Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 220_Persembahan Kalbu


"Untuk apa?" Tanya Neva. Dia masih berpaling.


"Mentraktir mu ice cream," jawab Vano. "Kau boleh makan ice cream sampai puas," lanjut Vano.


"Mmmmm," Neva menaikkan alisnya untuk berfikir menerima ajakan Vano atau tidak. "Ice cream?" Tanyanya. Dia kembali menatap Vano.


"Ya," jawab Vano dengan mengangguk.


"Aku tidak ingin ice cream," ucap Neva. Vano tidak memenuhi janjinya dan hanya mengirimkan satu pesan sebagai permintaan maaf. Neva tidak mau dengan mudah menyetujuinya.


"Kau mau apa?" Tanya Vano. "Aku akan mengabulkan semuanya sebagai permintaan maaf ku," lanjut Vano dengan perhatian.


"Tidak ingin apa-apa," jawab Neva. "Sepertinya kedatangan Tuan muda Vano tidak ada yang penting. Jadi... tidak ada yang perlu di bahas lagi bukan?" Lanjut Neva. Dia bangkit dari duduknya dan berdiri. "Jika tidak ada yang penting lagi, aku permisi," ujarnya dengan membungkukkan badan dan membalikkan badan. Vano segera berdiri dan meraih lengannya. Membuat Neva hanya mampu melangkah dalam dua langkah. Dia berdiam dan tetap berdiri di tempatnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Vano.


"Aku mau kembali ke dalam. Bukankah, tidak ada yang harus kita bahas lagi?" jawab Neva dengan masih mengerucutkan bibirnya.


"Aku minta maaf," ucap Vano lembut dan mendekatkan dirinya.


"Untuk apa? Kau salah apa pada ku hingga membuat mu minta maaf," jawab Neva. Dia mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Vano tetapi tidak bisa. Vano masih menahannya.


"Aku berjanji pada mu untuk datang ke acara wisuda mu tetapi aku mengingkari janji ku. Aku tidak datang di acara itu. Aku minta maaf," ucap Vano dengan rendah. Neva diam. Dia berpaling. "Ayo keluar," ajak Vano lagi.


"Tidak," jawab Neva.


"Ayolah," ajaknya lagi. "Kita nonton film horror, okey," ucap Vano.


"Nggak mau," jawab Neva.


"Taman lampion?" Tanya Vano masih mencoba membujuknya. Neva menggeleng. "Kau mau apa?"


"Lepaskan tangan ku, Tuan muda," jawab Neva.


"Tidak," tolak Vano. Dia melangkah ke depan dan langsung menarik Neva untuk semakin dekat dengannya. Dia berada tepat di depan Neva sekarang


"Hei, kau mau apa?" Neva mundur.


"Ayo keluar." ujar Vano dan langsung merangkulnya. Dan membawanya. Neva mencoba untuk melepaskan diri.


"Aku harus izin Mama," ucap Neva dengan masih mencoba berontak.


"Aku sudah meminta izin pada beliau," jawab Vano dan langsung membawa Neva keluar.


"Hei, aku harus mengganti baju dulu," kata Neva.


"Tidak perlu," jawab Vano.


Pada akhirnya, Neva ikut dengan Vano. Di dalam mobil, dia duduk di samping Vnao dengan masih mengerucutkan bibirnya. Dia melirik kaca spion. Dia memperhatikan wajahnya. Dia takut jika wajahnya kusam.


Mobil Vano melaju dengan sedang.


"Nona," panggil Vano.


"Ya," jawab Neva datar.


"Aku punya karet," ucap Vano. Neva menaikkan alisnya.


"Karet?" tanyanya. Dia menoleh ke arah Vano.


Vano mengangguk, "Iya, karet," jawabnya.


"Ada apa dengan karet?" Tanya Neva penasaran.


