Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 296_Pagi Pertama 2


Leo dengan hati-hati mengambil Baby Arai dari ranjang. Dia menggendongnya, membawanya ke bawah dan meletakkan di box bayi di ruang tengah. Ada asisten rumah tangga yang sudah siap menjaganya. Kemudian, Leo memeluk pinggang Yuna untuk menuju ke ruang makan. Papa, Mama, Neva dan Vano sudah ada di sana. Yuna memberi salam pada mertuanya lalu duduk ditempat yang sudah Leo siapkan untuknya. Dia sedikit membawa pandangannya pada Vano, dia malu setengah mati pada Vano. Dia yang salah menggandeng tangan dalam remang cahaya dini hari tadi.


Mendapat tatapan dari Yuna, Vano tersenyum kearahnya. Yuna mengangguk sedikit sebagai tanggapan. Kemudian, mereka makan dengan tenang.


Ini adalah pagi pertama Vano sarapan dengan keluarga Nugraha. Ini juga pagi pertama Neva sarapan dengan Vano dan keluarganya. Dia melihat kearah Leo, kemudian Yuna. Mereka berdua sangat manis seperti biasanya. Leo yang dengan telaten melayani Yuna.


Dia ingat apa yang Kakaknya ucapkan, bahwa mereka telah berdamai dengan keadaan, mereka telah menghapus masa lalu. Ini akan mudah, jalan kisah ini akan mudah. Sang pemilik hati, tetap menjaga keutuhan cinta yang suci, tidak dibiarkan untuk memiliki celah tentang sesuatu yang lain selain cinta untuk pasangannya.


Neva menoleh ke arah Vano dan tepat saat Vano juga menoleh ke arahnya. Mereka bertukar pandangan dan mengulum senyum. Kemudian melanjutkan sarapan.


Setelah selesai sarapan, mereka semua berkumpul di ruang tengah. Ruangan yang luasnya hampir setengah dari lapangan bola. Leo duduk di samping Yuna dan merangkul pundaknya. Vano dan Neva duduk di sofa di seberang mereka. Sedangkan mama duduk di samping box Baby Arai. Tangan beliau mengusap-usap lengan mungil Baby Arai agar lebih nyenyak tidurnya.


Vano mengecek ponsel miliknya dan ada pesan baru dari Arnis. Dia membalasnya sebentar lalu kembali meletakkan ponselnya di saku.


"Satu jam lagi aku akan mengantar Arnis kebandara, apa kau mau ikut?" tanya Vano pada Neva.


"Ya, boleh. Aku belum mengucapkan terima kasih padanya," jawab Neva. Papa pamit terlebih dahulu karena ada beberapa urusan dengan temannya. "Kak Lee, kemarin kakak sempat bertemu dengan Kak Arnis tidak?" Neva bertanya pada Leo. Leo mengangguk sebagai jawaban.


"Ya," katanya, "Arnis mantan pacar Vano," sambung Leo. Mata Neva dan Vano terbelalak bersamaan.


"Oh ya?" seru Yuna. Dia menoleh ke arah Leo. Leo mengangguk membenarkan.


"Gosiiip. Hoax itu hoax," sahut Vano segera masih dalam keterkejutannya. Neva melebarkan matanya untuk menatap kakaknya. Dalam hati dia berbicara, sungguh kakaknya telah berubah. Dia mau membahas sesuatu yang tidak penting, dan bahkan meledek Vano. Kemudian, dia tersenyum. Ini berarti bahwa Leo memang telah menerima Vano dalam keluarga besarnya.


"Arnis teman SMA kalian kan?" tanya Yuna. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Leo.


"Iya, hanya teman sampai sekarang," jawab Vano. Vano menoleh ke arah Neva. "Kau percaya aku atau kakak mu?" tanya Vano.


"Ummm, aku percaya kamu dooong," jawab Neva. Leo terkekeh.


"Adik durhaka," katanya. Mereka mengobrol dengan santai. Kecanggungan yang pernah terjadi kini perlahan mencair. Saling menerima kekurangan dan berdamai dengan masa lalu. Ya, mereka tengah menjali jalan itu.


Satu jam kemudian, Vano dan Neva pamit untuk mengantar Arnis kebandara.


"Hati-hati," pesan Mama. Neva mencium Mama, Leo dan Yuna. Kemudian, dia pergi bersama Vano.


