Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 307_Jalan-jalan malam.


Pukul 02.00 mobil pribadi milik Tuan besar Nugraha parkir di halaman rumah Leo. Dengan sigap asisten pribadi membukakan pintu untuk Tuannya.


Ya, Papa menginap di rumah Leo. Itu karena besok pagi ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan.


Leo mengantar papanya hingga kamar yang telah disiapkan. Kemudian, dia pamit untuk juga istirahat.


Tangannya dengan pelan membuka pintu kamar. Dia melangkah masuk. Hatinya dipenuhi kelembutan menyaksikan dua makhluk yang dia cintai terlelap. Baby Arai tidak tidur di Box bayi miliknya tetapi tidur di ranjang, disamping Yuna. Leo kemudian segera membersihkan dirinya dan langsung menuju ranjang. Dia mencium Baby Arai dengan hati-hati, lalu merebahkan dirinya di samping Yuna. Menatap wanita itu dengan kasih. Bibirnya tersenyum, ia mendekat dan meninggalkan kecupan halus di kening Yuna.


Leo memejamkan matanya, tetapi belum bisa tidur. Pertanyaan papanya membuat dia mengingat rasa yang belakangan datang, rasa yang begitu menusuk pada punggungnya. Dia tersenyum samar dalam kekhawatiran. Leo mengganti posisi tidurnya, dia miring memeluk Yuna. Mendekap wanitanya dengan hangat dan penuh cinta. Tiba-tiba sesuatu yang sesak menghampiri hatinya.


"Bagaimana jika aku tidak bisa menggendong mu lagi?" batin Leo. Tangannya pelan meraih tangan mungil anaknya lalu menggenggamnya lembut.


"Dan bagaimana jika aku bahkan tidak mampu menggendong anak kita."


Leo mengambil nafasnya dalam dan membiarkannya sejenak sebelum akhirnya dia menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Yuna mengeliat, dia membuka matanya dan langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap Leo.


"Sayang, kau sudah pulang," ujarnya. Tangannya membalas pelukan Leo. Dia tidur dengan menghadap Leo.


"Ya, baru saja," jawab Leo. Dia menunduk dan mencium kening Yuna. "Apa aku membangunkan mu?"


"Tidak. Sepertinya aku juga baru saja tertidur, heheee aku tertidur dengan sendirinya. Padahal aku ingin menunggu mu pulang," mata mereka bertemu.


"Kau mau bandel lagi?"


"Tidak," Yuna segera menggeleng, "Hanya menunggu mu pulang, bagian mana yang bandel."


"Aku pulang terlambat, seharusnya kau langsung tidur," jawab Leo.


Yuna mengangguk, tidak ingin membahasnya lagi. "Apa kau haus? Biar ku ambilkan air hangat."


"Tidak," jawab Leo. Dia kembali menunduk untuk mencium kening Yuna. "Papa ada disini," ujar Leo.


"Oh ya?" Yuna menjawab dengan bahagia. Leo mengangguk.


"Tapi tidak lama, besok pagi harus langsung kembali ke kantor," jelas Leo. Yuna mengerutkan bibirnya kecewa.


"Ku pikir Papa akan disini hingga besok malam lalu Mama dan Neva menyusul," ucap Yuna.


"Minggu depan kita menginap kesana."


Yuna langsung mengangguk menyetujui.


"Sekarang, kembalilah tidur," ujar Leo.


Kemudian, dia membenamkan Yuna dalam dekapannya. Namun kemudian Leo melepaskan pelukannya.


"Sayang, menghadap kesana," pintanya. Dia menyuruh Yuna untuk menghadap Baby Arai.


Segera menurut, Yuna langsung membalik badannya dan menghadap Baby Arai. Yuna mengambil tangan anaknya lalu menciumnya.


Leo memeluk Yuna dari belakang.


"I love you," bisik Leo lembut di telinga Yuna. Mereka berdua memejamkan mata dan mulai menyapa mimpi.


Tangan Yuna menggenggam lembut tangan mungil anaknya. Dan Leo memeluknya dari belakang. Begitu nyaman, begitu hangat dalam dekapan sang suami.


Pagi harinya, setelah Yuna membersihkan dirinya. Dia segera keluar kamar dan turun ke bawah. Baby Arai sudah mandi dari tadi dan saat ini sudah ada dalam pangkuan kakeknya.


