
"Selamat pagi," sapanya dengan ramah dan penuh senyum.
Leo langsung berdiri ketika melihat seseorang itu masuk, sementara Yuna langsung membawa pandangannya pada Leo.
Leo menatapnya dengan tajam. "Kenapa kau ada di sini?" Dia bertanya dengan sinis dan rasa tidak suka yang teramat.
Seseorang itu tersenyum dan melongok ke arah Yuna. Melemparkan senyumnya untuk Yuna.
"Tentu saja untuk menjenguk istri mu, Tuan muda Lee," jawabnya. Matanya kembali beralih menatap Leo. Wajah rupawan yang begitu halus. Kenapa kau semakin tampan, batinnya.
"Keluar atau aku panggil security!!" Ujar Leo.
"Ahh, kenapa kau begitu galak? Aku berniat baik menjenguk istri mu," jawabnya. Dia kemudian melangkah mendekat dan Leo langsung menghadangnya.
"Aku bilang keluar," ujar Leo. Tangannya menunjuk ke arah pintu. Seseorang itu dengan wajah yang penuh senyum memperhatikan Leo yang saat ini berada di depannya. "Aku bilang keluar Kiara," Leo mengulangi lagi.
"Lee, aku merindukan mu," ucapnya sepenuh hati tanpa rasa canggung. Matanya menatap Leo penuh kerinduan.
Yuna, mengalihkan pandangannya. Dia tidak menatap dua insan yang saling berhadapan itu. Hatinya sakit, tentu saja. Mendengar secara langsung seorang wanita mengungkapkan kerinduan pada suaminya. Dia tahu Leo setia tetapi tetap saja mendengar ucapan Kiara secara langsung begitu menyakiti hatinya.
"Tutup mulut mu, Kiara," ujar Leo dengan sinis. Dia menahan emosinya. Kedatangan Kiara membuatnya begitu menghawatirkan Yuna. Menambah kecemasan dalam dirinya.
Sementara Kiara begitu menikmati pertemuan pagi ini dengan seseorang yang sangat dia rindukan. Tidak sia-sia dia membuntuti Tuan besar Nugraha siang itu. Kiara tidak perduli, Leo akan marah atau tidak padanya. Dia hanya ingin bertemu dengan Leo, hanya itu. Memang benar kata orang, jika sesuatu telah pergi maka keindahan semakin terpancar. Jika seseorang telah pergi dari kita maka baru begitu terasa bahwa seseorang itu sangat berharga. Menyesal, tentu saja. Kiara sangat menyesal karena menuruti perintah Papanya dan memutuskan untuk berpisah dengan Leo. Laki-laki yang dulu teramat mencintainya.
"Aku sungguh merindukanmu, Lee. Sangat merindukan mu," ucap Kiara lagi. Kiara melangkah maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Leo. Dengan cepat Leo melangkah mundur.
Pelan, Yuna turun dari ranjangnya. Tangannya memencet tombol yang berada di dinding sebelah ranjangnya.
"Kiara, kau bernyali besar menemui ku disini," ucap Leo.
"Itu karena aku begitu merindukan mu, Lee," jawab Kiara.
Yuna memejamkan matanya mendengar ucapan itu lagi dari Kiara.
"Dia suamiku Kiara. Dia milikku," ucap Yuna. Leo langsung menoleh ke arahnya dan segera melangkah menghampirinya. Tangannya mengulur dan memeluk Yuna.
"Jangan hiraukan dia. Aku akan mengurusnya," ujar Leo dalam peluknya. Yuna tidak boleh memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih. Perasaan Yuna terhubung dengan calon baby yang ada di rahimnya. Leo berusaha mati-matian untuk membuat Yuna selalu bahagia tetapi kenapa ada saja yang membuat Yuna bersedih.
"Suamimu? Kalian bisa bercerai," jawab Kiara dengan santai.
"Diam kau Kiara!!" Suara Leo tinggi menjawab Kiara. Dia melepaskan pelukannya dan membalik badannya. "Kau menantang ku?" Tanyanya dengan sorot mata yang kejam. Kakinya melangkah tetapi tangan Yuna segera menahan lengan Leo. Yuna ingat, kejadian dulu. Leo pernah mencekik Nora saat Nora menyebutnya sebagai p3l4cur.
