
Neva keluar lebih dulu dari kamar Vano setelah mandi dan mengganti bajunya. Ia menuruni tangga. Ada Nyonya Mahaeswara di ruang tengah.
"Selamat pagi, Ma," sapa Neva setelah ia sampai disamping sofa dimana Nyonya Mahaeswara duduk.
"Hai, pagi sayang. Kau sudah bangun?" jawab Mama Mahaeswara dengan senyum. Beliau menepuk pelan sofa disampingnya meminta Neva untuk duduk bersebelahan.
"Iya, Ma," jawab Neva rendah. Mama merubah posisi duduknya untuk bisa leluasa menatap Neva. Beliau memperhatikan Neva dengan seksama. Memperhatikan leher, wajah dan rambutnya. Jika tentang rambut, itu bisa dikeringkan dengan sangat mudah, batin Mama khawatir. Beliau memperhatikan leher dan wajah Neva. Mencoba mencari tanda yang tidak ingin beliau lihat. Awas saja jika ada warna merah, batin Mama Mahaeswara cemas.
Neva merasa canggung di perhatikan seperti itu. Dia sedikit menundukkan wajahnya, "Maaf tidak menyapa Mama semalam," ucap Neva malu karena dia datang dalam keadaan tertidur. Mama Mahaeswara tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari leher Neva.
"Tidak apa-apa, kau pasti sangat lelah," jawab Nyonya Mahaeswara. "Vano sudah bangun?" tanyanya kemudian.
Neva mengangguk pelan, "Sudah, Ma," jawab Neva.
"Dia ...." Mama Mahaeswara menggantung ucapannya. Ragu, tapi pada akhirnya beliau menanyakannya juga. "Dia tidak nakal padamu bukan?"
"Nakal apanya?" sahut Vano yang mendengar pertanyaan Mama. Dia menuruni tangga dan menghampiri Mama.
"Kau tidak khilaf bukan anak muda?" Mama Mahaeswara mengulangi pertanyaannya. Beliau menatap tajam ke arah Vano yang saat ini duduk di samping Neva.
"Aku bukan laki-laki labil, Ma," jawab Vano tegas. Dia tidak nyaman mamanya terus saja curiga padanya.
Mama Mahasiswa mengangguk dan memberikan jempolnya pada Vano. Tak lama, Tuan Mahaeswara bergabung bersama mereka.
"Bagaimana keadaan Leo?" tanya beliau setelah bertukar beberapa kata pada Neva.
"Sudah sangat baik, Pa. Mungkin bulan depan sudah bisa kembali ke tanah air," jawab Neva yang disambut senyum bahagia dan syukur dari Tuan dan Nyonya Mahaeswara. Kabar yang sangat bagus. Kemudian, mereka semua sarapan.
Seusai sarapan, Vano dan Neva duduk di ruang tengah. Mereka berdua tengah menonton televisi.
"Sayang, antar aku pulang," pinta Neva.
"Kenapa buru-buru pulang, besok masih libur. Dan bukankah Papa baru kembali besok?"
"Iya, memang kenapa? Aku terbiasa sendiri di rumah saat mereka ke luar negeri," jawab Neva.
"Ada Joe, di rumahmu sekarang. Kau tidak boleh pulang."
"Hmm, memang kenapa jika ada Joe? Lagi pula, dia berbeda rumah denganku," jawab Neva.
"Tetap saja, dia berada satu gerbang dengan mu. Bisa saja kalian bertemu dan ngobrol lama didalam rumah atas nama diskusi. Hhh aku tidak suka," Vano menjawab dengan kesal.
"Bukan atas nama diskusi tapi kita memang diskusi," jelas Neva.
"Kalian diskusi tapi berdua-duaan."
Neva tersenyum lebar, dan mendekatkan wajahnya pada Vano.
"Kau cemburu padanya?!" tanyanya.
"Ya. Aku tidak suka kau dekat dengan dia," jawab Vano jujur.
"Hmmm. Aku dan dia hanya sebatas diskusi perusahaan. Bagaimana aku bisa dengan baik menjaga perusahaan Kak Lee jika tidak dibantu dia? Tenang saja, aku hanya menciummu," pada akhir kalimatnya Neva mencubit kedua pipi Vano.
"Harus, mana boleh kau mencintai laki-laki lain," jawab Vano. "Tapi tetap saja kau tidak boleh pulang dulu sebelum Papa kembali," lanjutnya.
"Itu bukan ide bagus. Aku tidak mungkin menginap di sini lagi," ucap Neva. Dia menatap Vano dengan imut.
