Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 190_Aroma Aneh


Leo menyetir mobilnya dengan sedang karena memang waktu pagi pada jam kerja adalah waktu tersibuk jalanan. Dia mengantar Neva terlebih dahulu.


"Kak Lee...," panggil Neva.


"Hmm," jawab Leo.


"Aku...," Neva menggeser duduknya hingga membuat dirinya sedikit menghadap Leo. "Aku berencana melanjutkan kuliah di Luar negeri," ucapnya yang membuat Leo terkejut. Dia langsung menoleh ke arah Neva.


"Apa?" tanyanya.


"Aku ingin melanjutkan kuliah keluar negeri," Neva mengulangi ucapannya. Leo mengangguk, dia pikir, dia salah dengar tadi. Lampu lalu lintas saat ini berwarna merah.


"Mama tahu niat mu ini?" tanyanya kemudian setelah diam beberapa saat.


Neva mengangguk. "Iya, aku sudah bilang sama Mama," jawab Neva.


"Kenapa?" tanya Leo. Lampu merah sudah berganti hijau. Leo kembali melajukan mobilnya.


Neva diam tidak menjawab pertanyaan Kakaknya. "Apa karena Vano?" tanya Leo lagi.


Neva menatapnya dari samping dan mengangguk. Dia bisa membohongi Mamanya tentang alasan yang sebenarnya tapi dia tidak bisa membohongi Kakaknya.


"Iya, karena dia. Aku memutuskan untuk berhenti," jawab Neva.


"Kenapa? Bukankah kalian semakin dekat? Bukankah langkah mu akan finis sebentar lagi?"


Neva menggeleng. "Apa Kakak ingat pertemuan semalam?"


"Kenapa?"


"Tidak mudah bukan?"


"Kita akan terbiasa nantinya," ucap Leo.


"Entahlah," Neva menatap kedepan. "Kak Lee...,"


"Ya."


"Ku mohon dukung aku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jika nanti Papa menolak, kau harus maju untuk ku. Kau mengerti?"


"Baik Nona muda," jawab Leo patuh.


Neva tertawa kecil dan meninju bahu kakaknya.


"Bagus. Aku akan memecat mu jika kau tak patuh."


Sesampainya di kampus.


"Apa ada sesuatu yang terjadi di kampus mu?" tanya Leo setelah melihat ada beberapa wartawan yang berdiri di depan gerbang kampus.


"Tidak tahu," jawab Neva, ia mengangkat bahunya. Mobil Leo berhenti di depan gerbang. "Tunggu dulu," Neva mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkannya kembali. Banyak sekali pesan yang masuk dan yang terparah adalah akun gosip itu memposting ulang unggahan Raizel. Neva membaca chat pada grup teman-teman terdekatnya. Dan mereka bilang bahwa dia menjadi incaran wartawan. Neva memejamkan matanya.


"Kak Lee," panggilnya. Leo menoleh kearahnya. "Bisa antar aku kedalam?" pintanya.


"Nggak," jawab Leo cepat. Neva langsung mengerucutkan bibirnya.


"Kakak please...," dia menguncupkan kedua tangannya. Matanya menatap wajah kakaknya dengan memelas, ia seperti kelinci yang teraniaya dan sangat menyedihkan. "Kak Lee...," panggilannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Leo sebelum menyetujui permintaan Neva.


"Wartawan itu mencari ku," jawab Neva pelan dengan masih terus menatap Kakaknya.


Leo tertawa meledek mendengar itu.


"Apa saat ini kau menjadi orang terkenal?" tanyanya.


"Ceritanya panjang Kakak..., please. Akan ku ceritakan nanti," ucap Neva.


Dan akhirnya... Leo menyetujui untuk mengantar Neva. Kakinya turun satu, hanya kakinya saja dan itu sudah membuat mata yang berada di sekelilingnya langsung memperhatikannya. Ini juga karena mobilnya yang mentereng menyilaukan mata.


