
Di kastil pinggir pantai.
Leo baru saja dari bawah, dia membawa coklat hangat kedalam kamar. Ini ... ganti coklat hangat yang semalam menjadi dingin.
"Sayang apa itu?" Yuna bertanya setelah melihat Leo membawa satu cangkir dan menutup pintu kamar.
"Coklat hangat untukmu," jawab Leo. Dia berjalan kesofa dan duduk disana. "Kemari," ucap Leo. Yuna yang duduk disisi ranjang langsung mengambil ikat rambut dan menguncir rambutnya keatas lalu ikut duduk di sofa.
"Terima kasih," ucapnya setelah menerima coklat hangat dari Leo. "Apa Baby kita sudah bangun?"
"Sudah. Dia sedang olahraga dengan perawat," jawab Leo. "Buruan mandi. Kita belum makan dari semalam."
Yuna mengangguk lalu meletakkan coklat hangat di atas meja setelah meminumnya separo. Dia beranjak lalu masuk ke kamar mandi. Leo membuntutinya.
"Hei, kenapa ikut masuk? Bukankah kau sudah mandi?" Yuna menatapnya heran. Leo tidak menjawab. Dengan membawa majalah bisnis, dia duduk di bangku dan mengyilangkan kakinya.
"Kenapa malah duduk disitu?" tanya Yuna heran. Jika hanya untuk membaca majalah, kenapa harus masuk ke kamar mandi? Batin Yuna.
"Menunggu mu mandi," Leo menjawab dengan santai. Dia sudah sibuk membaca beberapa artikel.
"Kau bisa menunggu di luar," jawab Yuna.
"Tapi aku ingin menunggu disini."
"Kau bisa menungguku diluar Leo ...."
"Tapi aku ingin menunggumu disini sayang ...."
"Keluar," perintah Yuna. Dia menunjuk pintu.
"Tidak," jawab Leo keras kepala.
"Pagi-pagi jangan berdebat," ucap Yuna kesal.
"Siapa yang berdebat. Kau yang terlalu cerewet. Diam dan mandi saja," tukas Leo. Dia menutup majalahnya. Dia ingin memperhatikan Nyonya cerewet yang beraksi.
"Kau pikir enak, mandi sambil diperhatikan."
"Aku hanya menemanimu saja."
"Preet," Yuna melangkah dan mencubit pinggang Leo. Leo tertawa mendengar kata preet dari Yuna. Dia sudah tahu artinya prett. "Dasar pembohong," lanjut Yuna. Disebut pembohong membuat Leo langsung melancarkan aksinya. Dia meletakkan majalah dimeja dan langsung menangkap Yuna, tangannya dengan lincah menarik ikatan piyama Yuna hingga membuat piyama tanpa kancing itu langsung terbuka.
"Aaaaa," Yuna berteriak. "Kaan ... firasatku sangat tepat."
Leo terkekeh dan memeluk Yuna. "Sayang ayo lakukan lagi," ucap Leo tanpa malu. Yuna memukul dadanya.
"Ini sudah pagi. Baby kita sudah bangun, kita harus segera kebawah," Yuna berusaha mendorong tubuh Leo tetapi dia tidak cukup kuat.
"Ada perawat yang menjaganya," jawab Leo. Yuna menghela nafasnya.
"Cuti saja sampai minggu depan. Itu artinya kita masih memiliki malam yang panjang disini. Ya kan," Yuna melingkarkan tangannya di pinggang Leo. "Sudah ah, buruan keluar," Yuna mendorong Leo. Kali ini Leo patuh. Dia mengikuti dorongan Yuna untuk keluar kamar mandi. "Bye," ucap Yuna setelah Leo keluar. Kemudian, dia menutup pintu. Membuka piyamanya dan masuk ke dalam bathtub. Memejamkan matanya sebentar disana.
Tangan Leo memutar pegangan pintu dengan pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Tepat, Yuna tidak mengunci pintunya. Leo masuk melangkah dengan pelan, sangat pelan. Dia seperti maling yang mengendap-endap. Dia melirik Yuna yang menikmati air hangat dalam bathtub, mata Yuna terpejam. Leo menuju lemari lalu membukanya. Dia mengambil semua handuk yang ada.
"Sayang," panggilnya pelan membuat Yuna langsung membuka matanya.
"Kau ...." mata Yuna melotot kearah Leo. Kemudian dia segera menyadari jika Leo membawa tumpukan handuk dikedua tangannya. "Mau kau bawa kemana handuknya," tanya Yuna dengan firasat yang buruk.
"Keluar," Leo menjawab dengan lugu. Kemudian, dia melangkah keluar begitu saja. Membuat Yuna meneriakinya dengan kesal. Sejak kapan Tuan suami menjadi sangat jahil?
"Leo ... kali ini aku yang akan menghukummu. Kau tunggu saja," Yuna berteriak untuk yang kesekian kalinya. Leo tertawa diluar sana. Dia meletakkan semua handuk diatas ranjangnya. Kemudian, dia ikut menjatuhkan dirinya di ranjang. Menunggu sang dewi keluar dengan aroma yang sangat wangi.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka sedikit.
