Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 347_Terima Kasih


Neva merebahkan dirinya di ranjang. Dia memejamkan matanya mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa. Menghitung dari satu sampai seratus tetapi tetap belum bisa untuk terlelap. Pada akhirnya, dia kembali membuka matanya dan mengambil ponselnya.


"Ma," panggilannya saat panggilannya terhubung.


"Ya sayang," sahut Mama diseberang sana. "Kau belum tidur?"


"Bagaimana keadaan Kak Lee Ma?" Neva balik bertanya. Entah kenapa dia merasa begitu khawatir. Perasaan khawatir yang membuatnya tidak bisa tidur.


"Kakak baik-baik saja sayang. Kenapa kau belum tidur?" jawab Mama sekaligus bertanya.


"Mama tidak sedang mencoba menyembunyikan keadaan Kak Lee kan?" Neva bertanya lagi. Dia ingat kebohongan orang tuanya saat Leo mengalami kecelakaan.


Mama tertawa kecil diseberang sana, "Tidak. Menyembunyikan apa? Tanya Papa nih, Papa ada dirumah. Jika Kak Lee sedang tidak baik-baik saja, Papa tidak mungkin ada dirumah kan?" Mama memberikan ponselnya pada Papa yang tengah memangku Baby Arai.


"Kenapa sayang?"


"Bagaimana keadaan Kak Lee, Pa?" Neva mengulang pertanyaannya. Papa tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. Beliau tahu betapa Neva menghawatirkan kakaknya.


"Kak Lee mulai membaik. Bahkan jika kondisi terus stabil, beberapa hari kedepan sudah diizinkan untuk kemudian ke rumah. Bisa menjalani perawatan dirumah," jelas Papa. Neva bernafas lega mendengar penjelasan itu. Dia mengucap syukur dalam hati. "Kau tidak bisa tidur karena memikirkannya kakak mu?" tanya Tuan besar Nugraha yang dijawab anggukan oleh Neva.


"Aku tidak akan memaafkan Papa dan Mama jika sampai membohongi ku tentang keadaan Kak Lee, seperti waktu itu," ucap Neva dengan suaranya yang sinis.


"Haha baiklah gadis muda. Papa tidak berani lagi," jawab Papa dengan tawa ringan. "Sekarang tidurlah disana sudah larut bukan?"


"Hu'um, baik Pa," jawab Neva. "Salam buat Kak Lee."


Di tempat lain di Ibu Kota. Tengah malam, dia menghubungi dokter spesialis syaraf. Dengan mengucapkan maaf terlebih dahulu dia kemudian menanyakan tentang kerusakan pada sum-sum belakang. Dengan bahasa kedokteran, Sang dokter menjelaskan secara singkat tetapi lengkap. Tentang bagaimana itu bisa terjadi pada seseorang hingga kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Vano menunduk sebentar setelah memutus panggilan. Dia mengulangi ucapan dokter pada pikirannya. Hatinya menjadi begitu cemas. Beberapa detik dia diam dan kemudian dia membuka chatnya pada Leo. Entah kapan terakhir dia chat dengan Leo. Dia melihat tanggalnya, tanggal terakhir dia chat dengan Leo adalah sehari sebelum dia bertunangan dengan Neva.


Vano merapatkan bibirnya. Dia ingat pesan Leo, untuk tidak menyakiti hati adiknya, untuk selalu mencintai Neva dengan tulus. Dia ingat bisikan Leo padanya, untuk membuat Neva selalu bahagia.


Vano memencet beberapa tombol untuk menulis sebuah pesan singkat pada Leo, tapi kemudian dia menghapusnya. Mengingat watak Leo, dia pasti tidak akan mengakui keadaannya. Terlebih itu pada Vano. Jadi pada akhirnya, Vano mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan pada Leo. Dia hanya berjanji dalam hatinya, akan membantu apapun yang ia bisa.


"Segeralah sembuh kawan," ucapnya pelan.


Kemudian, dia membuka chatnya pada Neva. Melihat, apakah gadis itu sudah tidur atau belum. Dan Vano langsung melakukan panggilan telepon saat dilihatnya tanda online dalam aplikasi.


"Kenapa masih belum tidur?" tanyanya begitu panggilan terhubung.


"Aku baru saja telfon Mama," jawab Neva.


"Bagaimana keadaan Leo?" tanya Vano.


"Keadaan Kak Lee mulai membaik. Papa bilang jika keadaannya stabil trus, kemungkinan bisa segera kembali," jelas Neva. Vano ikut merasakan lega mendengar itu.