Kamera seperti otomatis langsung membidiknya, wajah tampannya, bentuk tubuhnya yang indah, dan mobilnya. Neva berdiri disampingnya dengan sedikit menyembunyikan wajah.


"Kenapa menyembunyikan wajah mu?" tanya Leo tanpa menoleh. Pandangannya lurus kedepan, dengan bahu yang sejajar, pandanganya lurus kedepan dengan punggungnya yang tegak. "Angkat wajah mu Nona," ucap Leo.


"Uhum," Neva berdehem dan kemudian mengangkat wajahnya. Kamera terus saja membidik mereka. Keberadaan Leo, tidak hanya mengambil perhatian para wartawan tetapi juga hampir semua wanita yang berada di situ.


Leo yang berjalan dengan dengan mengangkat wajah, terlihat begitu sombong dan angkuh. Namun, itulah letak kegilaan wanita. Ketika berjalan, laki-laki ini memiliki aura yang kuat, keberadaannya selalu mendominasi, di tambah status sosialnya yang tinggi membuat para wanita berlomba mendekatinya. Tidak perduli ia sudah menikah atau belum, tidak perduli ada cincin yang melingkar di jari manisnya atau tidak. Bukankah laki-laki bisa memiliki dua cincin?


Tidak ada wartawan yang mendekat. Mereka hanya mengambil gambar dari pinggir.


Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, pepatah ini sepertinya tepat. Mereka bisa mendapatkan wajah Tuan muda yang sombong dan angkuh ini adalah sesuatu yang sangat istimewa.


"Tuan muda Leo...," beberapa wanita meneriakkan namanya. Lagi dan lagi, bertambah dan bertambah. Leo paling benci ini.


"Waahh dia lebih tampan dari apa yang mereka ceritakan," seseorang berbisik.


"Dia lebih tampan dari Artis," seseorang menambahkan. Bisik-bisik yang lagi dan lagi. Mereka bahkan lupa jika hari ini ada gosip terhitz tentang Raizel dan Neva.


Sementara disana... Raizel sibuk memberi pengertian pada Mak Cuty bahwa dirinya dan Neva hanya kebetulan bertemu dan tidak ada yang spesial. Raizel mengaku bahwa dia tidak mengenal Neva, dia hanya asal mempostingnya saja.


Setelah selesai mengantar adiknya. Leo langsung menuju kantornya.


"Boss, ada yang harus segera di tandatangani," Asisten Dion langsung menyerahkan dokumen diatas meja kerja Leo. Leo segera mengambil pena dan bersiap untuk menandatangani dokumen didepannya. Namun... tiba-tiba dia merasa mual.


"Apa kau tidak mandi hari ini?" tanyanya pada Asisten Dion. Matanya menatap Dion dengan sangat kesal, bagaimana bisa seseorang berangkat bekerja dan tidak mandi terlebih dahulu. Dia paling benci jorok, dia paling benci kotor.


"Mandi Boss," jawab asisten Dion. Dia mencium dirinya sendiri, dia bahkan mencium ketiaknya sendiri. Wangi... batinnya. Kenapa si Boss meragukan kewangiannya.


"Menyingkirlah kau sangat bau," ucap Leo merasa semakin mual dengan aroma Dion.


"Baik," jawabnya patuh. Dia membalik badannya dan kembali mencium ketiaknya. Wangi.... batinnya lagi. Hhaaa hidung bossnya harus periksa nih kaya'nya, batinnya. Dia tertawa kecil.


"Apa yang kau tertawakan?" Leo membentaknya. Asisten Dion berhenti dari langkahnya dan membalik badan dengan takut. Bagaimana si Boss bisa tahu kalau dia tertawa diam-diam.


"S-saya... saya tidak tertawa Boss," ucapnya gemetar. Dia menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Aku melihat pundak mu bergerak. Kau pikir aku bodoh tidak mengetahui jika kau baru saja tertawa?" suara Leo tinggi dan menakutkan. Asisten Dion diam tak berani berkutik. Dia bahkan bernafas dengan lambat.


