
Senin lagi.
Dengan enggan Tiara berangkat ke sekolah.
Semalam dia mendapat kabar dari tantenya perihal mama dan papanya yang ribut lagi. Papa juga dengan tega memukul mamanya. Entah kesalahan apa yang sudah diperbuat mamanya.
Memang semenjak papanya tak punya pekerjaan, ada saja masalah yang muncul di antara kedua orangtuanya. Bahkan hal kecil sekalipun bisa memicu pertengkaran.
Biarpun tak tinggal serumah lagi dengan orang tuanya tapi mendapat kabar seperti itu selalu sukses bikin moodnya berantakan.
Seperti halnya pagi ini. Ingin rasanya bolos sekolah agar bisa menemui mamanya. Pasti mama sedih banget saat ini.Tiara sedih memikirkan nasib keluarganya yang sudah tak harmonis seperti dulu.
Alhasil, Tiara tak berkonsentrasi mengikuti pelajaran matematika.
Tugas di lembar kerjanya di jawab asal-asalan sehingga mendapatkan nilai yang fantastis, empat puluh. Saat dipanggil ke depan, mau tak mau ia harus menerima tatapan kesal dari gurunya plus cemoohan dari teman-teman sekelas. Ada rasa malu di hatinya namun berusaha ia tahan. Kedua sahabatnya pun heran.
"Ra, ada masalah apa sih? kayaknya kamu nggak fokus dengan pelajaran tadi sampai nilai kamu seperti itu. Cerita dong dengan kita-kita". Ucap Dhilla yang sedari tadi terheran-heran dengan nilainya.
Karena setahu Dhilla, Tiara tuh termasuk anak yang cerdas. Dari Sekolah Menengah Pertama Tiara ada di posisi kedua peringkat di sekolahnya.
Hesti yang duduk di bangku belakang juga ikut memajukan kepalanya, ingin tahu.
" Nggak ada kok, cuma lagi males aja nih. Semalam susah tidur jadinya gini deh, badmood". Tiara berusaha berkelit.
" Beneran nih?" Dhilla tak puas dengan jawaban sahabatnya.
" Bener ". sahut Tiara sambil tersenyum.
" Okelah kalo begitu, tapi kalo perlu bantuan call me aja ya".
"Call me aku juga Ra, siap 24 jam. hehehe". Hesti tak mau kalah.
Saat jam sekolah usai, Tiara bergegas menuju ke rumah kontrakan orang tuanya. Setelah sebelumnya memberi tahu kedua sahabatnya.
Sesampainya di depan rumah, Tiara mengucapkan salam dan buru-buru masuk ke dalam. Papanya tak terlihat hanya ada mama yang sedang sibuk memasak di dapur.
Mama kaget dengan kedatangan Tiara.
"Masuk diam-diam seperti maling saja". ujar mamanya saat Tiara mencium tangannya dan memeluknya.
" Tadi udah assalamu 'alaikum dari depan tapi mamanya aja yang gak dengar". celoteh Tiara sambil mencubit pipi mamanya dengan gemas.
" Udah . . udah ntar gosong sayurnya tuh!" seru mamanya yang kelabakan dengan tingkah Tiara.
Tiara terkekeh seraya menghentikan kejahilannya.
Ia kemudian menuju ke kamar orangtuanya setelah itu mengitari rumah. Tapi tak menemukan siapapun.
" Ma, papa kemana sih?" Tiara kembali ke dapur .
" Lagi pergi, katanya ada urusan pekerjaan". jawab mama tak bersemangat.
" Emang papa udah dapet proyek lagi?" ada sedikit harapan yang muncul saat mendengar jawaban mamanya barusan.
Dulunya pekerjaan papanya adalah kepala tukang. Kalau ada proyek pembangunan rumah atau kantor, biasanya papa yang bertanggung jawab langsung dengan pemilik bangunan. Nanti di dalam proses pengerjaan, papa dibantu oleh orang lain yang diajak bekerja sama. Tapi sayangnya karena sudah banyak pesaing, akhirnya papa jarang sekali mendapatkan satu proyek sekalipun. Padahal hanya itu satu-satunya sumber pendapatan papanya.
" Belum tahu tuh, semoga saja papa pulang dengan membawa kabar baik". jawab mama menyadarkan lamunan Tiara.
" Aamiin ya rabbal'alamiin ". ucap Tiara dengan sungguh-sungguh.
\*\*\*\*\*