"Bibir mu lancip, aku ingin menguncinya," ucap Vano dengan bercanda. Neva langsung berpaling dan memperhatikan jalanan. Pelan, tangannya terangkat dan mengecek seberapa lancip bibirnya hingga bisa di kuncir dengan karet.


"Nona, senyum doong," ucap Vano.


"Sedang dalam mode silent," jawab Neva.


"Hmm, okey," jawab Vano dengan anggukan. Dia tersenyum.


Kemudian, mobilnya berhenti di gedung yang dulu mereka berdua pernah kesini. Neva menelan ludahnya dan tanpa sadar memegang bibirnya. Tempat ini...


Vano keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Neva.


"Ayo," ajaknya. Neva menatapnya sebentar dan menyetujui untuk keluar. Gedung itu tidak sepi seperti dulu. Terlihat dari luar lampunya begitu terang dan ada beberapa orang yang berada di dalam.


Vano meraih tangannya dan mengajaknya mendekat. Neva mencoba menarik tangannya tetapi tidak bisa. Vano menggenggam tangan dengan erat.


Tepat di depan pintu utama, seseorang memberinya buket bunga.


"Selamat atas wisudanya Nona," ucapnya dengan sangat ramah. Neva menerimanya dengan senyum.


"Terima kasih," ucapnya. Kemudian, mereka naik lift ke lantai 20. Dan Neva langsung di sambut dengan pelayanan yang memberinya boneka wisuda.


"Selamat atas wisudanya Nona," ucapnya dengan senyum.


"Terima kasih," ucap Neva dengan senyum.


Kemudian, Vano membawanya ke sebuah tempat yang dimana dia bisa dengan puas menikmati ice cream. Ada banyak macam jenis ice cream dari segala penjuru. Bahkan ada ice cream rasa jengkol.


"Kau mau mencobanya?" Tanya Vano. Neva langsung menutup mulutnya dan menggeleng.


"Tidak, tidak," tolaknya. Sang penjaga ice cream tersenyum lebar.


"Ini manis dan tidak berbau menyengat Nona," ucapnya pada Neva.


"Hmm, terima kasih. Mungkin lain kali," ucap Neva menolaknya.


Dia meletakkan buket bunga dan boneka wisudanya di tempat yang sudah Vano sediakan. Mereka berdua menikmati ice cream dengan bahagia. Neva mulai tersenyum... bibirnya tidak mengerucut lagi.


"Hmm, coba ini," ucap Vano dan menyuapi Neva. Tidak menolak, Neva menerima suapannya. Ini adalah mochi tetapi isinya adalah ice cream coklat yang lembut.


"Mmm, mmm," lidah Neva serasa termanjakan.


"Enak bukan?" Tanya Vano yang dijawab anggukan kepala oleh Neva karena mulutnya masih menikmati ice cream.


Setelah puas mencicipi segala jenis ice cream. Kemudian, Vano mengajaknya ke lantai paling atas. Di atap gedung.


Neva menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Matanya dipenuhi ketakjuban ketika dia telah sampai di atap gedung tempat dimana Vano dulu menciumnya. Dia takjub tetapi ragu untuk melangkah. Tidak boleh terulang, tidak boleh ciuman lagi. Keputusannya sudah bulat untuk pergi. Membuat sebuah kenangan? Sudah cukup, tidak perlu lagi.


"Kenapa?" Tanya Vano menyadari Neva termenung. "Ayo," ucapnya dan meraih tangan Neva untuk menyusuri atap gedung yang sudah di sulap menjadi taman bunga yang penuh dengan lampion.


"Mmm, maaf Kak tapi aku... aku tidak ingin kesini," Neva menolaknya. Dia mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Vano tetapi sama seperti tadi, tidak bisa. Vano menggenggam tangannya.


"Aku tidak akan macam-macam," ucap Vano mencoba meyakinkannya. Neva menatapnya, seolah bertanya, 'Sungguh?' Tatapan mata yang di jawab anggukan kepala oleh Vano.


