
Vano beranjak, dia melangkah ke kamar mandi dan membasuh wajahnya berkali-kali. Menetralkan perasaan dan otaknya. Sementara Neva beranjak dan menyisir rambutnya lagi. Merapikannya lalu menjepitnya kesamping. Dia memperhatikan dirinya di cermin.
"Aku mencintai dia apa yang ku ragukan untuk untuk berkomitmen dengannya?" Neva mengangkat tangannya lalu dengan pelan dia menyentuh bibirnya. Ciuman tadi ... begitu liar. Sebuah ciuman yang seakan menuntutnya untuk pasrah dan mengikuti lelakinya. "Apa itu artinya jika aku memang telah menyerahkan diriku padanya?"
Batin Neva bergejolak, dia benar-benar gelisah.
Vano keluar dari kamar mandi, lalu menoleh ke arah Neva.
"Ayo," ucapnya santai seolah tadi tidak terjadi sesuatu.
"Hmm, iya," jawab Neva pelan. Dia berjalan menunduk menghampiri Vano. Dia tidak berani menatap wajah Vano. Canggung, malu, atau perasaan apa ini.
Tangan Vano mengulur dan meraih tangan Neva.
"Kenapa?" tanya Vano.
"Hmm? Tidak ada," Neva menggeleng pelan. Genggaman tangan Vano padanya membuat jantungnya hampir meledak. Tidak bisa begini, dia terlalu grogi hingga hanya untuk bernafas saja rasanya begitu susah. "Hmm tolong antar aku pulang," ucapnya samar. Dia mendongak menatap Vano.
"Kau marah pada ku?" Vano bertanya dengan wajah yang muram. Mereka berencana untuk jalan bareng malam ini tetapi Neva malah ingin kembali pulang.
"Tidak," Neva menggeleng.
"Aku minta maaf," Vano mengucapkan permintaan maafnya lagi, dan Neva langsung memeluknya.
"Jangan ucapkan lagi, jangan minta maaf. Aku tidak marah," jawabnya. Vano membalas pelukannya.
Pada akhirnya, mereka berdua tidak jadi jalan bersama. Neva kembali pulang.
_____
Di rumah Tuan muda Leo.
Pukul 22.00 saat Leo keluar dari ruang belajarnya. Dia masuk ke kamar tetapi tidak menemukan Yuna. Hanya ada Baby Arai yang sudah terlelap. Dia membungkuk dan mencium pipi anaknya dengan hati-hati. Kemudian, ia membuka kamar mandi dan masuk kedalam, tidak ada Yuna. Dia mengerutkan keningnya. Lalu berbalik tetapi matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa, sebuah kalender yang sering dia perhatian.
Leo mengambil kalender itu dari atas meja kamar mandi. Matanya memperhatikan dengan seksama.
Biasanya Yuna akan mencoretnya dengan tanda silang tetapi saat ini yang ia lihat bukanlah tanda silang melainkan tanda love. Sudut bibir Leo terangkat.
Dengan senyum sumringah dia keluar dari kamar mandi. Yess, dia bersorak dalam hati. Kemudian, dia segera keluar kamar dan turun kebawah. Leo menuju dapur dan dia langsung menemukan Yuna tengah asik dengan sesuatu. Dia mendekat. Yuna memakai piyama bawah lutut kali ini. Itu tidak menghilangkan kesan seksi pada tubuhnya.
"Sedang apa?" tangan Leo melingkar di pinggang Yuna. Dia menurunkan kepalanya dan menempelkan pipinya di pipi Yuna.
"Bikin nasi goreng spesial kesukaan mu," jawab Yuna. Dia mengangkat tangannya yang memegang spatula.
"Bukankah kau takut aku buncit? Kenapa malam-malam malah masak nasi goreng," ujarnya. Dia mencium pipi Yuna singkat.
"Sesekali tidak apa-apa," Yuna menjawab dengan mulai mengaduk nasi goreng buatannya. Namun tangannya tidak bisa bergerak dengan bebas karena pelukan dari Leo. Dia mengecilkan kompor, dia tau untuk membujuk Tuan suami tidak akan mudah. "Ummm, sayang aku bau keringat kan?" katanya dengan sedikit menjauhkan wajahnya dari Leo.