"Laporan macam apa ini?" Leo melempar dokumen dengan kasar didepan Asisten Dion. Membuat asisten Dion semakin mendelik. "Buat ulang," perintahnya.


"Dokumen ini sudah saya cek berulang-ulang Boss dan ini sudah baik," Asisten Dion menjawab dengan takut.


"Apa kau budek. Pasang telinga mu Dion...," suara si Boss semakin tinggi. Itu membuat Asisten Dion ingin menenggelamkan diri saja didasar lautan.


"B, b, b, baik Bos...," jawabnya gagap dan langsung memunguti dokumen yang berserakan di lantai.


'Mimpi apa aku semalam, pagi-pagi dikasih sarapan omelan ama Boss,' batinnya dengan teraniaya. Dia segera kembali tapi belum sampai tangannya memegang gagang pintu, Leo menghentikannya.


"Ya Boss," jawabnya setelah membalik badan. Dia ketakutan setengah mati.


"Kau harus mandi sebelum berangkat kerja." ujar Leo masih dengan suara tinggi. Entah kenapa dia menjadi sangat kesal melihat Dion pagi ini. Asisten Dion hanya diam, meskipun dia ingin membela diri. "Bersihkan dirimu dengan sangat bersih atau berhenti bekerja dengan ku," ucap Leo tegas. Asisten Dion ingin pingsan mendengar itu, si Boss sampai mengancam untuk memecatnya.


"B, b, baik Boss," jawabnya.


"Keluar," bentak Leo lagi.


"B, baik Boss," Asisten Dion dengan lemas membalik badan dan keluar ruangan. Wajahnya menjadi pucat.


"Hei, apa aku bau?" tanyanya pada rekan yang ia temui.


"Tidak," jawab rekannya setelah mengendus Dion.


"Okey, terima kasih," ucapnya kemudian pergi. Dia menanyakan pada beberapa rekannya yang lain dan tidak ada yang bilang jika dia bau. Tentu saja, karena dia menyemprotkan parfum hingga setengahnya. Hidung Boss harus di periksa... batinnya lagi.


Pelan, ia membuka pintu ruangan bossnya. Namun, dia tidak menemukan si Boss berada ditempatnya. Dia berdiri menunggu, mungkin si Boss sedang berada di dalam kamar mandi, batinnya. Benar, tak lama Leo keluar kamar mandi dengan wajah yang pucat dan keringat yang membasahi keningnya.


"Boss apa anda tidak apa-apa?" tanya Asisten Dion cemas. Namun, dia tidak berani mendekati Bossnya. Dia dalam penciuman Bossnya adalah makhluk bau hari ini.


Leo tidak duduk di kursi kerjanya tetapi dia duduk di sofa. Ia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sebentar. Apa ini karena dia tidur larut tadi malam? Batinnya.


Asisten Dion melangkah mendekatinya untuk memberikan dokumen yang sudah di periksa dan membuatnya ulang. Dia meletakkan dokumen itu di atas meja. Matanya melirik ke arah Leo sedikit. Kemudian melangkah mundur.


"Boss, Anda terlihat pucat. Apa saya perlu memanggil dokter?" tanyanya kemudian.


"Tutup mulut mu dan diamlah. Kau membuat ku sakit kepala," Leo kembali membentaknya. Dion mundur lagi. Leo segera menandatangani dokumen itu dan memberikannya pada Dion. "Keluar," ucapnya. Asisten Dion membungkuk dan kemudian segera pergi. Huff...


Leo kembali menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya. Dia merasa sangat pusing pagi ini dan itu sangat tiba-tiba, dia berpikir bahwa ini karena dia kurang tidur semalam.


Siang hari... Yuna berada di rumah bunga milik Alea. Mereka bercerita tentang apa saja.


"Sayang, aku merindukan mu," pesan baru yang masuk di ponsel Yuna. Sebuah pesan dari Tuan suami yang merindukannya. Yuna tersenyum lebar membaca pesannya. Kemudian, ia melakukan selfie... dan mengirimkannya pada Leo.