Dengan sedikit ragu, akhirnya Neva menyetujui untuk mengikutinya. Menapaki atap gedung yang penuh dengan bunga dan hiasan lampion.


"Apa kau ingat, aku pernah bilang bahwa bunga itu semuanya cantik dengan segala macam artinya," ucap Vano. Neva mengangguk. "Ada banyak sekali jenis bunga di sini. Tentang teman, sahabat, kebahagiaan, kesedihan, kerinduan, dan..." pada kata ini... Vano menggantung ucapannya. Dia berhenti di pinggir gedung. Mereka berdiri dengan berdampingan, mata mereka menyaksikan jalan tol berkelok dan bertingkat. Bintang-bintang yang menari. "Dan... tentang cinta," lanjut Vano.


Neva diam. Dia menyaksikan lampu mobil yang berlalu lalang di atas jalan tol bertingkat dan berkelok itu.


"Tentu saja," jawab Neva.


Kemudian, tak lama seseorang datang dengan membawa beberapa balon yang di ikat. Balon berwarna-warni.


"Untuk mu," ucap Vano seraya memberikan balon untuk Neva. Neva menerimanya dengan tawa kecil.


"Aku bukan anak-anak, Kakak," ucapnya setelah menerima balon.


"Ucapkan permintaan mu dan lepaskan satu balon," ucap Vano. Dia menoleh ke arah Neva.


Neva terkekeh. "Itu seperti permainan yang pernah ku lihat di YouTube," ucap Neva.


"Hmmm, kau harus mencobanya," ucap Vano.


Neva mengangguk, "Okey," jawabnya.


"Permintaan pertama," ucap Vano. Neva mengambil satu balon dan bersiap untuk melepaskannya.


"Untuk kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan orang-orang yang aku sayangi," ucap Neva.


"Hei, itu tiga permintaan nona, bukan satu," ujar Vano dengan senyum lebar. Neva menoleh ke arahnya.


"Tidak bolehkah satu balon untuk permintaan ketiga itu?" Tanya Neva.


"Tidak bisa, peraturannya tidak boleh seperti itu," jawab Vano.


"Okey," Neva mengangguk mengerti. Kemudian, dia menerbangkan balon pertamanya untuk kesehatan orang-orang yang dia cintai. Tiga balon untuk permintaan dia yang dia sebutkan di awal.


"Ke empat, untuk kebahagiaan orang-orang yang ku sayangi," ucapnya dan satu balon dia terbangkan lagi. Hanya tinggal satu balon di tangannya.


Neva menengadahkan kepalanya, matanya menatap ke atas. Langit malam yang nampak cerah, bulan separo terlihat begitu bersinar, bintang Sirius bersinar dengan sangat terang. Kemudian, dia membawa pandangannya pada Vano. Tangannya mengulur dan memberikan balon itu untuk Vano.


"Untuk mu," ucap Neva. Vano menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu.


"Kenapa memberikannya untuk ku?" Tanya Vano.


"Dari tadi aku yang membuat permintaan, ini untuk mu dan buatlah permintaan," jawab Neva. Vano tersenyum dan menghadap ke arah Neva. Kedua tangannya terangkat dan dengan pelan meletakkannya di pundak Neva. Membuat Neva menghadap kearahnya.


Dalam indra pendengaran mereka, mengalun merdu gesekan biola yang begitu indah. Dari jarak yang sedikit jauh dari mereka, seseorang memainkan biola dengan indah. Gesekan biola dengan instrumen - Endless love Ost. The Myth.


Instrumen yang mendayu penuh kasih, cinta dan penantian.


"Balon ini untuk ku?" Tanya Vano. Sepasang bola matanya menatap ke dalam mata Neva, menatapnya dengan indah dan hangat. Telapak tangannya dengan halus menyusuri lengan Neva hingga sampai di telapak tangan yang menggenggam balon. Tangan hangatnya menggenggam tangan Neva. Dan itu artinya tangan mereka berdua saling memegang balon.


