Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 313_Manja


Malam yang sama di Ibu Kota. Kini, Neva yang berkunjung ke rumah keluarga Mahaeswara. Dia membawa buah tangan untuk Nyonya Mahaeswara.


Mereka makan malam bersama. Tuan besar Mahaeswara sedang berada di luar kota saat ini. Jadi mereka hanya makan malam bertiga. Seusai makan malam, mereka berkumpul di lantai atas. Out door.


"Rumah ini sepi," ujar Nyonya Mahaeswara. "Berbeda dengan suasana di rumahmu. Ada kamu, Dimas dan Leo," lanjut Nyonya Mahaeswara. Vano adalah putra tunggal keluarga ini, jadi memang dia selalu sendiri dirumah. Kecuali, ketika ada sanak saudara yang berkunjung.


"Sering-seringlah berkunjung ke sini, Neva."


"Umm, iya Ma. Jika hari libur aku pasti akan berkunjung kesini," jawab Neva. Mereka berbincang dengan seru. Nyonya Mahaeswara sangat bahagia dengan kedatangan Neva. Di hari libur nanti mereka bahkan berencana untuk kesalon bareng.


"Kesalon jangan hari libur," protes Vano. Tangannya merangkul pundak Neva lembut.


"Jika tidak hari libur, lalu kapan lagi," sahut Nyonya Mahaeswara.


"Bisa hari biasa setelah petang," jawab Vano. Dia keberatan jika dua wanita ini janjian kesalon dihari libur. "Dia milikku di hari libur, Mama tidak boleh menculiknya," lanjut Vano. Wanita bisa menghabiskan waktu berjam-jam di salon. Jadi menurut Vano, waktu libur bukanlah waktu yang tepat. Kapan dia bisa bersama Neva jika gadis itu menghabiskan waktunya di salon dengan mamanya.


"Kalian masih bisa bersama setelah dari salon," Nyonya Mahaeswara memberi alasan lagi.


"Baru makan lalu sudah harus mengembalikannya," sahut Vano yang membuat mamanya tertawa. Neva mendongak menatap Vano dan tersenyum.


"Makanya buruan nikah, biar langsung bawa pulang," ledek Nyonya Mahaeswara. Pada ledekan ini, Neva diam. Tangan Vano mengusap lengannya, sebuah usapan untuk membuat hati Neva tenang.


"Waah, Mama mau kepo lagi kayaknya," Vano mencoba membelokkan arah pembicaraan mamanya. Dia kemudian membahas tentang tas ternama yang sebentar lagi akan dirilis. Tentu Nyonya Mahaeswara langsung antusias.


"Putra Mama yang tampan, belikan satu untuk Mama," ujar Nyonya Mahaeswara dan Vano langsung menyetujuinya. Beberapa menit kemudian, Nyonya Mahaeswara pamit, beliau memberi waktu pada mereka berdua untuk saling mengobrol.


Vano menarik tangannya dari pundak Neva, dia mengambil gelas minumannya lalu menyesapnya sedikit.


"Sayang," panggil Neva. Dia sudah mulai terbiasa dengan panggilan ini, meskipun awalnya sangat malu.


"Ya?" Vano langsung menoleh dan meletakkan gelas minumannya diatas meja. "Apa?" tanyanya perhatian. Dia menyandarkan punggungnya dan kembali merangkul pundak Neva.


"Apa besok kau sibuk?" tanya Neva. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Vano. Neva sudah tahu jika besok Vano akan keluar kota menyusul papanya.


"Hanya dua hari disana," jawab Vano. Neva mengerucutkan bibirnya mendengar itu.


"Itu artinya kita tidak bertemu selama dua hari itu," sahutnya. Vano mengangguk dan terkekeh.


"Kau takut merindukanku?" tanyanya. Neva tidak memungkiri itu, dia mengangguk.


"Bisakah hanya sehari ...." tawarnya dengan manja. Dia menjadi putri manja saat bersama Vano. Bahkan lebih manja dari sikapnya pada kakaknya. Dia ingin selalu diperhatikan. Dan nyatanya Vano memang mampu memanjakan dirinya, dengan kelembutan, perhatian, dan kasihnya. Neva merasa sangat bahagia, memiliki laki-laki dewasa ini. Tiba-tiba ucapan mamanya kala itu terngiang di telinganya. Yang ditunggu akan kalah dengan yang sudah siap. Tuan besar Mahaeswara bahkan tadinya sudah membawa calon istri Vano yang beliau pilih.