Leo mencium pipi mamanya. "Terima kasih Ma," ucapnya lembut pada Mama. Tangan kanan Mama terangkat dan mengusap pipi putranya.


"Bahagia selalu Nak," jawab Mama. Ya, hanya itu yang diinginkan oleh mama. Anak-anaknya bahagia sepanjang hidupnya. Saling rukun dan menyayangi.


Leo mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk pantat lucu bayinya. Lalu beralih mengusap-usap pipi halus itu. Baby Arai mengerjapkan matanya tapi lalu tidur lagi. Dia bergerak-gerak dengan imut, tangannya bahkan seolah menarik topi yang ia pakai untuk menutupi matanya. Dia tidak ingin diganggu. Leo tersenyum lebar melihat tingkah lucu itu. Dia mengusap-usap pipinya lagi, membuat Baby Arai membuka matanya tapi lalu terpejam lagi. Leo semakin gemas di buatnya.



Dia mengambil anaknya dari dalam box bayi lalu menciumnya. Menciumnya dengan bertubi tetapi lembut. Ciumannya mendapat respon dari Baby Arai, mulut mungil itu berbuka seolah ingin mengigit hidung mancung daddy-nya. Semuanya tertawa melihat itu. Baby Arai terdiam dan masih memejamkan matanya. Leo mengulanginya lagi, dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Baby Arai dengan gemas, bibir mungil itu terbuka lagi dan seolah ingin menggigit daddy-nya.


"Dia mau ASI daddy-nya," Mama memberi tahu Leo bahwa respon Baby Arai itu adalah karena ia tengah menginginkan asi. Namun Leo tidak memberikan Baby Arai pada Yuna, dia masih ingin menggoda anaknya. Dan pada akhirnya, Baby Arai menangis dengan keras, tangisan lucu khas bayi. Dia menangis tetapi tidak mau membuka matanya. Leo semakin gemas dibuatnya. Dia mendekatkan wajahnya ke baby Arai. Menempelkan pipinya kebibir Baby Arai. Bibir mungil itu seolah mengecap, lidahnya sedikit keluar dan menjilat pipi Leo. Leo tertawa dengan rasa bahagia dalam dirinya. Dia menarik pipinya lalu Baby Arai kembali menangis lagi. Leo memberi pipinya lagi. Baby Arai seperti tengah mengigit pipi daddy-nya tetapi kesulitan. Bibir mungil nan seksi itu hanya bergerak lucu dipipi Leo.


Leo menarik pipinya lagi dan Baby Arai langsung menangis. Leo menggodanya berkali-kali, dia tertawa dengan bahagia. Anaknya sangat menggemaskan.


"Jahil ih Daddy," Yuna memukul lengan Leo. "Sini," Yuna meminta anaknya dari gendongan Leo.


"Dia lucu Momm," Leo menggoda Baby Arai lagi. Tangisan Baby Arai akan berhenti saat bertemu dengan pipi Leo dan dia akan menangis lagi saat Leo menjauhkan pipinya. "Apapun yang terjadi, pokoknya aku maunya tidur," ujar Leo mengutarakan isi hati anaknya.


"Dia begadang semalaman Daddy," kini Mama yang menyahutnya. "Sudah jangan digoda, biarkan dia tidur," lanjut Mama. Kali ini Leo mengangguk, dia kembali mencium pipi halus milik Baby Arai sebelum memberinya pada Yuna.


"Uu, uuu, Daddy nakal ya?" Yuna dengan hati-hati mengambil alih Baby Arai dari gendongan Leo. Tangisan lucu itu masih menggema. Yuna membuat tepukan halus dipantat anaknya. Lalu mendekatkan pipinya ke bibir Baby Arai, ia mengikuti keusilan Leo. Tangisan lucu itu berhenti berganti dengan kecapan imut di pipi Yuna. Leo tertawa terbahak-bahak melihat itu sementara Mama langsung memukul pelan bahu Yuna.


"Kau, sama usilnya," ujar Mama. Yuna terkekeh. Karena di rumah hanya tinggal dia, Leo dan Mama maka Yuna langsung memberinya asi.


Mama beranjak, beliau mengingat sesuatu.


_____


Catatan Penulis 🥰


Jangan lupa jempolnya di goyang. Tengkyu mbeb semuanya 🥰 luv luv.


Lanjuuut ... Kalian luar biasa 🥰