Leo mengangkat bahunya, "Entah," katanya. "Sini biar ku cium, apa kau bau keringat atau tidak," Leo kembali menarik pipi Yuna dan menciumnya. Yuna memejamkan matanya, dia salah dalam memberikan pertanyaan. Dia mengeliat saat bibir Leo mulai turun kebawah, membuat kecupan di lehernya.
"Ummm, sayang," tangan Yuna mencoba menahan kepala Leo agar tidak menambah aksinya.
"Kau tidak bau," ucap Leo lalu menyingkirkan tangan Yuna.
"Aku selesaikan masak dulu, okey," Yuna merayunya. Tapi Leo enggan melepaskan pelukannya. "Aughh," Yuna memekik memegangi perutnya.
"Kenapa?"
"Aku lapar," jawab Yuna. Ok. Nyonya muda menang. Leo melepaskannya lalu dia dengan patuh dan imut menunggu Yuna di meja makan.
"Taraaa, jadi," ucap Yuna sambil memamerkan sepiring penuh nasi goreng spesial buatannya. Dia meletakkan di atas meja. Leo langsung mengambil sendok dan bersiap untuk menghabiskan nasi goreng buatan Yuna. Dia memakannya dengan lahap. Sejujurnya ini agar sesi makan malam tambahan segera selesai. Dia tidak tahan untuk segera memakan Yuna setelah ini.
"Enak tidak?" tanya Yuna.
"Dasar bodoh, kenapa kau baru bertanya setelah nasi goreng ini hampir habis," jawab Leo. Yuna terkekeh. Leo memberikan suapan pada Yuna. "Lezat sayang," ucapnya dengan mengedipkan matanya nakal.
"Pintar, kau akan ku maki jika bilang nasi goreng ini tidak enak," ucap Yuna. Kini Leo yang terkekeh. Kemudian, mereka berdua menghabiskan sisa nasi goreng. Selesai.
Leo langsung menggendong Yuna didepan dan membawanya ke kamar.
"Sayang, biarkan aku masuk," pintanya dengan suara yang merana.
"Tunggu saja diluar," jawab Yuna sengaja.
"Sayang," panggil Leo. Namun kemudian ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari papanya. Dia melangkah ke balkon dan berbicara beberapa menit pada papanya.
Lampu utama mulai padam, hanya menyisakan lampu tidur di setiap sudut kamar. Yuna yang mematikannya. Sementara Leo masih berdiri di balkon, dia baru saja menghubungi asisten Dion. Ada beberapa dokumen penting yang harus di kerjakan malam ini.
"Besok pagi harus sudah ada di meja kerjaku," ujarnya.
"Siap Boss," jawab Asisten Dion di seberang sana. Kemudian Leo segera mematikan ponselnya. Dia kembali masuk dan menutup pintu balkon.
Yuna sudah ada ada di atas ranjang saat ini. Ia memakai baju tidur transparan di atas lutut, dengan dua ikat tali tipis dipundaknya. Rambutnya diikat keatas, model cepol. Itu membuat leher dan pundaknya yang mulus terekspos dengan sangat jelas.
Yuna belum tidur, tangannya masih asik memainkan ponselnya.
Leo melangkah mendekat ke arah Yuna, berdiri di ujung ranjang.
Matanya memperhatikan Yuna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kaki Yuna menekuk satu, dan satunya dibiarkan lurus. Gaun malam berenda itu begitu cantik membungkus tubuh halus Yuna. Simpul di tenggorokan Leo bergerak naik turun saat ia menelan salivanya.
Sadar sedang diperhatikan, Yuna meletakkan ponselnya. Ia membawa pandangannya pada Leo.
"Sudah selesai telfonnya?" tanya Yuna. Ia bangkit dari tidurnya lalu menyandarkan punggungnya di ranjang.