"Sekarang tidurlah sayang," ucap Vano dengan perhatian. "Jaga kesehatan."


"Hu'um," Neva mengiyakan. "Kau juga harus segera tidur."


"Siap."


Kemudian, setelah saling mengucapkan selamat istirahat panggilan berakhir.


_____________________


Sore hari di negara A.


Pelan, pintu ruangan rawat Leo terbuka dan seseorang itu masuk dengan senyum ramah.


"Sore," jawab Yuna dengan senyum. Dia berdiri dan melangkah menuju seseorang itu. Mereka berjabat tangan dan melakukan cipika cipiki. "Senangnya kau datang kemari, suatu kebahagiaan tersendiri buat kami," ucap Yuna.


"Silahkan duduk Author Nanas," ujar Yuna mempersilahkan Othor untuk duduk di sofa.


"Terima kasih Nyonya muda," jawab Nanas sopan.


"Hmm atau kau ingin berbincang dengan Leo? Yuuk," ajak Yuna. Nanas tersenyum dan bilang 'Yess' dalam hati. Akhirnya diizinkan bertemu Tuan muda yang tampan ini.


Dia melangkah pelan mengikuti Yuna dari belakang. Hingga sampai di samping ranjang rawat Leo.


Leo menyambutnya dengan senyum dan itu membuat mata dan hati Nanas meleleeeh secara bersamaan. Beberapa detik dia hanya terdiam. Kemudian, pada akhirnya dia tersadar.


"Bagaimana keadaan Tuan suami? Eh, Tuan muda," Nanas segera mengulangi ucapannya. Dalam hati ia berharap jika dia bisa memanggil Leo dengan sebutan Tuan suami. Namun kemudian dia segera menggelengkan kepalanya, jika dia berani masuk kedalam hubungan dua insan ini maka yang ada semua penggemar SC akan menyerbu dan menyumpahinya. Kan serem.


Yuna terkekeh mendengar ucapan Othor. "Kau selalu lucu Nas," ucap Yuna dengan tawa ringannya. "Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa tersesat sampai masuk kedalam dunia halu," tanya Yuna dengan masih tertawa. Nanas menoleh ke arah Yuna.


"Antusias dan cinta Sahabat SC yang membawaku masuk kedalam sini, Nyonya muda," jawab Othor.


"Panggil saja, Yuna," ucap Yuna ramah.


"Hmm, Baik Yuna."


"Author gaje banget," sahut Leo.


"Halu itu bebas Tuan Leo," jawab Nanas sombong.


"Hahaaaa. Kau keren," puji Leo dengan mengacungkan dua jempolnya. Pujian yang membuat wajah Nanas merona.


"Hmm, kedatangan ku kesini. Aku mau menyampaikan dukungan dan do'a dari sahabat SC untuk Tuan muda Leo. Tuan muda Lee harus semangat ya. Lekas sembuh, jangan sampai kenapa-napa. Jika sampai Tuan muda kenapa-napa, keselamatan dan nasib SC ini taruhannya," ucap Nanas.


Leo tersenyum, pun dengan Yuna.


"Sampaikan pada mereka jika aku sangat berterima kasih untuk dukungan dan do'anya. Aku pasti akan selalu bersemangat untuk sembuh. Demi Yuna, Baby Arai, keluarga ku dan semua Sahabat SC. Sekali lagi terima kasih," jawab Leo dengan suaranya yang khas.


Nanas mengangguk, kemudian dia menoleh ke arah Yuna. "Yuna, boleh doong kasih penggemarmu tanda tangan," pinta Othor.


Yuna tertawa lagi. "Tanda tanganmu saja Thor," jawab Yuna.


"Mereka sukanya sama kamuuu," jawab Thor dengan sedih.


"Hhaaa kaciiiaaannn ...." Yuna meledeknya.


"Buruan tanda tangan, jangan meledek. Sebelum sepatu kacaku berubah nih," Nanas memberikan kertas dan pena pada Yuna.


Yuna menerimanya. Dan bilang, "Ok."



SEKIAN INTERMEZO HARI INI ... heheeee biar nggak spaneng terus ya πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜πŸ˜„


Maaf kalau GaJe. πŸ€—πŸ€— Semoga terhibur. Ilupyu. πŸ₯° Next. Lanjuuut.


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Terima kasih Sahabat semuanya yang masih dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Padamu. Luv luv.