Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 251_Meminta Restu 2


Tuan Nugraha keluar ruang kerja bersama Neva. Mereka berdua langsung menuju ruang tamu. Sudah ada Nyonya Nugraha disana.


Vano segera berdiri dan membungkukkan badannya, ia memberikan salam pada Tuan besar Nugraha.


"Selamat malam Om Nugraha," sapanya dengan ramah dan sopan.


"Malam," jawab Tuan Nugraha dengan singkat tetapi dengan nada yang ramah. Mama ikut berdiri, kemudian kembali duduk setelah suaminya duduk.


Neva duduk di samping papanya. Dia memperhatikan Vano dengan senyum yang tertahan.


"Bagaimana kabar Mahaeswara?" Tanya Tuan Nugraha memulai.


"Papa baik, kita baru memulai kembali membangun yang kemarin terjadi musibah itu," jawab Vano.


Tuan Nugraha mengangguk. Kemudian, mereka berdua membicarakan bisnis. Tuan Nugraha selalu suka jika berdiskusi tentang bisnis. Memberikan ide-ide cemerlang anak muda untuk membantu membangun perekonomian Negara, untuk membantu menanggulangi pengangguran.


Tuan Nugraha selalu suka dengan anak muda yang berbakat.


Neva menatap papanya dan Vano dengan kesal. Kenapa mereka berdua malah berbicara tentang bisnis. Neva tahu, papanya tidak akan pernah habis dan berhenti jika sudah berbicara tentang bisnis.


Vano begitu menguasai tentang ilmu bisnis yang tengah dibahas oleh Tuan Nugraha. Sesekali, matanya melirik ke arah Neva. Bukan, bukan hanya sesekali tetapi berkali-kali. Terkadang, mata mereka bertemu lalu saling mengulum senyum dan menyembunyikannya. Senyuman indah yang ia sembunyikan bagai lengkung rembulan muda yang mengintip malu dibalik awan. Itu, membuat Neva seolah sedang dipermainkan oleh Vano. Melalui tatapan mata sekilas tetapi bertubi, lewat untai senyum jenaka yang menggoda.


"Pa," Nyonya Nugraha menyentuh lengan suaminya dengan pelan. Tanpa menjawab apapun, Tuan Nugraha langsung menoleh ke arah istrinya. "Di minum dulu teh nya," tutur Mama dengan halus. Beliau sudah menuangkan teh itu sedari tadi tetapi suaminya malah langsung asik dengan obrolan bisnis. Papa mengangguk. "Vano, silahkan," Mama mempersilahkan.


"Terima kasih, Tante," jawab Vano. Kemudian, dia dan Tuan Nugraha menyesap teh hangat di cangkir.


Hening beberapa saat. Vano menatap kearah Neva dengan senyum halus, lalu beralih menatap Tuan Nugraha.


"Maaf, Om Nugraha," suara Vano ramah memulai setelah keheningan.


Tuan Nugraha, menatapnya. "Ya," jawab Tuan Nugraha pada Vano.


"Maksud kedatangan saya kesini adalah untuk meminta restu kepada Om Nugraha dan juga Tante," tutur Vano dengan sopan. Tuan dan Nyonya Nugraha menatapnya dengan serius. "Saya ... " kini, pandangan Vano beralih pada Neva. Ia menatapnya dengan lembut. "Saya, mencintai putri Om dan Tante Nugraha," ujar Vano dengan kesungguhan hati. Neva menunduk menyembunyikan wajahnya, jantungnya berdegup,


Mama tersenyum dengan indah mendengar kalimat itu dari Vano. Laki-laki yang memang ia harapkan menjadi menantunya. Sementara papa tersenyum ringan dan masih menatap Vano. Laki-laki yang kata putrinya tidak boleh dia tolak. Jika dipikirkan, alasan apa yang bisa membuatnya menolak Vano untuk menjadi menantunya. Laki-laki baik, mapan dan keluarga mereka sudah saling mengenal.


"Putri ku mencintaimu Vano, dan Om tahu sendiri, kau adalah laki-laki yang baik, jadi tidak ada alasan untuk tidak merestui hubungan kalian berdua," jawab Tuan Nugraha. Tangannya terangkat dan meletakkannya di pundak Neva dengan lembut. "Jika, anak-anak saling mencintai maka kita sebagai orang tua hanya berharap kalian selalu bahagia dengan restu yang kita berikan," lanjut Tuan Nugraha. Neva tersenyum dan memeluk papanya.


Dia sangat bersyukur karena Papanya merestui hubungan dia dan Vano. Begitu juga dengan Mama, beliau sangat bersyukur karena suaminya merestui menantu yang ia harapkan.


"Terima kasih, Om dan Tante untuk restunya. Saya serius dengan Neva, saya akan menunggunya hingga dia telah siap untuk menikah dengan saya," ujar Vano dengan sungguh.