"Ok, biar aku yang menginap di sana. Yang penting, kau tidak berdua-duaan dengan Joe," jawab Vano. Neva terkekeh, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ternyata dicemburui itu menyenangkan, batinnya.
__________________
Di negara A.
Hari ini. Papa dan keluarga Dimas kembali ke tanah air lebih dulu. Sedangkan Mama masih berada di negara A untuk menemani Leo dan Yuna. Leo masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit.
"Rasanya jadi sangat sepi," ujar Mama setelah Baby Arai tertidur.
Yuna mengangguk mengiyakan. Mereka tengah bersantai di ruang tengah.
"Kalian buruan tambah lagi, biar semakin rame," ujar Mama. Leo dan Yuna langsung bertukar pandangan, menatap satu sama lain. Kemudian, Yuna menoleh dan menatap Mama.
"Aku juga ingin Ma. Mau Baby girl yang cantiiiik," jawab Yuna dengan senyum dan memegang kedua pipinya.
"Memangnya kau tidak ingat bagaimana sakitnya waktu itu?" Leo langsung menyahut. Tangannya terangkat untuk di letakkan di pundak Yuna. Dia merangkul Yuna dengan kasih.
"Ingat, sangat mengingatnya," jawab Yuna. Dia membawa pandangannya pada Leo.
"Aku tidak mau kau kesakitan lagi," ucap Leo tegas. Tidak masalah jika dia hanya memiliki satu putra. Dia sungguh tidak tega melihat istrinya kesakitan luar biasa.
Yuna tersenyum manis sebelum memberikan jawaban, "Itu adalah kodrat seorang wanita," jawabnya. Dia mengambil tangan Leo satunya lagi lalu menggenggamnya. "Memang sakit tapi aku bahagia, itu adalah salah satu anugerah terindah sebagai seorang wanita. Rasa sakitnya digantikan oleh tawa lucu anak-anak kita."
"Kenapa melahirkan begitu menyakitkan untuk wanita? Itu menyebalkan. Tidak cukupkah hanya bersusah payah selama sembilan bulan?" Leo masih memprotes. Masih terbayang bayang bagaimana Yuna kesakitan melewati persalinan yang memakan waktu lebih dari dua puluh empat jam.
"Melahirkan yang pertama sakit, belum tentu yang kedua sakit juga," sahut Mama. "Ada beberapa yang melahirkan dengan tidak merasakan sakit, atau hanya sebentar merasakannya," lanjut Mama. Kemudian beliau menceritakan banyak cerita tentang perempuan-perempuan tangguh.
Yuna menoleh ke arah Leo dan memeluknya. "Kau sudah berjanji padaku untuk memberikan adek cantik buat Baby Arai. Apa kau lupa?" tanya Yuna memanyunkan bibirnya.
"Aku ingat," jawab Leo.
"Lalu, kenapa masih berdebat saja?"
"Hmmm. Baik," Yuna mengangguk. "Tapi janji jangan berubah pikiran lagi. Pokoknya kita harus punya baby cantik," ujar Yuna.
"Ya," jawan Leo mengiyakan. Yuna dan Mama tersenyum lebar. Yuna menepuk-nepuk punggung telapak tangan Leo. Aku yang merasakan sakit, kenapa kau yang trauma, batinnya.
___________
Malam harinya di negara I.
Vano mengantar Neva pulang kerumahnya.
"Selamat malam, Nona Neva," sapa Joe saat ia menghampiri Neva turun dari mobil. "Malam Tuan muda, Vano," sapanya juga pada Vano.
"Malam, Joe," balas Neva. Vano berpikir jika dia benar ikut menginap di sini. Dia tidak akan memberi celah pada Joe untuk bisa dekat dengan Neva, meskipun atas nama diskusi bisnis. Jika mereka berdua harus tetap berdiskusi, paling tidak, mereka tidak berdua-duaan.
"Masuk, Joe," tawar Neva.
"Terima kasih, Nona, tapi saya sedang bermain catur dengan yang lain," tolak Joe halus. Padahal sejujurnya, ia tidak ingin menjadi jomblo malang yang harus menyaksikan dua orang mesra-mesraan. Sementara itu, Vano girang mendenger penolakan dari Joe.
"Ok," ucap Neva. Kemudian, ia meminta satu dari beberapa tentengan yang Vano bawa. "Ini untuk mu dan yang lain juga," kata Neva sambil memberikan cake yang baru saja dia beli.
"Terima kasih, Nona," jawab Joe sopan dan menerima pemberian Neva. Kemudian, Neva dan Vano masuk kedalam.
