'um. Itu keputusan dia yang ku setujui. Aku salah, memang salahku," jawab Neva, mengaku dia yang salah. "Aku terlalu cemburu padanya, hingga aku menyakiti hati seseorang," lanjutnya. "Lalu dia marah dan kecewa padaku."
Lula menarik nafasnya. "Haruskah break yang dia putuskan atas marahnya?" Lula khawatir. Dia takut break akan membawa hubungan mereka berakhir.
"Dia bilang, agar aku berfikir," Neva menyesap minuman yang Lula suguhkan. "Dan aku telah memikirkan semuanya."
"Jangan lama-lama breaknya Nona. Bagaimana jika Tuan muda kecantol cewek lain?"
Neva terkekeh mendengar ucapan Lula.
"Aku tidak mungkin memintanya untuk kembali padaku. Aku bahkan takut jika bertemu dengannya. Mungkin dia masih marah padaku, mungkin dia masih kecewa padaku, mungkin dia sedang tidak ingin dekat denganku, mungkin dia bahkan tidak ingin bertemu denganku," jawab Neva.
"Itu hanya mungkin yang Nona pikirkan," tukas Lula.
"Sedangkal itukah cintanya padaku, Lula? Dia dengan mudah mengatakan break saat aku merasa cemburu. Dia boleh marah padaku, boleh kecewa padaku, boleh tidak menemui ku. Tapi ... apa harus dia mengatakan break pada hubungan kita. Kita bukan lagi hanya sekedar pacaran," ucap Neva. Dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin dijari manisnya. "Kita sudah bertunangan," Neva menekankan ucapannya.
Lula mengangguk. Dia tidak tahu harus memberi saran apa. Dia bukan ahli dalam hal ini.
"Nona sudah makan?" tanyanya. Neva tertawa kecil mendengar itu. Ada apa dengan orang-orang hari ini. Kenapa memiliki pertanyaan yang sangat kompak.
"Aku tidak lapar," jawab Neva. Lula mengangguk lagi. Dia tahu, dia tidak akan berhasil untuk membuat Nonanya mau makan disaat hatinya sedih.
"Bagaimana jika kita jalan-jalan saja?" usul Lula, "Uhum. Ada Bodyguard tampan yang siap melindungi Nona."
"Jalan kemana?"
"Kita pikirkan nanti. Ayo," Lula langsung berdiri. Dia kedalam sebentar mengambil tas miliknya. Mereka berdua keluar rumah dan menuju mobil Neva.
Mobil perlahan melaju dengan kecepatan sedang.
"Kemana kita Nona?"
"Festival kuliner," Lula yang menjawabnya. Dia memberi tahu lokasinya pada Joe.
"Hei, kau mencoba untuk membuatku makan?" Neva menoleh ke arah Lula.
"Heheee, bukan. Kita ngemil saja okey," jawab Lula nyengir. Paling tidak, ada makanan yang masuk ke dalam perut Nonanya, batin Lula.
__________
Di sana di kantor Vano.
Laki-laki tampan itu mematikan laptop miliknya. Pekerjaan hari ini selesai. Dia membuka chat pada ponselnya. Pesannya tadi pagi dan siang tadi belum juga dibaca oleh Neva. Kemudian, dia mengetik lagi.
"Gadis, mari bertemu," send. Dia menunggu beberapa saat tetapi tidak ada balasan. Vano kemudian membuat panggilan padanya. Namun hingga panggilan ketiganya, Neva masih belum menerima panggilan. Ponsel Neva dalam mode silent dan berada didalam tas. Jadi, dia tidak tahu jika ada panggilan masuk dari Vano.
Vano keluar dari chatnya pada Neva lalu membuka chat dari temannya.
"Milik siapa gadis keren ini? Buatku saja boleh ya, hahaa," canda pesan itu dengan menyertakan Vidio saat Neva memberikan tanggapannya pada rapat siang lalu. Vano tersenyum dalam kekaguman menyaksikan vidio gadis itu dengan suara lembut tetapi tegas memimpin sebuah rapat.
"Dia milikku. Semua orang tahu jika dia milikku," balas Vano pada temannya. Kemudian, dia mengulang-ulang video itu entah sampai berapa kali. Dia juga rindu pada gadis ini. Tingkah manja, gurauan lucu, genggaman tangannya, pelukan rindunya.
Vano mencoba menghubungi Neva lagi, tapi masih belum ada jawaban. Dia beranjak dan pulang kerumah.
Pada malam hari. Dia pamit pada mamanya untuk tidak makan malam dirumah. Dia ingin bertemu dengan Neva dan mengajaknya makan malam bersama.
Mobilnya melenggang menuju rumah besar keluarga Nugraha. Namun, pada satu jalan. Dia melihat Neva tengah berjalan beriringan dengan seseorang.
______________
Catatan penulis.
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang. Yang punya poin lebih boleh dibagi ama othor π₯°ππ Vote yess. ilupyu π Terima kasih semuanya π Vote Vote.
Terima kasih untuk dukungan dan do'anya. Insyaallah Othor Kasih Up tiap hari. Komentar yang banyak yaaaaa ....... biar dikasih Up panjang π€π€π Heheeeee. Ilupyu Sahabat semuanya. Kalian luar biasa. Muach.