Mata mereka saling menatap dan seolah berbicara dengan bait-bait puisi nan cantik.


Gesekan biola begitu terdengar indah. Instrumen lagu Endless love.


"Jie kai wo, zui Shen mi de Deng dai.


(Bebaskan aku dari penantian misterius ini)


Xing Xing zhui luo Fong Zai chui dong.


(Bintang berjatuhan dan angin tertiup)


Zhong yu Zai Jiang ni Yong ru Huai Zhong.


(Akhirnya aku bisa menggenggam mu di lengan ku)


Lliang ke Xin Chan dou.


(Dua hati bernyanyi bersama)


"Sungguhkah aku boleh memiliki permintaan dan harapan?" ucap Vano pelan tetapi sangat jelas.


Neva mengangguk, "Tentu saja, semua orang boleh memiliki itu," jawab Neva. Jantungnya berdegup begitu kencang, matanya seolah tidak ingin lepas dari tatapan indah dari pemilik mata yang berada di hadapannya ini.


"Maukah kau mendengar permintaan ku?" Tanya Vano.


Neva mengangguk, "Iya," jawabnya pelan nyaris tanpa suara. Tangan sebelah Vano berpindah ke pipinya. Dan... Cup... Dia menunduk dan mencium bibir Neva. Menciumnya dengan lembut, selembut ice cream yang baru saja mereka nikmati tadi. Mata Neva melebar dengan degupan jantung yang begitu menderu. Dia mencoba mendorong Vano, dia mencoba menghindar, dia mencoba menolak ini, tetapi hati menghianatinya. Hatinya bagai musim semi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Dia menyukai laki-laki ini... sedari dulu.


Pada akhirnya, dia mengalah pada hati yang terasa begitu indah. Pada degupan jantung yang begitu menderu. Pada akhirnya, dia menjinjitkan kakinya dan memejamkan matanya.


"Ijen naye soneul chapgo neuneul kabwayo.


(Tutup mata mu dan pegang erat tangan ku)


Uri saranghaeddon naldeul senggaghaebwayo.


(Tolong pikiran hari tentang dimana kita sedang jatuh cinta)


Uri nomu saranghaesso apassod neyo.


(Kita saling mencintai satu sama lain, itu menyebabkan kita sakit)


Soro saranghangdan maldo motheson Neyo.


(Kita bahkan tidak bisa mengatakan 'Aku mencintai mu')


Malam berbintang dengan terang, malam yang seolah tidak akan pernah berakhir. Gesekan biola membuat irama angin seolah mengikat mereka. Kedua tangan yang sama-sama memegang balon itu perlahan membuka dan membiarkan balon itu terbang bersama angin. Ini adalah persembahan dari kalbu. Ini adalah diri yang menginginkan mu.


Vano menyudahi ciumannya, tangannya masih berada di pipi Neva. Mengusapnya dengan lembut.


"Tetaplah tinggal di sini gadis, bersama ku," ucapnya dengan penuh perasaan mengungkapkan permintaannya.


Neva menatap mata Vano dengan nanar. Dia menunduk. Vano merengkuhnya. Dejavu...


"Ku mohon, tetaplah disini," pintanya lagi.


___


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰)


Aaaahhhh... Aku deg-degan. 🥺


Up bonus untuk pembaca kesayangannya Thor... 🥰😘


Terima kasih untuk semuanya. Utuk like koment dan vote temen2 semua.


Terima kasih untuk tetap disini menemani Thor.


Luv luv... aku pada mu...


Goyang Yuuk ah jempolnya. Sun manjaaah.


*Endless love_Ost The Myth. ( Jackie Chan & Kim Hee Seon)


Buat yang penasaran lagu ini, cuss langsung ke YouTube yach.. 🥰