Yuna menuju dapur, dia membuat teh hijau. Kemudian, membawanya ke ruang belajar. Leo dan Papa sudah sibuk disana sedari mereka bangun tidur.


Setelah sarapan, Leo dan Papa langsung pamit pada Yuna.


"Sampai ketemu lagi nanti cucu tampan," Tuan besar Nugraha mengusap pipi Baby Arai lalu membungkuk untuk mencium cucunya. Kemudian, Papa berdiri dengan tegak dan menatap Yuna, "Sehat terus Nak," ucap Papa pada Yuna.


Yuna mengangguk dengan senyum, "Papa juga," jawab Yuna sopan.


Kemudian, gantian Leo yang mencium Baby Arai. Menggodanya sebentar lalu beralih pada Yuna. Mencium kening Yuna lembut. Kemudian, dia pamit. Leo dan papanya melangkah keluar tapi tepat saat kaki papanya menginjak halaman, Leo menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk kembali masuk ke dalam, dia langsung menuju Yuna.


"Apa ada yang tertinggal?" Yuna bertanya setelah Leo berada di depannya. Leo mengangguk, kemudian dia membungkuk dan mengambil sesuatu yang tertinggal. Bibir seksinya mengambil ciuman di bibir Yuna.


Yuna terkekeh saat Leo melepaskannya. Dia berpikir sungguh ada barang yang tertinggal, hingga membuat Leo kembali.


"Cepat pulang," ucap Yuna, tangannya mengusap pipi Leo.


"Siap," jawab Leo lalu sekali lagi mengambil ciuman di bibir Yuna. Baru setelah itu dia berangkat.


______


Malam hari, pukul 21.30. Yuna berada di kamar Baby Arai. Dia sedang menidurkan anaknya.


"Titip sebentar ya Kak," ujarnya pada perawat. Malam ini, dia sengaja meminta perawat untuk menginap.


"Baik Nyonya muda, dengan senang hati," jawab perawat Baby Arai sopan. Kemudian, Yuna bergegas keatas ke kamarnya. Lalu segera kembali keluar lagi. Dia menuruni tangga lalu menuju Leo yang tengah menyaksikan televisi di ruang tengah.


"Sayang," panggil Yuna dengan wajah yang cerah.


Leo langsung menoleh ke arahnya. Yuna sudah memakai jaket hangatnya.


"Wah wah. Mau kemana?" tanya Leo melihat Yuna siap dengan jaketnya.



Yuna tidak langsung menjawabnya. Sebagai gantinya, dia memamerkan senyuman lalu melangkah mendekati Leo dan langsung menempatkan dirinya dipangkuan Leo. Dengan manja, tangannya melingkar di leher suaminya.


Kedua tangan Leo dengan otomatis langsung memegang pinggul Yuna.


"Kau mau merayu?" tebak Leo dengan tawa ringan. Yuna tidak memungkirinya, dia langsung mengangguk. "Rayuan untuk apa?" tangan kanan Leo beralih untuk membenarkan rambut Yuna yang terjatuh di kening.


"Jalan-jalan yuk," ajak Yuna. "Umm, Baby Arai baru saja tertidur, dan kau tahu sendiri jam berapa dia bangun. Dan lagi, saat ini ada perawat disini. Aku meminta tolong padanya untuk menjaga Baby Arai," sambungnya. Matanya berkedip dengan indah, membuat rayuan cantik.


"Jangan bercanda, ini sudah malam," Leo mencoba untuk menolaknya. "Tidak ada rayuan," matanya menatap Yuna dengan tegas.


"Sayang," jurus rayuan sayang Yuna keluar, "Kau boleh menciumku," ucap Yuna. "Ummmm," dia memencet pipi kanan dan kirinya secara bersamaan. Membuat bibirnya maju.



Leo terkekeh, dia memencet hidung Yuna dengan gemas. Kemudian tangannya langsung menarik Yuna, dia mengambil ciuman di bibir Yuna.


Tidak lama, dia hanya ingin keluar sebentar dengan menggandeng tangan Leo.


Setelah putra pertama mereka lahir, cinta dalam hati mereka semakin merekah dengan indah, semerbak memenuhi relung hati keduanya.


"Aku ambil kunci mobil dulu, kau mau kemana?"


