Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 162_Milikmu 2


"Sayang, tidak seperti yang kau pikirkan."


"Memangnya kau tahu apa yang ku pikirkan Yuna?"


"B-Bukan begitu. Maksud ku.... Aku sungguh tidak ada apa-apa dengannya. Itu sudah berlalu."


Leo mengangguk. Ia berhenti dan menurunkan Yuna. Mereka kemudian duduk diatas pasir, menatap jauh kedepan, menyaksikan ombak yang berkejaran.


"Aku tidak akan melarang mu lagi Yuna," ucap Leo. Yuna segera menoleh ke arahnya. Leo menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan lembut, Ia menoleh dan membalas tatapan mata Yuna padanya. "Kau boleh bertemu dengannya," lanjutnya. Yuna menatapnya dengan sedih dan menggeleng. Angin pantai mengibarkan rambutnya, membelai wajahnya.


"Aku tidak akan menemuinya," ucap Yuna. "Sungguh tidak akan menemuinya," dia menatap kedalam mata Leo. Namun, Leo segera berpaling dan kembali menyaksikan pantai. Kemudian, dia merebahkan dirinya di atas pasir, menjadikan kedua telapak tangannya menjadi bantal.


Yuna menatapnya dengan sedih. Dia membayangkan bagaimana kecewanya Leo yang memergoki dirinya bersama Vano, dan dia malah berbohong.


Menjaga perasaan dan hati Vano? Tidak sepenuhnya salah, tidak juga sepenuhnya benar. Dia menjaga perasaan dan hati keduanya. Mereka berdua tidak saling suka dan itu karena dirinya. Ia tidak ingin Leo khawatir dan cemburu pada Vano, ia tidak ingin Vano merasa terluka melihat dia dengan Leo. Kenapa dia begitu perduli dengan perasaan Vano... itu karena dia merasa bersalah telah membuat Vano hadir dalam hidupnya, membuatnya jatuh cinta kemudian meninggalkannya begitu saja, itu karena dia merasa bersalah telah begitu dalam menyakiti Vano. Hanya itu. Dia tidak mampu menembus setiap luka yang dia hadirkan pada hati Vano.


Yuna beranjak dari duduknya, ia menempatkan dirinya diatas tubuh Leo dan memeluknya.


"Sayang..." panggilannya.


"Hhm."


"Aku sungguh tidak ada apa-apa dengannya, hatiku adalah milik mu. Hatiku sepenuhnya untuk mu. Semua yang ada pada diri ku hanya untuk mu. Aku adalah milik mu," Leo membalas pelukannya. Ia mengusap punggungnya dengan perhatian.


"Apa kau merasa dingin?" tanyanya. Angin pantai berhembus begitu kencang dengan sisa-sisa hujan di siang hari. Yuna menggeleng. Kepalanya bersandar di dada Leo, telinganya bisa dengan jelas mendengar suara detak jantung Leo.


Dia dengan pelan membuat suara, menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang sedikit serak dan dalam.


"Tak pernah ada yang lain disisi, segenap jiwa hanya untuk mu, tak kan mungkin ada yang lain disisi, ku ingin kau disini tepiskan sepi ku bersama mu," suaranya terbata menyanyikan tiap kata dari syair lagu itu. "Hingga akhir waktu,"* lanjutnya dengan sangat pelan, karena dia menahan sesuatu. Dada Leo terasa basah.


"Kau menangis?" Leo masih mengusap rambutnya. Yuna menggeleng, tangannya meremas kemeja Leo dengan sangat erat. Telinganya mendengar alunan merdu detak jantung suaminya. Dia bersalah, merasa sangat bersalah.


"Jangan menangis. Aku tidak menyalahkan mu," Leo mendekapnya. Dia bisa merasakan nafas Yuna yang sesak, dia juga bisa merasakan detak jantung Yuna yang bersatu dengan detak jantungnya menciptakan irama yang melankolis. Lengkungan rembulan mengintip dari balik awan tipis di atas cakrawala. Hening... hanya ada suara ombak yang bersahutan. Tangan kanan Leo terangkat dan membelai rambut Yuna dengan kasih yang melimpah dari hatinya.


"Tetaplah menjadi bintang di langit, agar cinta kita kan abadi. Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini agar menjadi saksi cinta kita, berdua,"*


Leo dengan suaranya yang serak ikut menyanyikan satu syair dalam bibirnya. Diiringi angin malam yang berhembus dengan lirih. Yuna semakin mendekapnya. Dada Leo semakin terasa basah.


"Nyonya," panggilannya serak.


