Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 80. Penjaga Rahasia


Nina terbelalak kaget melihat apa yang menimpa teman perjalanannya. Sungguh, ia tak menyangka itu bakal terjadi.


Terburu-buru ia menghentikan motornya di tepi jalan.


" Aduh . . . " perlahan terdengar rintihan Sandra yang terlihat shock namun mencoba bangkit berdiri.


" Sandra, lo nggak apa-apa kan?" tanya Nina seraya memeriksa tubuh temannya.


" Nggak apa-apa gimana sih nin? lo nggak lihat badan gue yang luka-luka nih?" bentak Sandra kesal dengan pertanyaan yang dianggapnya bodoh.


" Maksudnya bukan gitu . . . ya udah mari gue bantu berdiri". ucap Nina pelan khawatir membuat temannya kesal lagi.


Orang - orang yang ada di sekitar tempat itu mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Ada juga yang sengaja mendekat ke tempat itu hanya untuk merekam ataupun memotretnya tanpa ada niat membantu.


Mau heran tapi begitulah realita kehidupan di jaman milenial ini. Kebanyakan orang lebih mengutamakan berita yang bakal di-posting nanti di semua media sosialnya.


Perlahan namun pasti semua kebiasaan baru itu mulai mengikis hati nurani sebagian besar penduduk bumi ini.


Kembali lagi dengan Sandra yang sedang dipapah oleh Nina.


Melihat kondisi korban yang masih terlihat baik-baik saja, penonton yang tadinya berkumpul perlahan mulai membubarkan diri masing-masing dengan sendirinya.


Karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk Sandra mengendarai motornya, keduanya pun berinisiatif untuk memanggil taksi.


" Nin tadi lo lihat nggak si brengsek yang nabrak gue tadi?" tanya Sandra di sela waktu menunggu kedatangan taksi pesanan mereka.


" Nggak Sandra, soalnya wajahnya tertutup dengan helm gelap. Ditambah lagi dengan kejadian yang begitu tiba-tiba, gue nggak sempat melihat nomor plat motor itu".


" Awas aja kalo sampe ketemu dengan dia lagi. Siapapun dia, gue nggak segan-segan buat perhitungan !" ujar Sandra dengan mata berkilat marah.


" Lo mau gue anterin ke rumah sakit nggak?"


" Nggak usah, gue mau pulang aja".


" Sial banget sih, bikin kulit gue penuh dengan luka. Dasar bajingan !" umpat Sandra lagi.


Nina diam saja, membiarkan gadis di sampingnya tak berhenti mengumpat pelaku tabrakan tadi.


Beberapa menit kemudian, taksi pesanan mereka datang. Nina dengan hati - hati memapah Sandra masuk ke dalam mobil.


" Gue ikut dari belakang aja ya !" ujar Nina seraya menutup pintu mobil itu.


Nina mengangguk mengerti kemudian bergegas menuju ke tempat ia memarkir motornya.


Perlahan ia mengikuti taksi yang membawa Sandra.


Hampir setengah jam barulah mereka sampai di depan rumahnya Sandra.


\*\*\*\*\*


Di tempat lain . . .


" Halo bos, urusan tadi udah beres". ucap seorang cowok tampan menelpon seseorang.


" Bagus, cepat bawa motor itu kembali ke markas !" ujar Rio sambil tersenyum puas.


Rupanya orang yang menabrak motor Sandra tadi adalah orang suruhan Rio.


" Oke bos !"


" Setelah itu, silahkan cek rekening lo. Gue udah transfer sesuai permintaan lo".


" Siap komandan! Thanks ". sahutnya penuh semangat.


" Oke, lo hati - hati ya".


Rio segera menuju kembali ke sekolah. Di balkon atas, Zian sudah menunggu kedatangannya.


" Gimana, urusannya kemarin?" tanya Zian ketika Rio sudah berada di depannya.


" Beres bos".


" Tapi, dia nggak fatal kan?"


" Iya, seperti yang diperintahkan. Luka-luka doang".


" Bagus".


" Heran ya, cewek-cewek gila itu doyan banget ngerjain Tiara". keluh Rio kesal.


\*\*\*\*\*