Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 145_Menyimpan Pertanyaan


Di kampus Neva.


"Sayang, Tante menunggu mu di depan kampus," pesan dari Nyonya Mahaeswara pada Neva. Pesan ini membuat mata Neva langsung melebar dan membuatnya bahagia. Dia segera memberikan ponselnya pada Lula.


"Huwaaahh... Miss Cupit terbaek," Lula berteriak girang setelah membaca pesan di ponsel Neva. Neva tersenyum dan mengambil kembali ponselnya. "Hmm, semangat bossque." ucap Lula.


Neva melangkah meninggalkan Lula dan dengan sopan menyapa Nyonya Mahaeswara. Dia menjadi sangat menyukai Nyonya satu ini.


Seperti yang sudah dia pikirkan, Nyonya Mahaeswara membawanya ke kantor Vano. Beliau langsung mengajaknya masuk ke dalam ruangan Vano.


Vano tidak ada di ruangannya sekarang. Dia sedang melakukan meeting di luar, itu sudah disampaikan oleh Resepsionis ketika Nyonya besar datang. Mereka duduk di sofa di ruangan Vano.


"Sayang, akhir-akhir ini Vano sangat sibuk dan mungkin tidak makan dengan benar. Tante titip ini pada mu ya sayang," Nyonya Mahaeswara menyentuh bungkusan yang dia letakkan di atas meja. Neva mengangguk pelan. "Kau tidak keberatan bukan jika harus menunggunya sebentar disini?"


"Iya, Tante."


"Gadis, baik." Nyonya Mahaeswara mengusap tangan Neva lembut. "Sayang, Tante tinggal dulu ya. Tante sudah mengabari Vano jika kau ada di sini."


Dan Nyonya Mahaeswara pergi meninggalkannya. Neva memperhatikan ruangan Vano secara menyeluruh, dan dia tersenyum ketika melihat boneka Spongebob kecil berada di meja Vano.


"Astaga... laki-laki yang terlihat sangat dewasa itu ternyata menyukai Spongebob dan bahkan memiliki bonekanya, hahaaa... aku tidak habis pikir, itu kekanak-kanakan bukan?" Neva tertawa geli melihatnya. Satu jam dia menunggu di dalam ruangan Vano, sangat membosankan sebenarnya namun ketika dalam hati sedang menunggu seseorang, itu bukanlah apa-apa. Untuk mengatasi kejenuhannya, dia memainkan game di ponselnya.


Vano membuka ruangannya dengan pelan. Dia tahu ada Neva di dalam, Ia masuk dan melangkah pelan menuju sofa tempat dimana Neva tengah menunggunya. Dia duduk di depan Neva dengan senyum di wajahnya. Kemudian, dia melepas jas miliknya dan meletakkannya di tubuh Neva dengan hati-hati. Iya... Neva tertidur saat ini, itu karena dia terlalu lama menunggu. Sekarang bahkan sudah hampir senja.


Setengah jam kemudian, perlahan Neva membuka matanya, tangannya menyentuh jas yang menyelimutinya, dan dia segera duduk.


"Kau sudah bangun?" suara khas Vano menyapanya. Dia duduk di meja kerjanya, tangannya berhenti dari kesibukannya, ia menoleh ke arah Neva.


"Eh, hehee... iya," Neva menjawab dengan malu. Dia segera merapikan rambutnya. "Emm, jam berapa sekarang?" Neva berucap pelan dan melihat jam di pergelangan tangannya. "Ooh.. ya ampun, ini sudah jam setengah tujuh."


"Maaf membuat mu menunggu. Apa kau lapar?" Vano beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Neva.


"Tidak," jawab Neva.


"Serius?"


"Sedikit bohong sih," jawabnya yang membuat Vano tertawa renyah.


"Okey, ayo kita makan malam di luar."


"Okey" Neva setuju. Dia melirik meja kerja Vano tapi sudah tidak ada si kotak berwarna kuning disana. Padahal dia ingin meledeknya.