___Setelah selesai kelas di kampus Neva.


Teman-temannya langsung bergerombol di meja Neva dan menginterogasinya.


"Aku hanya kebetulan bertemu dengan dia saja," jawab Neva. Namun itu tidak memuaskan rasa penasaran teman-temannya.


"Tapi dia sempat memosting foto kalian berdua," temannya masih mencecarnya.


"Entahlah aku tidak tahu," Neva merasa lelah menjawab mereka yang sebenarnya pertanyaannya berputar-putar itu lagi dan lagi. Pertanyaan yang sebenarnya sama.


"Jadi siapa sebenarnya gebetan mu, Neva...,"


"Yap, Tuan muda tampan dari keluarga Mahaeswara itu atau... tidak, tidak... tidak mungkin Raizel kan?"


"Jangan Raizel please Neva... kau akan membuat kita patah hati berjamaah,"


"Raizel pangeran ku...," mereka memandang Neva dengan tajam. Raizel tidak boleh bersama mu... pandangan mata itu seolah berucap seperti itu.


"Aku sudah menjawabnya dari tadi kawan. Kalian sendiri juga tahu pernyataan dia tadi pagi kan?"


Tak lama ponsel Neva berdering. Panggilan dari Mama. Mama juga shock melihat putrinya menjadi topik hangat di stasiun televisi. Nyonya Mahaeswara yang memberi tahunya. Dia merasa sakit hati calon menantu cantiknya jadi bahan gosip dengan artis itu.


"Tidak ada apa-apa Ma...," jelas Neva setelah Mamanya mencerocos tentang gosip itu. Neva menjadi sangat kesal dengan semuanya. Mereka seolah tidak ada yang percaya padanya. Termasuk Lula... Lula fans berat Raizel, dia tidak mau Raizel jadian dengan Neva, dia maunya Raizel dengan dirinya atau jomblo sampai tua.


Neva segera kembali dengan supirnya.


"Non...," supirnya memanggil dengan pelan. Pak supir melihat Neva dari kaca spion.


"Iya..," Jawab Neva.


"Selamat ya...," ucap pak supir dengan senyum manis semanis-manisnya.


"Eh, selamat apa nih pak?" tanya Neva.


"Selamat udah jadian sama Raizel yang ganteng itu. Non Neva beneran pacaran sama dia kan?" jawab pak supir masih memamerkan senyum manisnya. Neva melebarkan matanya mendengar itu. Kemudian, ia menepuk keningnya pelan. Ya ampun... hingga supirnya pun begitu kepo tentang hubungannya dengan Raizel.


"Dia ganteng banget lho Non. Cocok sama Non Neva yang cantik. Pas, serasi," pak supir memberikan pendapatnya.


"Kita tidak pacaran, Pak... hanya kebetulan bertemu," jawab Neva. Dan tepat setelah itu, ponselnya berdering, panggilan masuk dari Raizel.


"Kau membuat hari ku sungguh buruk Raizel," Neva langsung memprotesnya. Pak supir tersenyum lebar sambil menguping. Dasar anak muda, ngomongnya nggak padahal sayang, batin pak supir.


"Maafkan aku Neva. Jadi apa kau butuh bodyguard untuk menjaga mu?" tanya Raizel dengan bercanda.


"Seharusnya perlu," jawab Neva, "Kau tahu... tadi pagi ada wartawan di depan gerbang kampus," lanjut Neva.


"Ya, aku lihat beritanya," jawab Raizel. "Apa kau membaca berita pagi hingga siang ini?"


"Tidak."


"Kau harus membacanya, ku pastikan... kau pasti akan tertawa terbahak-bahak,"


"Oh ya? Oke aku akan membacanya."


"Neva...," Raizel memanggilnya dengan nada yang serius.


"Iya," jawab Neva pelan.


"Mungkinkah kita bisa bertemu lagi?" tanya Raizel. Ada rasa cemas dan harapan dalam pertanyaan itu.


"Hahaa jangan sampai. Rasanya aku kapok bertemu dengan mu," jawab Neva dengan sedikit tawa.


