Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 334_Berjuanglah Kita Bersamamu 2


Setelah belajar singkat beberapa jam dengan papa dan kakaknya, Neva duduk di balkon kamarnya, di rumah Leo. Malam ini dia menginap dirumah kakaknya. Pun dengan mama dan papanya. Neva menimang ponselnya dan memperhatikan chatnya.


"Sudah makan?" pesan Vano pada aplikasi chat pintar. Ada enam pesan yang masuk dari Vano dengan tulisan yang sama. Dikirim saat pagi, siang, sore dan bahkan malam. Neva meletakkan tangannya di dagu.


"Balas tidak?" gumamnya. Dia mengetik, tetapi kemudian menghapusnya lagi. Lalu kembali menon-aktifkan ponselnya.


Neva beranjak, masuk kedalam kamar dan merebahkan dirinya di ranjang. Memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Namun yang ada hanya bayangan Vano saat mengucapkan kata break dalam hubungan mereka. Jantungnya berdegup dengan sedih. Dia membuka matanya perlahan dan mengambil ponselnya. Neva memencet tombol on.


"Aku tahu aku salah, aku tahu kau kecewa padaku tapi segampang itukah kau ingin jauh dariku. Merenggangkan hubungan kita. Haruskah kata itu keluar dan menjadi keputusanmu disaat aku merasa cemburu. Aku tahu aku salah, sangat tahu, dan sekarang ... aku bahkan merasa tidak pantas untukmu," ucapnya dalam hati.


Dan pada akhirnya dia hanya membalas, "Sudah, Kak," hanya dua kata itu yang ia kirim sebagai balasan untuk Vano.


Saat pesan Neva masuk kesana. Vano sedang melakukan panggilan dengan papanya. Jadi dia tidak mengecek pesan yang baru saja masuk.


Neva memperhatikan tanda pada chat Vano. Online. Dan dia tidak segera membukanya. Neva mengetik lagi tetapi menghapusnya lagi, mengetik lagi, menghapusnya lagi, entah hingga berapa kali.


Rasa rindu menyakiti hatinya, rindu yang saat ini enggan untuk ia nikmati. Bahkan, jika bisa ... ia tidak ingin rasa rindu ini datang pada hatinya.


Namun, semakin ia berontak, rasa itu semakin menusuk kedalam. Senyumnya, candanya, rayuannya, perhatiannya ....


"Arghhh ... aku gila," Neva berteriak dengan kesal.


Dan ... pada akhirnya, hati memerintahkan dirinya untuk menekan tombol call pada ponselnya.


Dengan dada yang berdegup, ia meletakkan ponsel ditelinganya.



Tidak terjawab. Kemudian, Neva memperhatikan layar ponselnya. "Sedang dalam panggilan lain," Neva tersenyum dengan samar melihat itu. Lalu dia menekan tombol merah dan kembali menonaktifkan ponselnya dengan kecewa.


"Aku harus menyibukkan diri agar tidak gila karena merindukannya," ucap Neva dengan semangat.


Disana, ada getar lain pada ponsel Vano saat panggilan Neva masuk. Namun saat itu, Tuan besar Mahaeswara tengah berbicara dengan serius, akan tidak sopan jika Vano memotong pembicaraan mereka. Beberapa menit kemudian, Vano segera menyudahi panggilannya pada Tuan besar Mahaeswara.


Vano membuka chatnya pada Neva.


"Sudah Kak," dia membaca balasan pesan Neva. Sedih, itu yang ia rasakan. Neva sungguh menjadi jauh dengannya. Gadis itu bahkan kembali memanggilnya dengan sebutan Kakak. Vano segera menghubungi balik Neva.



Namun, panggilannya tidak juga terhubung. Tentu saja, itu karena Neva sudah menonaktifkan ponselnya. Vano mencobanya berkali-kali dan tetap masih tidak terhubung. Kemudian, dia menyambar jaket dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Nugraha. Tak butuh waktu lama, dia perlahan memarkirkan mobilnya di seberang jalan rumah keluarga Nugraha. Tepi jalan yang bisa melihat langsung kearah kamar Neva.


Vano menurunkan kaca mobilnya separo dan memperhatikan kamar yang sudah gelap. Dia tersenyum dalam sudut bibirnya. Dia rindu.


"Selamat istirahat, gadis," ucapnya lewat sebuah pesan singkat yang ia kirim malam ini.


________


Di rumah Tuan muda Leo.


Pada pukul empat dini hari. Dimas datang dengan wajah cemas dan sedih. Dia langsung menghamburkan pelukannya setelah bertemu dengan Leo.