Vano, sudah menyimpan boneka kecil Spongebob itu ditempat yang mungkin tidak akan dia buka, dia tidak ingin membuangnya tapi juga tidak ingin melihatnya jadi dia menyimpannya ditempat yang mungkin tidak akan dia buka.


******


Yuna dan Leo duduk berdampingan di sebuah restoran lokal, mereka sedang menunggu Karel. Yuna meraih tangan Leo dan menggenggamnya di bawah meja. Dia tidak mau Tuan manis ini berubah menjadi Tuan pecemburu .


"Sayang, aku mencintai mu," ucapnya manis dan memerkan senyumnya. Leo menoleh ke arahnya dan memencet hidungnya dengan gemas.


"Jangan mesum...," Yuna langsung berpaling dengan senyum. Dan kemudian Karel datang dengan seorang perempuan di sampingnya.


"Selamat malam Tuan muda Leo J, Yuna. Maaf membuat kalian menunggu."


"Selamat malam Kak Er, kita juga baru sampai kok," Yuna menjawabnya. Dan kemudian, cewek di samping Karel langsung berbicara.


"Oohh... sungguhkah ini adalah Tuan muda Leo J itu?" ucapnya, dia memperhatikan Leo dengan pandangan terpesona. Yuna menatapnya, dia mencoba mengingat-ingat siapa gadis ini, wajahnya cantik dengan rambut pirang dan kulit yang mulus, dia sangat tinggi, bahkan dia sejajar dengan Karel. Yuna tahu dia artis. "Ya ampun ternyata dia lebih tampan dari apa yang mereka ceritakan. Selamat malam Tuan muda Leo J, saya Catherine. Salam kenal," Catherine membungkukkan badannya dan kemudian mengulurkan tangannya. Namun, tidak ada tanggapan dari Leo. Dia masih datar dan tidak menoleh sedikitpun, seperti biasanya, dia hanya mengangguk sebagai tanggapan. Yuna memperhatikan Catherine dan Leo secara bergantian.


"Oh... salam kenal, saya Yuna," Yuna menyapanya ramah. Melihat Leo yang tidak berniat membalas uluran tangan Catherine, akhirnya Yuna yang membalas uluran tangannya. "Senang bisa bertemu dengan mu Catherine. Aku suka semua lagu-lagu mu, suara mu sangat indah dan merdu, suara mu dan lagu mu bisa merasuk ke dalam hati pendengarnya, aku benar-benar suka," lanjut Yuna dengan semangat. Karel menahan tawanya mendengar ucapan Yuna, namun tidak tertahan, dia sedikit mengeluarkan suara.


"Yuna, Catherine adalah artis sinetron, dia bukan penyanyi," jelas Karel dengan tawa kecil.


"Upss," Yuna menarik senyum di bibirnya dan ingin tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Ya ampun, dia salah menebak, dia menertawakan dirinya yang sok tahu dan itu membuat sudut bibir Leo berkedut, dia menahan senyumnya melihat tingkah konyol Yuna.


"Maaf Catherine, bukan aku tidak mengenal mu. Itu karena aku memang jarang sekali menonton sinetron," Yuna menjadi sedikit canggung karena dia salah tebak.


"Tidak apa-apa, Nona Yuna." Catherine menjawab dengan manis.


"Silahkan duduk," Yuna mempersilahkan. Kemudian mereka pesan makanan ringan.


"Maaf jika aku kesini bersama Catherine, kita tidak sengaja bertemu di depan tadi," Karel segera menjelaskan. Dia menjadi tidak enak pada Leo karena Catherine yang tidak diam dan malah mengajaknya bersalaman.


"Emm, ku pikir kalian pacaran," Yuna menanggapi.


