
Neva menyambut uluran tangan Vano padanya. Mereka berjalan dengan beriringan. Tangan itu saling menggenggam. Neva berkali-kali mengatur nafasnya dan irama jantungnya. Tangannya terasa dingin dalam genggaman tangan Vano. Langkah kakinya terasa begitu berat ketika kakinya semakin dekat dengan pintu. Dia pernah berkunjung ke rumah besar ini tetapi kenapa rasanya sangat berbeda.
Sebelum pintu itu dibuka, Vano menoleh ke arah Neva dan menatapnya. Dia merasa sangat lucu melihat wajah tegang Neva. Tanpa mengetuk pintu, Vano membukanya dan langsung membawa Neva untuk masuk ke dalam. Dia langsung membawa Neva ke ruang tengah. Tepat saat itu, Nyonya Mahaeswara tengah menuruni tangga. Beliau sedikit terkejut dengan kedatangan Neva. Kemudian, langkahnya terhenti ketika sepasang matanya menangkap sesuatu yang lain dari dua anak manusia ini. Mereka saling bergandengan tangan? Mereka jadian? Sudut bibir Nyonya Mahaeswara terangkat membentuk senyuman. Segera setelah memikirkan tentang mereka berdua, beliau kembali menuruni tangga.
Melihat Nyonya Mahaeswara yang tengah menuruni tangga membuat Neva semakin nervous. Jantungnya memompa dengan cepat. Padahal dia selalu menyukai Nyonya satu ini yang selalu memberikan banyak kesempatan padanya untuk bisa dekat dengan pujaan hatinya.
Lidahnya kelu, dia bahkan lupa pada semua kata yang telah ia rangkai untuk menyapa calon mertuanya. Dan pada akhirnya dia hanya diam.
"Hai sayang," sapa Nyonya Mahaeswara pada Vano dan Neva setelah ia sampai di depan putranya. Mata beliau kembali memperhatikan jari jemari yang saling mengikat itu.
"Selamat malam Tante," ucap Neva sedikit kaku dan gemetar. Dia memaki dirinya sendiri. Hanya menyapa saja, kenapa begitu tegang, batinnya,
"Malam sayang," jawab Nyonya Mahaeswara dengan hangat. Beliau mengalihkan pandangannya pada Neva, menatap Neva yang sedikit menunduk menyembunyikan wajahnya.
Kemudian, Neva mengangkat wajahnya dan memberikan cake yang baru saja dia beli sebelum kesini. "Ini untuk Tante," ujar Neva seraya menyerahkannya. Tangan kanan Nyonya Mahaeswara mengulur dan menerimanya.
"Terima kasih Neva, kau tidak perlu repot-repot," ucap Nyonya Mahaeswara.
Vano melepaskan genggaman tangannya dan kemudian berpindah ke pundak Neva, ia merangkul Neva dengan lembut.
"Ma, dia calon menantu mu," ucap Vano dengan pasti. Hatinya dipenuhi keindahan dan keteguhan saat mengucapkan itu. Begitu juga dengan Neva, bunga-bunga dalam hatinya merekah indah bak musim semi dengan sinar mentari di pagi hari. Dia masih menyembunyikan wajahnya.
Mama tersenyum dengan lebar dan sangat bahagia mendengar apa yang baru saja putranya sampaikan. Neva sungguh akan akan menjadi menantunya?
"Selamat sayang untuk kalian berdua," seru Mama dengan begitu bahagia. Beliau langsung memeluk Neva.
"Terima kasih Tante," jawab Neva dengan lega. Dia diterima bukan? Hmm betapa bahagianya. Kemudian, Nyonya Mahaeswara melepaskan pelukannya dan menatap Vano.
"Heh, si bodoh. Kenapa kau tidak memberi tahu Mama terlebih dahulu jika kau akan membawa calon menantu Mama berkunjung ke rumah," Mama mengomeli Vano.
"Bukan kejutan namanya Ma jika aku memberitahukan terlebih dahulu," jawab Vano. Kemudian, mereka duduk di sofa di ruang tengah.
Mama Mahaeswara duduk di samping Neva dan Vano duduk di seberang mereka. Mama Mahaeswara begitu bahagia, sangat bahagia, beberapa bulan yang lalu, putranya ini memberi tahu dirinya jika Neva menolaknya, tetapi saat ini mereka sudah jadian.
"Apa Mama mu tahu ini?" Tanya Mama Mahaeswara pada Neva.
Neva mengangguk, "Iya, Mama tahu Tante," jawab Neva dengan pelan.
"Waahh wah, pelanggaran. Kenapa dia tidak segera memberi tahu ku kabar bahagia ini," sahut Mama Mahaeswara dengan tawa renyah. "Aku harus mengomel pada mama mu tentang ini," lanjutnya.
"Papa belum pulang?" Tanya Vano.
Mama langsung mengalihkan pandangannya pada Vano.
"Papa menjemput langsung rekan bisnisnya? Tidak salah? Bukankah Papa bisa meminta tolong pada asistennya untuk menjemput rekan bisnisnya itu," ucap Vano merasa heran dengan papanya yang turun tangan langsung menjemput di bandara.
"Mama tidak tahu, sepertinya rekan bisnisnya itu sangat spesial," jawab Mama. "Papa juga main rahasia-rahasia sama Mama, kejutan katanya," lanjut Mama.
Tak lama asisten rumah tangga Mahaeswara datang dengan membawa minuman, beberapa cupcake dan buah.
"Di minum sayang," Mama Mahaeswara menawari Neva dengan ramah. Beliau sangat bersyukur karena ide dua Nyonya berjalan dengan lancar dan berakhir sesuai apa yang mereka inginkan.
Neva menyesapnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja. Lalu Mama Mahaeswara mengajaknya ngobrol dengan santai. Neva mulai bisa membawa keadaan dan rasa groginya sedikit menghilang. Dia mulai berbincang dengan seru. Vano memperhatikannya dan mengacungkan jempolnya untuk Neva.
Tiba-tiba, ponsel Mama berdering. Lagu lawas nostalgia mengalun dari ponselnya. Mama segera mengangkat panggilan setelah tahu siapa yang membuat panggilan. "Ya Pa," jawab beliau. "Iya ada," lanjutnya menjawab suaminya di seberang sana yang menanyakan keberadaan Vano. "Baik," ucap Mama Mahaeswara.
"Nih, Papa ingin bicara dengan mu," ujar Mama sembari memberikan ponselnya pada Vano. Vano menerimanya.
"Ya, Pa," jawab Vano.
"Syukurlah jika kau sudah dirumah," jawab Papa Mahaeswara. Vano diam tetapi mengangguk pelan. "Ada seseorang yang ingin Papa kenalkan pada mu. Diam dirumah dan jangan kemana-mana," jelas Papa.
"Rekan bisnis?" Tanya Vano.
"Ya," jawab Papa dengan senyum di seberang sana. "Tapi bukan dia yang spesial," lanjutnya. "Ada gadis cantik yang akan Papa kenalkan pada mu," ujar Papa lagi menjelaskan.
Vano langsung membawa pandangannya pada gadis di depannya. Menatap gadis itu dengan hangat. Si gadis yang tengah tertawa kecil bersama Mamanya.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Maaf Up bonusnya telat.
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia dengan pasangan yang unyu-unyu ini.
Masih betah di rumah.
#DiRumahSaja.
Terima untuk cinta temen-temen semua pada kisah ini.
Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan.
Terima kasih πππ₯° luv luv.