"Tapi aku berharap kita bisa bertemu lagi," ucap Raizel.


"Semoga," jawab Neva. Panggilan berakhir.


Kemudian, Neva segera membuka situs pembagi kabar dan foto. Akun gosip terupdate. Memposting foto Neva dan Leo. Foto Kakaknya yang terlihat begitu mempesona. Neva langsung tertawa membaca caption dari akun gosip itu.


Laki-laki tampan yang terpendam selama ini.


Minceu mengagumi mu dari jauh sambil ngemil batako ya babang. Siapa yang tahu nama Babang tamvan satu ini hayo... Minceu cium yang tahu namanya.


Dan banyak sekali komentar di akun itu.


"Kakak, aku bahkan rela menjadi tukang lap sepatu mu," koment salah satu pengguna sosmed.


"Paman ganteng... culik aku please," koment lagi yang lucu.


"Kakak, itu muka belanja di mana bisa ganteng begitu," Neva tertawa terbahak-bahak membaca komentar-komentar unik itu.


Kemudian, ponselnya mendapat satu pesan.


"Kau dimana?" pesan dari Vano. Neva menimang-nimang ponselnya ketika mendapat pesan ini.


"Balas, jangan, balas, jangan...," dan akhirnya dia membalas.


"Di jalan Kak. Menuju dosen pembimbing," balasnya.


Neva telah menyiapkan semuanya. Ia sudah mendaftar di Universitas yang dia inginkan, dia juga sudah memilih tempat untuk dia tinggal nantinya. Hanya tinggal menunggu persetujuan dari Papa dan dia akan segera berangkat.


___ Sore hari.


Leo pulang lebih awal. Dia akan menyelesaikan pekerjaanya di rumah. Dia memiliki PR seabrek karena Dimas masih sibuk dengan Baby-nya. Lusa dia bahkan harus terbang keluar negeri selama empat hari.


Ia menjemput Yuna di rumah bunga.


"Selamat sore Tuan muda Lee...," sapa Alea ramah. Leo mengangguk sebagai tanggapan dan langsung menghampiri Yuna. Dia seperti anak kecil yang manja... Begitu Yuna berdiri, ia langsung menghambur dan menjatuhkan kepalanya dengan manis di pundak Yuna.


"Kau lelah sayang?" tanya Yuna perhatian. Tangannya mengusap punggung Leo pelan. Leo mengangguk dengan manja.


"Hu'um," jawabnya. Yuna tersenyum mendengarnya. Andai saat ini mereka berada di rumah maka pasti Yuna akan langsung mengigitnya.


Pemandangan yang sangat manis. Alea tersenyum dalam diam memperhatikan mereka berdua. Betapa beruntungnya Yuna, betapa enaknya jadi Yuna, betapa indahnya kehidupan Yuna. Tidak seperti dirinya. Batinnya.


Leo sedang tidak ingin menyetir. Ia ingin duduk di bangku penumpang bersama Yuna. Tangannya memeluk Yuna dan hidungnya mengendus aroma Yuna. Pada lehernya...


"Sayang geli," ucap Yuna bergidik. Tapi Leo semakin mengendusnya dan bahkan menciumi bagian itu. Dia merasa seperti vampir saat ini. Entah kenapa, aroma Yuna begitu menggiurkan setelah seharian dia merasa mual dengan aroma-aroma aneh yang ada di kantornya.


Supir Albar menelan ludahnya berkali-kali ketika dia mengintip Bossnya dari kaca spion. Wajahnya memerah dengan menahan senyum. Manisnyaaa... batinnya. Dia jadi ingin segera menikah.


"Apa?" Leo memelototinya. Upss... supir Albar langsung gelagapan karena ketahuan mengintip mereka. Leo langsung menutup sekat dibagian depan. Supir Albar menggaruk kepalanya dan kecewa karena si Boss menutup sekatnya. Rasanya... otaknya mulai terkontaminasi oleh otak Dion, yang suka memperhatikan keharmonisan Boss dan istrinya. Dia memukul kepalanya pelan.