"Hmm," jawab Yuna tanpa membuka mulutnya.


"Lihat aku," pintanya. Yuna menggeleng. "Lihat aku," pintanya lagi dan Yuna masih menolaknya, hingga permintaan yang keenam kalinya, akhirnya... Yuna mengangkat wajahnya dengan perlahan.


"Baaaa," Leo membuat wajahnya menjadi lucu. Dan itu sedikit efektif untuk membuat bibir Yuna membentuk senyuman tapi pada akhirnya dia kembali menyandarkan kepalanya lagi di dada Leo dan kembali memeluknya.


"Nggak lucu," komentarnya. Leo tertawa kecil mendengarnya.


"Tapi kau tersenyum Nyonya."


"Lalu apa?"


"Sedikit senyum." jawabnya. Leo terkekeh.


Malam ini, untuk pertama kalinya mereka menginap di kastil dipinggir pantai. Ranjang raksasa model klasik terbuat dari kayu, stainless steel, dan kristal Swarovski. Selain memiliki ukiran tangan berbentuk Cakra Sudarsana senjata Basudewa Krishna yang menakjubkan, di ranjang ini terdapat tempat buku, penyangga iPad dan tempat penyimpanan rahasia.


"Sayang, bagaimana jika kita pindah kesini?" ucap Leo sambil mengatur suhu ruangan.


"Tapi ini terlalu jauh dari kantor. Aku akan lebih lama menunggu mu, dan kau akan lebih pagi untuk berangkat. Lalu... kastil ini terlalu besar untuk hanya kita berdua. Bagaimana jika kita tetap tinggal di Ibu Kota dan kastil ini... untuk waktu weekend kita. Apa kau setuju?"


"Ku serahkan keputusannya pada Nyonya. Sekarang, tidurlah," Leo mengecup keningnya dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Emm... kita bikin baby dulu...," dan Leo langsung menindihnya.


"Aaaahh, kau nakal Tuan suami...." Yuna berteriak karena tangan Leo begitu cepat menyusup kedalam piyamanya, dan menggelikitik lehernya dengan lidahnya yang lincah.


___Pagi hari di kantor Leo


Seperti biasa, jari-jari itu sangat lincah dalam bekerja. Asisten Dion menaruh laporan di atas meja dengan senyum bahagia. Ia memperhatikan Leo yang sekarang memeriksa laporannya.


"Boss, terima kasih untuk apel gigitannya," ucapnya pelan dan sopan.


"Apel gigitan?" Leo tidak mengerti apa yang diucapkan Asisten Dion.


"Tidak terbayangkan aku akan memiliki ini, boss," Asisten Dion mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Dia memperlihatkannya pada Leo. Asisten Dion menjadi sangat bersyukur karena Bossnya melempar ponsel miliknya, itu hanyalah ponsel biasa kalangan rakyat seperti dirinya dan si Boss menggantinya dengan ponsel yang diidam-idamkan hampir semua rakyat menengah seperti dia. Ini bahkan keluaran terbaru. Leo meliriknya sekilas dan mengangguk, kemudian ia kembali sibuk membaca laporan ditangannya.


"Boss. Terima kasih," ulangnya mengucapkan rasa terima kasihnya. Leo mengangguk lagi. "Hmm ada yang ingin saya laporkan Boss," Asisten Dion menjadi sangat takut untuk menyampaikan ini. Kemudian, dengan gemetar dia menyampaikan tentang tiga puluh juta di siang itu.


"Potong tiga bulan bonus mu," ujar Leo dan masih sibuk dengan dokumen ditangannya. Asisten Dion sungguh hampir kejang mendengarnya.


"Boss, itu karena saya tidak ingin mengacaukan moment indah siang itu, itu karena saya tidak ingin mengganggu pertemuan mesra anda dan Nyonya muda, itu karena saya begitu terharu dan tidak akan membiarkan apapun merusak moment penuh cinta itu. Itu untuk anda boss... Saya..."


"Keluarlah kau membuatku sakit kepala," ucap Leo. Dion semakin hari semakin menambah bicaranya.


"Tapi bagaimana dengan bonus ku boss?"


"Aku hanya bercanda, bonus mu bulan ini malah akan ditambah." jawaban Leo membuat Asisten Dion girang bukan main, dia mengepalkan tangannya dan bilang Yess. Dia menatap Leo dengan pandangan penuh kekaguman.


"Boss, aku mencintai mu."


Ohh indahnya jika suasana hati si boss sedang sangat baik.


___


*Hingga Akhir Waktu_Nine Ball


*Kasih Tak Sampai_Padi