"Sayang yang paling tampan sedunia," panggil Yuna. Leo terkekeh geli mendengar ucapan Yuna. Rayuan Nyonya muda. Yuna melongokkan kepalanya. Leo membawa pandangannya pada Yuna. "Sayang," panggil Yuna lagi.
"Beri aku satu handuk," Yuna mengulurkan tangannya.
"Kemarilah. Jangankan satu, seribu handuk pun akan kuberikan padamu," jawab Leo. Yuna mengerucutkan bibirnya.
"Aku hanya butuh satu handuk," katanya masam. Dia tahu jika Tuan suami pasti tidak akan memberikannya.
"Sini. Ku bantu mengeringkan tubuhmu," Leo melambai.
"Nggak," jawab Yuna lalu kembali menutup pintu kamar mandi. Tak lama dia keluar dengan memakai piyamanya yang tadi.
"Week," dia sedikit menjulurkan lidahnya. Itu membuat Leo semakin gemas.
"Dasar jorok, kenapa kau memakai piyama mu lagi?"
"Kau membawa semua handuk," jawab Yuna. Dia membuka lemari bajunya. Namun, tangan Leo dengan segera menariknya.
"Dasar jorok," Leo dengan cepat membuka piyama Yuna dan langsung membawa Yuna ke atas ranjang. Menutup tubuh Yuna dengan tubuhnya.
"Kau jahil," ucap Yuna. Mata mereka bertemu, kemudian bibir mereka bersatu. Dan terjadilah sesuatu yang panas dipagi ini.
_____________
Spongebob ... Vano mengeja nama itu dalam hatinya. Dia menyandarkan punggungnya. Beberapa menit kemudian, dia sampai di bandara dan langsung menuju kantor cabang di pusat kota. Meeting telah dimulai sejak satu jam yang lalu. Vano masuk ruangan, memberi salam pada semuanya lalu duduk di kursi yang telah disiapkan. Hingga jam makan siang, meeting itu baru selesai. Sedari pagi hingga saat ini, Vano tidak menyentuh ponselnya sama sekali.
Sementara disana, ada seseorang yang menunggunya. Menunggu pesannya. Dia baru saja keluar kampusnya.
"Langsung pulang Non?" Pak supir bertanya setelah majikannya masuk kedalam mobil. Tak ada jawaban, Sang Nona masih sibuk dengan ponselnya. "Langsung pulang Non?" Pak Supir mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan sedikit menambah volume suaranya.
"Iya," jawab Neva tanpa melepas pandangannya pada ponsel ditangannya. Dia cemas, dia gundah. Kenapa ponsel Vano tidak bisa dihubungi? Neva mengirimkan banyak pesan, dia mencoba menghubungi Vano berkali-kali tetapi tetap saja ponsel Vano tidak bisa dia hubungi. Neva sangat gelisah. Jantungnya memompa dengan cepat.
"Kamu ngapain sih, kenapa tidak bisa dihubungi?" Neva memekik kesal. Pak supir sedikit kaget dengan suara Neva yang tiba-tiba.
Neva kesal, lalu ikut menon-aktifkan ponselnya.
"Pak, ke kantor Kak Lee," ucap Neva. Dia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya dengan kesal. Pak supir dengan patuh langsung membawa laju mobil menuju kantor Leo.
Beberapa menit kemudian, Pak Supir memarkirkan mobil didepan pintu utama kantor Leo. Dengan perhatian, Pak Supir membukakan pintu untuk Neva.
Dengan langkah pelan tetapi kesal Neva melangkah masuk.
"Selamat siang Nona muda," sapa dua Resepsionis depan menyapa Neva. Neva dalam mood yang buruk saat ini, dia hanya menjawab dengan anggukan. "Mohon maaf Nona. Direktur tidak ada ditempat. Hari ini beliau tidak ke kantor," ujar salah satu resepsionis. Neva langsung mengangkat wajahnya dan menatap resepsionis.
"Tidak masuk?" tanyanya untuk meyakinkan.
"Iya Nona," jawab resepsionis. Neva langsung mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menekan tombol on. Dia duduk di sofa. Pikirannya bertambah kacau. Ada apa dengan kakaknya? Apa kakaknya sakit? Kenapa tidak kekantor?
Neva segera menghubungi Leo tetapi dia harus kecewa karena ponsel kakkanya tidak aktif. Dia tidak bisa menghubungi Leo.
"Agrrrhhh," Neva berteriak dengan sangat kesal. Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua ponsel tidak bisa dia hubungi. Dia segera keluar dan kembali masuk ke dalam mobil. Dia cemas.
"Pak, kerumah Kak Lee," pintanya. Pak Supir dengan patuh memenuhi permintaannya. "Percepat ya Pak," pinta Neva lagi. Siap Nona.
Sesampainya di rumah Leo, Neva harus kembali kecewa karena ternyata sang kakak tidak ada dirumah. Namun dia bernafas dengan lega, jika kakaknya pergi bersama Yuna dan Baby Arai, itu artinya kakaknya baik-baik saja.
"Dia membuatku khawatir saja."
___________
Catatan Penulis π₯°
Maaf kalau ada typo2 ya kawan π
Biasa ya kawan, jangan lupa like koment. Gratis kok ... bikin othor semangat, lagi. Okey. Tengkyu πππ Tapi nggak maksa sih π€π€ Ilupyu semuanya....