"Tidak," jawab Karel. Lalu dia mengeluarkan sesuatu. Dia tidak ingin berlama-lama, ia tidak mau kena semprot Leo lagi. "Emm, Ini." dia memberikan hadiah yang dia janjikan pada Yuna. Buku biografi artis papan atas Bollywood dengan tanda tangan aslinya. "Tuan muda Leo J, anda tidak keberatan bukan?" takut menyinggung Leo, Karel bertanya dengan sopan. Leo mengangguk memberinya izin untuk memberi hadiah pada Yuna. Karel tersenyum dan Yuna menerima hadiahnya dengan senang.


"Terima kasih Kak Er...," ucapnya dengan senyum.


"Nona Yuna, anda sangat beruntung. Bagaimana anda bisa memenangkan hati Tuan muda Leo J? Itu membuat semua wanita merasa iri. Aku bahkan baru tahu jika Tuan muda Leo J sudah menikah. Dan wanita beruntung itu adalah anda Nona Yuna."


"Beruntung... Emm, iya rasanya memang sangat beruntung," Yuna menjawab dengan ramah.


"Tuan muda Leo J, saya sungguh merasa terhormat bisa bertemu dengan anda. Anda menjadi salah satu pangeran Ibu Kota yang menjadi pembicaraan para artis. Tuan muda Leo J yang misterius. Emm bolehkah saya mengambil foto anda?" Catherine sangat bersemangat, dia harus mendapatkan foto Leo, dengan begitu dia bisa pamer pada teman-temannya.


"Hmm Catherine, dia sangat jelek. Bagaimana jika mengambil foto ku saja," Yuna takut Catherine kecewa karena Leo pasti enggan melakukan itu, jadi Yuna segera menjawabnya. "Wajah ku tidak kalah misterius dari dia."


"Siapa yang memberi mu izin untuk foto?" Leo akhirnya bersuara, dia berbicara pada Yuna. Wajah Yuna hanya untuknya, tidak boleh ada yang mengambil fotonya dan kemudian dipandang bersama-sama, oh Tuan suami yang maha posesif. Yuna mengangguk dan tidak berbicara lagi dengan Catherine. Dia tahu, Leo sangat tidak nyaman dengan ini, dia pasti akan memprotes seperti dulu ketika bertemu dengan teman-teman Yuna.


"Katherine tolong jaga sikap mu," Karel berbisik pada Katherine. Dia menyesal karena menyetujui Katherine untuk bersamanya. Karel segera berdiri dan pamit. Itu membuat Catherine kesal, dia masih ingin berbincang-bincang di meja itu. Di ujung pintu sebelum dia keluar, dia mencuri foto Leo dan Yuna. Yess... dia berhasil mendapatkan foto ini meskipun wajah Leo hanya terlihat dari samping.


"Karel kau hebat," Katherine memberinya dua jempol setelah mereka keluar. "Bagaimana kau bisa berteman dengan Tuan muda Leo J yang misterius itu? Kabar yang beredar, dia adalah laki-laki yang sangat susah untuk di ajak berteman."


"Istrinya adalah teman ku waktu kecil." jawab Karel singkat dan meninggalkannya. Dia merasa sangat malu dan tidak enak pada Leo karena kelakuan Catherine. Dia tahu Leo... memang Leo sedingin itu, laki-laki itu hanya akan cerewet jika bersama Yuna.


Mereka berjalan keluar dengan bergandengan, itu setelah Yuna merayunya agar mengembalikan mood manisnya. Leo selalu saja kehilangan mood manisnya jika bertemu atau mengalami sesuatu yang membuatnya tidak suka.


Sebelum mereka benar-benar keluar dari restoran, mata Yuna melihat punggung yang dia kenal, itu adalah punggung Vano. Kemudian, matanya juga melihat gadis yang duduk di depan Vano, itu adalah Neva. Setelah benar-benar memastikan bahwa itu adalah mereka, Yuna segera berpaling dan menyimpan semua pertanyaan dalam hatinya.