"Tidak perlu mobil, kita jalan-jalan di taman komplek saja. Bagaimana?"


Leo mengangguk menyetujui.


"Kau terbaik sayang, muach" Yuna langsung memberinya hadiah. Kecupan cinta di pipi Leo.


"Kau memang sangat pandai merayuku," ujar Leo dengan senyum lebar. Yuna kemudian menyingkir dari pangkuan Leo.


"Tunggu disini, aku ambil jaketmu dulu," ujar Yuna. Dia naik ke atas untuk mengambil jaket Leo. Sementara Leo melangkah menuju kamar Baby Arai. Tangannya mengetuk pelan, memberi isyarat bahwa dia akan masuk.


Perawat yang ada di dalam kamar segera berdiri dan membungkuk untuk memberinya salam.


"Selamat malam Tuan muda."


Leo mengangguk sebagai tanggapan. Dia melangkah menuju anaknya.



Bibirnya tersenyum dengan hati yang begitu bahagia. Dia membungkuk dan mencium pipi putranya dengan lembut.


Kemudian, setelah dia memakai jaket. Mereka berdua keluar dengan bergandengan tangan, menggenggam jemari dengan perasaan bahagia.


Mereka berdua duduk di ayunan taman komplek. Bersebelahan, Yuna dengan ceriwis bercerita apapun. Dan Leo yang sabar terus mendengarkannya. Kemudian, Leo beralih untuk berdiri dan mengayun ayunan Yuna.


Dia bercerita bahwa dia pernah jatuh saat bermain ayunan jenis ini.


"Dengan Kiara?" tebak Yuna.


"Bukan," jawab Leo. "Dengan Neva dan Kak Dimas," jelas Leo. Yuna terkekeh dan meminta Leo untuk kembali bercerita tentang kisah indah dimasa kecil, tentu pada bagian yang tidak ada Kiara. Setelah hampir satu jam, mereka kembali. Berjalan dengan bergandengan tangan. Leo menggenggam tangan Yuna dengan erat. Namun kemudian dia menghentikan langkahnya.


"Naiklah," Leo jongkok di depan Yuna. Yuna tersenyum dan langsung melingkarkan tangannya di leher Leo. Leo menggendongnya di punggung.


"Sayang," panggil Leo.


"Hmmm."


"Kau makin seksi," puji Leo dengan senyum dibibirnya. Yuna merasa malu ketika Leo membahas itu. Dia menyembunyikan wajahnya di pundak Leo.


"Tidak adakah sesuatu yang lain yang bisa kita bahas?" ujar Yuna.


"Tidak ada," jawab Leo dengan cepat. "Sesuatu yang kenyal menggoda punggung ku," lanjutnya dan dia langsung mendapat pukulan. Namun setelah pukulan pukulan itu, tangan Yuna semakin memeluknya.


Leo segera membawa Yuna pulang. Menggendong Yuna di punggungnya.


"Sayang, turunkan aku," pinta Yuna saat kaki Leo menginjak tangga yang pertama untuk membawa Yuna ke kame mereka.


Leo tidak menjawabnya, dia tetap menggendong Yuna dan membawa wanitanya kekamar. Kemudian, menurunkan Yuna dengan pelan.


"Terima kasih kasih," ucap Yuna. Leo berdiri dengan tegak, dia membalik badan dan menghadap Yuna, matanya menatap Yuna dengan lembut. Tangannya dengan perhatian membuka jaket yang Yuna kenakan. Mata mereka saling menatap, mengecup halus lewat pandangan. Yuna maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Leo. Kedua tangannya mengulur untuk membuka jaket yang Leo kenakan. Kemudian, setelah jaket itu terlepas dia meletakkan kedua tangannya didada Leo. Merasakan degup jantung suaminya yang berdetak cepat. Dia menyunggingkan bibirnya. Sesuatu yang halus merambat melalui telapak tangannya, menyusup ke relung hatinya. Sedekat hujan pada awan, sedekat nadi dengan kulit, hati mereka mencinta dengan begitu dalam.


Tangan Leo terangkat dan mengusap pipi Yuna dengan lembut. Kemudian, bergerak menuju bibir Yuna, mengusapnya. Bibir Yuna sedikit terbuka dan itu membuatnya terlihat begitu seksi. Jemari Leo lebih turun, membuat gerakan lembut di leher putih Yuna. Kemudian lebih turun lagi untuk membuka kancing baju Yuna satu demi satu hingga semuanya terbuka.