Leo mengangguk samar. Dia sedang tidak ingin apa-apa saat ini selain memakan Yuna. Ingatannya sekali lagi mengingat kalender yang tercoret dengan tanda love. Mata tajamnya menatap lekat pada Yuna, menikmati dewi surga yang berada di hadapannya. Yuna tersenyum cantik kearah Leo.
"Kenapa malah diam disitu?" Yuna merentangkan kedua tangannya. "Sini," ujarnya. Yuna membalas tatapan Leo dengan lembut. Yuna sudah bersih tadi siang. Masa nifasnya telah selesai, tapi dia merahasiakannya dari Leo.
Di bawah remang lampu tidur, Leo berdiri dengan begitu gagah, siluetnya indah. Tangannya dengan pelan membuka baju yang ia kenakan.
Dia menjatuhkan bajunya begitu saja. Kemudian, merangkak naik keatas ranjang dengan pelan-pelan. Matanya masih menatap Yuna dengan tajam penuh keinginan. Tangannya menyentuh jari kaki Yuna, membuat gerakan lembut di sana.
Yuna tertawa ringan merasakan geli di kakinya. Dia mengigit jari telunjuknya untuk menahan geli ketika jemari Leo bergerak semakin keatas dengan lembut dan halus.
"Ummm, sayang. Kau tidak boleh begitu," ucap Yuna. Tangan kanannya mengulur dan menahan tubuh Leo. Telapak tangannya menyentuh dada Leo. Dia berniat untuk menghentikan Leo, tapi yang ada malah dia sendiri yang seperti tersetrum dan terjerat.
"Apanya yang tidak boleh?" mata Leo masih menatapnya dengan penuh keinginan. Tangannya terus bergerak keatas dengan lembut.
"Jadi kau sudah tahu?" Yuna menahan tangan Leo saat tangan itu telah sampai pada pahanya.
"Tentu saja," jawab Leo.
"Aaa ... kau curang," Yuna berteriak. Dia bangkit dari duduknya dan memukuli lengan kokoh Leo. "Kenapa kau sudah tahu. Padahal aku ingin mengerjai mu. Ah, nggak asik. Kau terlalu pemerhati dalam segala hal. Aku gagal nge Prank," Yuna berteriak dan memukul dada Leo kesal. Leo terkekeh dan menangkap kedua tangan Yuna. Dengan gerakan cepat dia membalik tubuh Yuna, hingga membuat wanita itu berada di dibawahnya. Dia langsung menguncinya. Kedua tangan Yuna dia genggam dalam satu genggaman tangan.
Yuna tidak berontak. Sebaliknya, dia melengkungkan senyumnya dengan menggoda. Jari telunjuk Leo mengangkat dagunya. Membuat wajah Yuna hanya terarah padanya. Namun belum sempat dia beraksi, tangisan lucu terdengar dengan nyaring. Mereka berdua saling menatap lalu tertawa kecil bersama. Ok, acara malam ini cukup.
"Aku tidak akan melepaskanmu lain kali," ucapnya dengan penekanan tetapi lembut. Leo melepaskan Yuna. Lalu segera beranjak dan mengambil anaknya dari box bayi. Dia menggendongnya dan mencium dengan kasih.
"Dia mau ASI Momm," ujarnya saat hidung mancungnya di kejar bibir mungil anaknya.
Yuna mengangguk, "Hu'um," dia mengambil alih Baby Arai dari gendongan Leo lalu memberikannya asi. Leo duduk di samping Yuna, tangannya dengan usil menggelitik kaki imut Baby Arai, dan dia akan langsung mendapatkan tendangan lucu. Terkadang, kaki itu hanya menghindar.
"Daddy jangan usil," kata Yuna. Dia menangkap tangan Leo.
"Dia lucu."
_______
Catatan Penulis π₯°
Terima kasih yang udah begitu sabar menunggu Up kisah ini. π₯°π
Ummm, gambar Abang Leo udah ya, meski siluetnya aja. π€π€ Pasti udah pada bisa nebak, siapa pemilik asli siluet itu π€
Ok, jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯° padamu π₯°π Maaf klo ada typo-typo ya.