Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 303_Hanya Berdua


Vano menutup pintu kamar.


Tangannya masih menggenggam tangan Neva. Tangan gadis ini terasa dingin.


"Hmmm, kenapa di tutup," tanya Neva.


"Tidak apa-apa," jawab Vano. Dia mengajak Neva untuk masuk kedalam. Jantung Neva terasa mau copot saat kakinya mengikuti langkah Vano untuk lebih masuk kedalam.


Vano mengajak Neva duduk di sofa. Dia menyalahkan tv. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Neva. Ujung telunjuknya sesekali mengusap punggung tangan Neva dengan lembut. Usapan lembut yang membuat Neva semakin berdebar. Dia menunduk.


"Mau kau duluan atau aku duluan?" tanya Vano. Dia menoleh ke arah Neva dan memperhatikannya. Tangannya terangkat untuk menyeka keringat yang ada di dahi Neva. "Kau berkeringat," katanya. Padahal sedari tadi mereka ada di ruangan ber AC. "Kau tidak apa-apa?"


"Hmm, tidak, tidak apa-apa," jawab Neva dengan gemetar. Dia grogi setengah mati. Dia masih menyembunyikan wajahnya. "Mungkin, karena aku belum mandi saja," lanjutnya gugup. Disini, di kamar ini, hanya ada mereka berdua.


"Jadi, mau kau dulu atau aku duluan?" tanya Vano lagi.


"Aku," Neva menjawabnya dengan cepat.


Vano mengangguk. Kemudian, melepaskan genggaman tangannya. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, tangannya membuka pintu kamar mandinya.


"Silahkan," ucapnya mempersilahkan.


Neva mengangguk pelan dan dengan perlahan dia melangkah menuju kamar mandi.


"Permisi," katanya sopan saat ia melewati Vano untuk masuk ke dalam kamar mandi. Vano mengangguk dengan senyum. Kemudian, Neva segera menutup.


"Huff ...." Neva meniup nafas lega. Dia mengatur nafas dan irama jantungnya. Kemudian, dia segera membersihkan dirinya di bawah guyuran shower yang hangat.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Neva perlahan keluar dari kamar mandi. Namun sebelum itu, dia menata hati, degupan jantung dan nafasnya terlebih dahulu.


Dia melangkah menuju sofa. Disana ada Vano yang duduk menyaksikan televisi dan sudah ada banyak makanan di atas meja. Dia berdiri di sebelah sofa.


"Hmmm, aku, aku sudah selesai," ucap Neva datar karena dia begitu grogi. Ucapan yang membuat Vano langsung mengalihkan pandangannya pada Neva. Cantik ... batinnya. Jantungnya berdegup.


"Duduklah," Vano menepuk pelan sofa di sampingnya. Neva tersenyum dan mengangguk. Dia duduk di samping Vano tapi sedikit menjauh. Vano tersenyum dan memberinya sisir. Dia sudah menyiapkannya.


"Terima kasih," ucap Neva setelah menerima sisir dari Vano. Vano masih terus memperhatikannya. Jantungnya masih berdegup dengan kencang. Aroma wangi dan gerakan Neva yang mengikat rambutnya membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Jiwanya bergejolak. Dia segera mengalihkan pandangannya pada televisi.


"Sayang," panggilannya tanpa menoleh ke arah Neva.


"Ya?"


"Jika kau ingin cemilan, makanlah," ucap Vano, kini dia memperhatikan cemilan di atas mejanya.


"Iya," jawab Neva.


"Ok, aku mandi sebentar," kata Vano selanjutnya. Dia beranjak lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan dirinya di sana.


Neva memakan keripik buah. Kemudian, dia memperhatikan seluruh penjuru kamar ini. Dari sudut ke sudut. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan bufet yang menyimpan foto Vano disana. Dia memperhatikannya satu persatu. Dia tersenyum lebar melihat satu foto saat Vano masih kecil.


"Apa ini fotomu?" tanya Neva sambil menunjuk foto usang.


"Ya, aku berumur lima tahun," jawab Vano. Dia berdiri di belakang Neva dan ikut memperhatikan foto dirinya. Tangannya memeluk Neva dari belakang. "Apa aku tampan?" tanyanya.


Neva terkekeh mendengar pertanyaan itu. Dia melepaskan pelukan Vano lalu membalik badannya, memperhatikan wajah Vano secara seksama. "Jelek," jawabnya setelah beberapa detik berpura-pura memindai wajah Vano.


Vano tertawa ringan lalu lebih mendekatkan dirinya pada Neva.