Tepat saat itu juga, dua security datang dan bahkan seseorang yang ditugaskan oleh Tuan besar Nugraha bersiap di samping pintu luar. Tentu dia tidak boleh ketahuan oleh Leo.
"Bawa dia keluar atau kalian berakhir saat ini juga," ucap Leo dengan ancaman.
"Siap," jawab dua security.
"Jangan menyentuh ku!" Kiara memperingati dua security itu. "Aku bahagia hari ini bisa melihat mu Lee," ujar Kiara kemudian dengan berat dia melangkah ke luar dengan dua security dibelakangnya.
Dia membuang buket bunganya di tong sampah dengan kesal.
"Jangan sampai perempuan itu datang lagi. Awasi dengan benar," perintah Tuan besar Nugraha.
Di dalam ruangan Yuna.
Yuna melepaskan genggaman tangannya di lengan Leo. "Aku percaya pada mu," ucap Yuna pelan. Dia menatap punggung Leo. "Aku yakin kau tidak akan tergoda olehnya, aku yakin," lanjutnya.
"Terima kasih untuk kepercayaan mu," jawab Leo tanpa menoleh. Mereka berdua menjadi mematung dan membisu dengan segala pikiran yang berkeliaran.
Yuna percaya tetapi dia khawatir jika Kiara bertindak nekad. Cerita di pulau S adalah bukti betapa Kiara nekad mendekati Leo dan bahkan rela menyerahkan dirinya.
Sementara Leo, begitu mengkhawatirkan Yuna. Tentang perasaannya, tentang kesedihannya, tentang keselamatannya. Kiara tahu jika Yuna dirawat di sini, bagaimana jika Kiara macam-macam padanya.
Hening, hanya terdengar suara mesin pendingin ruangan. Yuna masih menatap punggung itu. Ada gerakan lembut nan lucu di perutnya, dia tersenyum dan mengusapnya dengan lembut. Hanya dia saja. Dia tidak meminta Leo untuk ikut mengusap seperti biasanya. Dia selalu takut jika Leo mulai diam. Meski terkadang dia berhasil untuk membujuknya.
"Uhum," Leo terbatuk pelan.
"Sayang," panggil Yuna. Leo menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Leo pelan. Dia masih belum berbalik, dia masih memunggungi Yuna. "Apa ada yang ingin kau makan? Aku akan membelinya untuk mu."
"Tidak ada," jawab Yuna singkat. Kemudian, dia melangkah untuk mendekati Leo. Menyandarkan kepalanya di punggung Leo. "Aku ingin kamu, itu saja," lanjut Yuna.
Sudut bibir Leo terangkat. "Kau sudah memiliki ku," jawab Leo.
Yuna mengangguk dengan kepalanya yang masih bersandar di punggung Leo.
"Ya, kau milikku," ucap Yuna. Kemudian, dengan perlahan Leo membalik badannya, ia menatap Yuna yang berdiri tepat di hadapannya. Matanya dipenuhi kelembutan melihat wajah cantik yang sangat ia cintai. Tangannya terangkat dan memeluk Yuna.
Yuna membalas pelukannya dengan erat. "Biarkan aku bahagia bersamanya, biarkan hanya aku yang mencintainya, biarkan hanya aku yang mengharapnya. Biarkan aku dan dia saling memiliki tanpa ada siapapun yang menginginkan dirinya atau diriku. Aku ingin terus bahagia bak Rapunzel yang pada akhirnya selalu bahagia bersama pangeran." batin Yuna.
_Di waktu yang sama di Rumah besar keluarga Nugraha.
Neva Bersiap-siap untuk mengunjungi Yuna setelah Mama memberi tahu dirinya jika Yuna dirawat. Tepat saat itu juga, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Vano.
"Ya, Kak," jawab Neva setelah tersambung.
"Makan siang nanti, apa kau ada acara?" Tanya Vano diseberang sana. Kemudian Neva bilang padanya bahwa dia harus ke rumah sakit untuk menjenguk Yuna. "Ok, tunggu aku. Aku jemput kamu sekarang. Kita ke rumah sakit bersama," ujar Vano.
"Oke," jawab Neva.
___
Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )
Jan lupa jempolnya ya kesayangan.
Terima kasih atas undangannya Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 luv luv.