Keindahan lekuk tubuh Yuna memanjakan netranya, membuat hasratnya semakin berapi. Leo menunduk, bibirnya mengecup halus pundak Yuna lalu dengan teratur membawa kecupannya pada leher Yuna. Aroma Yuna yang wangi begitu memanakan hidungnya, membuatnya betah berlama-lama disana. Sementara tangannya memeluk pinggang Yuna dan kemudian turun kebawah.


Yuna diam membiarkan Leo, sesekali tangannya membuat jambakan pada rambut suaminya. Dia adalah bulan dan Leo adalah malam. Tak akan pernah terpisah, menyempurnakan keindahan dunia dalam hidup mereka.


Leo membawa kecupannya lebih ke atas, menggigit dagu Yuna dengan gemas, itu bahkan membuat Yuna sedikit memekik. Suara Yuna terdengar seksi dengan nafas yang tidak teratur. Mata Leo menatapnya, menatap wajah Yuna yang memerah dengan pandangan yang pasrah.


Tangan Leo menariknya memegang tengkuknya dan mencium bibirnya. Ciuman penuh hasrat dan keinginan. Namun ... kemudian Leo berhenti. Ponselnya berdering. Lagi?? Siapa yang berani mengganggunya lagi? Dia mengumpat dalam hati.


Tangannya mengambil ponsel miliknya dari saku celananya. Mama Calling. Ok, ada apa dengan Papa dan Mamanya ini, mereka sangat kompak untuk mengganggu adegan romantis penuh cinta.


Leo dengan masih memeluk tubuh Yuna menggeser warna hijau di ponselnya. Dalam hati ia berdoa semoga mamanya tidak lama dalam panggilan telepon.


"Ya Ma," jawab Leo. Dia menyembunyikan suara kesalnya. Lain dengan Tuan besar Nugraha yang langsung bisa menebak dari nafas Leo yang terdengar dari sambungan telepon. Mama tidak menyadari jika beliau telah menganggu adegan romantis yang akan terjadi.


"Sayang apa kau sudah tidur?" tanya Mama.


"Belum," jawab Leo singkat. Matanya masih menatap Yuna.


"Mama baru saja menghadiri jamuan makan malam. Acara ada di gedung dekat rumahmu. Mama menginap di rumah mu malam ini. Mama kangen dengan cucu tampan. Oh ya, Mama bawa salad dan nasi goreng kesukaan mu. Yuna belum tidur bukan?" ucap Mama yang langsung membuat Leo frustasi. Sepertinya malam ini dia gagal lagi. "Mama sudah belok ke arah rumahmu nih," lanjut Mama.


"Baik Ma," jawab Leo frustasi. Dia memutus panggilan.


"Mama sebentar lagi sampai," jelas Leo pada Yuna. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Yuna. "Biar ku ambilkan baju untuk mu."


Leo membalik badan dan bersiap untuk mengambil baju baru di lemari tetapi Yuna dengan cepat menahan tangannya.


"Sayang," panggilannya. Leo menoleh.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Ada berapa bekas kecupan mu di leherku?" tanya Yuna dengan cemas. Dia merasa malu jika tanda merah ini diketahui oleh mama.


Leo tersenyum dengan lebar. "Banyak," jawabnya. Yuna melebarkan matanya dan langsung berdiri menuju kaca, dia memperhatikan lehernya. Dan memang sangat banyak. Dia menatap Leo.


"Tidak apa-apa," ujar Leo. Dia membuka lemari dan mengambil satu baju tidur untuk Yuna. Dengan perhatian dia memakaikannya di tubuh Yuna.


"Aku akan menutupinya dengan foundation," ucap Yuna pasti. Humm sepertinya itu membantu untuk menutupi tanda kepemilikan Leo.


_____


Catatan Penulis πŸ₯°πŸ™


Bab ini ada 2000 kata, tak doubel ama bab kemarin πŸ₯°πŸ˜‰


Terima kasih udah sabar menunggu kelanjutan kisah ini, ilupyu... Luv luv πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° padamu. Terima kasih πŸ₯°πŸ™