Aroma mereka berdua sangat wangi. Indra penciuman Neva termanjakan oleh harum tubuh Vano yang baru saja selesai mandi. Pun dengan Vano. Gadis di depannya ini terlihat begitu cantik tanpa polesan apapun. Tangannya mengusap pipi Neva dengan lembut. Sentuhan tangannya mengandung magnet untuk Neva. Dia tidak bisa menjauh. Tangannya menyentuh tangan Vano yang ada di pipinya.


Vano menurunkan kepalanya, bibirnya mencium pipi Neva dengan lembut. Lalu membuat kecupan pada telinga Neva.


"Sayang, aku mencintaimu. Mari segera menikah," bisiknya dengan halus dan tulus. Jantung Neva berdegup dengan kencang. Bisikan itu menelusup dalam hatinya. Ia membeku, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya diam dengan jantung yang rasanya ingin melompat ke luar. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Vano.


Vano menelan ludahnya. Berada lebih dekat dengan Neva, membuat jiwa lelakinya kembali bergejolak. Aroma wangi Neva yang tanpa parfum seakan memabukkan dirinya. Bibirnya kembali membuat kecupan di pipi Neva lalu beralih ke bibir gadis itu. Menciumnya dengan lembut. Jemarinya menyusup diantara rambut panjang Neva. Memegang kendali atas kecupannya. Semakin menekan, lidahnya berlari dan terus berlari untuk semakin terpaut. Dia memang beberapa kali mencium bibir Neva tetapi tidak pernah bermain dengan lidahnya. Dia bahkan belum pernah merasakan debaran dahsyat seperti saat ini.


"Sayang," panggil Neva saat Bibir mereka terpisah sebentar, panggilannya dengan nafas yang hampir habis. Vano menatapnya, kenapa ... kenapa disaat seperti ini gadis ini malah memanggilnya dengan sebutan sayang, panggilan yang hampir tidak pernah dia dengar dari bibir gadis ini.


Vano kembali menunduk, dan kembali mengambil ciumannya. Tangannya beralih ke pinggang Neva lalu mengangkat gadis itu. Membawa Neva ke ranjang putih miliknya.


Jantung Neva tidak bisa digambarkan lagi, dia hanya mampu memejamkan matanya. Dia seperti terhipnotis, terjerat pada mantra setiap kecupan yang Vano berikan. Dia seakan telah terjatuh. Ini ciuman gila yang pernah ia rasakan.


Tangan Vano kembali menyusup di antara rambut gadis itu. Tuhan tolong sadarkan aku dari sihir ini, dari sesuatu yang salah. Bisik hati kecilnya. Vano segera menyudahi ciumannya.


"Sayang aku minta maaf," ucapnya dengan rendah dan mencoba untuk menetralkan perasaannya yang bergejolak. Tangannya mengusap pipi Neva dengan lembut. "Maafkan aku," ucapnya lagi.


Neva mengangguk samar.


Vano mengusap rambutnya dengan kasih. "Aku mencintaimu, aku minta maaf," ujarnya. Mata mereka bertemu.


"Hu'um," Neva mengangguk. Tangannya memeluk Vano. Dia sungguh mencintai laki-laki ini. Sungguhkah jawaban dari perasaannya adalah pernikahan. Bukankah pernikahan itu sesuatu yang mengikat dan membuat kita tidak bisa lagi menjadi diri kita. Atau bagaimanakah wujud pernikahan itu?


Neva ingat, ada beberapa temannya yang menikah lalu dia terkekang di rumah. Ada juga temannya yang menikah lalu sering cek cok dengan suaminya. Laki-laki bisa berubah tidak manis lagi setelah menikah. Lalu ... belum lagi memikirkan tentang baby. Kepalanya menjadi pusing jika memikirkan itu. Dia belum siap untuk sampai pada jenjang itu. Bagaimana jika setelah pernikahan, perasaannya dan Vano berubah? Dia galau.


______


Catatan Penulis πŸ₯°


Maaf πŸ™


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ˜˜ padamu πŸ₯°πŸ™ Abang Leo insyaallah keluar besok ya. Um... aku kasih gambar Abang Leo deh πŸ™ˆπŸ™ˆ Tapi sebelumnya mohon maaf jika visualnya tidak sesuai dengan apa yang temen2 bayangkan. Mungkin tampan versi ku dan Versi mu berbeda tapi mudah-mudahan sih cocok.


Maaf juga jika visual, Vano, Yuna, Kiara dan Neva tidak sesuai apa yang temen2 bayangkan.


Lanjuuut ... kalian luar biasa


Bersambung.