"Kau kuat. Kak Dim percaya kau akan sembuh," ujar Dimas menyemangati. Leo mengangguk.


"Pasti Kak Dim. Aku akan berjuang melawan ini," jawab Leo. Dimas mengusap punggung Leo dengan perhatian. Kemudian, dia langsung tenggelam di ruang belajar bersama papa.


Merencanakan pengobatan Leo dan membahas perusahaan mereka yang akan ditinggal beberapa bulan kedepan.


Mereka telah memilih orang-orang kepercayaan.


Pada pagi hari, setelah mereka sarapan. Asisten rumah tangga dengan sigap menata barang-barang perlengkapan majikannya. Mereka akan berangkat ke bandara nanti jam sembilan.


"Papa pamit pulang dulu, kita bertemu di bandara," ujar Papa pada Leo.


Kemudian Neva yang langsung memeluk kakaknya. "Maaf tidak bisa mengantarmu," ucapnya dengan sedih. "Kau harus selalu ingat janjimu," lanjutnya.


"Selama aku menjalani pengobatan. Kau harus jadi adik manis, okey," ucap Leo. Dia membalas pelukan Neva.


"Pasti," jawab Neva. "Segeralah sembuh, dan cepat kembali kesini," lanjutnya. Dia menahan air matanya. Dia tidak ingin melemahkan Leo. "Ingat janjimu padaku."


Leo melepaskan pelukannya. "Ok," jawabnya.


Kemudian, Neva memeluk Yuna dan Yuna langsung membalas pelukannya.


"Kak, baik-baik disana. Kakak juga harus jaga kesehatan," ucap Neva.


Yuna mengangguk, "Kau juga baik-baik disini ya," jawab Yuna. Kemudian mereka melepaskan pelukan. Neva meraih tangan Yuna dan menggenggamnya. "Kak, terima kasih sudah hadir dalam hidup Kak Lee. Terima kasih sudah begitu mencintainya. Kak Yuna wanita yang hebat, aku menyayangimu," ucap Neva sepenuh hati. Dan setetes air mata jatuh. Namun ia segera menyekanya. "Hmm aku tidak boleh menangis. Hari ini harus diisi dengan semangat," ucapnya.


"Semangat," jawab Yuna. Kemudian, Neva beralih ke Baby Arai yang berada di gendongan mamanya.


"Tante cantik akan selalu merindukan mu sayangku," Neva mencium pipi Baby Arai dengan gemas dan berulang-ulang. "Jangan rewel ya disana," lanjutnya. Kemudian, dia pamit untuk berangkat lebih dulu ke kampus.


___ Pada pukul sepuluh pagi. Pesawat mengudara membawa keluarga besar Nugraha menuju Negara A. Berusaha untuk mencari pengobatan yang terbaik. Do'a Mama, Papa, Kakak, adik dan istrinya selalu menggema dalam hati. Tidak pernah sedetikpun hati mereka lupa untuk meminta yang terbaik pada Tuhan semesta alam.


Leo J ... Berjuanglah, kami bersamamu.


____________


Setelah pulang kuliah, Neva langsung menuju kantor Leo. Ada rasa sedih ketika dia menapakkan kaki di kantor Leo. Dadanya kembali terasa sesak. Hidungnya kembang kempis menahan tangis.


"Kak Lee, kau harus sembuh," ucapnya dalam hati. Neva mengambil nafasnya dengan dalam dan menata hatinya yang berkecamuk. Kemudian, dengan langkah anggun yang pede, ia memasuki kantor kakaknya.


Asisten Dion menunggunya di pintu utama.


"Selamat siang Nona muda," sapanya sopan. Dia membungkukkan badannya.


"Siang," jawab Neva dengan senyum ramah. Kemudian Dion mengajaknya langsung keruangan rapat. Rapat yang seharusnya diadakan pagi tadi tetapi harus diundur karena harus menunggu kehadiran Neva.


Dengan langkah anggun penuh wibawa dia memasuki ruangan rapat. Semuanya langsung berdiri dan memberi salam untuknya.


"Selamat, siang semuanya. Maaf membuat Tuan-tuan menunggu," ucapnya ramah, sopan dan anggun. Dia turut membungkukkan badannya membalas salam. "Silahkan duduk kembali," ujarnya mempersilahkan.


Kemudian, asisten Dion meletakkan beberapa dokumen didepannya. Neva membukanya dan membacanya secara singkat. Ini ... sangat tepat seperti yang semalam dia pelajari dari Papa dan Kakaknya.