Tuan Nugraha tersenyum lebar dan mengusap pundak Neva dengan lembut. Sementara Neva mengedipkan sebelah matanya dengan pelan pada Vano.


__Di tempat yang berbeda di sebuah rumah sakit.


Alea duduk di bangku di samping ranjang rawat papanya. Mamanya telah terlelap di sofa. Dia membuka pesannya pada Yuna, tidak ada balasan. Kemudian, dia mencoba mengirim pesan lagi tetapi dia harus kecewa karena pesannya tidak bisa terkirim. Tentu saja, itu karena Leo telah memblokir nomor ponselnya. Dia menggenggam ponselnya dan kembali memperhatikan Papanya.


"Aku penasaran dengan orang yang menabrak Papa," ujar Alea. Wijaya menoleh ke arahnya. Ya, dia bercerita jika dia mengalami kecelakaan hingga membuat dirinya harus dirawat.


"Dia orang kaya," jawab Tuan Wijaya dengan senyum sinis di bibirnya.


"Dia orang sibuk, mana mungkin sempat menemui mu," jawab Tuan Wijaya.


"Sepertinya, Papa begitu tahu banyak tentang penabrak itu," sambung Alea menyelidik. Dia memperhatikan kondisi Papanya dan dia bisa menyimpulkan bahwa itu bukanlah cidera yang dialami oleh orang kecelakaan.


"Bukankah semua orang kaya memang sibuk?" Tukas Tuan Wijaya santai.


"Papa tidak menyinggung seseorang bukan?" Alea masih belum percaya dengan apa yang papanya ceritakan. Tuan Wijaya terkekeh mendengar itu.


"Tentu saja tidak," jawabnya. Alea mengangguk untuk mencoba percaya. Kemudian, dia kembali membuka ponselnya kembali, ia mengecek pesannya pada Yuna, dan akhirnya dia sadar jika nomor ponselnya telah diblokir Yuna.


Alea beranjak, dia melangkah keluar ruangan dan menuju taman rumah sakit. Ada beberapa orang disana. Alea duduk di bangku dan menyandarkan punggungnya, matanya menatap keatas. Bulan begitu bersinar dengan terang. Awan seolah tidak akan mampu menutupi keindahannya. Alea tersenyum dalam sudut sudut bibirnya. Dia teringat tangan Leo melingkar di pinggangnya sore itu.


"Kenapa rasa ini harus ada?" gumamnya. Kemudian, sudut bibirnya merapat, dia mengingat Yuna. Mengingat, bagaimana wanita itu begitu baik padanya.


"Terima kasih, Yuna," dia menggumam lagi. "Dan maaf karena aku mencintai suamimu," Alea menunduk. Ia menarik nafasnya panjang dan memejamkan matanya sebentar. Kenapa Yuna memblokir nomor ponselnya?


***@***


Pagi hari. Di kastil pinggir pantai.


Ombak masih berkejaran dengan sapuan angin yang lembut. Mentari belum menyapa, ia masih bersembunyi.


Pukul lima pagi, Leo dan Yuna sudah bersiap untuk menyapa sang Surya dari ufuk timur. Mereka berdua berjalan bergandengan dengan sesekali mengayunkan tangan dengan romantis.


Terakhir mereka kesini, cuaca tidak mendukung. Yuna tidak bisa menikmati matahari terbit.


Kaki mereka menapaki pasir dan membuat jejak disana.


"Sayang," panggil Yuna.


"Ya?"


"Bagaimana dengan kantor jika kau disini bersama ku," tanya Yuna. Mereka masih berjalan menuju tempat yang pas untuk menyaksikan matahari terbit.


"Jangan memikirkan apapun, mari selalu bahagia," jawab Leo tidak memberi jawaban yang Yuna inginkan.


"Manusia tidak bisa begitu saja tidak memikirkan apapun lalu dengan santai dia bahagia," jawab Yuna.


"Pikiran aku saja," sahut Leo. Dan Yuna langsung tersenyum lebar, tangannya terangkat untuk memukul bahu Leo pelan. Jika saat ini perutnya tidak buncit, dia pasti akan langsung melompat dan meminta gendong di punggung Leo.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Hallo semuanyaa sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 maaf aku Upnya telat ya. Maaf juga belum bisa Up banyak 🙏


Oh iya. Sistem MT/NT sekarang pakai level. Terima kasih untuk semua Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 atas dukungannya. Alhamdulillah Sebenarnya Cinta 💖 (SC) pada level Pedas, level 10. Tetapi, level ini tidak bisa begitu saja tetap nangkring di posisi pedasnya. Itu tergantung pada performa SC.


Mohon terus dukung SC kesayangan temen2 Yach, like, koment. (Vote jika ada poin). Like komen jangan ketinggalan ya sahabat SC. Terima kasih sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 aku mencintai temen-temen semua... iluvyu full 🥰🥰