"Itu sudah jadwalnya, tidak bisa maju lagi," jawab Vano. Neva mengangguk kecewa. Dia ingin terus bersama Vano.


"Pulang dari sana, langsung menemui ku," pinta Neva dengan manja.


Pelan, Neva mengangkat tangannya dan meletakkannya di pinggang Vano. Dia memeluknya. Jantungnya berdegup.


"Ucapkanlah sekali lagi, maka aku akan menerima mu. Ucapkanlah sekali lagi dan aku akan bilang IYA."


Batin Neva.


_____________


Di kastil pinggir pantai masih malam yang sama.


Mereka berdua, Leo dan Yuna, berbaring di ranjang besar mereka. Saling memeluk dengan manja dibawah selimut hangat berwarna putih.


Suhu ruangan yang begitu dingin, udara yang sangat sejuk. Ada kehangatan yang menjalar dan mengalahkan itu semua. Badai gelora masih menguasai hatinya. Ini tentang cinta dan keinginan. Kebahagiaan dan kegelisahan. Entah bagaimana wujudnya, yang pasti ... dalam kehidupan ini mereka berjanji untuk mengabadikan seluruh cinta pada seseorang yang telah menguasai hatinya.


"Bibirmu manis dan membuatku mabuk," ujar Leo dengan masih terus mendekap Yuna dalam pelukannya. Yuna tersipu. Tangannya membalas pelukan Leo.


"Ucapanmu nakal dan aku suka," jawab Yuna dengan senyum. Leo tersenyum lebar. Dia menunduk dan mencium rambut Yuna.


"Senyumanmu menggoda dan membuatku gila," sahut Leo.


"Kecupanmu liar dan aku pun gila seperti mu," sahut Yuna. Kegilaan yang romantis. Kegilaan yang harmonis. Mereka saling bercerita dengan senyum dan ketika cerita itu belum usai ... kedua bibir itu saling bertemu lagi, berayun dengan lembut dan manis.


Dengan kebahagiaan dan kemabukkan, mereka berdua kembali menggila.


"Aku akan menikmatimu semauku, sayang," bisikan Leo nakal dan menggoda. Mereka bahkan lupa jika mereka belum makan malam. Secangkir coklat hangat itu kedinginan diluar sana.


Bulan tak berkedip dan tetap pada sinarnya. Alunan angin menemaninya.


___ Sementara disana ... dalam waktu yang sama. Seseorang berdiri dan meminta izin masuk untuk bertemu dengan Tuan muda Leo dan Nyonya muda Yuna. Namun ... dia harus kecewa karena sang tuan rumah sedang tidak ada ditempatnya.


"Oh iya, kira-kira kapan mereka kembali?" tanyanya. Penjaga menjelaskan padanya bahwa kembalinya sang majikan tidak ada yang tahu.


"Terima kasih, Pak," ujarnya dengan sopan pada penjaga. Dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Memperhatikan kado yang dia bawa. Padahal, tanpa memperdulikan rasa lelahnya setelah kepulangannya dari luar negeri, dia langsung bergegas kesini tapi ternyata dia harus kecewa karena tidak bisa menemui sang tuan rumah.


Karel Erlangga. Ya ... Kak Er, begitu Yuna memanggilnya. Karel sudah menantikan moment saat dia bertemu dengan putra Yuna tapi ternyata hari ini dia belum berkesempatan untuk bisa bertemu dengan bayi mungil nan lucu putra Leo.


Andai, saat ini Leo tahu tentang ini maka dia pasti akan sangat bersyukur bahwa dia dengan segera menyembunyikan Yuna. Jika tidak, maka dia pasti akan gagal lagi malam ini. Yess Tuan muda bersorak disana. Dia berhasil bersembunyi bersama Yuna.


____


Catatan Penulis 🥰


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu, luv luv 🙏 Terima kasih.