Dia diam, memperhatikan beberapa klien yang presentasi. Lalu baru kemudian, dia yang memberikan tanggapan dan negosiasi.


Rapat berlangsung selama tiga jam. Dan selesai tepat pada pukul 15.00.


"Terima kasih atas kehadiran dan waktunya. Senang bisa berdiskusi dengan Tuan-tuan," ucap Neva. Setelah sapa perpisahan, rapat bubar.


Neva kembali menjatuhkan dirinya di kursi.


"Huff," dia meniup poninya dengan lega. Kemudian menyesap minumannya.


"Nona muda, keren," Dion memberi dua jempol untuk Neva.


"Apa aku terlihat kekanak-kanakan atau terlihat bodoh dan tidak bisa menjelaskan dengan benar?" tanya Neva dengan cemas. Ini adalah pertama kalinya dia memimpin rapat. Biasanya dia hanya bertugas untuk menghadiri pesta dan menyapa para konglomerat.


"Tidak. Nona muda top. Elegan dan keren," jawab Dion. "Aku langsung ngefans," lanjutnya dengan senyum. Neva tertawa kecil mendengar ucapan Dion. Kemudian, seseorang yang dari tadi diam dan masih sibuk dengan laptopnya, berdiri dan memperkenalkan diri.



"Selamat sore Nona muda. Perkenalkan, saya Joe Auxliary asisten pribadi Tuan besar Nugraha," ucapnya memperkenalkan diri.


Neva mengangguk. "Salam kenal, Kak Joe Auxliary," jawab Neva dengan ramah.


"Panggil saya Joe saja Nona," ujar Joe. Dia dengan sopan menundukkan wajahnya.


"Hmm, ok. Joe. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Neva.


"Siap Nona," Joe dengan sigap menjawabnya.


"Ok, silahkan duduk kembali," Neva mempersilahkan.


"Terima kasih Nona," jawab Joe. Kemudian, dia kembali duduk. Dan menggeser laptopnya untuk sedikit lebih dekat dengan Neva. Dia memperlihatkan grafik tentang bisnis yang mereka bahas hari ini dan ada banyak sekali PR yang harus dikerjakan.


"Pusingnya ...." Neva tersenyum lebar dengan rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya.


"Semangat, Nona," Dion memberi semangat.


"Semangat Nona," Joe ikut memberi semangat.


Neva memperhatikan mereka satu persatu. Kemudian dia tersenyum.


"Hmm karena hari ini hari pertamaku, bagaimana jika kerjaan ini kalian berdua yang mengerjakan," ucapnya pelan dengan berakting seolah ia sakit kepala. Dion dan Joe saling pandang sebentar.


"Baik Nona," jawab mereka berdua kompak.


"Bonus akhir bulan tambah nih," gumam Dion dengan sengaja. Neva terkekeh mendengar itu.


"Bisa diatur," jawab Neva. "Kita bagi tiga, okey," lanjutnya menggoda. Mana ada boss minta bagian bonus karyawan.


"Teganya," Dion menepuk keningnya. "Bukan ditambah malah minta dibagi," lanjut Dion dengan muram.


Neva tertawa, "Hahaa, ok, ok. Kalian berdua akan menikmati bonus tambahan akhir bulan," ucap Neva.


"Nona muda, terbaik," Dion mengacungkan jempolnya.


"Nona muda keren," Joe ikut memberinya jempol. Dion dan Joe tersenyum lebar kemudian melakukan toss. Joe tersenyum dalam diam dan memperhatikan Neva. Gadis ini, sesaat bisa begitu berwibawa, kemudian bisa begitu lucu, lalu bisa dengan hangat bersahabat. Menawan. Nona muda bisa dengan cepat memposisikan dirinya.


"Aku pamit pulang lebih dulu," ucap Neva setelah dia mengirim pesan pada Lula. Dia ingin berbagi sesak dalam hatinya.


"Mari saya antar Nona," Joe menawarkan diri. Ya ... selain mendapat mandat untuk mendampingi Neva di perusahaan. Joe juga, mendapat perintah untuk menjadi bodyguard Nona muda ini.


_________


Catatan penulis πŸ₯°


Yuhuuuu. Aku pake Visual Artis Indo 😍 Setelah searching semalaman nyari artis Indo yang dewasa, tinggi dan keren.


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang. Yang punya poin lebih boleh dibagi ama othor πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜ Vote yess. ilupyu 😘 Terima kasih semuanya πŸ™


Gambar Ilustrasi/Visual diambil dari internet dan Aplk Pint, jadi harap maklum jika ada kesamaan. πŸ™