"Lihat sendiri bukan? Tidak terjadi apa-apa," ucap Neva.
"Ya, karena aku ada bersamamu," jawab Vano.
"Jikapun tidak kamu, dia tidak mungkin bersamaku selain diskusi."
Mereka berdua hanya menghabiskan malam dengan berbincang. Waktu seolah sangat cepat saat mereka berdua bersama. Dan tidak terasa jika ternyata ini bahkan sudah hampir dini hari.
"Sepertinya sebentar lagi, Pesawat papa tiba," ujar Vano setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Neva mengangguk. "Bagaimana jika kita yang menjemput beliau?"
"Ide bagus, yuk," Neva menyetujui. Dia memakai Coat lalu keluar bersama Vano untuk menjemput papanya.
Mobil Vano dengan kecepatan sedang menuju bandara dan saat mereka sampai, Tuan besar Nugraha tepat berjalan keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Neva mengerutkan keningnya, dia sudah berpesan pada supir Papanya untuk tidak menjemput, kenapa ada yang menjemput papanya? Batinnya.
"Papa," seru Neva dengan senyum. Dia berlari kecil menuju papanya dan langsung menghamburkan pelukan.
"Waah, kalian menjemput Papa," ujar Tuan besar Nugraha sambil membalas pelukan putrinya.
"Hu'um," Neva mengangguk. "Padahal aku sudah melarang supir untuk menjemput Papa tapi ternyata papa malah meminta Joe," ucap Neva setelah tahu siapa yang menjemput papanya.
"Hahaa, papa tidak tahu jika kalian akan datang," jawab Tuan besar Nugraha. Kemudian, Tuan besar Nugraha mempersilahkan Joe untuk kembali terlebih dahulu. Sedangkan beliau ikut satu mobil dengan putri dan calon menantunya.
"Kalian berdua belum tidur?" tanya Papa setelah mobil Vano meninggalkan area bandara. Beliau dan Neva duduk di bangku penumpang. Neva menyandarkan kepalanya di bahu Papanya.
"Belum," Neva yang menjawabnya. "Kak Dim tidak mampir kesini?" tanyanya kemudian.
"Tidak, mereka langsung ke pulau S," jawab Papa. "Bagaimana kabar papamu, Vano?" tanya Tuan besar Nugraha pada Vano.
"Papa baik, masih santai dirumah," jawab Vano.
Tuan besar Nugraha mengangguk-angguk.
"Lee bulan depan sudah bisa kembali ke tanah air. Semua hal tentang pernikahan kalian sudah siap. Hanya tinggal menentukan tanggal saja. Bagaimana jika keluaga kita bertemu untuk mendiskusikan tentang ini besok?"
"Tapi mama dan Kakak masih disana, Pa," Neva yang menjawabnya.
"Tidak masalah. Mama sudah setuju jika tanggal pernikahan kalian segera ditentukan. Nanti ... begitu Mama dan Kak Lee sampai. Kita bisa langsung mengadakan prosesnya."
Neva dan Vano mengangguk saja dengan patuh.
_________________
Ke esokan harinya. Di sebuah restoran lokal. Dua keluarga itu bertemu. Keluarga Nugraha dan keluarga Mahaeswara.
Tuan besar Nugraha dengan Neva. Tuan dan Nyonya Mahaeswara dengan Vano. Mereka duduk dan berbincang ringan sebelum membahas tanggal pernikahan.
"Satu minggu setelah kepulangan, Lee," ucap Tuan besar Nugraha menyarankan satu tanggal. Beliau memberikan alasannya kenapa memilih tanggal itu. Satu minggu cukup untuk Leo istirahat lebih dulu setelah kepulangannya. Dan mereka semua menyetujuinya.
"Aku tidak sabar memberi tahu kabar ini pada keluarga besar, rekan dan pada dunia," ujar Nyonya Mahaeswara dengan penuh semangat.
Mulai saat itu, mereka sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.
Pada minggu berikutnya, saat Vano mencatat nama teman-teman yang akan hadir di pestanya, sebuah pesan singkat mampir ke ponselnya. Vano segera membukanya.
"Sayang, apa kau sudah menemukan alamat kak Alea?" pesan dari Neva. Mendapat pesan itu, Vano segera membuat panggilan pada Neva.
"Ayo bertemu, kita bahas ini," ucap Vano begitu panggilannya terhubung
_______________________
Catatan Penulis π₯°π
Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang π₯° padamu π₯°π
Yang punya poin, poin, poin, yuukk... Kuy, Vote ya. Terima kasih. Ilupyu.